Tuhan has left the room
Posted in LACUR | Tags: hikmah hidup, inspiratif, jangan bawa tuhan, pilihan hidup, self-detachment
Dicuekin
Berikut adalah percakapan singkat via YM antara aku dengan seorang perempuan tentang perasaan, bisakah perasaan dimatikan lalu bagaimana kita seharusnya menyikapi perasaan. Semoga bermanfaat.
X: eh am, aku dah dicuekin total nih… dicuekin,, ditinggalin…
Y: siapa yg nyuekin? mantanmu? apa gebetanmu?
X: yang kemaren aku ceritain.. “temen”ku..
Y: yasudah.. cari yg laen aja
X: gampang aja ngomongnya..
Y: emg mw gmna?
X: ga tau lah… susah mikirnya..
Y: ga usah dipikir, dijalani aja X:
kalo dah ditinggalin mw gimana lagi..
Y: you will be alive wether he care or not
X: dijalani sampai? yups u r right.. it just that the pain..
Y: sampai kamu nyadar bhw km tetep hidup tanpa dia, bhw hidupmu harus dan memang tetep jalan.
X: ember…. tapi hidup itu udah ga sama lagi.. hahaha… *ketawa tragis*
Y: we are constantly changing, and we still alive with or without him
X: so, kenapa bisa ada orang yang bunuh diri ya karena hal kayak gini? karena hidup itu udah ga ada rasanya lagi tanpa dia.. hampa.. ga bisa ngejalanin hari2 dengan semangat lagi..
Y: karena mereka pikir dgn mati, mereka bisa ngilangin rasa sedih dan sepi mereka
X: pityfull
Y: padahal justru mati itu rasanya lebih hampa, kosong ga berasa apa apa
X: bukannya “ga berasa apa2″ itu lah tujuannya mati.. supaya ga ngerasain apa2 lagi…
Y: makanya kita tu hrs blajar gmana caranya ‘mati’ dlm hidup supaya qt ga perlu bunuh diri
X: jiahh.. kalo dalam hidup aja kamu “mati”, ya.. buat apa kamu hidup?
Y: agar bisa mensyukuri sisa hidup sebelum fisikku benar2 mati
X: berarti masih punya perasaan? masih bisa merasakan? bukan benar2 “mematikan” perasaan ketika hidup
Y: ya memang bukan benar2 mematikan perasaan ketika hidup hanya merasakan rasanya mati perasaan bahwa qt bisa menentukan kapan harus mati dan kapan harus hidup
X: am, apakah kamu pernah berusaha mematikan perasaanmu?
Y: pernah nyoba. susah memang, tp bukan tidak mungkin
X: manusia tanpa perasaan apa masih bisa dibilang manusia? aku ga setuju dengan “mematikan perasaan” itu..
Y: aku bilang tdk selamanya mematikan, hanya mematikan ketika sedang dibutuhkan
X: mematikan kok saat sedang dibutuhkan?
Y: selama manusia hidup pasti dia punya perasaan sedih, senang, susah, cemas, gembira, riang, bahagia or what soever. misal, kita sedih ketika dicuekin. kita marah ketika dihina. kita bisa marah tapi kita bukan marah itu sendiri, karena ternyata kita bisa berubah jadi senang ketika dicinta. so, perasaan2 itu adalah mozaik dari kita. potongan puzzle yg bisa dipasang atau dilepas kembali, disusun ulang hingga membentuk diri kita yg utuh dan sempurna.
———————————————-
dan berikut adalah beberapa komentar yg mengikutinya
kalo dari buku tentang ajaran Buddha yang kubaca, yang penting adalah menjadi sadar. sadar saat senang, sadar saat sedih, sadar harus berperasaan seperti apa. sadar saat berjalan, sadar saat makan, bahkan sadar saat tidur. tapi yo angel tenan.. hehehe
untuk membuat, dan mengendalikan “tombol” yang bisa menghidupkan atau mematikan perasaan kita, menghentikan ataupun menjalankan aliran getaran “listrik” bagi kita itu memang tidak mudah tapi itu juga bukan hal yang tidak mungkin. memang ada … Read Morekalanya “listrik” itu memberikan manfaat pada kita sehingga membuat diri kita merasa senang dan nyaman, tapi ada juga moment dimana “listrik” itu membuat bencana yang mengakibatkan perasaan kita sedih dan gelisah. Tapi aku yakin sebenarnya kita bisa membuat “tombol” itu, karena semuanya udah ada pedoman dan juga guide book dalam membuat, merangkai, hingga mengendalikan”tombol ” tersebut yang tentunya memang sudah dibuat sama “Sang Direktur Listrik”.
@june: kalo membunuh itu sadis dan justru menyakiti diri sendiri. mending dinetralkan saja dgn menerimanya dan membiarkannya berlalu. huss huss sana pergi,,
@lian: jangan dengarkan mereka yg ga punya kerjaan selaen blaming others dan kalo ditanya ga punya jawaban. you know yourself my sista. as your friend, i will be very please to listen your sharing.
@marisa: menurutku juga begitu. kn yg ngasi tau aku dulu.
@mas wisnu: wedeww.. makasi mas. karena manusia adalah hewan yang memakna..
cari yg paling sreg di hatimu. cobalah untuk mempercayainya. kalau pd hati sendiri tidak percaya, lalu pada siapa lagi qt percaya. ok?!
Posted in Creative Writing | Tags: mematikan perasaan, psikologi hubungan
Aku Bermimpi, Aku Meyakini, Aku Mengalami
Semua berawal dari mimpi. Dari mimpi kemudian muncul dorongan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Siapa yang mengira manusia bisa pergi ke bulan, sesuatu yang dulu hanya bisa terjadi di dunia fiksi. Sejak kecil manusia sudah bisa bermimpi. Masa kanak-kanak merupakan masa yang penuh daya imajinasi. Sayangnya, hanya sedikit orang yang mau memperjuangkan mimpinya hingga menjadi kenyataan. Orang akan begitu saja mengabaikan mimpi-mimpi masa kecilnya begitu dia beranjak dewasa. Orang dewasa mulai takut bahwa mimpinya tak akan menjadi nyata setelah melihat kenyataan di sekitarnya. Padahal justru itulah ujian bagi terwujudnya impian. Apakah kita berani memimpikan sesuatu yang kelihatannya mustahil terjadi? Maukah kita meyakini bahwa mimpi kita akan terwujud suatu saat nanti? Lewat tulisan ini saya ingin berbagi cerita agar kita lebih berani bermimpi.
Saya masih ingat betul kejadian saat saya masih tercatat sebagai siswa SMA kelas I. Pagi itu pengurus OSIS membagikan majalah sekolah Graffiti. Sambil duduk saya membuka halaman demi halaman yang tersaji. Saat itu saya tertarik membaca rubrik profil yang memuat kisah alumni yang berhasil kuliah di UGM dan saat itu mendapat beasiswa S3 di Swedia. Kisah itu dilengkapi dengan foto beliau dengan istrinya di depan taman yg penuh bunga. Sungguh cerita yang membuat saya iri. Dalam hati saya bertekad bahwa suatu hari nanti saya akan pergi ke luar negeri di manapun itu tapi dengan syarat tanpa keluar biaya sendiri alias gratis.
Enam tahun berikutnya tepatnya tahun 2009 ini saya berhasil mewujudkan impian itu. mimpi yang hampir saja terkubur oleh padatnya kuliah dan persiapan tugas akhir sebagai mahasiswa. Bersama 19 mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia lainnya, Saya mendapat beasiswa Indonesian English Language Study Program (IELSP) yang didanai oleh Department Dalam Negeri Amerika Serikat. Selama 8 minggu terhitung sejak 4 April hingga 30 Mei 2009 saya mengikuti kursus English for Academic Purpose secara intensif di Ohio University.
Saya mendapatkan informasi beasiswa tersebut melalui milis mahasiswa SP2MP UGM. Seorang teman yang juga alumni program ini memberitahukan adanya seleksi program tersebut. Secara umum ada dua tahap seleksi untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut yaitu seleksi berkas dan wawancara. Mulai dari batas akhir penerimaan berkas sampai pengumuman final penerima beasiswa kira-kira memakan waktu 3 bulan.
Beasiswa ini terbuka untuk mereka yang berumur 19 – 24 tahun dan masih aktif sebagai mahasiswa S1 minimal tahun ketiga (semester 5 keatas) di perguruan tinggi mana pun di Indonesia dari berbagai jurusan. Pendaftar harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik dengan skor TOEFL minimal 470 baik International TOEFL® atau TOEFL® ITP (bukan Prediction Test), memiliki prestasi akademik yang baik, aktif dalam berbagai kegiatan atau organisasi, memiliki komitmen penuh untuk segera kembali ke tanah air, tidak memiliki pengalaman belajar di Amerika Serikat atau Negara lain selain Indonesia (banyak pendaftar yang tidak lolos karena alasan ini), memiliki sifat aktif, mandiri, bertanggung jawab, percaya diri dan berpikiran luas. Selain itu peserta terpilih juga harus bersedia untuk meninggalkan kuliah di tanah air selama 8 minggu karena akan mengikuti kursus intensif di Amerika Serikat selama waktu tersebut.
Sebelum keberangkatan saya dan rombongan mendapatkan penjelasan lebih rinci mengenai beasiswa ini serta materi komunikasi antarbudaya supaya tidak terjadi shock culture. IELSP sendiri merupakan beasiswa penuh meliputi biaya kuliah, asrama, makan, buku yang dibutuhkan serta uang saku per bulan. Praktis, kami hanya membawa pakaian secukupnya, peralatan pribadi dan tak lupa cindera mata untuk calon teman-teman kami di sana.
Kegiatan sehari-hari saya di sana adalah kuliah seperti biasa. Dari jam 8 pagi hingga jam 2 siang kuliah di kelas. Saya memiliki 3 kelas dalam sehari, Advanced Reading Class, Listening and Note Taking dan kelas Combine Skill 2b sebagai core class. Combine Skill Class merupakan kelas dengan level advance yang menggabungkan kemampuan reading dan academic writing. Materi yang diajarkan di kelas CS antara lain composition, speed reading, dan note taking. Selain itu juga diajari bagaimana menggunakan fasilitas perpustakaan, mengakses buku maupun jurnal elektronik, melakukan pengutipan yang semua itu bermuara pada tugas final menyusun dan mempresentasikan sebuah makalah ilmiah (research paper). Masing-masing kelas hanya terdiri dari 10-15 mahasiswa, jadi interaksi dengan dosen lebih intensif.
Selepas kuliah di kelas, saya sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Bukan karena pura-pura rajin, tapi karena memang tiap hari selalu ada tugas kuliah yang harus dikirim via email pada hari itu juga. Di samping karena fasilitas internet sebagian besar tersedia di Alden library.
Sekedar informasi saja, Alden adalah perpustakaan yang memiliki 7 lantai dengan ribuan koleksi referensi mulai dari buku, jurnal ilmiah, majalah, microfilm, musik bahkan ribuan film dari berbagai Negara, termasuk Indonesia. selain itu, mahasiswa juga bisa mengerjakan tugas dengan meminjam laptop sambil makan di café yang juga ada di dalam perpustakaan. Poin paling penting yang membuat saya betah berlama-lama di perpustakaan adalah ratusan komputer terkoneksi internet yang siap dipakai selama 24 jam. Dengan begitu saya dapat mengakses referensi dengan mudah.
Selain belajar bahasa secara klasikal, saya juga belajar tentang kebudayaan Amerika secara langsung melalui interaksi sehari-hari. Saya tinggal di asrama Treudley bersama dengan mahasiswa Ohio University. Gedung ini terdiri dari 4 lantai yang dihuni mahasiswa S1 baik laki maupun perempuan. Tiap kamar dihuni oleh maksimal 2 orang. Saya sekamar dengan mahasiswa jurusan penerbangan, Zach Hulsmeyer namanya.
Tentu kita sudah pernah dengar tentang pergaulan bebas antarremaja di Amerika. Ya memang begitulah kenyataannya. Bukan hal yang aneh lagi jika ada teman perempuan menginap di kamar laki-laki, begitu pula sebaliknya. Pernah satu hari pacar Zach datang dan menginap di kamar. Mereka tidur seranjang, meskipun aku tahu mereka hanya berbincang-bincang saja. Tapi karena saya tidak biasa dan risih, saya lalu keluar kamar dengan alasan hendak belajar di ruang bawah. Akhirnya malam itu saya tidur di ruang belajar sendirian.
Di hari yang lain Dustin dan Nick, dua teman Amerika, pernah mengajak saya bermain “Beer Pong”, permainan lempar bola ping pong ke dalam gelas berisi bir. Saya katakan bahwa sebagai muslim saya dilarang minum bir. Mereka pun menghargai sikap saya, bahkan Dustin bersedia meminum beberapa gelas bir yang seharusnya menjadi hukuman saya. It was really nice cultural understanding.
Berhubung lembaga Ohio Program of Intensive English memiliki banyak mahasiswa international dari berbagai Negara, saya juga belajar tentang bahasa dan budaya mereka. Berteman dengan mahasiswa dari Amerika, Cina, Turki dan Jepang telah memperluas wawasan saya tentang pluralisme, bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Sesuatu yang pasti ada di mana-mana dan tak terelakkan. Saya jadi sedih jika mengingat pertikaian antara saudara sebangsa kita hanya gara-gara berbeda keyakinan.
Sebagai duta bangsa Indonesia, kami juga mengenalkan kebudayaan Indonesia baik kepada civitas akademika maupun komunitas Athens di lingkungan kampus. Bersama keluarga Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (PERMIAS) kami berpartisipasi dalam kegiatan seni dan budaya seperti misalnya fashion show baju adat, pentas Angklung dan menari Saman di acara International Street fair.
Melalui program ini, saya mengalami banyak perubahan. Tidak saja dalam hal perilaku, tapi juga persepsi saya tentang belajar di luar negeri. Sebelum saya berangkat, saya termasuk orang yang ngebet ingin melanjutkan S2 di luar negeri, di manapun itu. Tapi sekarang, saya sadar bahwa kuliah di luar negeri tidak seindah dan semudah yang saya bayangkan. Saya harus benar-benar siap lahir batin, fisik maupun mental apalagi dana. Contoh kecil saja tentang cuaca. Kebetulan saya kemarin beruntung mengalami hujan salju di musim semi, satu-dua hari saya masih euphoria berfoto ria di bawah salju. Tapi setelah itu, tubuh jadi gatal-gatal karena kedinginan. Kalau sudah begitu, perasaan rindu pada hangatnya mentari Indonesia semakin menggebu.
Sebenarnya banyak sekali pengalaman menarik selama di sana. Mungkin saya sebutkan beberapa saja. Misalnya tentang kebiasaan mahasiswa Amerika. Boleh dikata mereka selalu total dalam tiap aktivitas mereka. Selama 5 hari kuliah, mereka begitu rajin. Jalanan ramai oleh mahasiswa yang lalu lalang menuju kelas sambil menenteng buku dan gelas minuman. Perpustakaan juga selalu penuh. Tapi begitu tiba jumat malam, kampus mendadak sepi. Mereka biasanya berbondong-bondong ke pesta. Simply to say, study hard, party hard.
Pengalaman menarik lainnya adalah menjelajahi dan mencoba tiap fasilitas yang disediakan kampus secara gratis. Misalnya kolam renang, fitnes, yoga, basket, billiard dan tak ketinggalan pula nonton bioskop tiap akhir pekan. Semua fasilitas itu bisa dinikmati hanya dengan menggesek kartu mahasiswa kita. Kartu Mahasiswa adalah nyawa kita di sana.
Boleh dikata, program tersebut sangat sempurna, setidaknya bagi saya. Mungkin ini penilaian subyektif karena faktor lokasi dan waktu. Saya mendapatkan pengalaman yang menjadi impian bagi siapapun yang ingin belajar di luar negeri. Mulai dari hujan salju, warna warni bunga yang bermekaran di musim semi, terutama bunga sakura, hingga merasakan hangatnya berjemur di bawah matahari.
Akhir kata, banyak manfaat yang bisa diambil dari beasiswa ini. Selain membantu mahasiswa Indonesia yang memiliki kendala biaya untuk bisa belajar di luar negeri, program pertukaran mahasiswa juga melatih generasi muda untuk terbuka dan berpikir secara global. Jika Walt Disney berujar,”If you can dream, you can do it”, maka saya pun berkata, “Aku bermimpi, aku meyakini, aku mengalami.”
Yogyakarta, 26 Oktober 2009
Posted in LACUR | Tags: american culture, Beasiswa Luar Negeri, power of the dream
Media and The Indonesian Post-New Order Election
Introduction
The mass media constitute the blood of democracy. The mass media delivers all of information needed by any part of democracy. The content of media is not only a communication from government to citizens and from citizens to government, but also from media to citizens and government. Since the power of media in society, mass media was expected to become neutral, factual, and balance.
However, the ideal form of mass media toward democracy is debatable. Some people argue that media will never be neutral due to economic and political interest. Instead of telling the truth, mass media constructs the reality, determines what the important issue which may different from the factual reality.
This paper illuminates a relationship between mass media and politics in constructing the reality during 1999 and 2004 election in Indonesia.
The Role of Media in Democracy
One of the important rights that is recognized in democracy is the right to information. Information is the basic need for citizens to improve their quality of life. As stated in Universal Declaration of Human Right article 19, that “everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers” (http://www.un.org/en/documents/udhr/).
Based on that declaration, the right to information has two meanings. They are right to know, the right to seek and gain information or ideas in order to improve of citizen’s life, and right to expression which means the right to have an opinion fearlessly through any media. (Siregar, 2008:1) In fact, citizens need factual information to make a preference or argument as a public opinion (Keane, 1992). These two meanings of right to information is the material needed to build a public opinion, thus becoming a public policy in public sphere.
In the end of the twentieth century, democracy is in a risk-ridden society. Public opinions as an important matter of democracy are challenged by media monopoly. There are two main ideologies determine whom the media will side with. They are, commercialism which will lead media to produce a market-driven content, and authoritarianism that tends to support the status quo or the ruling class (Keane, 1992; McNair, 2000).
Furthermore, the increase of media technology and recent journalism activity prevail upon the political crisis in the public sphere. There are several trends that lead journalism into political crisis. First, political discourse becomes only a routine element of media. Since capitalism’s interest goes stronger, the banalities of media content become more common. Instead of giving a substantive political message, media inclines to become more instantaneous and sensational as infotainment. Second, a political information overload. The amount of information exposed in different media with the same information could make the audience be bored. Third, an utilizing of public relations technique or spin doctoring in political campaign. The other trends are elitism and “hyper-adversarialism” (McNair, 2000, p. 3-7).
However, in the term of journalism, media was deserved to be kept its freedom. As Meyer said that “ the journalism has been a major factor in keeping our politicians honest and our democracy working” (USA Today, Meyer’s emphasis).
Using Media on Political Campaign
Since its presence, media has played an important role in political life. Politicians use mass media to introduce their personality, ideas or political platform to their constituents. Laswellian defines politics as who gets what, when, how (Hamad, 2007). In other word, politics is about who has more power (channel) to persuade others what to think or what to do. Moreover, media is not only gives the factual information, but also constructs the reality.
Reality is socially constructed. Human create symbols of things to communicate among each other. Through a dialectical process in any media in the social world, human create a shared meaning about things, then it is called reality. Social construction of reality can be distinguished in three types of reality, that is, objective, symbolic and subjective reality. Through a holistic approach, which concerns both micro and macro levels of social life, the important role of mass media in constructing reality in social life can be understood (Adoni and Mane, 1984).
Based on a long historical media research, three theories which can be used to understand how media constructs the political reality on its audience’s mind. At least, there are three ways which can explain how media constructs the reality. First, media constructs by framing the news. Here, media packages the message from factual reality, emphasizes some facts, and hides others. Second, media constructs the reality by its coverage, usually called an agenda-setting function. Agenda setting function can be proven by asking a question about who (political party and candidate) or what issues were the most published. Third, media constructs the reality by a language or political symbol. Language is the basic need of constructing the reality. Certain language style in newspapers indicates a certain meaning (Hamad, 2007, p. 6).
Media in The Post-New Order Indonesian General Election
In early 1998, Indonesia began a new life. The fall of Suharto regime brought a reformation in social, economic and political lives include elections. Since the reformation era, May 1998, the number of political party and mass media were rapidly increasing. A hundred new political parties were declared, but only 48 party verified to participate in the 1999 election. In addition, the spirit of partisan media was also increasing by that time (Hamad, 2007:11).
Through a critical discourse analysis (CDA) toward 9 political parties of the 1999 election news in 10 national newspaper, Hamad (2007) points out that those newspaper have their own orientation on certain political parties by labeling (p. 11). For instance, Golkar party was labeled as pro status quo, unfavorable since Golkar had done something wrong in the past. In contrast, PDI-P and PPP were labeled as big parties who fight against the new order regime (Hamad, 2004, p. 115).
Related to media coverage, Hamad (2007) compared how media (printed or electronic), constructed a political image of party between 1999 and 2004 election. In the size and the time of news, both printed and electronic media covered big parties, which have a great mass, such as PDI-P, Golkar, PPP, PKB, PAN more than small parties. Yet, in quality and news direction, the coverage varied for each media.
In addition, a nongovernmental media watchdog and research group, the Institut Studi Arus Informasi (ISAI) monitoring indicates that during 1999 election, media gave more beneficial news coverage for Golkar party (Sudibyo, 2004). Sudibyo suspects there was a monopoly of information during the election process by big parties or media itself.
The monopoly of information occurred due to financial capability of party. For instance, during January – May 1999 before the election, Golkar spent 7.6 billion rupiah for advertising in mass media, PDI-P 5.8 billion rupiah, and PKB spent 2.3 billion rupiah (Sudibyo, 2004). Comparing with 1999 election, PDI-P spent 3.9 billion rupiah, Golkar 21,7 billion rupiah. In fact, those parties were included as big five majority in both 1999 and 2004 election.
Despite not many change happen in 2004 election, however some interesting fact emerged about media image and vote getting. Democratic Party (PD) and Welfare and Justice Party (PKS), as newcomers in the 1999 election, increased their vote in 2004. Indeed, PKS won the election in Jakarta, the capital city of Indonesia, then PD in the second place. The PKS won the election because Jakarta’s voters regarded, mostly through media, as a clean and caring party. In other hand, PD becomes more popular because of the personal popularity of Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), the president from 2004 to the present (Sudibyo, 2004). SBY’s popularity, however, greatly increased after he resigned from Megawati’s cabinet. Further, his image was constructed by media as damaged by Megawati’s power, voters looked at SBY with sympathy.
Conclusion
The media construction of political reality allegedly affects the election winning. However, the mass media apparently has a great power to influence a public awareness and public opinion. Regarding the potential power of media, many parties involve the media in their campaign strategy. The media strategy seems to be promoted as the most used vote getter in the next election.
References
Adoni, H., & Mane, S. (1984). MEDIA AND THE SOCIAL CONSTRUCTION OF REALITY: Toward an integration of theory and research. Communication Research, 11(3), 323-340. Retrieved May 5, 2009, from Ohiolink Electronic Journal Center.
Hamad, I. (2007, December 3-4). Media dan Demokrasi di Asia Tenggara: Kasus Indonesia. ICONSEA2007. Retrieved May 5, 2009, from http://jati.um.edu.my/iconsea2007/download/paper/ibnuhamadb.pdf
________. (2004). Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: Granit
Keane, J. (1992). Democracy and the media–without foundations. Political Studies, 40, 116-129.
Meyer, P. (n.d.). Let’s not stop the presses. USA Today, Retrieved May 19, 2009, from Academic Search Complete database.
McNair, B. (2000). Journalism and Democracy: An Evaluation of the Political Public Sphere. London: Routledge. p. 204
Siregar, A. (2001, November 20). HAK PUBLIK MEMPEROLEH INFORMASI DAN KEBEBASAN PERS. In WordPress blog. Retrieved May 16, 2009, from http://ashadisiregar.files.wordpress.com/2008/08/hak-publik-dan-kebebasan-pers.pdf
Sudibyo, A. (2004, January 31). Media Televisi dan Pemilu 2004. Retrieved May 16, 2009, from http://forum.infoanda.com/viewtopic.php?f=3&t=1201
Posted in Kuliah | Tags: Media and Election
Sholawatan sebagai Budaya Tanding
malam minggu ini banyak tawaran untuk hiburan. konser musik Dwiki Darmawan dkk di GSP UGM, Jogja Java Carnival (JJC) di Malioboro, Pameran Komputer di JEC dan Sholawatan bareng Habib Syech di UNY. Semua menarik, semua ingin ku datangi, tapi aku belum punya ilmu membelah diri. Kalau milih nonton konser, tiketnya paling murah 40 ribu, pameran komputer juga mbayar tiket masuk setidaknya 3 ribu tanpa parkir (sepeda gitu loh !).
Tinggal 2 pilihan, Jogja Java Carnival apa sholawatan? Malioboro terlalu jauh kalau naik sepeda, lagipula harus nyari tiang listrik atau tempat yang aman buat ‘naleni’ silva, sepeda silverku. akhirnya kuputuskan untuk pergi sholawatan bersama jamaah Ahbabul Mushtofa pimpinan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dari Solo. sudah lama juga telingaku tidak mendengarkan sholawat apalagi membaca. jujur, sholawat kadang membuatku kangen. benar-benar kangen pada sosok yang belum pernah kulihat wajahnya, Nabi Muhammad SAW.
Di antara bait-bait berbahasa Arab, ada juga bait pesan yang diucapkan dalam bahasa jawa. pesan-pesan moral disampaikan lewat syair itu sambil diiringi tetabuhan terbang dan gendang. salah satu pesan yang menarik adalah ajakan untuk “Mengurangi Menonton TV”. Mungkin saja dengan pertimbangan, tentu saja dari kacamata Habib Syech, bahwa TV mengandung lebih banyak pengaruh negatif daripada positif.
ide skripsi nih ! pikirku. langsung saja otakku mencari-cari di antara tumpukan memori tentang teori komunikasi yang sudah terlalu lama mengendap dan mengerak di dasar otak. konsep yang pertama muncul adalah budaya populer. terus terang saat ini saya belum bisa memberikan rujukan valid tentang konsep tersebut. Fyi, jamaah Ahbabul Musthofa ini cukup tenar di Jawa Tengah (khususnya kawasan Jepara, Kudus, Purwodadi, Sragen, Solo) dan DIY. Ia memiliki ratusan pengikut dan ribuan simpatisan. mereka punya jadwal rutin untuk mujahadah dan pembacaan sholawat simtudduror tiap selapanan (38 hari) di masing-masing kota. Bahkan di kota-kota tertentu bisa lebih dari 1 pertemuan (majlis).
Simpatisan yang hadir berasal dari golongan yg beragam. Dari orang tua, pemuda, remaja hingga balita yang diajak serta oleh ibunya. Dari yang berstatus kyai, santri, mahasiswa/i, hingga tukang patri. Mengamati perilaku mereka selama acara berlangsung, tak jauh beda dengan pertunjukan konser musik atau seni lainnya. terkadang jamaah menirukan ucapan Habib, melanjutkan bait selanjutnya bahkan tak sedikit yang melambai-lambaikan tangan ke atas persis nonton konser musik. bedanya adalah sebagian besar jamaah berbaju putih, kopiah putih dan duduk lesehan.
Kembali pada konsep budaya popular. secara umum, dan masih sangat permukaan, aku menangkap sinyal bahwa ritual ini telah mengalami apa yg disebut Mas Wisnu dalam salah note Ekonomi Politik Media-nya sebagai komodifikasi, transformasi nilai guna menjadi nilai ekonomi. dibuktikan dengan penjualan kaset, CD, buku sholawat Simtudduror bahkan poster Sang Habib sendiri. memang untuk tahu berapa nilai ekonominya, butuh penelitian yang lebih jauh.
Hal lain yang berkaitan dengan budaya populer adalah makna dari kehadirannya. lagi-lagi saya minta maaf for lacking of theory, dalam hal ini jamaah Ahbabul Musthofa memainkan peran sebagai budaya tanding (alter culture) terhadap penetrasi berjamaah dari media mainstream. ini jelas tersurat dari isi pesannya yang lugas untuk mengurangi aktivitas menonton TV dan menggantinya dengan ikut ngaji. Selain itu masih ada lagi pesan-pesan moral menanggapi budaya masa kini seperti pergaulan muda-mudi dan sikap ekstremis yang menggejala.
namun yang perlu dikritisi juga adalah dari mana akar budaya sholawatan itu sendiri. jika media mainstream seringkali dituduh sebagai pembawa pengaruh buruk dari budaya Barat (asing), bukankah tradisi sholawatan juga bukan asli dari budaya kita Indonesia melainkan dari budaya Arab yang juga asing. Bukankah jamaah habaib malah memunculkan penyanjungan, pemuliaan kepada orang yang berasal dari Arab meskipun dengan dalih keturunan Nabi. kemudian apa bedanya Arabisasi dengan Westernisasi ? Waallahua’lam bisshawab
pertanyaanku cuma satu sebenarnya. bisakah ini kuangkat sebagai skripsi? *ketawa miriss*
kritik dan saran yang membangun selalu saya tunggu…
PS: lagi-lagi ide baru lagi… bingung je!
Posted in LACUR | Tags: budaya populer, budaya tandingan, Sholawat
Ketika Perubahan itu Tiba
ketika saatnya tiba, perubahan itu terjadi begitu cepatnya. bahkan indra kita tak sempat mencerna gerangan apa.
ketika perubahan itu tiba, tiada yang bisa kita perbuat kecuali menerima
Posted in Creative Writing | Tags: hikmah hidup, perubahan
Temptation
You will be tempted, will be tested on those spots which is the weakest untill You dare to battle with it, master to handle it.
Jepara, 011009
Posted in Creative Writing | Tags: hikmah hidup, Temptation
Beasiswa Kursus di Amerika INDONESIA ENGLISH LANGUAGE STUDY PROGRAM (IELSP)
Dear All,
berikut ini adalah informasi beasiswa yang sangat sayang jika dilewatkan. melalui program ini saya berhasil mewujudkan satu impian besar dalam hidup, studi keluar negeri tanpa biaya.
Terdengar seperti mimpi??
Ya, bukankah semua memang berawal dari mimpi?!
Apakah mimpi itu akan tetap jadi mimpi atau mewujud dalam kehidupan diri, hanya kita yang mampu menjawab.
Selamat berkompetisi !
PS alias Pesan Sponsor:
tolong info ini disampaikan kepada orang-orang di sekitar Anda.
Program ini terlaksana berkat kerjasama IIE dan IIEF yang didanai oleh U.S. Department of State.
We love all American Tax Payer (Lidia mode is ON)
ups salah ! untuk cohort 7 kali ini fundingnya U.S. Embassy. Enam Cohort sebelumnya memang US Dept. of State.
Aku Bermimpi, Aku Meyakini, Aku Mengalami
Maulin Ni’am
Grantee of IELSP Batch VI Ohio University
====================================
“Frequently Asked Questions”
1. Apakah IELSP itu?
Indonesia English Language Study Program adalah program beasiswa yang menawarkan kesempatan untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di universitas-universitas di Amerika Serikat selama 8 (delapan) minggu.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris peserta, khususnya dalam English for Academic Purposes. Selain itu, peserta akan memiliki kesempatan untuk mempelajari secara langsung kebudayaan dan masyarakat Amerika Serikat karena peserta akan mengikuti program immersion dalam kelas internasional dimana mereka akan bergabung dengan peserta lain dari berbagai bangsa dan negara. Dalam program ini, peserta tidak hanya akan belajar Bahasa Inggris, namun juga akan mengikuti berbagai program kultural yang akan memberikan pengalaman yang sangat berharga.
2. Siapa yang berhak mendaftar?
IELSP terbuka untuk mereka yang berumur 19 – 24 tahun dan masih aktif sebagai mahasiswa S1 minimal tahun ketiga (semester 5 keatas) di perguruan tinggi mana pun di Indonesia dari berbagai jurusan. Pendaftar juga harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik yang ditunjukkan dengan nilai TOEFL® baik International TOEFL® atau TOEFL® ITP minimal 450. Peserta terpilih juga harus bersedia untuk meninggalkan kuliah di tanah air selama 8 minggu karena akan mengikuti kursus intensif di Amerika Serikat selama waktu tersebut.
3. Apa saja persyaratannya?
- berumur 19 – 24 tahun, dan
- aktif sebagai mahasiswa S1 minimal tahun ketiga (semester 5 keatas) di perguruan tinggi manapun di seluruh Indonesia (BELUM DINYATAKAN LULUS/MENEMPUH SIDANG KELULUSAN)
- memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik yang ditunjukkan dengan nilai TOEFL® baik International TOEFL® atau TOEFL® ITP minimal 450 (bukan Prediction Test)
- memiliki prestasi akademik yang baik
- aktif dalam berbagai kegiatan atau organisasi
- memiliki komitmen penuh untuk segera kembali ke tanah air segera setelah program ini selesai
- tidak memiliki pengalaman belajar di Amerika Serikat atau negara lain selain Indonesia
- memiliki sifat-sifat: aktif, mandiri, bertanggung jawab, percaya diri dan berpikiran luas.
- Menguasai komputer
4. Bagaimana cara mendaftar?
Untuk mendaftar, dapat mengambil formulir di kantor Indonesian International Education Foundation (IIEF), Menara Imperium Lt. 28 Suite B, Jl. HR Rasuna Said Kav 1, Jakarta 12980. Formulir juga dapat di-download dari website IIEF di www.iief.or.id. Formulir boleh di fotokopi.
5. Dokumen apa saja yang harus disertakan dalam formulir pendaftaran?
Pendaftar harus melampirkan dokumen-dokumen berikut dalam formulir pendaftaran yang telah dilengkapi:
- 1 (satu) buah pasfoto berwarna ukuran 4×6
- 1 (satu) buah fotokopi Kartu Identitas (KTP)
- 1 (satu) buah surat keterangan resmi dari universitas bahwa yang bersangkutan masih aktif terdaftar di universitas tersebut
- transkrip nilai dari semester 1
- 1 (satu) buah fotokopi Ijazah SMA (tidak perlu diterjemahkan)
- 1 (satu) buah fotokopi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) SMA (tidak perlu diterjemahkan)
- 1 (satu) buah Surat Referensi dari dosen di universitas – menggunakan form khusus yang terlampir dalam Formulir Pendaftaran. Form Referensi yang telah dilengkapi harap dimasukkan kedalam amplop tertutup dan disertakan bersama Formulir Pendaftaran yang telah dilengkapi. Surat Referensi dari Dosen Matakuliah Bahasa Inggris lebih baik.
- 1 (satu) buah fotokopi nilai TOEFL® (International TOEFL® atau TOEFL® ITP)
6. Formulir ditujukan ke mana?
Formulir yang telah dilengkapi dan disertai oleh dokumen persyaratan dialamatkan ke:
IELSP
Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Menara Imperium Lt. 28 Suite B
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Kuningan Jakarta 12980
(harap menuliskan IELSP di sudut kiri atas amplop)
7. Kapan batas waktu pendaftaran?
Untuk Gelombang VII, formulir yang telah dilengkapi dan disertai oleh dokumen persyaratan harus diterima oleh IIEF paling lambat tanggal 12 November 2009.
8. Apakah saya harus sudah memiliki paspor dan visa Amerika Serikat sebelum mendaftar?
Seseorang tidak perlu sudah memiliki paspor dan visa Amerika Serikat untuk bisa mendaftar. Jika terpilih, peserta akan diberikan waktu untuk mengurus paspor. Visa Amerika Serikat akan diurus oleh IIEF sebelum keberangkatan. Perhatian: Penerima beasiswa dijadualkan untuk berangkat ke Amerika Serikat pada bulan Mei/Juni 2010. (catatan: keputusan hasil seleksi tidak dapat diganggu gugat)
9. Apakah ada biaya tertentu yang harus saya bayar dalam program beasiswa ini?
Program ini merupakan beasiswa penuh, dan peserta tidak dipungut biaya apapun. Penerima beasiswa akan ditanggung seluruh biaya kecuali biaya pembuatan paspor.
10. Kemana saya harus bertanya untuk mendapatkan informasi?
Untuk informasi dapat menghubungi:
Indonesian International Education Foundation (IIEF)
Menara Imperium Lt. 28 Suite B
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Kuningan Jakarta 12980
Telp: 021 – 831 7330,Fax: 021 – 831 7331 (pada jam kerja)
Email: scholarship@iief.or.id
ini link formulirnya. http://www.iie.org/Source/IELSP_Application_Form_Cohort_7.pdf
Posted in Kuliah | Tags: Beasiswa Luar Negeri, form ielsp, IELSP, IIEF
suddenly blue
tadi sore sehabis sholat di maskam, aku merasa ada yang lain di hati. sebenarnya sejak pertama kali mengangkat tangan untuk takbirotul ihrom aku sengaja meniatkan diri untuk ikhlas, untuk hudlur di hadapanNya. saat itu pula aku merasa tenaaaang. rasanya ingin memperpanjang waktu sholatku. tapi berhubung aku berada di barisan makmum, mau tak mau harus manut pada sang imam. entah kenapa, tapi jujur sempat muncul perasaan seolah inilah waktu terakhirku. entah terakhir dari apa aku juga tak tahu.
sejak saat itu, di perjalanan pulang hingga sekarang, hatiku terasa biru, semacam rindu pada kampung halamanku, i wanna go home, my eternal home.
Posted in LACUR
Many things to share, but
dua hari lagi aku, insyaallah jadi, berangkat ke papua. kabupaten teluk bintuni tepatnya. wilayah yang terletak di bagian leher dari ‘burung’ papua. itu berarti bahwa aku akan berpisah dari dunia maya. hiks,, padahal aku merasa masih punya utang untuk menuliskan beberapa cerita. misalnya tentang perjalananku selama di jepara. bertemu dengan para petani organik yang berusaha mengatasi ‘gendala-gendala’ persawahannya, tentang anak-anak kecil yang tiap sore datang ke teras rumahku untuk mengeja alif ba ta. tak lupa pula curhatanku tentang perasaanku pada perempuan. pada perempuan yang ku sebut sebagai matahari hatiku. dan masih banyak lagi yang lain.
sementara saat ini aku, seperti biasa, belum mengemas barang-barang yang mau ku bawa ke papua. boro-boro mengemas, beli barangnya aja belum. ada tissue basah, antiseptik, obat malaria, tas ransel. belum lagi persiapan berkasku untuk mengejar beasiswa ke singapura, yang mau ga mau harus sudah ku kirim sebelum keberangkatanku ke papua. aku masih harus buat personal statement dan study objective (celakanya pake bahasa Inggris) trus copy surat-surat plus beberapa piagam. hufff..
many things to do, but i have to fight for my dreams.
~kejar singapura, kejar wisuda 2010 !!

