Aku Anak Abahku (cerpen)


Basah…

Gelap…

(*

“Sarapan dulu !” saran ibu.

“Cukup ini aja” sahut Salik sambil menghabiskan sisa sarapan adiknya yang tinggal 2-3 sendok. Abah, begitu Salik menyebut ayahnya, hanya terdiam dan duduk setengah berbaring di kursi panjang dekat jendela. Di kursi itulah Abah menghabiskan waktu sepanjang hari. Abah sudah tak bisa lagi berjalan normal. Kedua kakinya bengkak dan terkadang mengeras seperti batu. Telapak kaki kirinya mengeluarkan cairan kuning berbau tak sedap. Dua jari tengahnya mengering seolah darah tak lagi mengaliri. Sudah bertahun-tahun Abah menderita kencing manis.

“Bener gak sarapan ?” kembali ibu mengingatkan. Tanpa menyahut Salik segera memasukkan buku terakhir ke dalam tas hitam. Memakai kaos kaki. Berpamitan pada ibu kemudian menghampiri Abah dan mencium tangan kanan yang juga bengkak.

“Assalamualaikuuu..m !” Salik berteriak sambil ngeloyor pergi. Setengah berlari menuju SMA terfavorit di kotanya karena 10 menit lagi pasti Mbah Di sudah di depan pintu siap mengunci gerbang sekolah.

Pagi itu, Selasa 23 Maret 2005, semuanya tampak berjalan seperti hari biasa lainnya. Di sekolah, Salik pun melakukan hal yang biasa ia lakukan, mengerjakan PR Bahasa Perancis pada jam Sejarah Budaya. Selesai menyalin pekerjaan Puspita, teman sebangkunya, Salik iseng memperhatikan tingkah teman-teman sekelasnya. Di bangku pojok, si Omen khusyuk menyimak komik Kungfu Boy yang ia bawa, Dewi asyik menyumpal telinganya dengan headset yang tersambung ke handphone, jemari mungil Sita yang terampil menari di atas keypad Nokia 3360 alias es em esan dengan pacarnya atau si Mely yang sibuk membolak-balik majalah remaja. Terkadang Salik kasihan melihat guru bermonolog di depan kelas tanpa ada yang peduli.

Jam istirahat tiba. Masih seperti biasa. Salik lebih suka menghabiskan 15 menit itu untuk membaca buku yang dibawa dari rumah, atau sesekali ia ikut nimbrung teman lain duduk-duduk di emperan kelas sambil menggoda adik kelas yang kebetulan lewat. Salik termasuk siswa yang jarang ke kantin. Yah..seolah semua berjalan seperti biasa tanpa tahu peristiwa apa yang bakal menimpanya.

(*

Salik membuka mata. Ia masih duduk bersimpuh. Sendirian. Berkali-kali ia menarik nafas panjang. Berusaha tegar. Mencoba meyakinkan diri akan drama kehidupan yang sedang dijalaninya. Lagi-lagi matanya basah, otak serasa penuh. Dadanya sesak. Gelap menyelimuti.

(*

Salik baru saja turun dari motor temannya. Ia sering nebeng teman sekolah yang kebetulan ketemu di jalan pulang.

Matur tengkyu” ucap Salik sambil memasuki halaman rumah. Abah terlihat duduk di kursi teras. Tangan kanannya memegang tongkat kayu berukir kepala naga. Kakinya yang bengkak dibalut karet bekas ban. “Mungkin biar cepet kempes” pikirnya. Ada-ada saja.

Baru saja melepas kedua sepatu, “Sudah sholat?” Tanya Abah. “Kalo belum, cepet sana, sholat, makan trus nanti tak suruh !” lanjut Abah.

“Mati aku ! ada apa lagi ini?” teriak batin Salik. Padahal sejam lagi ia harus berangkat ke sekolah. Ada jam tambahan untuk persiapan ujian kelas tiga.

Tetapi Salik tidak bisa atau tidak berani membantah. Selalu ada perasaan khawatir, takut, jengkel bahkan benci tiap kali Abah menyuruhnya. Ia menganggap Abah layaknya penguasa yang mengalami postpower syndrome, yang selalu ingin menunjukkan kuasanya atas diri manusia lain (termasuk Salik). Ia merasa tiap kali Abah berbicara atau menyuruh, itu bisa jadi pertanda buruk baginya. Ia pasti tidak boleh keluar rumah. Acara yang sudah disusun rapi berhari-hari bisa gagal begitu saja. Itulah mengapa Salik seringkali mencuri-curi waktu, menunggu Abah lengah atau tertidur, sejurus kemudian Salik sudah tidak lagi di rumah. Ibu kerap menyindirnya bahwa Salik memiliki ilmu kesaktian menghilang. Maksudnya sering pergi tanpa pamit.

Bagi Salik sendiri, rumah apalagi Abah tidak bisa memberinya ketenangan jiwa. Merasa tidak berharga di mata Abah bila dibandingkan kakak sulungnya. Sebaliknya, Salik merasa enjoy, merasa lebih dihargai dan dihormati bila berada di tengah teman-temannya. Maklum Salik termasuk bintang sekolah ditambah lagi ia aktif di berbagai organisasi dan tergolong pandai berbicara di forum.

“Ada apa, Bah?” Salik menemui Abah yang masih duduk di teras.

“Sudah sholat?”

“Sudah.”

“Makan?”

“Sudah.”

“Panggilkan Kang Mat, tukang pijat di dusun sebelah!” suruh Abah, kemudian melanjutkan,”Abah sudah tidak kuat. Kedua kakiku sakit sekali.” Wajah Abah terlihat kurus dan pucat. Tampak lebih tua dari usia yang sebenarnya. Tetapi raut mukanya menggambarkan ketabahan dan keikhlasan menerima cobaan dari sang Pencipta.

Salik segera menyambar kunci motor dan bergegas menuju rumah Kang Mat. Beberapa lama kemudian ia sudah kembali pulang. Abah masih menunggu di depan.

“Mana Kang Mat ?”

“Rumahnya sepi.”

“Sepi Bagaimana?”

“Ya sepi, saya sudah salam berkali-kali tapi nggak ada yang jawab” sahut Salik dengan wajah yang semakin ditekuk.

“Sana panggil lagi! Siapa tahu tadi baru sholat atau tertidur.” Kembali Abah menyuruhnya.

“Tapi Bah, saya sudah telat.” Salik berusaha beralibi, mencari alasan agar diijinkan pergi.

Dengan suara mulai meninggi, “ Sudahlah..!! kamu itu kerjanya ngeluyur tiap hari! Emang mau jadi apa di sekolah. Pagi sekolah, sore sekolah ! dikasih makan sekolah apa?!” Ayah membentak, sisa-sisa keperkasaannya nampak dengan sedikit ego yang menyembul. tetapi kemudian dengan nada lain.

“Abah sudah tidak kuat, sakit Abah sudah parah, berjalan saja harus dituntun. Sebentar lagi juga mati.” Salik jengkel mendengar kalimat Abah. “Lik, mumpung Abah masih hidup, turutilah permintaan Abah. Paling juga tidak lama. Toh kalo Abah mati, kamu juga kan yang dapat warisan.” Kalimat terakhir itu semakin membuat dongkol hati.

Salik kembali ke rumah Kang Mat, tapi ternyata berdasar keterangan istrinya, Kang Mat pergi ke luar kota. Setelah menyampaikan berita itu baru Salik boleh pergi.

(*

“Abah sudah meninggal, Lik..”

“Ya..meninggal !”

Berkali-kali Salik berkata pada diri sendiri. Sajadah yang tadinya kering kini basah oleh air mata. Ia berusaha keras untuk meyakini kenyataan. Meski ia merasa jengkel pada Abah, tetapi ia merasa belum siap untuk ditinggal Abah selamanya. Ia tak menyangka akan secepat itu. Tak ada firasat apapun sebelumnya. Mungkin karena Abah sering berkata seolah sebentar lagi akan meninggal, jadi sekeluarga menganggap perkataan itu biasa saja. Pernah beberapa kali Abah meminta dipanggilkan seluruh saudaranya termasuk keponakan-keponakan, ketika sebagian besar keluarga sudah datang abah berpesan ini-itu seolah malaikat Izrail sudah siap menjemput. Semua menitikkan air mata. Setiap orang yang baru datang segera membacakan surat Yasin agar Abah diberi kemudahan ketika menghadapi sakaratul maut. Detik berganti menit, menit berganti jam. Ternyata belum saatnya Abah menghadap Sang Pencipta.

Salik masih larut dalam duka. Ia berusaha mengingat penggalan kenangan terakhirnya bersama Abah. Pada satu titik ia berhenti, tak kuasa membendung air mata. Kembali Salik tenggelam dalam kenangan.

(*

Dengan perasaan jengkel Salik akhirnya berangkat juga ke sekolah. Setelah gagal memanggil Kang Mat ke rumah.

Tiba di sekolah. Bertemu teman-temannya, Salik segera melupakan konflik antara dia dengan Abah beberapa jam yang lalu. Pelajaran tambahan telah usai. Ia kini berada di halaman belakang sekolah. Salik bersama adik-adik kelasnya baru semangat-semangatnya latihan teater. Mereka giat berlatih untuk mempersiapkan pentas dalam rangka ulang tahun sekolah.

Jam menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit sore. Meski hari mulai gelap dan teman-teman teater sudah pulang layaknya anak-anak lain, Salik belum juga pulang. Seusai latihan teater tadi, Salik bertamu ke rumah salah seorang gurunya, pak Wahyudi. Ia ingin meminta bimbingan untuk mengikuti lomba karya tulis.

Sehabis sholat maghrib berjamaah, di rumah pak Wahyudi tentunya, Salik melanjutkan obrolannya. Tidak hanya masalah lomba karya tulis, Salik juga menceritakan masalah pribadinya. Juga tentang Eliyana, adik kelas yang kini mengisi ruang hatinya. Mereka ngobrol kesana-kemari sampai akhirnya.

“Lik, habis maghrib gini apa kamu nggak dicari keluargamu?”

“Kalo dicari sih enggak, Pak! Paling nanti ditanyain dari mana.”

“Sebenarnya, habis maghrib gini saya ngaji di rumah, tapi karena saya harus konsultasi ke Bapak, ya nggak apa-apa” aku Salik.

Dalam hati, sebenarnya Salik sudah mulai cemas, membayangkan omelan yang bakal ia terima dari Abah. Sebab ia keluar dari rumah sejak siang. Ditambah ia tidak berada di rumah setelah waktu maghrib dan meninggalkan kewajiban mengajinya. Belum lagi ia baru membuat masalah dengan Abah. Akhirnya Salik memutuskan untuk pamit dan pulang sekitar pukul setengah delapan malam.

Sesampainya di rumah, Salik tidak berani masuk ke ruang tengah, apalagi ia mendengar suara Abah di sana. Itu berarti Abah belum tidur. “kalo aku masuk, pasti nanti ribut lagi.” Begitu pikirnya. Salik memutuskan untuk tetap berada di ruang tamu. Kakak lelakinya sibuk di depan komputer dan tidak mempedulikan kehadirannya. Setelah melempar tasnya ke kursi, Salik merebahkan diri di lantai yang dingin. Karena terlalu letih, Salik tertidur meski tidak pulas.

“Bangun..!! Lik..Bangun, Lik..!!” tiba-tiba kakak sulungnya memaksa bangun.

“Ada apa sih.?” jawab Salik sekenanya kemudian merebahkan tubuhnya lagi.

“Saliik….bangun..!! tolong belikan susu atau vitamin buat Abah.” kembali kakaknya mengguncang tubuh Salik. Salik yang masih mengingat kejadian siang tadi dalam hati berkata “Ada apa lagi sih Abah ini? Ganggu orang istirahat aja.”

“Nih uangnya. Cepat belikan susu buat Abah di apotek sana”

“Aah..mbok yang lain aja kenapa sih mbak? Aku capek.” Gerutu Salik.

“nggak usah banyak tanya! Kondisi Abah sangat lemas. Cepet sana berangkat!”

“hu…uh..!! akuu terus yang disuruh.” Dengan emosi Salik membanting pintu dan dengan kasar menarik gas motor agar segera selesai tugasnya dan segera tidur lagi.

“Mbak, susu yang kau minta nggak ada” sambil menyodorkan kembali uang yang tadi diberikan.

“Cari di toko lain. Ini penting. Kondisi Abah sangat kritis. Tubuhnya lemah”

“hhhhh…..orang ngantuk, masih saja disuruh”

“Jegeerr…!!!” terdengar suara daun pintu yang dibanting. Salik merasa sangat kesal. Ia merasa diperlakukan tidak adil dalam keluarga termasuk oleh saudara-saudaranya.

“Mbaak..susunya nggak ada. Aku dah nyari ke toko, apotek gak punya semua.”

“Ya udah” jawab kakaknya sambil menerima selembar lima puluh ribuan dari Salik. Sebelum kembali merebahkan diri, Salik sempat melihat jam dinding, “huh…baru jam setengah sembilan.”gumamnya.

Baru satu setengah jam tidur, tubuh Salik kembali berguncang. Kali ini oleh ibunya.

“Bangun Lik, tolong lihat kondisi Abah! Kayaknya semakin parah. Ambegane sesek

“Haah..! apa bu?” Salik terperanjat dan langsung menuju ruang tengah di mana Abah tertidur dengan posisi duduk. Di depannya ada meja untuk merebahkan kepala. Kakinya membujur. Posisi dadanya membungkuk.

Bersama ibu dan kakak lelakinya, Salik memeriksa kondisi Abah. Ibu menopang tubuh Abah. Kakaknya mengambil meja dan bantal yang sebagian menutupi wajah Abah. Salik sendiri memeriksa nadi di pergelangan tangan Abah.

“Innalillahi wainna ilaihi roji’un” hampir bersamaan mereka berucap.

“Sejak tadi aku sudah curiga” ibu berkata, kemudian lanjutnya,”biasanya sebentar-sebentar, Abah pasti meminta ganti posisi tidurnya, tetapi tadi kok kelihatan pulas, tenang.”

“Aku juga tidak berani mengusik tidurnya sebab tadi Abah berpesan bahwa seharian ia tidak bisa istirahat. Makanya bila malam ini bisa tidur enak tolong jangan diganggu.” Tambah Salim, kakak lelaki Salik.

Salik merasa kikuk, lidahnya kelu. rasa berdosa merayapi hatinya. Sebab ia merasa sebagai orang yang paling jarang menunggui Abah dibanding anggota keluarga yang lain. Seharian ini saja hanya dua kali saja Salik bertemu Abah. Pagi sebelum berangkat sekolah dan siang hari sewaktu ia disuruh memanggil Kang Mat. Perintah ibu membuyarkan lamunan Salik.

“Cepat beritahu keluarga yang lain Lik”

“I.iya bu.” Tergeragap Salik menjawab.

Malam itu juga jenazah Abah dimandikan. Sebagai bentuk penghormatan terakhir dari anak yang merasa berdosa, Salik ikut memandikan jenazah Abah dengan petunjuk dari modin setempat. Salik duduk di kursi. Di pangkuannya ia membasuh kedua kaki Abah dengan air yang sudah dicampuri kapur barus. Dengan perasaan hati bergolak tak menentu ia usap lembut kaki yang masih bengkak dan keras. Dengan sangat hati-hati, seolah Abah masih bisa merasakan sentuhannya, Salik membersihkan luka di telapak kaki yang dulu pernah ia rawat, meski hanya beberapa minggu.

(*

Tok..tok..tok..

“Lik, teman-teman SMAmu datang. Sana temui mereka.” suara ibu membangunkan Salik dari renungan pilunya. Ia seka air mata. Menghela nafas. mengumpulkan sisa energi untuk menerima belasungkawa yang pasti membuatnya semakin sedih.

Salik keluar dari kamarnya. ia temui kawan-kawan sekelasnya dengan mengenakan sarung biru bergaris, baju batik pemberian Abah setahun yang lalu dan peci hitam. Satu persatu mereka memberikan empati untuk menguatkan jiwanya. termasuk Eliyana yang menjadi penyemangat hidupnya, turut hadir bersama kawan-kawan organisasi sekolah.

“ngungggg…nguungg” tiba-tiba terdengar seperti suara gemuruh lebah yang begitu banyak. Salik segera mencari asal suara gemuruh itu.

“Abaah..”gumamnya lirih. Rasa haru menyeruak dalam batinnya. Ternyata suara gemuruh itu berasal dari mulut ratusan santri yang datang membacakan surat Yasin dan doa bagi Abah.

Rasa haru biru semakin membuncah ketika prosesi pemberangkatan jenazah dimulai. Satu persatu tokoh masyarakat menceritakan dan mengakui perasaan kehilangan mereka atas kematian Abah. Abah adalah sosok yang peduli pada pendidikan, pelopor bagi pemuda pada zamannya meski Salik tahu juga bahwa Abah sosok yang keras kepala, otoriter, sedikit angkuh. Justru itulah Salik menjadi lebih menghormati Abah secara apa adanya.

Sesaat sebelum keranda ditutup, seluruh anggota keluarga diberi kesempatan mencium kening Abah sebagai penghormatan terakhir. Salik bersimpuh disamping kepala Abah. Ketika bibirnya menyentuh kulit kening Abah, hawa dingin merasuki kulit. Rasanya ingin sekali berbagi kehangatan dengan Abah. Setelah puas menciumi wajah Abah, Salik memandang lekat wajah Abah. Seolah ingin memotretnya dalam kenangan abadi. Ia perhatikan betul tiap bentuk wajah pucat Abah. Garis usia yang menggurat di kening, alis mata yang agak memutih. Bibir yang terlihat menyungging senyum.

Seandainya Abah saat itu bisa mendengar, Salik ingin sekali mengakui bahwa ia tidak pernah menyesal menjadi anak Abah. Keakuannya runtuh. Salik semakin sadar tentang siapa dirinya, apa yang menjadi tugasnya, medan perjuangan apa yang harus dilaluinya. Ia ingin meneruskan perjuangan Abah, sebagai pendidik, sebagai pelopor, sebagai pemimpin. Ia tak sedikitpun merasa risih bila kelak segala keberhasilan yang akan ia gapai dikaitkan dengan jejak keberhasilan Abah. “Dengarlah Bah, aku adalah anak Abah. berilah aku restumu untuk meneruskan perjuanganmu.”

Keranda diangkat menuju tempat peristirahatan terakhir sebelum datangnya hari pembangkitan. Mata Salik berkaca-kaca. Lamat-lamat Salik melafalkan ayat Tuhan : Ya ayyatuhannafsul muthmainnah. ‘Irji’ii ilaa Rabbiki Roodliyatam mardliyyah. Fadkhulii fi ‘ibaadii. Wadkhulii Jannatii..

Wahai jiwa-jiwa yang tenang

Kembalilah kepada rabb-mu dengan penuh ridho

Maka masuklah sebagai penyembah-Ku

Dan masuklah ke dalam surga-Ku

Yogyakarta, 1 Mei 2006

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

7 thoughts on “Aku Anak Abahku (cerpen)”

  1. salam mas…
    menyentuh sekali membaca kisah tersebut…menguras emosi dan memori dari apa yg terjadi di masa lalu….
    mengingatkan saya akan masa2 dimana babah saya juga meninggal…
    smoga kita menjadi penerus yang sesuai harapan orang tua kita…amiinn…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s