Angka Semesta

Angka semesta selalu dalam keseimbangan tetap, sampai suatu ketika berubah.

Infinity
Angka semesta selalu dalam keseimbangan tetap, sampai suatu ketika berubah. Ketidaktahuan kita akan kepastian masa depan, ketidakmampuan kita untuk memengaruhi hasil akhirnya adalah penyeimbang yang hebat. Itu membuat dunia menjadi terlihat lebih adil. Bahwa semua sama-sama tak berdaya di hadapan ketidakpastian.
Komputer menghasilkan angka acak dengan tujuan agar kita mengumpulkan sedikit demi sedikit arti dari ketakterhinggaan jumlah kemungkinan. Deretan angka tak berakhir, pola angka yang tak selesai, selama kejadian bencana alam tiba-tiba berhenti acak. Saat kumpulan kesadaran kita bersinkronisasi, begitu juga angka-angka semesta.
Belum ada ilmu yang bisa menjelaskan cara teknologinya tapi agama bisa. Tak usah bertanya agama yang mana. Satu-satunya agama di sisiNya adalah kesadaran bulat untuk pasrah total. Dalam agama, teknologi itu disebut doa. Suatu permintaan kolektif dikirimkan secara serempak, bangkitnya harapan, hilangnya ketakutan, berbagi perasaan dan makna hidup dengan sesama makhluk, menyebabkan angka semesta menuju koordinat harmoni.
Haruskah gunung-gunung bergolak lagi, gunung es melelehkan diri, bumi menggeser diri, kelompok manusia saling hujat, saling usir, saling serang lagi agar kita mengakui kesalahurusan, kelancangan, sekaligus ketidakberdayaan kita mengatasi kerusakan bumi akibat ulah tangan kita sendiri?! Hingga akhirnya kita terpaksa menyelaraskan energi yang sama, berdoa dengan permintaan yang sama.
Aman aman British Raya aman.
Aman aman Turki aman.
Aman aman IndonesiaRayya amaan.
-menungguvega.memandangmega. 29062016

Nyadran: Melacak Sangkan Merancang Paran

Makna nyadran yang utama adalah menziarahi pemikiran, pitutur, perilaku leluhur yang hidup dalam ingatan. untuk selanjutnya kita gunakan sebagai bekal melanjutkan peran kita dalam bebrayan.

cimg4187

Menjelang Ramadlan dan Syawal, masyarakat kita biasa melakukan nyekar, nyadran, berziarah dengan berkunjung ke makam keluarga, orang tua, atau leluhur kita. Terlebih sejak Muhammadiyah membolehkan umatnya berziarah, tidak lagi keukeuh pada virus TBC (Takhayul, Churafat, Bid’ah), makin ramai kuburan dikunjungi. Ritual nyekar atau nyadran umumnya dilakukan dengan membersihkan rumput, menabur bunga dan mendoakan (sebagian orang mungkin juga selfi di dekat nisan) leluhur yang telah lebih dulu meninggal dunia. Lebih beruntung sedikit jika orang tua kita menjelaskan hubungan kita dengan yang kita ziarahi. “Ini mbahmu le. Itu kuburannya pakdhe” dan semacamnya. Tradisi ini mengajari kita untuk tahu asal usul, dari mana kita berasal, terbuat dari unsur-unsur apa saja.

Lebih jauh, mestinya nyadran adalah ziarah ke alam pikiran, menelisik pengalaman orang tua, mbah, buyut, dan seterusnya. Siapa mereka, apa yang mereka lakukan, apa yang mereka perjuangankan, apa peran mereka dalam kehidupan. Sraddha berasal dari Bahasa Sanskrit memiliki dua arti. Pertama, ritual dalam agama Hindu yang didedikasikan untuk leluhur yang telah meninggal. Kedua, Sraddha juga berarti keyakinan hati atau kepercayaan tentang diri. Keyakinan dapat mewujud dalam beraneka rupa. Bhagavadgita mengajarkan bahwa eksistensi seseorang terbentuk dari apa yang dia yakini. Bahkan keyakinan, pemikiran seseorang itu yang menjadi penanda eksistensi seseorang meski wadagnya telah tiada.

Dengan pemahaman Sraddha demikian, kita jadi paham bahwa makna nyadran yang utama adalah menziarahi pemikiran, pitutur, perilaku leluhur yang hidup dalam ingatan. untuk selanjutnya kita gunakan sebagai bekal melanjutkan peran kita dalam bebrayan. Ketertarikan kita pada dunia bisnis ternyata mirip dengan buyut kita yang dulunya adalah pedagang dari Gujarat. Saya tidak hendak mengatakan bakat adalah 100% faktor keturunan. Saya lebih nyaman mengatakan ada pola-pola peran yang mirip dan entah bagaimana bisa terulang antargenerasi.

Sebagai ilustrasi, bapak saya adalah seorang tukang kayu sembari jadi guru madrasah di sore dan malam hari. Bapak termasuk orang yang supel sekaligus keras kepala. Bapak saya tak akan ragu untuk menengahi pihak-pihak yang sedang berkonflik, terutama jika itu masih saudara. Sementara ibu saya berasal dari keluarga kyai kampung yang hidup dari mengolah lahan. Ibu saya punya kebiasaan untuk menanam pohon yang berbuah di halaman rumah. sesempit apapun, sepenuh apapun lahannya pasti ibu saya akan mencari cara untuk menanam. Selanjutnya Mbah Mun, kakek dari bapak saya di masa mudanya adalah seorang pemuda kampung berperawakan kecil, pendiam. Mbah Mun bekerja sebagai tukang kayu dan punya kebiasaan untuk menampung pemuda yang ingin ajar nyambut gawe (belajar bekerja).Wong lanang yen iso golek pangan, ora bakal dadi bajingan” kira-kira begitu prinsip Mbah Mun. Saat itu Mbah Mun pernah menampung tukang hingga 15 orang. Kalau dilihat secara manajemen bisnis modern, apa yang dilakukan Mbah Mun jelas tidak menguntungkan.

Dalam urusan asmara, Mbah Mun muda termasuk tipikal lelaki pemalu tapi justru berhasil menyunting kembang desa. Gara-gara itu, Mbah Mun pernah dicegat dan nyaris dikeroyok para pemuda kampung sebelah. Sementara Mbah Bariyah, istrinya adalah gadis berparas cantik nan pemberani, anak dari pedagang kain di pasar. Mbah Bariyah pernah menghilang dari rumah 3 hari karena akan dipaksa menikah dengan lelaki yang tak dicintainya. Gara-gara perbuatannya, pihak laki-laki memperkarakan sampai di pengadilan dan menuntut ganti rugi. Jadi bisa dibayangkan mengapa saya menjadi seperti saya yang sekarang. Karena bagaimana pun kita tak bisa lari dari garis nasib dan nasab.

Kita adalah resultan dari rantai aksi-reaksi antara Cahaya, Cinta, dan Kehendak Mencipta yang bermuara pada dentuman pertama semesta.
Yogyakarta, menjelang buka puasa hari pertama 2016.

Kata-kata

“Kemana perginya kata setelah ia diucapkan?
Kemana perginya pikiran setelah ia dituliskan?”

Selalu terasa lucu dan nggatheli tiap kali ingat bagaimana Allah menegurku dengan kata-kataku sendiri. Teman-teman Diskusi Martabat menyebutnya dengan istilah Kena Bandhilan. Tapi kena bandhilan itu kalo kita ga menyadari prosesnya sedangkan kalo sejak awal tahu bahwa kata-kata, persepsi dan pengetahuan yang kita yakini akan menuntut tanggung jawab itu namanya Kulakan Bandhilan.

Seorang dosen pernah mengawali sesi pagi dengan pertanyaan, “Kemana perginya kata setelah ia diucapkan? Kemana perginya pikiran setelah ia dituliskan?” Apakah kata-kata kita tersimpan di suatu tempat seperti kode-kode digital yg tersimpan di server awan?

Kata, suara, pikiran kita adalah getaran/gelombang. Begitu selesai diucapkan kata itu berputar-putar menyelubungi diri kita sebagai energi. Sebagaimana hukum energi, ia akan mencari, menarik gelombang yg sefrekuensi. Ketika koordinat ruang dan waktunya tepat, energi itu kembali menguat dan memunculkan koordinat rasa yang akurat. Di situlah momentum kita untuk mengingat. Kalau perlu mencatatnya sebagai pelajaran dari pengalaman. Apakah rasa itu yg jiwa kita inginkan ataukah kita berendah hati merevisi agar relung hati tak tersakiti. Seperti kata lagunya Letto, “semestinya kata-kata cerminkan jiwa… kini saatnya engkau berhenti melukai relung hati”

“Hidup adalah perjuangan”, kata Rendra. “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Mungkin terlalu berat dibayangkan bagaimana mengubah semuanya tapi setidaknya kita bisa memulainya dengan lebih memperbaiki kata-kata kita.

Selamat hari Jumat, utamakan Selawat.🙂

Illusion of Separation

I’m silent, it doesn’t mean I’m ignorance
It’s a matter of space-time presence
may be it’s our hate of distance

O friends of mine
Don’t get me wrong, I know
It is our big illusion of separation
Now I start to understand

 

Kota Sejuta Romansa, 24 Maret 2016

Percumbuan Cahaya dan Cinta

Cintailah apa yang tak tersentuh
belahan jiwa yang membuatmu utuh

Tak satupun ada tercipta
tanpa percumbuan Cahaya dan Cinta
ketika tak ada lagi tanya,
hasrat diri-kah kehendak semesta

Masihkah kau peluk tubuhku begitu erat
ketika akhirnya tubuh pun jadi mayat
Cintailah apa yang tak tersentuh
belahan jiwa yang membuatmu utuh

 

Kota Sejuta Romansa, 13 April 2016