Bising

Kajian neuroakustik menemukan bahwa kebisingan berdampak negatif pada kesehatan. Meskipun dalam level yang rendah, hiruk pikuk di tempat kerja, kemacetan di jalan, klakson kendaraan bersahut-sahutan, deru mesin-mesin pembangunan, pertengkaran manusia di sekitar kita, dan kebisingan hidup di perkotaan dapat meningkatkan kecemasan dan memengaruhi fungsi kerja otak kita.

Dering telpon, notifikasi dari berbagai aplikasi gadget, bualan pengamat di layar kaca pelan tapi pasti merusak kemampuan kita untuk fokus dan belajar, memacu jantung berdetak lebih kencang, meningkatkan tekanan darah, dan membuat kita lebih agresif.

Parahnya lagi, kebisingan terjadi tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam diri kita. Seringkali suara-suara dari dalam kepala kita justru lebih bising dan terlalu nyaring untuk diabaikan.

Kita membutuhkan kesunyian di luar dan di dalam, ketenangan lahir dan batin untuk bisa berpikir dengan jernih. Untuk menyembuhkan.

Dalam kehidupan modern, mencari kesunyian yg sejati sama susahnya menemukan langit malam yg benar-benar gelap. Ketika kita berhasil menemukannya, kesunyian menunjukkan pada kita keindahan yang tak terduga. Sama seperti gelapnya malam menyajikan lebih banyak bintang di hamparan semesta tepat di depan mata.

#Perception

Djogja, 14092014

| 1 Komentar

Menyikapi Hantu Masa Lalu

Otak menyimpan ingatan dengan cara yang berbeda. Short term memory (ingatan jangka pendek) dan long term memory (ingatan jangka panjang). Ingatan tentang di mana kita menaruh kunci, nama seseorang yang baru kita kenal, tersimpan sementara dalam hippocampus. Tapi hippocampus tidak menyimpannya untuk waktu yang lama.  Selanjutnya hippocampus akan mentransfernya ke bagian cortex di mana ingatan tersebut akan menguat atau melemah tergantung pada seberapa sering kita mengakses ingatan tersebut.

Tiap kali kita membuka ingatan tersebut, neuron akan aktif dan ingatan tersebut menjadi lebih kuat. Tetapi jika kita terlalu lama tidak membukanya, mungkin ingatan itu akan terkubur selamanya.

Masa lalu terkadang datang kembali untuk menghantui. Kenakalan di masa remaja, dosa di masa muda, penyakit yg diderita orang tua kita, kecelakaan atau trauma masa kecil, itu semua bisa menempel di ingatan sepanjang usia kita.

Meski memiliki potensi kekuatan yang luar biasa, segumpal kusut jaringan neuron di kepala yg kita sebut otak, pada kenyataannya adalah organ yg sangat rapuh.
Tanpa tengkorak yg melindungi, otak mirip sebentuk jelly yang rentan terhadap goresan setipis apapun.

Sebuah guncangan (baik secara fisik maupun mental) saja cukup memberi dampak jangka panjang yang baru akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai penyakit parkinson atau alzheimer.

Tapi bukan berarti kita harus hidup dalam kepompong, menutup diri dari segala yang berpontensi melukai (fisik dan emosi).

Membuka diri pada kenangan masa lalu dan ketidakpastian masa depan (baik atau buruk) adalah seni menjalani hidup untuk menyembuhkan luka kita, menemukan batas terindah dari kebebasan kita.

| 1 Komentar

Tentang Mati Rasa

“Kamu agak gemuk sekarang”

“Kamu kelihatan capek ya?!”

“Eh rambutmu kenapa? Kok makin botak aja”

 

Tak peduli seberapa menyenangkan hari yg baru saja kau jalani, cukup satu kalimat pendek untuk merusaknya. Pernah mengalami kan?!

Itu karena otak lebih cepat terangsang untuk mengingat interaksi negatif daripada yang positif. Penelitian di bidang neuroscience menemukan fakta bahwa bagian otak yg lebih tinggi dapat memodifikasi bagaimana bagian otak yg lebih rendah berfungsi. Bahwa jika kita bisa menggunakan intensi (niat) dan atensi (perhatian) kita secara mendalam/fokus, kita mampu mengatasi bias negatif (negative thinking, prasangka buruk, sikap puskaptis eh skeptis) dari otak kita.

 

Jadi sangat mungkin bagi kita untuk mengendalikan seburuk apa sebuah pengalaman buruk memengaruhi kita. Dengan kata lain, kecuali bahwa kita mengidap depresi secara klinis, menjadi tidak bahagia/kecewa faktanya adalah pilihan semata.

 

“Sticks and stones may break my bones. But words will never hurt me.” Demikian kalimat (sok) bijak mengajarkan.

 

Kata-kata memang tidak bisa melukai fisik. Tapi luka yg disebabkan oleh kata-kata dalam banyak kasus lebih susah disembuhkan. Satu saja kalimat negatif yg kita terima di masa kecil bisa mengubah dan memengaruhi cara hidup bahkan nasib kita hingga tua.

 

Ketika kita memegang secangkir kopi panas atau kaki terantuk batu, ada bagian otak tertentu yang terstimulasi aktif sehingga kita merasakan sakit atau mengidentifikasi pengalaman itu sebagai sebuah pengalaman menyakitkan. Bagian otak yang sama pula yang terstimulasi aktif ketika kita mengalami penolakan secara sosial, pengkhianatan dari teman, diselingkuhi pasangan.

Itu artinya luka di jiwa sama menyakitkannya dengan luka fisik.

 

Ilmu pengobatan telah mampu mengembangkan ramuan kimia pengurang rasa sakit fisik. Beberapa di antaranya bahkan terbukti mampu mengurangi rasa sakit secara emosi. Jadi mungkin suatu saat obat yg tepat untuk patah hati cukup dengan menelan 2 butir Tylenol sebelum tidur. Manusia beradaptasi dengan segala sesuatu yg mengancam, tak terkecuali pada penderitaan. Ada sebagian manusia yg memilih menghindar, membuang kata sakit, luka, derita dari kamus hidupnya. Ada yg memilih untuk pelan-pelan menikmati penderitaan sebagai satu-satunya realitas yang pantas diterimanya. Ada juga yang memilih mematikan syaraf pengenal rasa sakit atau radar emosinya.

 

Tapi apakah me-matirasa-kan diri, sebagai self defense mechanism, selalu baik untuk kesehatan kita?!

 

Semakin kita mengenal penderitaan, dengan segala varian rasa, semakin kita mampu mengenali, menghargai sensasi dan pengalaman yang kita sukai. That’s the nature of contrast.

 

Jika kita tidak pernah merasakan kepahitan, penderitaan, kemarahan, mungkin kita tak akan mampu menyelami samudra kebahagiaan hingga ke dasarnya. Jika kita tidak pernah tahu apa yang kita takuti, kita tidak akan pernah tahu apa arti berani. Jika kita tidak pernah mengalami kegelapan, kita akan geragapan melayani cahaya.

 

Sayangnya kita sekarang ini terlalu lama hidup dalam kegelapan dan gebyar kepalsuan hingga kita tak lagi mampu membedakan mana pancaran cahaya Tuhan mana kobaran api setan yang menyilaukan.

 

Jogja.20072014

Dipublikasi di Soliloquist | Tinggalkan komentar

Dewa Amral Ngoyak Kayangan

Sabtu malam 5 Juli lalu saya diperjalankan Allah untuk menyaksikan pentas Wayang Orang Ngesti Pandowo di Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Grup Ngesti Pandawa pernah menjadi ikon budaya kota Semarang. Grup yang dirintis oleh beberapa seniman legendaris, salah satunya ki Narto Sabdho, ini didirikan di Madiun pada 1937 dan berkembang di Semarang hingga sekarang.

 

Malam itu lakon yang dipentaskan bertajuk Dewa Amral.

 

Kisah bermula ketika dalam sebuah sidang para Dewa, Batara Guru sebagai pimpinan tiba-tiba membuat putusan. “Puntadewa telah melanggar paugeran. Ia harus menerima hukuman!”

 

Semua anggota DPD (Dewan Para Dewata) terkejut tapi tak berani membantah.

 

“Puntadewa harus dihukum mati!” demikian titah Batara Guru.

 

Para dewa clingak-clinguk saling menatap satu sama lain. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran tapi tak ada satupun yang berani bersuara.

 

“Segera kirim utusan ke Negara Amarta!” Seru Batara guru.

 

Para dewa tak bisa berkata lain selain “sendhiko dhawuh” lalu diam tanpa kata.

 

Cukup lama ruang sidang diliputi kesenyapan hingga akhirnya tawa kekeh Batara Narada, orang kedua di Swargaloka, memecah keheningan.

 

“Heuheuheu… Saya mengerti apa yang Paduka baru saja sampaikan. Instruksi Paduka Hyang Batara Guru sangat jelas. Tetapi yang hamba tidak pahami adalah atas dasar apa, pasal paugeran mana yang Puntadewa langgar hingga ia pantas dihukum mati?”

 

Hyang Batara Guru agak malas mengingat pasal-pasal, lalu menjawab asal, “Karena namanya Puntadewa”

 

“lho… lho… lho… Apa salahnya dia bernama Puntadewa?”

 

“Dia melanggar paugeran antara kadewatan dengan kamanungsan. Seorang manusia tidak boleh menggunakan nama dewa. Itu tidak etis dan berpotensi membingungkan birokrasi jagad raya”

 

“Heuheuheu…” kembali Narada terkekeh. “Apalah arti sebuah nama, Paduka Guru?! Bukankah secara biologis dalam diri Puntadewa mengalir darah  Batara Dharma?! Jadi secara administratif dia berhak menyandang nama dewa, meskipun wujudnya manusia. Lagipula nama itu diberikan atas petunjuk Hyang Tunggal sebagai lambang kejujuran dan keadilan. Heuheuheu…”

 

Mbuh ora weruh! Pokoknya manusia tidak boleh menggunakan nama dewa.” Batara Guru mulai emosi.

 

Batara Narada merendah, “Baiklah. Tapi apa ya harus dihukum mati? Bukankah sejak jadi raja, Puntadewa tak lagi menggunakan nama itu dan berganti nama Yudhistira?”

 

“Pokoknya aku, Batara Guru, sudah bersabda. Dan sabdaku harus terlaksana.”

 

“Wee… lhadalah! Cilaka! Cilaka!

 

Utusan para dewa segera menemui Pandawa untuk melaksanakan titah Dewata. Para Pandawa, yang telah bersumpah Tiji Tibeh (Mukti Siji Mukti Kabeh, Mati Siji Mati Kabeh), tak sampai hati menyaksikan kakak sulungnya dihukum sendirian. Para Pandawa lalu menawar hukuman. Jika memang Puntadewa harus dihukum mati, keempat saudaranya juga harus ikut mati. Mendengar pernyataan itu, Batara Guru memberikan keringanan hukuman. Puntadewa tidak jadi dihukum mati. Sebagai gantinya keempat saudaranya diasingkan ke kawah candradimuka.

 

Puntadewa merasakan kesedihan yang mendalam. Ia tak pernah membayangkan hidup sendirian. Sebagai raja, ia membutuhkan keempat saudaranya untuk memimpin rakyatnya. Ia mengadu pada Dewi Kunti, ibunya kandungnya, tentang putusan dewa yang dirasa tak adil. Dewi Kunti tak bisa menyarankan apa-apa selain mematuhi putusan para dewa, meskipun dalam hati Kunti tahu persis sejarah kecerobohan para dewa. Ia pun menemui Ponokawan untuk rerasan. Siapa tahu mereka punya penjelasan yang lebih masuk akal. Namun semua penjelasan tak ada yang melegakan. Puntadewa kalut. Ia bertekad menggugat, kalau perlu ia akan naik ke kayangan untuk menuntut keadilan.

 

Gunungan semesta tergelar

Fakta dan fitnah terjalin berkelindan

Macan di kiri, Banteng di kanan.

Keduanya siap bertarung habis-habisan.

Sementara di kiri kanan

ular-ular naga tertawa lebar.

 

Kesedihan yang teramat dalam rupanya membangkitkan energi mahadahsyat. Duka kehilangan orang-orang terkasih membuat seseorang kehilangan ketakutan atas apapun saja untuk dipertaruhkan. Ketika akal sehat tergulung emosi nan hebat, yang tersisa adalah nekat. Puntadewa pun ber-triwikrama. Tubuhnya menjelma raksasa tanpa tanding dan mendeklarasikan dirinya sebagai Prabu Batara Dewa Amral. Ia segera naik ke kayangan, melabrak birokrasi kadewatan. Siapapun yang menghalangi langkahnya diterjang tanpa ampun. Swargaloka porakporanda.

 

Singkat cerita, karena tak satupun aparat dewa yang mampu mengalahkan Dewa Amral, Batara Guru  meminta bantuan Pandawa yang disekap di kawah Candradimuka untuk menghadapi Dewa Amral. Seberapapun marah dan bencinya Puntadewa pada kesewenang-wenangan para dewa, ia tak sampai hati beradu tanding dengan saudaranya sendiri, apalagi sampai melukai. Akhirnya Dewa Amral kembali ke wujud semula.  

 

Selama menyaksikan pementasan tersebut, saya tak kuasa mengalihkan pikiran dari bayangan kondisi Indonesia hari ini dan hari-hari setelah ini. Suasana pemerintahan yang dipenuhi oleh kecurigaan, kecurangan, kebijakan yang sama sekali tak bijak, aparatur Negara yang menggunakan kuasanya untuk memuaskan nafsu dan dendam pribadinya. Dalam konteks penyelenggaraan Negara sempalan swargaloka bernama Indonesia seperti inilah yang menyebabkan lahirnya Dewa Amral-Dewa Amral masa kini. Dewa Amral adalah representasi negarawan (dalam arti orang-orang yang terlibat urusan Negara bukan sosok yang memiliki kapabilitas/kualitas kenegarawan) yang kecewa melihat kecurangan di sekitarnya lalu memutuskan untuk turun tangan mengobarkan perlawanan. Seperti kita saksikan di media, bagaimana seorang mantan ketua Mahkamah Konstitusi yang harusnya memiliki kejernihan pikir dan keluasan cakrawala atas kondisi bangsa memutuskan untuk berpihak pada Capres A, bahkan menjadi ketua tim pemenangan, hanya karena ia merasa dicurangi oleh pihak yang mendukung capres lainnya. Di pihak lain, tak sedikit para Begawan di bidang pendidikan, budaya, dan agama berbondong-bondong mendukung capres B karena Capres A dibayangkan sebagai mantan pelaku kejahatan dan pasti akan mengulangi kejahatan yang dibayangkannya itu.

 

Selama penyelenggaraan Pemilu 2014 kita bisa membaca, menyaksikan, atau mengalami sendiri betapa satu-persatu negarawan kita bertriwikrama menjadi raksasa penyulut kekacauan. Dimulai dari kekacauan informasi, kekacauan hukum, kekacauan tata nilai, hingga kekacauan akal budi. Pendukung kedua capres saling hujat, saling fitnah, saling serang, saling klaim kebenaran, dan seolah hanya menunggu waktu untuk saling menumpahkan darah. 

 

Sebelum kekacauan yang lebih parah terjadi, semoga Sang Hyang Widhi menyisipkan wahyu dalam kelenjar pineal kita sebagaimana yang diturunkan pada Dewa Amral di detik-detik terakhirnya ber-triwikrama. Bahwa yang sedang kita hadapi adalah saudara kita sendiri. Bahwa hidangan pesta demokrasi yang siap kita lahap adalah bangkai saudara kita sendiri. Percayalah tak ada yang diuntungkan dari perang ini selain ular-ular licik yang membisik dari luar.

 

Gunungan semesta tergelar

Fakta dan fitnah terjalin berkelindan

Macan di kiri, Banteng di kanan.

Keduanya siap bertarung habis-habisan.

Sementara di kiri kanan

ular-ular naga tertawa lebar.

 

Jogjakarta, 14 Juli 2014

Dipublikasi di Laku Mlaku | Tinggalkan komentar

Berubah. Sekarang!

Setiap hari, tiap saat, tiap nanodetik, dunia berubah. Partikel atom bertumbukan satu sama lain dan saling bereaksi. Manusia saling berbenturan dan mengubah arah satu sama lain.

Tapi kita manusia tidak menyukai perubahan. Kita berjuang melawan perubahan. Perubahan membuat kita takut. Takut kehilangan rasa nyaman. Takut pada ketidakpastian. Lalu kita menciptakan ilusi tentang ‘yang pasti-pasti aja’.

Manusia ingin memercayai bahwa dunia akan berjalan seperti yg sudah dan sedang terjadi sekarang. Sesuai prediksi logika kita agar pikiran kita tetap tenang. Pemahaman kita tetap saja sama. Padahal saat kita baru saja memahami makna ‘sekarang’, yg kita sebut sebagai ‘sekarang’ itu sudah berlalu.

Kita terpaku pada potongan-potongan kenangan, snapshot dari masa lalu. Padahal hidup adalah gambar bergerak. Kita harus menggerakkan potongan kenangan untuk bisa menyaksikan indahnya pengalaman.
Berubah tidak pernah mudah. Seringnya itu sulit dan memilukan. Tapi mungkin itu sesuatu yang baik. Karena perubahan itu yg membuat mental kita kuat, menjaga jiwa kita tetap tabah. Perubahan mengajari kita cara berevolusi

 

Jogja.01072014

Dipublikasi di Soliloquist | Tinggalkan komentar

Ekspedisi Papua II: Dinamika Sosial dan Ekonomi Kampung Sidomakmur

Sejarah kampung Sidomakmur bermula dari dibukanya perusahaan pengolahan udang terbesar di Indonesia milik keluarga Cendana, PT Jayanti di Wimro. Karena membutuhkan banyak pasokan udang untuk jalannya perusahaan, pemerintah membuka program transmigrasi terutama bagi nelayan-nelayan. Untuk itu di seberang Wimro dibuka permukiman untuk para transmigran cum karyawan PT Jayanti dengan nama resmi TransWimro. Tak heran jika sebagian besar nelayan di Wimro berasal dari Jawa, khususnya Jawa Timur meliputi Gresik, Probolinggo, dan Banyuwangi). Kampung TransWimro dikenal juga dengan sebutan RKI, singkatan dari Rumah Kayu Indonesia, karena semua rumah di sana dari dulu hingga sekarang sebagian besar berbahan utama kayu.

 

Sekitar tahun 2003, para sesepuh transmigran yang sebagian besar dari Jawa, memberi nama RKI dengan nama Kampung Sidomakmur. Sebagaimana tradisi Jawa, pengubahan nama kampung tersebut dilakukan dengan upacara adat ala Jawa, lengkap dengan tumpeng dan ubarampenya.

 

Di awal kehadiran perusahaan BP (British Petroleum) di Teluk Bintuni, BP mengumpulkan para wakil kampung yang masuk dalam DAV (direct-affected villages) atau kampung-kampung yang terdampak secara langsung. Namun nama kampung Sidomakmur tidak masuk dalam daftar sehingga luput dari peta kampung terdampak yang ujung-ujungnya tidak mendapatkan kompensasi pembangunan dari perusahaan. Yang ada dalam daftar adalah kampung Wimro. Ini yang kemudian menjadi masalah di kemudian hari. Kampung Sidomakmur dianggap tidak ada secara administrasi di Pemda Teluk Bintuni, yang tercatat adalah kampung Wimro. “Baru, kalau tong tanya SK kampung Sidomakmur, tong tanya Tuhan deng Moyang Laut sudah!” demikian cerita Pak Darno ketika keabsahan Sidomakmur sebagai kampung dipertanyakan. Sementara kampung TransWimro sendiri pernah sengaja “dimatikan.”

 

Usut punya usut, kampung Wimro pernah mendapatkan bantuan berupa pinjaman untuk koperasi dengan nilai ratusan juta rupiah. Pinjaman tersebut macet karena mismanajemen dan penyalahgunaan oleh pengurus koperasi yang ternyata juga melibatkan pengurus/sesepuh kampung RKI. Sebagai exit strategy, nama kampung Wimro tidak lagi digunakan, diganti dengan Sidomakmur, sehingga seolah-olah tidak ada lagi. Jika diperkarakan, nama kampung Wimro hanya tinggal nama saja tanpa ada aparatnya.

 

Mayoritas penduduk Sidomakmur memiliki mata pencaharian sebagai nelayan udang dan berdagang. Perputaran uang di Sidomakmur bisa dikatakan sangat besar. Mak Suratmi, transmigran asal Banyuwangi, menceritakan ia memiliki perahu yang dioperasikan oleh nelayan pendatang. Dalam sebulan perahunya beroperasi dalam 2 konda. Satu konda kurang lebih selama 12 hari. Sekali melaut, 1-2 hari, hasil udang yang diperoleh rata-rata 3-5 kg udang. Jika laut sedang teduh, dalam sehari bisa memeroleh 10-15 kg udang. Sehingga dalam sebulan bisa Mak Suratmi bisa mendapatkan kurang lebih 10 juta dari hasil udang.

 

Begitu juga perputaran uang dari perdagangan, terutama warung makan dan kebutuhan sehari-hari. Untuk kios kecil saja, omset per hari rata-rata 200-300 ribu. Sedangkan  untuk kios yang agak besar omsetnya bisa mencapai 600 ribu hingga 1 juta dalam sehari semalam. Bisa dibayangkan berapa perputaran uang masing-masing kios dalam sebulan.

 

Saat ini para nelayan di Sidomakmur mulai resah dengan rencana ekspansi, pembangunan sumur pengeboran minyak,  oleh BP. Beberapa keluhan yang mulai dirasakan nelayan antara lain:

  • Keberadaan rig di sekitar lokasi calon sumur BP di muara membuat wilayah tangkap nelayan menjadi semakin terbatas.
  • Keberadaan udang di muara mulai jauh berkurang. Bisa jadi karena habitat udang tercemari polusi dari keberadaan BP.
  • Perusahaan menggunakan penerangan yang sangat terang di sekitar rig membuat ikan-ikan/udang mendekat ke arah cahaya. Sementara nelayan kalau mau cari udang dihalangi oleh batasan zona rig yang dibuat perusahaan.
  • Dulu untuk bisa ikut mencari udang di muara, nelayan baik secara kelompok atau perorangan harus memeroleh ijin dari pemangku hak ulayat. Untuk memeroleh ijin tersebut mereka membayar sejumlah uang ulayat tiap tahun. Mengapa harus membayar? Setiap orang dengan mudah mendapatkan uang semudah nyiduk udang saking banyaknya. Tapi sekarang ijin tersebut tidak berlaku lagi, (mungkin) karena memang volume udang di muara sudah sangat berkurang.
  • Sekarang ini nelayan harus mencari udang ke tempat-tempat yang lebih jauh di luar kawasan RKI. Ini berdampak pada meningkatnya biaya operasional nelayan, yang jelas bahan bakar dan perbekalan. Belum lagi jika di lokasi lain, mereka harus membayar hak ulayat kepada suku/adat setempat.

 

Dari beberapa warga yang sempat saya wawancarai mengaku sekarang kesejahteraan hidup mereka makin menurun. Ibaratnya dulu keluarga biasa membeli beras 1 karung tiap bulan, sekarang terpaksa ngecer kiloan.

 

Mayoritas penduduk Sidomakmur adalah muslim. Secara umum, warga RKI menganut islam tradisional ala NU, meskipun secara organisasi tidak ada papan nama pengurus NU ranting Sidomakmur. Ada beberapa warga menganut Muhammadiyah tapi jumlahnya lebih sedikit. Selama bertahun-tahun kehidupan beragama di Sidomakmur bisa dikatakan damai-damai saja.

 

Namun belakangan ini kehadiran beberapa orang islam dengan aliran puritan mulai meresahkan masyarakat. Dari keterangan yang kucuri dengar dari Pak Abu (aparat kampung) dan Pak Sudarno (transmigran angkatan pertama yang sekaligus ketua RT 3) keresahan tersebut bermula budaya tahlilan yang biasanya dilakukan untuk mengawali kumpulan RT/kampung mulai dipermasalahkan. Akibatnya, dengan tidak ada tahlilan, rapat RT jadi terasa kaku. Warga jadi lebih sering diem-dieman selama kumpulan. Rupanya virus wahabi atau ke-pekok-an dalam beragama sudah menyusup ke kampung-kampung Papua. 

 

 

Sidomakmur, 9 November 2013

Dipublikasi di Laku Mlaku | Tinggalkan komentar

Ekspedisi Papua II: Tenggelamnya Kapal Munaji

Sore ini aku bertukar cerita dengan ibu Sugianti. Dia mengaku keluarganya sedang dalam krisis ekonomi. Suaminya sudah tidak bekerja beberapa bulan lamanya, terutama setelah 1 perahunya karam di Bintuni. Untuk hidup sehari-hari, Sugianti mengandalkan warungnya dengan berjualan sayur mayur dan kue donat plus pisang goreng. Keluarganya menanggung hutang 50 juta dari bank. Ia tinggal di RKI bersama Pak Munaji, suaminya, dan Bagas, anaknya yang berusia 8 tahun.

 

Sugianti sekeluarga memulai kehidupan di RKI ini sejak 1991 ketika PT Jayanti, perusahaan pengolahan udang milik keluarga Cendana, beroperasi di Wimro yang terletak di seberang pulau. Pada tahun 1993 ia diberhentikan dan diberi pesangon Rp 115.000,-

 

Uang pesangon itu dipakai untuk modal memulai usaha jualan sayur. Tiap pagi selepas subuh ia mendayung sampan ke Wimro untuk menjajakan sayur. Beruntung pengelola kantin perusahaan berbaik hati menampung dan membeli sayuran miliknya. Sampai akhirnya usaha dagang sayurnya makin berkembang. Munaji, suaminya, bekerja sebagai nelayan udang. Usaha mereka berkembang hingga memiliki 4 ketinting yang dioperasikan orang lain.

 

Pada pertengahan tahun 2013, kondisi ekonomi keluarganya mengalami titik nadir. Karena keteledoran operatornya, 1 ketinting rusak. Saking jengkelnya, Munaji membiarkan perahu tersebut di tinggal di mangi-mangi (rawa bakau) hingga membusuk. Satu ketinting lainnya dijual. Tinggal 2 ketinting yang dioperasikan orang lain di Bintuni. Satu ketinting besar, yang dibeli seharga 70 juta dengan 50 jutanya berasal dari pinjaman bank, karam di dekat Bintuni karena kelebihan muatan. Sementara operator ketinting yang satunya tidak pernah melapor apalagi menyetor hasil ke Munaji.

 

Tenggelamnya ketinting terbaru tersebut membuat Munaji shock berat. Menurut Sugiyanti, “Bapak seperti orang linglung.” Bahkan untuk pergi ke Bintuni mengurus ketintingnya, dia tak punya cukup uang. Sebagai laki-laki sekaligus kepala keluarga, Munaji belum pernah terpuruk serendah ini. Ketika itu uang yang tersisa tinggal seratus rupiah.

 

Pada bulan Agustus setelah lebaran 2013 kemarin, Sugiyanti mendapat uang arisan 5 juta. Setengah dari jumlah tersebut harus ia setorkan ke Manokwari untuk membayar hutang. Selebihnya habis untuk biaya perjalanan lebaran ke Manokwari.

 

Dengan uang lima ratus ribu yang tersisa, Sugiyanti memulai lagi usaha jual sayur mayur, menjajakan donat dan pisang goreng untuk menghidupi keluarganya. Sementara suaminya masih terpuruk dan entah kapan mau bangkit lagi. Sehari-hari Munaji hanya duduk bersarung di bangku warung sambil sesekali membantu istrinya melayani pembeli. Sugianti tidak bisa, dan merasa tidak ada gunanya, memarahi suaminya. Sugianti memaklumi kondisi suaminya, “Bapak tidak pernah serendah ini mas kondisinya. Sekarang seperti tidak berani ngapa-ngapain. Mau tidak mau saya yang harus jadi jangkar keluarga.” Seorang laki-laki yang pernah berjaya dan tiba-tiba tidak punya kuasa, pasti minder yang ada. “Satu hal yang saya syukuri, meskipun kondisi Bapak begitu, Bapak tidak berbuat yang aneh-aneh atau macem-macem. Di rumah saja,” ungkapnya. Sugiyanti tidak bosan-bosan meyakinkan suaminya bahwa rejeki pasti ada, kerja apa saja boleh, asal tidak mencuri.

 

Bagaimanapun sabar dan tegar seseorang, ketakutan atas ketidakpastian hari esok tetap tak bisa disembunyikan. Sugiyanti merasa cunthel, tak tahu harus bagaimana lagi atau dengan cara apa lagi ia bisa menggelindingkan roda nasib keluarganya ke arah yang lebih baik, keluar dari kesempitan rejeki.

 

Sedari awal membina rumah tangga, Sugiyanti, juga Munaji, tak percaya dan tak mau percaya dengan klenik atau perdukunan. Tetapi musibah dan kesulitan ekonomi yang bertubi-tubi yang terjadi secara drastis membuat mereka berubah pikiran, mulai mengenal praktik perdukunan. Suatu ketika suaminya tidur dan bermimpi didatangi almarhumah ibunya, “Le, ojo turu sore-sore. Iku lho deloken ning njobo ono sopo. (Le, jangan tidur sore-sore. Itu lho lihatlah keluar ada siapa.)” Munaji terbangun tapi tak bisa menggerakkan badannya. Ia bisa melihat di teras rumahnya ada seorang tetangganya sedang berdiri dan tampak merapal doa-doa. Ketika akhirnya Munaji bisa bergerak dan keluar rumah, tetangganya lari terbirit-birit.

 

Setelah peristiwa tersebut Munaji mulai bertanya ke sana ke mari, ke saudara, ke orang tua, ke orang pintar apa yang harus ia lakukan. Beberapa orang memberi saran yang berbeda tapi toh tetap mereka coba. Beberapa laku ritual yang pernah dilakukan antara lain menyebarkan garam di sekeliling rumah untuk menetralkan energi negatif. Salah satu orang tua memberikan saran ‘ramuan wong omah-omah’ yang berguna untuk menangkal segala gangguan rumah tangga. Caranya adalah ketika mencampurkan air kencing istri dan suami pada pagi hari lalu menyiramkannya di sekeliling rumah.

 

Di lain waktu Sugiyanti disarankan untuk mengamalkan sholawat nariyah. Mendengar kata Sholawat Nariyah spontan aku nyeletuk, “Nariyah itu energinya panas.” Sugiyanti sejenak tertegun. “Oh pantas, sewaktu saya masih mengamalkan, suasana rumah jadi berhawa panas. Gampang emosi. Saya takut lalu saya berhenti mengamalkan,” lanjutnya. Sebenarnya sholawat nariyah cocok diamalkan oleh orang yang cenderung pemalas. Itu bikin orang yang mengamalkan selalu merasa diburu-buru atau tidak tenang jika ada tugas yang belum dikerjakan. Terakhir, Sugiyanti disarankan untuk sering-sering membaca “Ya Rohman Ya Rohim.

 

“Kalau itu bisa nggak mas?” tiba-tiba ia bertanya memastikan.

“Ya bisa saja bu. Itu juga baik.” Jawabku singkat.

“Maksud saya bisa untuk memperlancar rejeki nggak?”

“Kalau dari lafalnya ya kurang tepat untuk rejeki bu. Rohman Rohiim itu artinya kasih sayang. Bisa jadi itu sebabnya meskipun kondisi ekonomi ibu sedang kacau, hubungan keluarga ibu tetap baik-baik saja. Tetap saling menyayangi, tidak sering cekcok seperti kebanyakan orang.”

“iya sih mas,” jawabnya membenarkan.

 

Aku lalu menceritakan tentang pengalaman seorang petani garam yang mengamalkan surat waqiah sebagaimana kakak perempuanku pernah cerita padaku. Ibu Sugiyanti menunjukkan antusias lebih, Ia bertanya lebih lanjut tentang amalan Waqiah. Ia minta ditunjukkan letak surat Waqiah di dalam Al-qur’an. Kuberi ancer-ancer juz berapa, bagaimana bunyi ayat pertamanya. Ia terlihat ingin mengambil Al-quran untuk meyakinkan letaknya dan tulisan ayat-ayatnya. Karena tak tega, kutunjukkan surat Waqiah di android yang kubawa.

 

Aku bergeming. Wajahku serasa diterpa energi harapan yang sepertinya telah lama tertahan. Aku buru-buru meralat bahwa bukan surat Waqiah-nya yang manjur dan pasti berhasil, tetapi Pemilik Surat Waqi’ah-lah yang menentukan. Ada sebersit rasa sesal dalam hatiku setelah Sugiyanti mengaku sejak kecil ia tidak punya banyak kesempatan belajar mengaji. Aku khawatir surat Waqiah ini akan memberatkan dia untuk diamalkan tapi energi harapan besar terpancar dari matanya.

 

“Ya namanya juga istiar mas (maksudnya ikhtiar),” ia mencoba meyakinkanku untuk menjelaskan lebih lanjut. Aku mengangguk tanda setuju pada kalimatnya.

“Trus ada lagi nggak mas, kira-kira doa yang lebih gitu?” Ini yang kutakutkan. Berburu amalan dan (mungkin) bergantung pada amalam tertentu untuk mengubah nasib.

“Ya namanya doa, ikhtiar itu buanyak sekali bu. Ada yang panjang. Ada yang pendek. Kalo kebanyakan amalan malah nanti gak kober kerja.”

“Jangan sampai gitu mas.”

 

Kami sama-sama terdiam

“Yang penting bu,” kataku melanjutkan.

“Iya mas. Apa yang penting mas biar masalah ini cepat selesai?” rupanya ia masih berharap ada doa lain yang lebih mujarab.

“Kalau berdoa itu jangan lupa sholawat. Itu kunci terkabulnya doa. Sholawat yang ringan dan pendek-pendek aja, tapi sering dibaca dengan ikhlas. Sambil nggoreng donat, sambil nunggu pembeli, rengeng-rengeng baca sholawat bu.”

 

Adzan magrib menyelamatkanku dari keharusan mengobral kata-kata yang mungkin akan kusesali sesudahnya. Aku segera pamit dan menuju masjid. Sholat maghrib berjamaah dan 2 rekaat sunnah sesudahnya. Dalam sujud terlintas kejadian-kejadian yang baru saja kualami. Kuingat-ingat lagi adakah kalimat yang mrucut dari mulutku yang sebenarnya tak perlu. Mau tak mau ingatanku tertuju pada peristiwa yang kualami pada bulan-bulan sebelum aku berangkat ke Papua.

 

Aku selalu senang melihat orang punya harapan. Bagiku harapan adalah cahaya dari Tuhan. Dari dulu kebahagiaan terbesarku adalah menjadi kurir atau pengantar talam-talam harapan. Mengajak orang lain berharap, bukan padaku tapi padaNya yang tak pernah memberikan harapan palsu.

Aku tidak ingin mengulangi kesalahanku pada dua perempuan sebelum keberangkatanku ke Papua. Ketika aku merasa mengantarkan cahaya pada mereka, justru yang terjadi sebaliknya. Kalimat-kalimat sok bijak, menyitir ayat-ayat, cerita-cerita tentang perjalanan jiwa, justru membuat mereka merasa terpojok, menganggap aku berlagak dan sok.

 

Aku tidak ingin menjadi penghalang antara mereka dan Sumber Cahaya. Aku tidak ingin menjadi gerhana bagi mereka. Baju agama justru menutupi cahaya Tuhan untuk sampai ke hati mereka. Ingin rasanya kutanggalkan saja segala atribut agamis, relijius, cah pesantren, atau apapun saja yang menempel di badan dan namaku. Aku ingin menjadi manusia saja. Asalkan Cahaya itu sampai juga ke mereka. Mereka berhak atas Cahaya-Nya. Yaitu energi harapan yang menggerakkan tiap sel dalam tubuh mereka menuju kesejatian diri. Kalau keberadaanku justru menjadi penghalangNya, biarlah aku hilang dalam moksha.

 

Di antara gremengan suara jamaah wiridan aku mendengar suara menggema di kepala, “Kanjeng Nabi Muhammad masih sibuk, ia titip salam lewat bu Sugiyanti.” Tiba-tiba mataku kelilipan hujan.

 

Demi kerinduanku padamu oh kekasihku. Kusambut siapa saja yang kau utus menemuiku. Asal aku bisa merasakan hadirmu.

 

-Malam terakhir di Sidomakmur, Sabtu 9 Nov 2013 pukul 23:44 WIT

Dipublikasi di Laku Mlaku | Tinggalkan komentar