Hari Raya Cinta (II)

Tuhan, Hajarkan hamba
agar rela menjalani kehidupan yang sepi
di gurun tandus tak berpenghuni
menanti janji datangnya Cinta

Kekasih, Ibrahimkan hamba
Ajari aku membaca pertanda
dan keberanian mengikutinya
karena pada Sih-Mu, aku percaya

Duhai penghulu Cinta, Ismailkan hamba
Tanpa ragu bersyahadat cinta
Tiada tuhan selain Cinta
Darah dan nyawaku jadi saksinya

Continue reading “Hari Raya Cinta (II)”

Pendaftaran Australia Awards Scholarship 2016 telah dibuka!

a madeandi's life

Penjelasan singkat
Australia Awards Scholarship alias AAS adalah beasiswa penuh bagi masyarakat Indonesia yang memenuhi syarat untuk studi S2 atau S3 di perguruan tinggi Australia. Jika Anda sudah menyelesaikan pendidikan S1 dan berusia di bawah 42 tahun, Anda berkesempatan untuk mendaftar. Berikut ini hal-hal penting yang mungkin membantu Anda.

Lihat pos aslinya 664 kata lagi

Dia yang Namanya Tabu untuk Diceritakan

Aku baru sekali ini bertemu dengannya, mungkin pernah bertemu sebelumnya tapi hanya selintas lalu saja. Aku memenuhi undangan pesta sederhana dari teman. Dia juga memenuhi ajakan temannya yang adalah temanku juga.

Dia tampak jenaka dan tahu betul cara menghidupkan suasana, apalagi pesta.
Kalimat-kalimatnya tak terduga. Mengundang tawa sepanjang pesta. Ada saja ulahnya yang menyelamatkan kami dari mati gaya.

Seusai pesta, kami duduk duduk santai bertukar sapa.
“Salam kenal,” ujarku sambil mengulurkan tangan padanya.
“Oh, aku sudah tahu kamu sejak lama,” jawabnya tak kuduga. “Sekitar tahun 2007,” lanjutnya.
“Ah masa?!” Hanya itu reaksiku untuk menutupi keterkejutanku.  Continue reading “Dia yang Namanya Tabu untuk Diceritakan”

Bising

Kajian neuroakustik menemukan bahwa kebisingan berdampak negatif pada kesehatan. Meskipun dalam level yang rendah, hiruk pikuk di tempat kerja, kemacetan di jalan, klakson kendaraan bersahut-sahutan, deru mesin-mesin pembangunan, pertengkaran manusia di sekitar kita, dan kebisingan hidup di perkotaan dapat meningkatkan kecemasan dan memengaruhi fungsi kerja otak kita.

Dering telpon, notifikasi dari berbagai aplikasi gadget, bualan pengamat di layar kaca pelan tapi pasti merusak kemampuan kita untuk fokus dan belajar, memacu jantung berdetak lebih kencang, meningkatkan tekanan darah, dan membuat kita lebih agresif.

Parahnya lagi, kebisingan terjadi tidak hanya datang dari luar tetapi juga dari dalam diri kita. Seringkali suara-suara dari dalam kepala kita justru lebih bising dan terlalu nyaring untuk diabaikan.

Kita membutuhkan kesunyian di luar dan di dalam, ketenangan lahir dan batin untuk bisa berpikir dengan jernih. Untuk menyembuhkan.

Dalam kehidupan modern, mencari kesunyian yg sejati sama susahnya menemukan langit malam yg benar-benar gelap. Ketika kita berhasil menemukannya, kesunyian menunjukkan pada kita keindahan yang tak terduga. Sama seperti gelapnya malam menyajikan lebih banyak bintang di hamparan semesta tepat di depan mata.

#Perception

Djogja, 14092014

Menyikapi Hantu Masa Lalu

Otak menyimpan ingatan dengan cara yang berbeda. Short term memory (ingatan jangka pendek) dan long term memory (ingatan jangka panjang). Ingatan tentang di mana kita menaruh kunci, nama seseorang yang baru kita kenal, tersimpan sementara dalam hippocampus. Tapi hippocampus tidak menyimpannya untuk waktu yang lama.  Selanjutnya hippocampus akan mentransfernya ke bagian cortex di mana ingatan tersebut akan menguat atau melemah tergantung pada seberapa sering kita mengakses ingatan tersebut. Tiap kali kita membuka ingatan tersebut, neuron akan aktif dan ingatan tersebut menjadi lebih kuat. Tetapi jika kita terlalu lama tidak membukanya, mungkin ingatan itu akan terkubur selamanya.

Masa lalu terkadang datang kembali untuk menghantui. Kenakalan di masa remaja, dosa di masa muda, penyakit yg diderita orang tua kita, kecelakaan atau trauma masa kecil, itu semua bisa menempel di ingatan sepanjang usia kita. Continue reading “Menyikapi Hantu Masa Lalu”

Dewa Amral Ngoyak Kayangan

Sabtu malam 5 Juli lalu saya diperjalankan Allah untuk menyaksikan pentas Wayang Orang Ngesti Pandowo di Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Grup Ngesti Pandawa pernah menjadi ikon budaya kota Semarang. Grup yang dirintis oleh beberapa seniman legendaris, salah satunya ki Narto Sabdho, ini didirikan di Madiun pada 1937 dan berkembang di Semarang hingga sekarang.

Malam itu lakon yang dipentaskan bertajuk Dewa Amral.

Kisah bermula ketika dalam sebuah sidang para Dewa, Batara Guru sebagai pimpinan tiba-tiba membuat putusan. “Puntadewa telah melanggar paugeran. Ia harus menerima hukuman!”

Semua anggota DPD (Dewan Para Dewata) terkejut tapi tak berani membantah.

“Puntadewa harus dihukum mati!” demikian titah Batara Guru.

Para dewa clingak-clinguk saling menatap satu sama lain. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran tapi tak ada satupun yang berani bersuara. Continue reading “Dewa Amral Ngoyak Kayangan”

Berubah. Sekarang!

Setiap hari, tiap saat, tiap nanodetik, dunia berubah. Partikel atom bertumbukan satu sama lain dan saling bereaksi. Manusia saling berbenturan dan mengubah arah satu sama lain.

Tapi kita manusia tidak menyukai perubahan. Kita berjuang melawan perubahan. Perubahan membuat kita takut. Takut kehilangan rasa nyaman. Takut pada ketidakpastian. Lalu kita menciptakan ilusi tentang ‘yang pasti-pasti aja’. Continue reading “Berubah. Sekarang!”

Ekspedisi Papua II: Dinamika Sosial dan Ekonomi Kampung Sidomakmur

Sejarah kampung Sidomakmur bermula dari dibukanya perusahaan pengolahan udang terbesar di Indonesia milik keluarga Cendana, PT Jayanti di Wimro. Karena membutuhkan banyak pasokan udang untuk jalannya perusahaan, pemerintah membuka program transmigrasi terutama bagi nelayan-nelayan. Untuk itu di seberang Wimro dibuka permukiman untuk para transmigran cum karyawan PT Jayanti dengan nama resmi TransWimro. Tak heran jika sebagian besar nelayan di Wimro berasal dari Jawa, khususnya Jawa Timur meliputi Gresik, Probolinggo, dan Banyuwangi). Kampung TransWimro dikenal juga dengan sebutan RKI, singkatan dari Rumah Kayu Indonesia, karena semua rumah di sana dari dulu hingga sekarang sebagian besar berbahan utama kayu.

Sekitar tahun 2003, para sesepuh transmigran yang sebagian besar dari Jawa, memberi nama RKI dengan nama Kampung Sidomakmur. Sebagaimana tradisi Jawa, pengubahan nama kampung tersebut dilakukan dengan upacara adat ala Jawa, lengkap dengan tumpeng dan ubarampenya. Continue reading “Ekspedisi Papua II: Dinamika Sosial dan Ekonomi Kampung Sidomakmur”

Ekspedisi Papua II: Tenggelamnya Kapal Munaji

Sore ini aku bertukar cerita dengan ibu Sugianti. Dia mengaku keluarganya sedang dalam krisis ekonomi. Suaminya sudah tidak bekerja beberapa bulan lamanya, terutama setelah 1 perahunya karam di Bintuni. Untuk hidup sehari-hari, Sugianti mengandalkan warungnya dengan berjualan sayur mayur dan kue donat plus pisang goreng. Keluarganya menanggung hutang 50 juta dari bank. Ia tinggal di RKI bersama Pak Munaji, suaminya, dan Bagas, anaknya yang berusia 8 tahun.

Sugianti sekeluarga memulai kehidupan di RKI ini sejak 1991 ketika PT Jayanti, perusahaan pengolahan udang milik keluarga Cendana, beroperasi di Wimro yang terletak di seberang pulau. Pada tahun 1993 ia diberhentikan dan diberi pesangon Rp 115.000,-  Continue reading “Ekspedisi Papua II: Tenggelamnya Kapal Munaji”