Illusion of Separation

I’m silent, it doesn’t mean I’m ignorance
It’s a matter of space-time presence
may be it’s our hate of distance

O friends of mine
Don’t get me wrong, I know
It is our big illusion of separation
Now I start to understand

 

Kota Sejuta Romansa, 24 Maret 2016

Percumbuan Cahaya dan Cinta

Tak satupun ada tercipta
tanpa percumbuan Cahaya dan Cinta
ketika tak ada lagi tanya,
hasrat diri-kah kehendak semesta

Masihkah kau peluk tubuhku begitu erat
ketika akhirnya tubuh pun jadi mayat
Cintailah apa yang tak tersentuh
belahan jiwa yang membuatmu utuh

 

Kota Sejuta Romansa, 13 April 2016

Kinasih

Kita mesti berterima kasih
pada anak-anak kinasih
terlahir buta tapi jernih hatinya
anak-anak yatim dipandang sebelah mata
tapi tak sedikitpun dendam pada manusia

Bisa jadi Tuhan menangguhkan bencana
hanya karena mereka ada
karena Kanjeng Nabi sendiri yang menemani
hati mereka yang senantiasa sunyi

 

Jogja Kota Cinta, Semoga. 22 April 2016

Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah dalam Nikah

Maukah kau menikah denganku? – bisa jadi perlu ditilik dengan perspektif yang rumit.” (Dian Arymami)

Penjabaran mbak Dian memang rumit – jelas rumitlaah Cinta level disertasi je – tapi sebenarnya belum seberapa rumit. Ada penjelasan yang lebih rumit tentang pernikahan sampai tingkat galaksi semesta. Sejauh yang kupelajari, pola perjodohan, couple-mating terentang dari level atom hingga galaksi. Bahwa sel-sel melakukan penyatuan untuk berkembang menjadi organisme yang lebih kompleks. Bahwa bintang dan galaksi juga melakukan ‘act of mating‘ (www.independent.co.uk).

Tapi itu bahasan untuk lain kesempatan saja. Kali ini aku ingin menawarkan pemaknaan alternatif saja tentang doa pernikahan. Bukan kebetulan juga kukira ketika tadi pagi tiba-tiba ada pesan masuk dari seorang kawan lama menanyakan “Am, doa golek jodoh opo yo?” *nggg

Dalam budaya kita, terutama Islam, doa yang sering diucapkan kepada kedua mempelai adalah semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sakinah biasa dimaknai tentram, tenang, diam. Sakinah dari kata sukun (berhenti, diam). seperti lagunya Anji Cintaku Berhenti di Kamu dek. Lalu mawaddah dari kata wadud dan rahmah (seakar dengan kata rahman rahim) yang memiliki arti kurang lebih sama, Cinta, kasih dan sayang. Meski antara wadud, rahman, maupun rahiim memiliki nuansa rasa yang berbeda.

Wadud atau mencintai bisa kita maknai sebagai kualitas emosi yang selalu ingin memberi, segala tindakan yang kita persembahkan untuk orang/sesuatu yang kita cintai. Wadud juga menyimpan makna kelapangan atau kekosongan. Dengan kata lain, wadud adalah cinta yang memberi. Sementara rahmah mengandung makna cinta yang melayani, menampung, ngemong. Untuk bisa melayani, menampung, ngemong, seseorang harus memiliki keluasan pandang, kelapangan hati untuk menerima apapun yang dimiliki, dibutuhkan, dan diminta oleh orang/sesuatu yang kita sayangi. Singkat kata, rahmah adalah cinta yang menerima, tresna nampa.

Lalu di mana posisi sakinahnya?

Sakinah adalah keadaan, state of things. Sakinah adalah output dari proses pernikahan berupa harmoni, titik equilibrium, ketika semuanya berada di titik kesetimbangan. Konsep sakinah dalam pernikahan sendiri bukan keadaan yang tetap. Sebagaimana alam semesta selalu dalam proses menuju harmoni. Tidak ada jaminan bahwa ketika keharmonisan keluarga sudah kita dapat, itu akan berlangsung selamanya. Akan ada perubahaan konstelasi, kesadaran diri, kebutuhan ekonomi, status sosial dan lain sebagainya yang menggoyahkan kesakinahan keluarga.
Pertanyaannya adalah, apakah kita mau terus berupaya ‘li-taskunuu ilaiha‘ (mengupayakan kedamaian dalam keluarga dengan memberikan kebahagiaan pada pasangan) bukan ‘li taskunuu fiiha‘ (mencari kedamaian apalagi bahagia dari pernikahan). Mas Sabrang “Noe” Panuluh pernah serius berkelakar barang siapa menikah karena mencari bahagia, niscaya dia akan kecewa.

Dengan begini, kita bisa mengucapkan doa “semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah” dengan positioning yang lebih jelas. Bahwa kehidupan adalah medan juang, samudra pembelajaran. Keluarga adalah sampan yang kita kemudikan. Wadud dan Rahmah adalah dua kayuh untuk mendayung sampan. Ibarat dua sayap yang membantumu terbang.

Mungkin kalau mau lebih lengkap doanya jadi seperti ini “Selamat mengaruhi samudra dengan bahtera bernama keluarga, dengan kayuh mawaddah dan kayuh rahmah. Semoga dengan kedua kayuhmu kalian akan senantiasa sakinah menghadapi gelombang samudra kehidupan dari arah yang tak disangka-sangka.

Sudahkah kita mengasah kayuh cinta kita?

 

Kota Sejuta Romansa, 27 April 2016

Cari dalam Diam

Jika kau hendak mencari kebenaran
carilah dalam diam.

Jika pun kau merasa menemukan kebenaran
simpanlah dalam-dalam.

Jangan sekali-kali kau kabarkan,
kecuali jika dan hanya kepada
mereka yang siap mendengarkan

Karena kutukan bagi pengabar kebenaran adalah
KEMATIAN atau KETERASINGAN
Hidup tanpa Teman.

 

Kentungan, 02 Mei 2016

Ada yang Hilang di Stasiun Kereta*

Pukul dua puluh empat kurang tiga per empat
Kumasuki stasiun kereta
Dengan langkah setengah mengambang

Tiang-tiang besi tinggi menjulang
Hawa dingin menyembur dari AC di pojok ruang

Stasiun kereta api ini terasa dingin dan lengang
Bukan karena menjelang tengah malam
Bukan pula sebab sedikitnya penumpang
Tak ada hawa gerah dari tubuh berpeluh butuh
Tak ada riuh rendah suara penjaja bakpia

Sebenarnya malam ini ada banyak orang
mereka duduk di kursi besi berderet memanjang
Tanpa sedetikpun beradu pandang
Wajah mereka khusyuk menunduk
Seperti sekumpulan orang hilang

Ada yang hilang di stasiun kereta
Tak lagi kulihat lambaian tangan ibu
Melepas kepergian anaknya
Mengadu nasib di perantauan
Tak ada cumbu rayu kekasih antarkota
Bekal rindu menunggu pertemuan berikutnya
Tak ada lagi tangis pilu
Mengiringi gerbong terakhir berlalu
Penutup kisah yang terlalu

Ada yang hilang di stasiun kereta
Yaitu, kemanusiaan kita.

Kota Sejuta Romansa, 25 Maret 2016

*ide cerita dari Kak Hars

Hari Raya Cinta (II)

Tuhan, Hajarkan hamba
agar rela menjalani kehidupan yang sepi
di gurun tandus tak berpenghuni
menanti janji datangnya Cinta

Kekasih, Ibrahimkan hamba
Ajari aku membaca pertanda
dan keberanian mengikutinya
karena pada Sih-Mu, aku percaya

Duhai penghulu Cinta, Ismailkan hamba
Tanpa ragu bersyahadat cinta
Tiada tuhan selain Cinta
Darah dan nyawaku jadi saksinya

Continue reading “Hari Raya Cinta (II)”