Dia yang Namanya Tabu untuk Diceritakan

Aku baru sekali ini bertemu dengannya, mungkin pernah bertemu sebelumnya tapi hanya selintas lalu saja. Aku memenuhi undangan pesta sederhana dari teman. Dia juga memenuhi ajakan temannya yang adalah temanku juga.

Dia tampak jenaka dan tahu betul cara menghidupkan suasana, apalagi pesta.
Kalimat-kalimatnya tak terduga. Mengundang tawa sepanjang pesta. Ada saja ulahnya yang menyelamatkan kami dari mati gaya.

Seusai pesta, kami duduk duduk santai bertukar sapa.
“Salam kenal,” ujarku sambil mengulurkan tangan padanya.
“Oh, aku sudah tahu kamu sejak lama,” jawabnya tak kuduga. “Sekitar tahun 2007,” lanjutnya.
“Ah masa?!” Hanya itu reaksiku untuk menutupi keterkejutanku.
“Dulu kamu kemana-mana naik sepeda, menyukai suasana alam, dan suka nulis.”

Meski tak sepenuhnya benar tapi jelas dia tidak sedang menebak siapa aku.
“Kok bisa tahu? 2007 itu kan lama banget. Bahkan aku belum kenal dekat dengan teman-teman ini yang juga jadi temanmu.”
Sambil berjalan ke parkiran ia menjawab untuk yang terakhir kalinya, “Pokoknya aku tahu kamu sejak lama. Soal aku tahu dari mana, itu rahasia.”

Beberapa hari berikutnya barulah aku tahu secara tak sengaja. Dialah sosok yang namanya tabu untuk disebutkan dalam cerita bertahun-tahun penuh air mata. Entah lara, mungkin bahagia.

Ah, skenario apalagi yang sedang disusun sang sutradara semesta?!   

Jogja 281914

| Tinggalkan komentar

Bising

Kajian neuroakustik menemukan bahwa kebisingan berdampak negatif pada kesehatan. Meskipun dalam level yang rendah, hiruk pikuk di tempat kerja, kemacetan di jalan, klakson kendaraan bersahut-sahutan, deru mesin-mesin pembangunan, pertengkaran manusia di sekitar kita, dan kebisingan hidup di perkotaan dapat meningkatkan kecemasan dan memengaruhi fungsi kerja otak kita.

Dering telpon, notifikasi dari berbagai aplikasi gadget, bualan pengamat di layar kaca pelan tapi pasti merusak kemampuan kita untuk fokus dan belajar, memacu jantung berdetak lebih kencang, meningkatkan tekanan darah, dan membuat kita lebih agresif.

Parahnya lagi, kebisingan terjadi tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam diri kita. Seringkali suara-suara dari dalam kepala kita justru lebih bising dan terlalu nyaring untuk diabaikan.

Kita membutuhkan kesunyian di luar dan di dalam, ketenangan lahir dan batin untuk bisa berpikir dengan jernih. Untuk menyembuhkan.

Dalam kehidupan modern, mencari kesunyian yg sejati sama susahnya menemukan langit malam yg benar-benar gelap. Ketika kita berhasil menemukannya, kesunyian menunjukkan pada kita keindahan yang tak terduga. Sama seperti gelapnya malam menyajikan lebih banyak bintang di hamparan semesta tepat di depan mata.

#Perception

Djogja, 14092014

| 1 Komentar

Menyikapi Hantu Masa Lalu

Otak menyimpan ingatan dengan cara yang berbeda. Short term memory (ingatan jangka pendek) dan long term memory (ingatan jangka panjang). Ingatan tentang di mana kita menaruh kunci, nama seseorang yang baru kita kenal, tersimpan sementara dalam hippocampus. Tapi hippocampus tidak menyimpannya untuk waktu yang lama.  Selanjutnya hippocampus akan mentransfernya ke bagian cortex di mana ingatan tersebut akan menguat atau melemah tergantung pada seberapa sering kita mengakses ingatan tersebut.

Tiap kali kita membuka ingatan tersebut, neuron akan aktif dan ingatan tersebut menjadi lebih kuat. Tetapi jika kita terlalu lama tidak membukanya, mungkin ingatan itu akan terkubur selamanya.

Masa lalu terkadang datang kembali untuk menghantui. Kenakalan di masa remaja, dosa di masa muda, penyakit yg diderita orang tua kita, kecelakaan atau trauma masa kecil, itu semua bisa menempel di ingatan sepanjang usia kita.

Meski memiliki potensi kekuatan yang luar biasa, segumpal kusut jaringan neuron di kepala yg kita sebut otak, pada kenyataannya adalah organ yg sangat rapuh.
Tanpa tengkorak yg melindungi, otak mirip sebentuk jelly yang rentan terhadap goresan setipis apapun.

Sebuah guncangan (baik secara fisik maupun mental) saja cukup memberi dampak jangka panjang yang baru akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai penyakit parkinson atau alzheimer.

Tapi bukan berarti kita harus hidup dalam kepompong, menutup diri dari segala yang berpontensi melukai (fisik dan emosi).

Membuka diri pada kenangan masa lalu dan ketidakpastian masa depan (baik atau buruk) adalah seni menjalani hidup untuk menyembuhkan luka kita, menemukan batas terindah dari kebebasan kita.

| 1 Komentar

Tentang Mati Rasa

“Kamu agak gemuk sekarang”

“Kamu kelihatan capek ya?!”

“Eh rambutmu kenapa? Kok makin botak aja”

 

Tak peduli seberapa menyenangkan hari yg baru saja kau jalani, cukup satu kalimat pendek untuk merusaknya. Pernah mengalami kan?!

Itu karena otak lebih cepat terangsang untuk mengingat interaksi negatif daripada yang positif. Penelitian di bidang neuroscience menemukan fakta bahwa bagian otak yg lebih tinggi dapat memodifikasi bagaimana bagian otak yg lebih rendah berfungsi. Bahwa jika kita bisa menggunakan intensi (niat) dan atensi (perhatian) kita secara mendalam/fokus, kita mampu mengatasi bias negatif (negative thinking, prasangka buruk, sikap puskaptis eh skeptis) dari otak kita.

 

Jadi sangat mungkin bagi kita untuk mengendalikan seburuk apa sebuah pengalaman buruk memengaruhi kita. Dengan kata lain, kecuali bahwa kita mengidap depresi secara klinis, menjadi tidak bahagia/kecewa faktanya adalah pilihan semata.

 

“Sticks and stones may break my bones. But words will never hurt me.” Demikian kalimat (sok) bijak mengajarkan.

 

Kata-kata memang tidak bisa melukai fisik. Tapi luka yg disebabkan oleh kata-kata dalam banyak kasus lebih susah disembuhkan. Satu saja kalimat negatif yg kita terima di masa kecil bisa mengubah dan memengaruhi cara hidup bahkan nasib kita hingga tua.

 

Ketika kita memegang secangkir kopi panas atau kaki terantuk batu, ada bagian otak tertentu yang terstimulasi aktif sehingga kita merasakan sakit atau mengidentifikasi pengalaman itu sebagai sebuah pengalaman menyakitkan. Bagian otak yang sama pula yang terstimulasi aktif ketika kita mengalami penolakan secara sosial, pengkhianatan dari teman, diselingkuhi pasangan.

Itu artinya luka di jiwa sama menyakitkannya dengan luka fisik.

 

Ilmu pengobatan telah mampu mengembangkan ramuan kimia pengurang rasa sakit fisik. Beberapa di antaranya bahkan terbukti mampu mengurangi rasa sakit secara emosi. Jadi mungkin suatu saat obat yg tepat untuk patah hati cukup dengan menelan 2 butir Tylenol sebelum tidur. Manusia beradaptasi dengan segala sesuatu yg mengancam, tak terkecuali pada penderitaan. Ada sebagian manusia yg memilih menghindar, membuang kata sakit, luka, derita dari kamus hidupnya. Ada yg memilih untuk pelan-pelan menikmati penderitaan sebagai satu-satunya realitas yang pantas diterimanya. Ada juga yang memilih mematikan syaraf pengenal rasa sakit atau radar emosinya.

 

Tapi apakah me-matirasa-kan diri, sebagai self defense mechanism, selalu baik untuk kesehatan kita?!

 

Semakin kita mengenal penderitaan, dengan segala varian rasa, semakin kita mampu mengenali, menghargai sensasi dan pengalaman yang kita sukai. That’s the nature of contrast.

 

Jika kita tidak pernah merasakan kepahitan, penderitaan, kemarahan, mungkin kita tak akan mampu menyelami samudra kebahagiaan hingga ke dasarnya. Jika kita tidak pernah tahu apa yang kita takuti, kita tidak akan pernah tahu apa arti berani. Jika kita tidak pernah mengalami kegelapan, kita akan geragapan melayani cahaya.

 

Sayangnya kita sekarang ini terlalu lama hidup dalam kegelapan dan gebyar kepalsuan hingga kita tak lagi mampu membedakan mana pancaran cahaya Tuhan mana kobaran api setan yang menyilaukan.

 

Jogja.20072014

Dipublikasi di Soliloquist | Tinggalkan komentar

Dewa Amral Ngoyak Kayangan

Sabtu malam 5 Juli lalu saya diperjalankan Allah untuk menyaksikan pentas Wayang Orang Ngesti Pandowo di Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Grup Ngesti Pandawa pernah menjadi ikon budaya kota Semarang. Grup yang dirintis oleh beberapa seniman legendaris, salah satunya ki Narto Sabdho, ini didirikan di Madiun pada 1937 dan berkembang di Semarang hingga sekarang.

 

Malam itu lakon yang dipentaskan bertajuk Dewa Amral.

 

Kisah bermula ketika dalam sebuah sidang para Dewa, Batara Guru sebagai pimpinan tiba-tiba membuat putusan. “Puntadewa telah melanggar paugeran. Ia harus menerima hukuman!”

 

Semua anggota DPD (Dewan Para Dewata) terkejut tapi tak berani membantah.

 

“Puntadewa harus dihukum mati!” demikian titah Batara Guru.

 

Para dewa clingak-clinguk saling menatap satu sama lain. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran tapi tak ada satupun yang berani bersuara.

 

“Segera kirim utusan ke Negara Amarta!” Seru Batara guru.

 

Para dewa tak bisa berkata lain selain “sendhiko dhawuh” lalu diam tanpa kata.

 

Cukup lama ruang sidang diliputi kesenyapan hingga akhirnya tawa kekeh Batara Narada, orang kedua di Swargaloka, memecah keheningan.

 

“Heuheuheu… Saya mengerti apa yang Paduka baru saja sampaikan. Instruksi Paduka Hyang Batara Guru sangat jelas. Tetapi yang hamba tidak pahami adalah atas dasar apa, pasal paugeran mana yang Puntadewa langgar hingga ia pantas dihukum mati?”

 

Hyang Batara Guru agak malas mengingat pasal-pasal, lalu menjawab asal, “Karena namanya Puntadewa”

 

“lho… lho… lho… Apa salahnya dia bernama Puntadewa?”

 

“Dia melanggar paugeran antara kadewatan dengan kamanungsan. Seorang manusia tidak boleh menggunakan nama dewa. Itu tidak etis dan berpotensi membingungkan birokrasi jagad raya”

 

“Heuheuheu…” kembali Narada terkekeh. “Apalah arti sebuah nama, Paduka Guru?! Bukankah secara biologis dalam diri Puntadewa mengalir darah  Batara Dharma?! Jadi secara administratif dia berhak menyandang nama dewa, meskipun wujudnya manusia. Lagipula nama itu diberikan atas petunjuk Hyang Tunggal sebagai lambang kejujuran dan keadilan. Heuheuheu…”

 

Mbuh ora weruh! Pokoknya manusia tidak boleh menggunakan nama dewa.” Batara Guru mulai emosi.

 

Batara Narada merendah, “Baiklah. Tapi apa ya harus dihukum mati? Bukankah sejak jadi raja, Puntadewa tak lagi menggunakan nama itu dan berganti nama Yudhistira?”

 

“Pokoknya aku, Batara Guru, sudah bersabda. Dan sabdaku harus terlaksana.”

 

“Wee… lhadalah! Cilaka! Cilaka!

 

Utusan para dewa segera menemui Pandawa untuk melaksanakan titah Dewata. Para Pandawa, yang telah bersumpah Tiji Tibeh (Mukti Siji Mukti Kabeh, Mati Siji Mati Kabeh), tak sampai hati menyaksikan kakak sulungnya dihukum sendirian. Para Pandawa lalu menawar hukuman. Jika memang Puntadewa harus dihukum mati, keempat saudaranya juga harus ikut mati. Mendengar pernyataan itu, Batara Guru memberikan keringanan hukuman. Puntadewa tidak jadi dihukum mati. Sebagai gantinya keempat saudaranya diasingkan ke kawah candradimuka.

 

Puntadewa merasakan kesedihan yang mendalam. Ia tak pernah membayangkan hidup sendirian. Sebagai raja, ia membutuhkan keempat saudaranya untuk memimpin rakyatnya. Ia mengadu pada Dewi Kunti, ibunya kandungnya, tentang putusan dewa yang dirasa tak adil. Dewi Kunti tak bisa menyarankan apa-apa selain mematuhi putusan para dewa, meskipun dalam hati Kunti tahu persis sejarah kecerobohan para dewa. Ia pun menemui Ponokawan untuk rerasan. Siapa tahu mereka punya penjelasan yang lebih masuk akal. Namun semua penjelasan tak ada yang melegakan. Puntadewa kalut. Ia bertekad menggugat, kalau perlu ia akan naik ke kayangan untuk menuntut keadilan.

 

Gunungan semesta tergelar

Fakta dan fitnah terjalin berkelindan

Macan di kiri, Banteng di kanan.

Keduanya siap bertarung habis-habisan.

Sementara di kiri kanan

ular-ular naga tertawa lebar.

 

Kesedihan yang teramat dalam rupanya membangkitkan energi mahadahsyat. Duka kehilangan orang-orang terkasih membuat seseorang kehilangan ketakutan atas apapun saja untuk dipertaruhkan. Ketika akal sehat tergulung emosi nan hebat, yang tersisa adalah nekat. Puntadewa pun ber-triwikrama. Tubuhnya menjelma raksasa tanpa tanding dan mendeklarasikan dirinya sebagai Prabu Batara Dewa Amral. Ia segera naik ke kayangan, melabrak birokrasi kadewatan. Siapapun yang menghalangi langkahnya diterjang tanpa ampun. Swargaloka porakporanda.

 

Singkat cerita, karena tak satupun aparat dewa yang mampu mengalahkan Dewa Amral, Batara Guru  meminta bantuan Pandawa yang disekap di kawah Candradimuka untuk menghadapi Dewa Amral. Seberapapun marah dan bencinya Puntadewa pada kesewenang-wenangan para dewa, ia tak sampai hati beradu tanding dengan saudaranya sendiri, apalagi sampai melukai. Akhirnya Dewa Amral kembali ke wujud semula.  

 

Selama menyaksikan pementasan tersebut, saya tak kuasa mengalihkan pikiran dari bayangan kondisi Indonesia hari ini dan hari-hari setelah ini. Suasana pemerintahan yang dipenuhi oleh kecurigaan, kecurangan, kebijakan yang sama sekali tak bijak, aparatur Negara yang menggunakan kuasanya untuk memuaskan nafsu dan dendam pribadinya. Dalam konteks penyelenggaraan Negara sempalan swargaloka bernama Indonesia seperti inilah yang menyebabkan lahirnya Dewa Amral-Dewa Amral masa kini. Dewa Amral adalah representasi negarawan (dalam arti orang-orang yang terlibat urusan Negara bukan sosok yang memiliki kapabilitas/kualitas kenegarawan) yang kecewa melihat kecurangan di sekitarnya lalu memutuskan untuk turun tangan mengobarkan perlawanan. Seperti kita saksikan di media, bagaimana seorang mantan ketua Mahkamah Konstitusi yang harusnya memiliki kejernihan pikir dan keluasan cakrawala atas kondisi bangsa memutuskan untuk berpihak pada Capres A, bahkan menjadi ketua tim pemenangan, hanya karena ia merasa dicurangi oleh pihak yang mendukung capres lainnya. Di pihak lain, tak sedikit para Begawan di bidang pendidikan, budaya, dan agama berbondong-bondong mendukung capres B karena Capres A dibayangkan sebagai mantan pelaku kejahatan dan pasti akan mengulangi kejahatan yang dibayangkannya itu.

 

Selama penyelenggaraan Pemilu 2014 kita bisa membaca, menyaksikan, atau mengalami sendiri betapa satu-persatu negarawan kita bertriwikrama menjadi raksasa penyulut kekacauan. Dimulai dari kekacauan informasi, kekacauan hukum, kekacauan tata nilai, hingga kekacauan akal budi. Pendukung kedua capres saling hujat, saling fitnah, saling serang, saling klaim kebenaran, dan seolah hanya menunggu waktu untuk saling menumpahkan darah. 

 

Sebelum kekacauan yang lebih parah terjadi, semoga Sang Hyang Widhi menyisipkan wahyu dalam kelenjar pineal kita sebagaimana yang diturunkan pada Dewa Amral di detik-detik terakhirnya ber-triwikrama. Bahwa yang sedang kita hadapi adalah saudara kita sendiri. Bahwa hidangan pesta demokrasi yang siap kita lahap adalah bangkai saudara kita sendiri. Percayalah tak ada yang diuntungkan dari perang ini selain ular-ular licik yang membisik dari luar.

 

Gunungan semesta tergelar

Fakta dan fitnah terjalin berkelindan

Macan di kiri, Banteng di kanan.

Keduanya siap bertarung habis-habisan.

Sementara di kiri kanan

ular-ular naga tertawa lebar.

 

Jogjakarta, 14 Juli 2014

Dipublikasi di Laku Mlaku | Tinggalkan komentar

Berubah. Sekarang!

Setiap hari, tiap saat, tiap nanodetik, dunia berubah. Partikel atom bertumbukan satu sama lain dan saling bereaksi. Manusia saling berbenturan dan mengubah arah satu sama lain.

Tapi kita manusia tidak menyukai perubahan. Kita berjuang melawan perubahan. Perubahan membuat kita takut. Takut kehilangan rasa nyaman. Takut pada ketidakpastian. Lalu kita menciptakan ilusi tentang ‘yang pasti-pasti aja’.

Manusia ingin memercayai bahwa dunia akan berjalan seperti yg sudah dan sedang terjadi sekarang. Sesuai prediksi logika kita agar pikiran kita tetap tenang. Pemahaman kita tetap saja sama. Padahal saat kita baru saja memahami makna ‘sekarang’, yg kita sebut sebagai ‘sekarang’ itu sudah berlalu.

Kita terpaku pada potongan-potongan kenangan, snapshot dari masa lalu. Padahal hidup adalah gambar bergerak. Kita harus menggerakkan potongan kenangan untuk bisa menyaksikan indahnya pengalaman.
Berubah tidak pernah mudah. Seringnya itu sulit dan memilukan. Tapi mungkin itu sesuatu yang baik. Karena perubahan itu yg membuat mental kita kuat, menjaga jiwa kita tetap tabah. Perubahan mengajari kita cara berevolusi

 

Jogja.01072014

Dipublikasi di Soliloquist | Tinggalkan komentar

Ekspedisi Papua II: Dinamika Sosial dan Ekonomi Kampung Sidomakmur

Sejarah kampung Sidomakmur bermula dari dibukanya perusahaan pengolahan udang terbesar di Indonesia milik keluarga Cendana, PT Jayanti di Wimro. Karena membutuhkan banyak pasokan udang untuk jalannya perusahaan, pemerintah membuka program transmigrasi terutama bagi nelayan-nelayan. Untuk itu di seberang Wimro dibuka permukiman untuk para transmigran cum karyawan PT Jayanti dengan nama resmi TransWimro. Tak heran jika sebagian besar nelayan di Wimro berasal dari Jawa, khususnya Jawa Timur meliputi Gresik, Probolinggo, dan Banyuwangi). Kampung TransWimro dikenal juga dengan sebutan RKI, singkatan dari Rumah Kayu Indonesia, karena semua rumah di sana dari dulu hingga sekarang sebagian besar berbahan utama kayu.

 

Sekitar tahun 2003, para sesepuh transmigran yang sebagian besar dari Jawa, memberi nama RKI dengan nama Kampung Sidomakmur. Sebagaimana tradisi Jawa, pengubahan nama kampung tersebut dilakukan dengan upacara adat ala Jawa, lengkap dengan tumpeng dan ubarampenya.

 

Di awal kehadiran perusahaan BP (British Petroleum) di Teluk Bintuni, BP mengumpulkan para wakil kampung yang masuk dalam DAV (direct-affected villages) atau kampung-kampung yang terdampak secara langsung. Namun nama kampung Sidomakmur tidak masuk dalam daftar sehingga luput dari peta kampung terdampak yang ujung-ujungnya tidak mendapatkan kompensasi pembangunan dari perusahaan. Yang ada dalam daftar adalah kampung Wimro. Ini yang kemudian menjadi masalah di kemudian hari. Kampung Sidomakmur dianggap tidak ada secara administrasi di Pemda Teluk Bintuni, yang tercatat adalah kampung Wimro. “Baru, kalau tong tanya SK kampung Sidomakmur, tong tanya Tuhan deng Moyang Laut sudah!” demikian cerita Pak Darno ketika keabsahan Sidomakmur sebagai kampung dipertanyakan. Sementara kampung TransWimro sendiri pernah sengaja “dimatikan.”

 

Usut punya usut, kampung Wimro pernah mendapatkan bantuan berupa pinjaman untuk koperasi dengan nilai ratusan juta rupiah. Pinjaman tersebut macet karena mismanajemen dan penyalahgunaan oleh pengurus koperasi yang ternyata juga melibatkan pengurus/sesepuh kampung RKI. Sebagai exit strategy, nama kampung Wimro tidak lagi digunakan, diganti dengan Sidomakmur, sehingga seolah-olah tidak ada lagi. Jika diperkarakan, nama kampung Wimro hanya tinggal nama saja tanpa ada aparatnya.

 

Mayoritas penduduk Sidomakmur memiliki mata pencaharian sebagai nelayan udang dan berdagang. Perputaran uang di Sidomakmur bisa dikatakan sangat besar. Mak Suratmi, transmigran asal Banyuwangi, menceritakan ia memiliki perahu yang dioperasikan oleh nelayan pendatang. Dalam sebulan perahunya beroperasi dalam 2 konda. Satu konda kurang lebih selama 12 hari. Sekali melaut, 1-2 hari, hasil udang yang diperoleh rata-rata 3-5 kg udang. Jika laut sedang teduh, dalam sehari bisa memeroleh 10-15 kg udang. Sehingga dalam sebulan bisa Mak Suratmi bisa mendapatkan kurang lebih 10 juta dari hasil udang.

 

Begitu juga perputaran uang dari perdagangan, terutama warung makan dan kebutuhan sehari-hari. Untuk kios kecil saja, omset per hari rata-rata 200-300 ribu. Sedangkan  untuk kios yang agak besar omsetnya bisa mencapai 600 ribu hingga 1 juta dalam sehari semalam. Bisa dibayangkan berapa perputaran uang masing-masing kios dalam sebulan.

 

Saat ini para nelayan di Sidomakmur mulai resah dengan rencana ekspansi, pembangunan sumur pengeboran minyak,  oleh BP. Beberapa keluhan yang mulai dirasakan nelayan antara lain:

  • Keberadaan rig di sekitar lokasi calon sumur BP di muara membuat wilayah tangkap nelayan menjadi semakin terbatas.
  • Keberadaan udang di muara mulai jauh berkurang. Bisa jadi karena habitat udang tercemari polusi dari keberadaan BP.
  • Perusahaan menggunakan penerangan yang sangat terang di sekitar rig membuat ikan-ikan/udang mendekat ke arah cahaya. Sementara nelayan kalau mau cari udang dihalangi oleh batasan zona rig yang dibuat perusahaan.
  • Dulu untuk bisa ikut mencari udang di muara, nelayan baik secara kelompok atau perorangan harus memeroleh ijin dari pemangku hak ulayat. Untuk memeroleh ijin tersebut mereka membayar sejumlah uang ulayat tiap tahun. Mengapa harus membayar? Setiap orang dengan mudah mendapatkan uang semudah nyiduk udang saking banyaknya. Tapi sekarang ijin tersebut tidak berlaku lagi, (mungkin) karena memang volume udang di muara sudah sangat berkurang.
  • Sekarang ini nelayan harus mencari udang ke tempat-tempat yang lebih jauh di luar kawasan RKI. Ini berdampak pada meningkatnya biaya operasional nelayan, yang jelas bahan bakar dan perbekalan. Belum lagi jika di lokasi lain, mereka harus membayar hak ulayat kepada suku/adat setempat.

 

Dari beberapa warga yang sempat saya wawancarai mengaku sekarang kesejahteraan hidup mereka makin menurun. Ibaratnya dulu keluarga biasa membeli beras 1 karung tiap bulan, sekarang terpaksa ngecer kiloan.

 

Mayoritas penduduk Sidomakmur adalah muslim. Secara umum, warga RKI menganut islam tradisional ala NU, meskipun secara organisasi tidak ada papan nama pengurus NU ranting Sidomakmur. Ada beberapa warga menganut Muhammadiyah tapi jumlahnya lebih sedikit. Selama bertahun-tahun kehidupan beragama di Sidomakmur bisa dikatakan damai-damai saja.

 

Namun belakangan ini kehadiran beberapa orang islam dengan aliran puritan mulai meresahkan masyarakat. Dari keterangan yang kucuri dengar dari Pak Abu (aparat kampung) dan Pak Sudarno (transmigran angkatan pertama yang sekaligus ketua RT 3) keresahan tersebut bermula budaya tahlilan yang biasanya dilakukan untuk mengawali kumpulan RT/kampung mulai dipermasalahkan. Akibatnya, dengan tidak ada tahlilan, rapat RT jadi terasa kaku. Warga jadi lebih sering diem-dieman selama kumpulan. Rupanya virus wahabi atau ke-pekok-an dalam beragama sudah menyusup ke kampung-kampung Papua. 

 

 

Sidomakmur, 9 November 2013

Dipublikasi di Laku Mlaku | Tinggalkan komentar