Shohibu Baiti: Tuan Rumah (Hati)ku


Kemarin malam, bertepatan dengan malam ke 5 ramadlan, aku menghadiri pentas Kyai Kanjeng bersama Cak Nun. Acara yang disponsori produk minuman dan surat kabar nasional itu diselenggarakan di pelataran monumen Serangan Oemoem Yogyakarta.

Sudah lama sekali aku tidak menyaksikan pentas Kyai Kanjeng. Terakhir kunikmati pentas mereka secara langsung adalah ketika aku masih duduk di bangku MTs (setara SMP) di Jepara. Setelah itu aku hanya menikmati tembang-tembang Kyai Kanjeng dan orasi Cak Nun dari rekaman MP3, ada album Menyorong Rembulan, Padhang Bulan, dan Presiden Balkadaba.

Selama kurang lebih 2,5 jam acara berlangsung penuh canda, rancak, dan gayeng. Gayeng karena Cak Nun melibatkan audiens dalam pementasan. Di awal acara Cak Nun meminta 3 orang untuk maju ke depan panggung. Pertama, Maftuh, mahasiswa UIN SUKA jurusan Ushuluddin. Pemuda asal Jombang yang malam itu memakai kaos dan sarung warna hijau pupus, mengaku iseng saja datang ke acara tersebut. “Mosok malem minggu cuma nang kost-kostan, Cak!” begitu jawabnya. Dari ketiga audiens, Maftuh adalah yang paling nggatheli lepas. Bicaranya ceplas-ceplos khas jawa timuran. Tak sedikitpun nampak rasa sungkan pada ketenaran dan ketokohan Cak Nun. “Meneng ae Cuk!” sesekali Cak Nun membalas celetukan Maftuh yang saru.

Selanjutnya, Wini, mahasiswi UMY yang juga iseng-iseng mampir ke acara ini. Awalnya dia bersama genk motornya teman-temannya buka bersama, ketika melintasi kilometer Nol dia melihat keramaian. Akhirnya mampir lah mereka dan tak tahunya dia jadi artis dadakan malam itu. Bersama Novia Kolopaking, dia diminta ikut menyanyikan lagu Sebelum Cahaya-nya Letto.

Terakhir adalah Zulfikar, buruh bangunan di salah satu proyek di Yogyakarta. Dibandingkan 2 orang korban sebelumnya, Zulfikar adalah orang yang menyengajakan diri untuk datang di pentas Kyai Kanjeng. Bapak 4 anak ini mengaku selalu suka pertunjukan Kyai Kanjeng. Selain musiknya yang familiar dengan telinga jawa, juga petuah-petuah yang tersurat dalam lirik-liriknya. Ketika akhirnya Cak Nun hendak mempersembahkan lagu terakhir yang berirama dangdut, tak disangka Zulfikar keberatan dan meminta diganti Ilir-Ilir. Subhanallah!

Selain berbincang dengan ketiga audiens tersebut, Cak Nun juga menyampaikan kepada khalayak umum tentang kondisi negara dan fenomena sosial yang akhir-akhir ini terjadi. Cak Nun menceritakan hakekat burung Garuda sebagai lambang negara Indonesia. Perjalanan hidup manusia hendaknya meniru burung Garuda yang tak lain adalah Rajawali. Burung Rajawali terkenal sebagai raja para burung. Tubuhnya besar, cakarnya tajam mencengkeram, paruhnya yang runcing mampu mengoyak daging mangsanya, matanya sangat awas sehingga bisa mengintai ikan di dalam air dengan jelas. Rajawali muda adalah burung yang buas lagi beringas, jagoan tiada tandingan.

Menginjak usia 40 tahun, Rajawali akan mencari batu yang paling keras. kemudian dia mulai mematuki batu tersebut dengan keras hingga paruh runcingnya terlepas. Begitu juga yang ia lakukan pada cakar-cakar kakinya. Selanjutnya ia akan terbang tinggi di bukit/gunung. Ia memilih untuk berteman dengan kesendirian. Ia menguji dirinya sendiri dengan melepaskan apa yang selama ini menjadi senjata utama bertahan hidup, simbol eksistensi dan kebanggaan diri. Jika ia tidak mampu melewati hidup tanpa paruh dan cakar, maka matilah ia. Tapi jika ia bisa bertahan dalam kesengsaraan, sambil menunggu tumbuhnya paruh dan cakarnya kembali yang akan tidak seruncing sebelumnya, maka muncullah ia sebagai Garuda.

Cak Nun mengibaratkan Yogyakarta sebagai Garuda, karena rela melepas kemerdekaan dirinya untuk menjadi bagian dari NKRI. Sayangnya, penguasa republik ini tidak tahu berterimakasih. Sampai kini status keistimewaan Yogyakarta mengambang tanpa kejelasan.

Di penghujung acara, sebenarnya inilah inti tulisan yang ingin kusampaikan, Cak Nun mengajak khalayak yang hadir untuk berdiri dan berdoa bersama. Cak Nun meminta audiens untuk hening, memejamkan mata, dan wadul kepada Tuhan tentang segala keresahan dan memohonkan jalan keluar bagi tiap soalan.

Lampu dimatikan, Cak Nun mengawali dengan hamdalah dan sholawat atas nabi. Setelah itu perlahan mengalun musik Shohibu Baiti, aku tidak tahu apakah ini termasuk sholawat atau pujian bagi Tuhan, mengiringi renungan. Aku baru pertama kali mendengar Shohibu Baiti yang berarti Tuan Rumah pada kesempatan itu.

Ketika pertama kali diminta berdiri dan berdoa, dalam benakku langsung terlintas keinginan-keinginan terbesar dalam hidupku saat ini, hafal al-qur’an (lagi), segera wisuda, dan mati muda sehingga membuat ibuku tersenyum bangga. T.T Namun begitu aku mendengar alunan musik dan lirik Shohibu Baiti, sejujurnya aku belum jelas waktu itu apa isi liriknya, keinginan-keinginan tersebut seolah ternomorduakan. Melintas dalam pikiran sekaligus perasaan bahwa dalam diri ini, terdapat sebuah rumah. Tubuh ini adalah rumah.

Shohibu Baiti seolah mengajak bicara pada Tuan Rumah. Tuan Rumah ini tidak sama dengan aku sebagai ego. Bukan diriku yang sekarang sedang berpikir dan merasa. Tuan Rumah ini adalah entitas, tersembunyi dalam palung hati, yang lebih berhak atas jasad, emosi, dan seluruh anasir diri ini. Diiringi Shohibu Baiti, aku seolah mengajak, lebih tepatnya memohon kepada Tuan Rumah untuk kembali masuk ke dalam Rumah. Perasaan ingin menyerahkan sepenuhnya Rumah ini untuk Pemiliknya yang hakiki. Aku tak lagi begitu peduli apakah nanti aku berhasil hafal kembali Al-qur’an, toh Allah sendiri yang menjamin keasliannya. Aku tak lagi begitu kalut jika harapanku untuk wisuda November kembali tertunda. Aku tak lagi takut jika harapan-harapan duniaku harus tak terwujud jika memang itu yang dikehendaki Pemilik Rumah Hatiku. Ikhlas atas segenap usaha yang kulakukan untuk mewujudkan impian. Ikhlas atas segala ujian. Pasrah atas segala hasil yang akan diberikan. Percaya bahwa ada bahagia di akhir panjang perjalanan.

Shohibu baiti… Ya shohibu baiti…
Tuan rumahku… Wahai tuan rumah(ku)

Imamu hayatii… Ya Imamu hayati…
Pemimpin hidupku… Wahai pemimpin hidupku

Mursyidu imanii… Anta syamsu qolbiy…
Penuntun imanku… Engkau (cahaya) mentari hatiku

Qomaru fuadi… Ya qurratu ‘aini…
Rembulan jiwaku… Wahai penyejuk mataku

Syafi’u nashibiy… Ya maula jihadiy…
Penolong (dari) beban(berat)ku… Wahai muara perjuanganku

Ufuqu Syauqi… Ya baabu akhirati…
Cakrawala rinduku… Wahai pintu keabadianku

Tentang maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

18 Balasan ke Shohibu Baiti: Tuan Rumah (Hati)ku

  1. Jauhari berkata:

    Wonten link kanggo nyedot gak dul??

  2. Egha berkata:

    keren am….
    thanks buat pemahaman shohibu baitinya…
    gw aja ga nyampe ke sana walau tiap malem dengerin…
    good…

  3. -ivy wae- berkata:

    setiap tanggal 17 di Jogja ada CNKK dalam Mocopat Syafaat… Datang saja ke Jogja hahay

  4. tantos berkata:

    @mas maulinniam
    mas, mbok link donlot mp3 nya kiai kanjeng dihapus saja. maaf, sepengetahuan saya itu piracy :).
    Yah, itung” menghargai sedikit hasil karya CNKK lah :).
    Lebih baik beli CD asli di Kadipiro atau di Mocopat Syafaat setiap tgl 17
    salam Maiyah :)

  5. khotma berkata:

    halo pak sorry nih ada pertanyaan yang melenceng dari topik, aku pengen tahu salah satu kata manis penuh cinta yang beberapa kali aku lihat berada dibelakang kaos jamaah maiyah, berbunyi kurang lebih mengenai “aku hidup bukan untuk apa apa melainkan hanya untuk berlomba menuju rumahmu” seperti itulah. boleh tahu yang lengkap dan benarnya ga?

  6. ragil_sadewo berkata:

    matur suwun mas, pun dangu kulo pados kaset “shohibu baitu” ning mboten angsal,malah nemu wonten ngriki…kulo kinten progress mboten kawratan yen mp3-ne dipun link wonten ngriki…asal mboten dipun dol-tinuku alias di bisnis ne…
    suwun.

  7. dadang berkata:

    mas saya dadang dari ISI jogja mau neliti tentang lagu shohibu baiti ini. kira2 bisa wawancara tidak ya?? bisa minta email atau fb nya? nuwun.

  8. Masteham berkata:

    mantep nih caknun :D

  9. drailz berkata:

    saya sudah lama nemuin artikel mas ini, saya merinding baca-nya, plus dengerin lagunya.. tiap kali saya merasa desperate saya selalu baca artikel ini dan semacam ada keyakinan untuk terus melangkah.. tapi ya begitu mas, jiwa ini terlalu rapuh..
    Ijin share ya mas..
    maturnuwun sanget..

  10. Lusi selalu di Hati berkata:

    Nyuwun sewu.. Mohon info, setiap tanggal 17 dimana pengajiannya Cak Nun diadakan? Nuwun..
    Artikel ini oke banget.. Mak Nyeessss di hati..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s