Komunikasi Tertulis : Sebuah Keterampilan Intelektual


Menulis bisa jadi merupakan kegiatan yang sangat dekat dengan pekerjaan kita sehari-hari. Mulai dari urusan bisnis, pemerintahan, seni sastra sampai dunia akademik tak pernah lepas dari kegiatan tulis-menulis. Menulis menjadi keterampilan penting yang berguna dalam kegiatan sehari-hari.

Menulis dapat pula dianggap sebagai salah satu cara berkomunikasi. Misalnya, seorang sekretaris berkomunikasi dalam bentuk notulen, surat atau laporan hasil analisa. Penulis buku menyebarkan gagasan-gagasannya melalui buku-buku yang dia tulis. Seniman atau sastrawan menyampaikan pesan moral dan nilai kehidupan melalui puisi, novel maupun naskah drama. Bahkan kita menceritakan perasaan kita kepada diri kita sendiri dengan menuliskannya di buku harian.

Namun sebagai salah satu cara menyampaikan pesan, komunikasi tertulis memiliki keunikan tersendiri. Seperti dikatakan sebelumnya, komunikasi tertulis merupakan suatu keterampilan yang tentunya membutuhkan ketekunan dan latihan untuk menguasainya. Tak seperti halnya komunikasi lisan yang hampir setiap orang dapat menggunakan. Tentunya karena komunikasi lisan diajarkan sejak manusia dilahirkan.

Tulisan berikut mencoba memberikan gambaran mengenai tradisi komunikasi dalam bentuk tulisan. Selanjutnya akan dipaparkan pula kelebihan dan kekurangan dari penggunaan tulisan dalam proses komunikasi.

Awalnya, budaya tulis hanya digunakan oleh kalangan penguasa, pemimpin agama dan cendekia. Isi tulisan mereka pun berupa undang-undang, ajaran suci atau sesuatu yang dianggap memiliki nilai kemuliaan dalam masyarakat. Tidak sembarang pesan atau gagasan bisa dituangkan melalui tulisan (Suseno, 1997:17). Hal ini terjadi karena pada masa itu tidak setiap orang memiliki keterampilan menulis di samping budaya lisan yang masih dominan dalam masyarakat.

Adalah bangsa-bangsa Sumeria, Babil, Asiria dan lain-lain di Timur Tengah yang diyakini sebagai pengguna tulisan paling awal yakni sekitar 3000 SM. Mereka menuliskan undang-undang serta maklumat raja yang harus dipatuhi oleh rakyat di lempengan batu. Selanjutnya, sekitar tahun 300 SM bangsa Romawi mulai menggunakan lembaran kulit binatang untuk mencatat perniagaan mereka (mungkin inilah cikal bakal dari ilmu akuntansi). Sedangkan di Cina, tulisan digunakan untuk menyebarkan ajaran dan kepercayaan dalam masyarakat. Pun tak jauh beda dengan apa yang dilakukan para filsuf Yunani. Sebagian besar dari mereka menggunakan lempengan batu, kulit binatang maupun daun papyrus untuk menulis.

Perkembangan selanjutnya yaitu penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada abad 15. Penemuan ini dianggap sebagai titik tolak bangkitnya ilmu pengetahuan di Eropa. Berkat penemuan mesin cetak ini, penyebaran ilmu pengetahuan berjalan sangat cepat dan murah. Akibat tidak langsung dari penemuan ini adalah terjadinya revolusi sosial dan reformasi gereja. Semakin mudahnya akses masyarakat terhadap buku, menumbuhkan kesadaran masyarakat atas fenomena sosial yang terjadi di Eropa.

Kelebihan komunikasi tulis

Secara historis, komunikasi tertulis memiliki arti penting bagi sejarah peradaban manusia. Tulisan merupakan titik awal sejarah manusia. Dengan kata lain, manusia dapat dikatakan memasuki zaman sejarah ketika mereka telah mengenal tulisan. Selain itu, komunikasi tertulis memiliki fungsi dokumentasi dan transformasi budaya.

Dibandingkan dengan komunikasi lisan, komunikasi tertulis memiliki beberapa kelebihan. Pertama, komunikasi tertulis lebih tahan lama. Artinya, komunikasi tertulis memiliki bentuk fisik baik berupa kertas, kulit binatang maupun prasasti batu. Sedangkan komunikasi lisan tidak memiliki bentuk fisik. Kita tidak tahu kemana perginya kata atau kalimat setelah diucapkan.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa komunikasi tertulis memiliki fungsi dokumentasi. Sehingga pesan atau informasi yang terkandung di dalamnya bisa tersampaikan meski pemberi pesan sendiri sudah meninggal. Sebagai contoh, pemikiran-pemikiran Plato, Aristoteles dan filsuf lainnya hingga kini masih bisa kita terima karena mereka memahatkan ajaran mereka pada lempengan-lempengan batu. Meski jasad Karl Marx, Darwin, Max Weber sudah hancur dalam tanah, kita dan generasi sesudah kita masih bisa menerima informasi tentang pemikiran mereka selama perpustakaan menyimpan buku-buku karya mereka. Bukti lain yang tak kalah penting adalah bahwa kita masih bisa meneruskan tradisi dan ajaran agama karena adanya kitab-kitab suci. Semua agama besar di dunia pasti memiliki kitab suci. Di sini kita bisa melihat bahwa kitab suci agama merupakan sarana komunikasi tertulis yang memuat seperangkat aturan, cerita masa lalu, ancaman, kabar gembira tentang masa depan yang semuanya bertujuan melestarikan dan mempertahankan tradisi (Suseno, 1997:17).

Kedua, komunikasi tertulis berlangsung secara massive dan dinamis. Berkat jasa Gutenberg, informasi dapat diproduksi secara massal dengan biaya yang lebih murah. Sehingga informasi dapat tersebar dengan cepat dan mudah. Suseno (1997:27) menyebutkan bahwa keberhasilan Reformasi Gereja Martin Luther di Jerman salah satunya dengan menggunakan sarana pencetakan. Mereka melemparkan gagasan dan argumen melalui selebaran yang mereka sebar. Dikatakan pula bahwa jika sebelumnya pikiran orang hanya dapat dipengaruhi melalui orasi (yang terbatas pada beberapa ratus orang dan diucapkan sekali saja serta dengan mudah dikontrol), kini pikiran orang dapat dipengaruhi melalui leaflet, buku dan media cetak lain yang dapat dibaca dan didiskusikan berulang-ulang dengan angota masyarakat lain.

Ketiga, komunikasi tertulis relatif lebih terstruktur dan terencana. Sebagai sebuah tindakan strategis (Littlejohn, 2002:13), komunikasi lebih bisa direncanakan dan disusun ketika disampaikan melalui media tulisan. Komunikator dapat menyusun pesan, menggunakan kata-kata pilihan, memilih topik tertentu dan memperkirakan respon dari audience. Sehingga proses komunikasi bisa dievaluasi dan dikembangkan.

Keempat, ketika kita tidak memahami sesuatu hal dari apa yang kita baca atau kita menemui kata asing, kita bisa mengulangi beberapa paragraf sebelumnya, menggunakan kamus atau bertanya kepada seseorang untuk memahaminya. Berbeda dengan komunikasi lisan yang berlangsung hanya sekali, kita tentu tak bisa serta merta meminta pembicara untuk mengulangi kalimat yang tidak kita pahami.

Kelemahan komunikasi tertulis

Sebagai bagian dari komunikasi verbal, komunikasi tertulis tak bisa lepas dari penggunaan bahasa sebagai sarana bertukar makna. Oleh karena itu, kelemahan unsur kebahasaan dalam proses komunikasi tentunya menjadi kelemahan dari komunikasi tertulis.

Larry L. Barker sebagaimana dikutip Dedy Mulyana dalam Pengantar Ilmu Komunikasi menyebutkan tiga fungsi bahasa: penamaan (labeling), interaksi dan transmisi informasi. Penamaan merupakan usaha manusia untuk mengidentifikasi objek, tindakan dan perasaan yang berbeda dengan memberi nama pada objek, tindakan dan perasaan tersebut.

Meski bahasa merupakan unsur yang sering kita gunakan dalam komunikasi sehari-hari, bahasa memiliki sejumlah keterbatasan. Mulyana (2002:245-255) menguraikan keterbatasan bahasa sebagai sarana komunikasi. Pertama, keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek atau perasaan. Tidak semua benda, peristiwa, perasaan dapat diwakili oleh kata yang berbeda. Suatu kata hanya mewakili realitas, tetapi bukan merupakan realitas itu sendiri. Kata hanya bisa mewakili sebagian dari realitas, bukan keseluruhan realitas. Keterbatasan bahasa dalam mewakili realitas tampak pada penggunaan kata sifat. Kata sifat cenderung dikotomis, maksudnya membagi sesuatu hanya dalam dua kategori, semisal kaya-miskin, bahagia-sengsara, pandai-bodoh, baik-buruk dan lain sebagainya. Namun perlu disadari bahwa realitas sesungguhnya tidaklah sekaku itu. Kita tidak bisa memvonis bahwa kalau tidak hitam berarti putih atau sebaliknya. Antara warna hitam dan putih terdapat puluhan bahkan ratusan warna abu-abu yang pasti beda. Seringkali agar kata yang kita ungkapkan lebih tepat, kita menggunakan tambahan ‘agak’ atau ‘sangat’.

Untuk mengukur makna yang lebih akurat, Charles E. Osgood, George Suci dan Percy Tannenbaum merancang suatu instrumen yang disebut Semantic Differential. Mereka mengukur makna suatu konsep dalam skala 1 sampai 7. dalam hal ini 1 menunjukkan kecenderungan negative sedang angka 7 menunjukkan kecenderungan positif (Mulyana,2002:246).

Kedua, kata bersifat ambigu dan kontekstual. Setiap kata (meskipun sama) berpotensi untuk dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. Perbedaan makna tersebut dipengaruhi oleh latar belakang tiap orang yang tentunya berbeda. Pemaknaan kata juga perlu memperhatikan konteks kalimatnya.

Ketiga, kata-kata mengandung bias budaya. Budaya sangat mempengaruhi bahasa. Menurut hipotesis Sapir-Whorf (Griffin, 2003:30) menyatakan bahwa struktur bahasa suatu budaya membentuk persepsi dan perilaku manusia. Dengan kata lain, struktur bahasa menunjukkan budaya suatu masyarakat. Misalnya, penggunaan tenses yang memperhitungkan waktu dalam struktur bahasa masyarakat Eropa menunjukkan penghargaan mereka atas waktu. Penggunaan bahasa yang bertingkat dalam budaya Jawa menunjukkan sistem sosial masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas tertentu. Oleh sebab itu, sangat mungkin terjadi kita tidak menemukan padanan yang tepat untuk kata tertentu dalam bahasa asing.

Disamping kelemahan-kelemahan bahasa dalam komunikasi tertulis tersebut, Beebe and Beebe (1997:257) menyebutkan kelemahan dari komunikasi tertulis adalah hubungan antarpartisipan komunikasi berjarak. Komunikator tidak bisa merinteraksi dengan audien secara langsung, melihat perubahan sikap yang terjadi atau merespon sikap audien. Sehingga feedback dalam proses komunikasi tersebut bersifat tidak langsung dan tertunda (no immediate interaction). Sedang dalam komunikasi lisan, hubungan pembicara dengan audien berlangsung akrab, hangat dan lebih personal.

Komunikasi tertulis bersifat lebih formal daripada komunikasi lisan. Dalam komunikasi tertulis kita terikat dengan konsep atau aturan ejaan tertentu untuk memenuhi syarat sebagai komunikasi tertulis yang baik. Kita harus memperhatikan struktur kalimat yang njelimet agar bisa dipahami oleh pembaca. Sedangkan dalam komunikasi lisan pembicara bisa memakai kalimat-kalimat pendek tanpa harus mematuhi aturan kalimat yang baik dengan alasan efisien.

Akhirnya, media apapun yang kita gunakan berkomunikasi tidaklah menjadi pokok persoalan. Toh tersedia banyak banyak cara, saluran yang bisa kita pakai untuk berkomunikasi. Kita pun bisa mengkombinasikan berbagai cara untuk mencapai tujuan kita berkomunikasi.

Namun setidaknya, dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan dari komunikasi tertulis kita tergerak untuk mengasah keterampilan kita dalam menggunakan pena sebagai senjata yang katanya lebih tajam dari pedang. Selamat menulis.

Yogyakarta, 27 Maret 2006

Daftar Pustaka

Beebe, Steven A. dan Susan J. Beebe. 1997. Public Speaking: An Audience-centered Approach. USA: Allyn And Bacon.

Griffin, Em. 2003. A First Look At Communication Theory. New York: McGraw-Hill.

Littlejohn, Stephen W. 2002. Theories of Human Communication. USA: Wadsworth.

Mulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suseno, Franz Magnis et.al. Buku Membangun Kualitas Bangsa. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

About these ads

Tentang maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.
Tulisan ini dipublikasikan di Kuliah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s