Pripun Kabare Mbah (Suharto)? | @31HariMenulis


Hari ini (8/06) adalah hari kelahiran Presiden RI kedua yaitu M. Soeharto. Beberapa media memberitakan sebagai peringatan haul. Istilah haul, di kalangan Islam kultural, digunakan untuk peringatan 1 tahun dari tanggal kematian seseorang. Tapi media salah kaprah. ya sudahlah. tidak usah heran.

Tahun 2013 ini seharusnya merupakan ulang tahun Suharto yang ke 92, sekaligus tahun ke 5 dari tahun kematiannya. Sampai sekarang orang masih bingung dan berdebat tentang status suharto. Apakah ia termasuk orang baik atau orang jahat? Padahal sudah 5 tahun Suharto meninggal sejak 27 Januari 2008. Sudah 15 tahun sejak mengundurkan diri dari jabatan presiden karena tekanan Reformasi. Salah satu agenda reformasi sendiri adalah mengadili Suharto dan kroni-kroninya. Tapi sampai sekarang, tak pernah jelas status hukumnya.

kaos soehartoKemudian akhir-akhir ini kita sering melihat poster, stiker, atau bahkan spanduk bergambar wajah Suharto yang sedang tersenyum. di samping foto ada tulisan “Piye kabare? Isih penak jamanku to?” atau kalimat lain dengan gaya dan nada sejenis yaitu menanyakan kabar Indonesia sekarang dan memperbandingkan dengan kemudahan hidup di jaman Orde Baru. Indikator kemudahan hidup yang dimaksud sangatlah sederhana yaitu harga-harga kebutuhan pokok yang murah.

piye kabare?Kemunculan Piye Kabare dari Suharto itu sebenarnya berawal dari keisengan penduduk Indonesia yang berlebih daya kreativitasnya, berupa grafiti di bak belakang truk atau pick-up. waktu itu fenomena itu dianggap keisengan belaka. tetapi belakangan poster, spanduk, dan stiker gambar Suharto dengan kalimat “Piye Kabare” semakin marak. Bahkan di perempatan lampu merah di jalan-jalan besar ada juga yang memperdagangkan (atau membagikan?). Jika itu diperdagangkan, berarti memang ada pasarnya, ada yang mau membelinya. artinya banyak juga warga yang diam-diam atau terang-terangan merindukan Orde Baru. Di sinilah keresahan muncul. fenomena tersebut bagi sebagian kalangan dianggap sebagai upaya sistematis untuk mengantarkan kembalinya kekuatan-kekuatan Orde Baru di masa lalu.

Untuk melawan wacana romantisme Orde Baru, beberapa kelompok membuat poster serupa tetapi dengan kalimat yang bernada sebaliknya.

piyekabare.com

Poin penting yang ingin saya sampaikan di sini adalah, sampai sekarang kita, manusia Indonesia pada umumnya, tidak punya parameter yang jelas tentang kebaikan atau keburukan orang. Bangsa kita berkali-kali tertipu oleh citra belaka. pilihannya hanya ada dua, pahlawan atau penjahat. Jika seseorang sudah dicitrakan baik, orang beramai-ramai memujanya. Begitu pula sebaliknya. di sini media massa menjadi instrumen penting yang menaikkan atau menurunkan pamor seseorang.

Pertanyaan lebih mendasar dan manusiawi yang bisa kita ajukan tentang Pak Harto adalah apakah Pak Harto termasuk khusnul khotimah?

Terus terang saya sendiri awalnya bertanya-tanya ketika ada seorang teman yang bisa maneges (berkomunikasi dengan arwah) mengatakan bahwa Pak Harto di alam barzakh sana kondisinya baik-baik saja. Lho? kok tidak disiksa seperti dulu digambarkan komik-komik Siksa Kubur yang sadis? Kekejaman, penindasan, penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap warga sipil dalam beragam operasi militer yang dia lakukan selama 32 tahun berkuasa masak tidak berbekas apa-apa di alam kubur sana?

Sampai akhirnya saya mendengar cerita langsung dari Cak Nun tentang bagaimana upaya Pak Harto untuk mengakhiri hidupnya secara khusnul khotimah. Sejak pengunduran dirinya sebagai presiden RI, Suharto memutuskan untuk Madheg Pandhito (menjalani hidup sebagai pandito, orang tua yang bijak). Dalam pidato pengunduran dirinya pun disebutkan bahwa setelah tidak lagi menjadi presiden dia akan lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan merawat anak cucunya.

Paskapengunduran diri tersebut, tokoh-tokoh yang dianggap reformis sibuk menghujat dan menuntut agar Suharto segera diadili. Tapi sampai berbulan-bulan hujatan itu hanya nyaring di media massa. dalam pelaksanaannya tidak ada pejabat negara yang benar-benar punya nyali mengeksekusi. Ketidakjelasan status hukum ini tidak saja membuat bangsa kita tidak bisa move on, masalah selalu dibiarkan menggantung tanpa penyelesaian, tetapi juga membuat Suharto sendiri seperti terpenjara secara sosial dan psikologis. Suharto berkepentingan juga untuk mendapatkan kejelasan statusnya.

Melihat ke-ingah-ingih-an dan kepengecutan para pejabat negara, Cak Nun menawarkan kepada Suharto untuk mengambil inisiatif melakukan ikrar khusnul khotimah. suatu pernyataan sebagai manusia yang percaya pada Tuhan untuk meminta maaf dan mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang pernah dilakukan. Logikanya sederhana, bahwa terhadap dosa-dosa yang berhubungan dengan sesama manusia, Tuhan tidak akan mengampuni sebelum manusia yang kita salahi memaafkan kita.

waktu itu memang sangat tidak mungkin bagi Suharto untuk mendapatkan kepercayaan dari siapapun di Indonesia. Semua pihak nyingkiri, berlomba-lomba menghujat, atau setidaknya tidak ingin terlihat dekat dengan Suharto. Cak Nun menyampaikan pada Suharto kira-kira begini

“Pak Harto sekarang ini Sampeyan bicara apa saja di forum apa saja dan di media mana saja tak akan dipercaya siapapun. Tapi masih ada satu forum yang terbuka bagi Pak Harto. Yakni Forum Ikrar Khusnul Khatimah (akhir yang baik), Pak Harto bertekad untuk membayar semua dosa dan memastikan mengakhiri sisa kehidupan dengan kebaikan-kebaikan”.

Pak Harto menyetujui rencana itu. Cak Nun kemudian membuatkan draft naskah ikrar yang akan dibacakan dan ditanda-tangani sendiri oleh Suharto. Redaksi naskah itu merupakan hasil obrolan Cak Nun dengan Suharto yang berisi empat butir janji yaitu

  1. Bahwa saya, Suharto bersumpah tidak akan pernah menjadi Presiden Republik Indonesia lagi.
  2. Bahwa saya, Suharto bersumpah tidak akan pernah turut campur dalam setiap proses pemilihan Presiden Republik Indonesia.
  3. Bahwa saya Suharto bersumpah siap dan ikhlas diadili oleh Pengadilan Negara untuk mempertanggungjawabkan segala kesalahan saya selama 32 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia.
  4. Bahwa saya Suharto bersumpah siap dan ikhlas mengembalikan harta rakyat yang dibuktikan oleh Pengadilan Negara.

Setelah berunding tentang waktu dan tempat pembacaan ikrar tersebut, Cak Nun memberikan sejumlah bacaan untuk Pak Harto wiridkan. rencananya ikrar itu akan dibacakan pada tanggal 14 Februari 1999 di masjid Baiturrahim di kompleks DPR/MPR.

Namun, karena kebencian manusia Indonesia sudah sedemikian rupa terhadap Orde Baru, wa bil khusus ila Suharto, rencana tersebut justru menjadi bahan olok-olokan. Media massa menyebut rencana ikrar tersebut dengan istilah Taubatan Nasuha, dan Cak Nun dianggap sebagai orang yang mencari muka dan menjilat Cendana.

Akhirnya Cak Nun membatalkan acara tersebut. Tokoh-tokoh reformasi, pengamat politikm dan bangsa ini tak benar-benar serius memperbaiki keadaan. kepada Suharto, Cak Nun meminta agar tetap tinggal di rumah saja, tak usah berangkat, wiridan di rumah saja cukup. Sementara kepada media massa Cak Nun berkata,

“Saudara-saudara, acara Ikrar Khusnul Khatimah saya batalkan, saya minta Pak Harto tak usah datang. Saya akan mempertimbangkan akan melaksanakan acara itu atau tidak nanti sesudah Anda dan para Pendekar Republik menyeret Pak Harto ke Pengadilan. Saya menyiapkan satu jari-jari saya untuk dipotong kalau sampai terjadi Pak Harto duduk di kursi terdakwa Pengadilan Negara Republik Indonesia.”

***

Berbuat salah dan dosa itu sangat manusiawi. yang membuatmu berbeda adalah apa yang kamu lakukan setelah menyadarinya. Apakah kau akan mengakui kesalahanmu lalu belajar untuk memperbaikinya atau kau akan memantati Tuhanmu dengan mengulangi kesalahan itu secara sadar.

Sebagai penguasa, Suharto pasti punya banyak salah, ketidaktepatan kebijakan sehingga merugikan rakyatnya. Sebagai pemimpin selama 32 tahun pastilah ada barang satu atau dua kebijakan yang baik, setidaknya ia memiliki visi kemajuan untuk rakyatnya. Pada akhirnya sebagai manusia, ia mengakui kesalahan dan serius ingin menebusnya demi ampunan Tuhan. Sayangnya, manusia Indonesia masih perlu banyak belajar menjadi manusia.

referensi:

http://www.maiyah.net/2012/05/selamat-tinggal-pak-harto.html

http://www.maiyah.net/2012/11/soeharto-si-duda-kembang.html

Tentang maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Pripun Kabare Mbah (Suharto)? | @31HariMenulis

  1. Lian berkata:

    I bet someone will call u something bad after this! :D

    Hidup Suharto! *eh!
    Hidup Khusnul Khatimah (maksudku)!

  2. Kaela berkata:

    Pak harto sbnrnya baek tpi krn trlalu lama memimpin jd jelek, bosen rakyt indo, msak slm 32 th.g ad rotasi kekuasaan, cnderung otoriter. Golkar2 melulu,

  3. ghusty nanang berkata:

    Bagiku mbah suharto tetap bapak bangsa Dan bapak pembangunan krn kepemimpinanya membawa keberhasilanku dlm kehidupan

  4. nurcahyo berkata:

    Apa salah nya kita memaaf kan orang yg sudah meninggal allah saja mau memaaf kan hamba nya masa kita sesama manusia tidak mau tidak bisa saling memaaf kan.

  5. Dzikridzikra berkata:

    Terserah orang mau bilang apa.bagiku soeharto is the best…..semua serba murah.tdk pernah ada isu sara.semua hidup damai.gak ngurusin yg korupsi.to semua orang bawa dosanya sendiri.apa yg dirindukan dan sekarang nyaris hilang.ya itulah kedamaian.hidup soeharto….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s