(Belajar) Menjaga Akal Sehat: Tribute To Ashadi Siregar


Baru saja saya baca catatan terbaru dari Bang Hadi yang berjudul Testimoni. Isinya tentang komentar kawan seangkatan Bang Hadi tentang buku Ashadi Siregar: Penjaga Akal Sehat dari Bulaksumur. Jujur, tulisan seperti itulah yang saya nanti berhari-hari.

Dua hari terakhir saya baca buku “penjaga akal sehat” itu. Baru sampai nomer 237 dari 374 halaman. Dua minggu sebelumnya saya juga membaca novel trilogi “kampus biru”, karena hanya 3 itu yang saya temukan di dunia maya. Sudah saya tanya mbah Gugel, saya ubek-ubek simpanan 4shared tidak ketemu juga.

Selepas itu saya merenung-renung. Saya coba menggunakan akal (yang semoga masih) sehat tentang ‘diri’ Bang Hadi. Saya mengamini komentar kawan Bang Hadi bahwa buku Penjaga Akal Sehat penuh puja-puji, bertabur nostalgi, nyaris tak ada yang berani merutuki dengan caci. Malah, ada yang curhat memuji Bang Hadi, tak ragu meniru jejak Bang Hadi, tapi ujung-ujungnya tetap unjuk diri.

Hare gene, nggak narsis ya nggak eksis! kira-kira begitu bahasa anak sekarang.

Kalau toh ada yg menyebut julukan “Raja Tega”, “Raja Sinis”, angkuh, dan “keras kepala” itupun disampaikan dengan takut-takut. Bahwa itulah sekian cara Bang Hadi menjaga akal sehat adik-adik generasinya. Maklum saja, hampir semua penulis dalam buku itu adalah adik angkatan sekaligus murid Bang Hadi. Berani maki-maki, bisa kualat nanti.

Padahal kalau kita baca trilogi Kampus Biru, yang notabene buah pikiran Bang Hadi, jelas tersurat atau samar tersirat sinisme Bang Hadi seperti karakter tokoh Tody. Faraitody, mahasiswa senioren, ketua Mapram yang disegani, bersikap dingin pada cami (calon mahasiswi), rupa-rupanya karena berkali-kali patah hati. Keras kepala dan ndablegnya Bang Hadi seperti tokoh Joki pada novel Terminal Cinta Terakhir. Dalam salah satu testimoni di buku Penjaga Akal Sehat, diceritakan bahwa Bang Hadi terkenal pemberani. Dia selalu melawan semua kekuatan dari luar dirinya yang coba mengatur-atur dirinya. Tertulis di sana “Ibunya saja dia (Bang Hadi) lawan. Dia tak percaya kualat.” Sementara dalam novel Terminal Cinta Terakhir, tersebutlah bahwa Joki melawan keinginan ibunya yang akan menikahkannya dengan Meinar, anak dari Tulangnya (paman). Sampai-sampai Joki berani menarik pelatuk pistol, yang disodorkan ayahnya, untuk bunuh diri. Bang Hadi banget lah, eh Bung Joki maksud saya. Bang Hadi benar-benar konsisten menjaga sinisme dan keras kepalanya.

Selalu menarik memperhatikan tingkah orang-orang unik. Bang Hadi adalah sosok unik. Meminjam konsep jurnalisme, Bang hadi adalah realitas. Sementara testimoni adalah upaya menggambarkan realitas itu. Di buku Penjaga Akal Sehat itu, kolega, kawan aktivis, dan tentu saja orang-orang yang pernah berada dalam milieu Bang Hadi mencoba menghadirkan realitas tentangnya. Selain untuk mengenang memori juga mendongengi generasi yang tidak menangi Bang Hadi.

Apakah testimoni-testimoni itu sama seperti realitas itu sendiri? tentu saja tidak. Lha wong karya jurnalisme, yang jelas dituntut nir-opini, saja tidak mampu secara tuntas merepresentasikan realitas. Apalagi testimoni yang berbahan baku opini, berbalut emosi, sesekali ditaburi remahan nostalgi atau imaji.

Tetapi setidaknya dengan membaca kepingan testimoni itu, kita bisa mengenali gambaran yang lebih utuh tentang puzzle yang berjudul ASHADI SIREGAR. Ada bagian di mana sinisme kritisnya membuat ia disegani, mungkin juga pada suatu masa disingkiri. Di sisi lain, justru sinisnya itu lho yang ngangeni.

“Bah! kenapa (tulisanku) jadi se-absurd ini?!” dengan sadar kucomot kalimat Joki. Sudah, sudah, lebih baik ku akhiri saja catatan ini.

Sebagai murid dan cucu murid, saya mohon maaf atas kelancangan menulis catatan ini. Tapi sumpah Bang, ini saya tulis dengan passion kok. Bukankah Bang Hadi sendiri yang menasehati kami untuk selalu melakukan segalanya dengan passion?! Kalau mau menghukum, hukumlah saya dengan mengkritisi skripsi saya tentang etika. Tapi habis itu tolong diajari ya, Bang. ^_^v

Saya membayangkan Bang Hadi akan menjawab dengan kalimat:

“Apa urusannya?!” sambil tidak lupa menaruh senyum sinis di ujung bibirnya.

Kota Sejuta Romansa, 8 Juli 2010

About these ads

Tentang maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.
Tulisan ini dipublikasikan di Soliloquist dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s