‘Membaca’ Gie, Mengugat Diri


Tahun 1966 merupakan masa di mana gerakan mahasiswa memainkan peran penting sebagai agen perubahan. Kesatuan mahasiswa menempatkan posisinya di garda terdepan demonstrasi-demonstrasi yang meruntuhkan tembok kekuasaan. Tahun itu menjadi saksi pembebasan rakyat Indonesia dari rezim kekuasaan orde lama menuju orde baru (yang ternyata tak lebih baik dari rezim sebelumnya). Salah satu auctor intellectualis yang jarang, bahkan tak pernah, dicatat dalam buku-buku sejarah pemerintah adalah Soe Hok Gie (selanjutnya cukup disebut Gie).

Gie adalah pemuda Indonesia keturunan Cina (pembedaan status yang dianggapnya usang tetapi actual). Mahasiswa di Fakultas Sastra UI ini merupakan intektual muda yang kritis. Tulisan-tulisannya mampu membangkitkan kesadaran masyarakat untuk bergerak, berjuang demi kehidupan yang lebih baik.

Catatan Seorang Demonstran buku harian yang kemudian diterbitkan seolah menjadi buku wajib bagi setiap aktivis mahasiswa. Buku yang menceritakan pengalaman, ide hingga kisah cinta dari seorang aktivis mahasiswa yang gundah melihat kondisi bangsanya. Berangkat dari buku ini pula Mira Lesmana dan Riri Riza, produser dan sutradara film, mengangkat kisah hidup tokoh yang mereka kagumi.

Gie termasuk salah satu film bikinan dalam negeri yang meraih sukses. Terpilih sebagai juara I dalam kategori film terbaik, actor terbaik, sinematografi terbaik ditambah lagi dengan 3 piala Citra dan termasuk dalam 12 nominasi Festival Film Indonesia 2005 cukup menjadi bukti kualitasnya. Film ini diproduksi oleh perusahaan film Miles Production bekerja sama dengan Sinemart Picture, dua perusahaan yang berpengalaman dalam perfilman Indonesia. Di sisi lain, masyarakat sebagai penonton menunjukkan antusias yang tinggi terhadap film ini. Bagi generasi 60-an film ini menjadi ajang nostalgia, mengenang romantisme perjuangan sekaligus melihat sejauh mana sejarah bangsa dimaknai oleh generasi setelahnya. dan harapan dari generasi sekarang, film ini mampu memuaskan rasa ingin tahu akan tokoh yang selama ini hanya mereka kenal lewat cerita atau buku-buku langka.

Film Gie diawali dengan tampilan teks narasi yang menggambarkan kondisi sosial dan masyarakat Indonesia di mana masyarakat terkotak-kotak dalam kepentingan kelompok masing-masing dan pengakuan bahwa film ini hanya interpretasi si pembuatnya berdasar buku harian dan cerita orang-orang dekat tokoh Gie. Mungkin Mira dan Riri merasa perlu menyampaikan kalimat itu untuk menghindari adanya klaim dari pihak luar yang meragukan otentisitas cerita dalam film.

Dilihat dari segi waktu, film ini terbagi dalam 3 fase yaitu 1957 – 1960, yaitu masa remaja ketika Gie masih duduk di bangku SMP hingga SMA. Fase kedua tahun 1961-1966, di mana Gie memulai perjuangannya sebagai aktivis kampus dan keterlibatannya dengan organisasi ‘bawah tanah’, sesuatu yang jarang diketahui khalayak. Dalam fase ini pula terjadi peristiwa berdarah yang dikenal dengan Gestapu. Terakhir fase 1966-1969, yaitu awal pemerintahan orde baru, sikap Gie terhadap kawan-kawan seperjuangan yang berkhianat hingga akhir hayatnya.

Selama 25 menit pertama penonton akan disuguhi dengan gambaran kehidupan sosial rakyat Indonesia yang masih kental semangat revolusi. Serta konflik antara soekarno dengan lawan-lawan politiknya. kondisi pasca terror bom Cikini yang mengancam keselamatan presiden Soekarno saat itu. Sejak usia remaja, Gie (semasa muda diperankan Jonathan Mulia, ) sudah menampakkan kegemaran Gie yang selalu kemanapun selalu menenteng buku dan naik gunung, atau sikap kritis Gie ketika mendebat gurunya tentang karya Chairil Anwar. Di bagian awal ini juga digambarkan bagaimana kepedulian Gie terhadap kondisi sosial, ketidakadilan penguasa.

Karena diangkat dari buku harian tokohnya, dialog yang ada dalam tiap adegan dibuat mirip, bahkan mengambil secara apa adanya seperti yang ditulis Gie dalam bukunya. Hampir tiap adegan diawali dengan tanggal peristiwa dengan monolog dari tokoh Gie. Barangkali ini sengaja dilakukan untuk menunjukkan peristiwa penting dalam kehidupan Gie, paling tidak menurut interpretasi pembuat film, serta untuk memperkuat nuansa ‘real’ atau otentisitas film. Narasi besar film ini tak sepenuhnya persis dengan kronologi dalam buku aslinya. Tentunya dengan mempertimbangkan durasi dan isu penting yang dianggap penting untuk ditampilkan.

Memasuki menit ke 26 tokoh Gie memasuki usia dewasa yang semula diperankan oleh Jonathan kini digantikan oleh Nicholas Saputra. Entah kebetulan atau memang disengaja, kedua pemeran ini memiliki banyak kemiripan dalam hal fisik. Tatapan mata yang tajam, berwajah dingin dan terlihat berwajah cerdas. Bahkan karakter Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta yang diproduksi dan disutradarai oleh Miles dan Riri, diakui keduanya sebagai upaya penggambaran tokoh Gie semasa SMA (www.mediacare.blogspot.com). Memasuki kehidupan sebagai aktivis kampus, Gie digambarkan sebagai tokoh sentral di kalangan kawan-kawannya. Gie selalu melontarkan pikiran kritis sebagai bahan diskusi di antara mereka. Adegan-adegan selanjutnya menggambarkan perjuangan dan peran Gie dalam menentang ketidakadilan melalui selebaran gelap yang mengatasnamakan Gerakan Pembaharuan.

Meskipun dalam buku harian yang ditulis, tidak ada catatan mengenai apa yang terjadi sekitar tahun 1965, setelah catatan pada hari Jum’at, 20 Maret 1964 langsung meloncat pada catatan hari Jum’at, 7 Januari 1966 (Gie, 2005:122). Kejadian seputar G30S PKI penting untuk diungkapkan untuk menyempurnakan narasi film. Dan ini memaksa sutradara untuk mereka-reka peristiwa yang terjadi tahun 1965. pembubaran Partai Komunis Indonesia, pembantaian puluhan ribu nyawa tak berdosa di Bali dan daerah lain tanpa proses hukum yang jelas. Pemberlakuan jam malam, suasana yang mencekam dengan terror pembunuhan di mana-mana.

Entah kenapa hampir di semua film, tema cinta tak pernah luput untuk disertakan tak terkecuali film Gie. Namun, justru di sinilah mulai terjadi pergeseran. Dalam versi film, Gie dikisahkan pernah menjalin hubungan denang gadis yang bernama Ira (diperankan oleh Sita Nursanti) dan Shinta (dimainkan dengan penuh ‘gairah’ oleh Wulan Guritno) yang akhirnya dua-duanya kandas karena tidak disetujui orang tua kedua gadis tersebut. Padahal dalam kehidupan nyata, kekasih yang sering disebut dalam buku harian bernama Maria, yang dari karakter dan kisah diwakili oleh tokoh Ira, atau Sunarti dan Rina.

Pergeseran dari nyata ke fiktif terjadi juga terkait peran kawan-kawan karib Gie. Tokoh Deni misalnya yang digambarkan sebagai sosok humoris, nakal, tak lebih sebagai pelengkap penderita yang selalu mendampingi tokoh utama, sama seperti tokoh utama dalam film lain pada umumnya. Kemudian adegan ketika Gie berada di daerah pegunungan Semeru sebelum akhirnya meninggal, hanya digambarkan ia sedang melamun dan membuka kenangan masa kecil Gie bersama sahabtnya, Han. Penyebab kematian Gie pun hanya disampaikan melalui teks di menit terakhir. Tak lupa adegan ciuman antara Gie dengan Shinta bisa kita analogkan sebagai bumbu penyedap dalam masakan, yang sangat mungkin tidak pernah terjadi dalam sejarah Soe Hok Gie sebenarnya.

Riri Riza, sebagai penulis naskah sekaligus sutradara, menunjukkan kepiawaiannya dalam meracik bahkan seolah memberi nyawa dalam tiap karya filmnya. Menonton film Gie membuat kita hanyut dalam semangat perjuangan kala itu. hal yang membuat film ini seolah nyata adalah bagaimana tim pembuat film sangat cermat dalam detil cerita. Misalnya adegan ketika Gie disindir oleh Presiden tentang jasnya yang kedodoran, atau kenyataan bahwa istana dipenuhi dengan pelayan wanita dengan kemben seksinya, plus cara presiden melirik para pembantu tersebut.

Keunggulan lain yang dimiliki adalah bahwa film ini mampu mengangkat tema-tema sosial masa itu yang masih relevan dengan kondisi sosial sekarang ini. Harga-harga yang melambung tinggi, kelangkaan sembako, kesenjangan ekonomi, penggusuran atas nama pembangunan, pembungkaman pers, masalah status kebangsaan, bagaimana susahnya warga negara keturunan Cina harus rela mengganti nama mereka supaya lebih bisa diterima masyarakat.

Dengan menonton (membaca sejarah Gie) sebagai mahasiswa, yang pernah menjadi kekuatan yang nyata dalam menentukan arah perjuangan bangsa, kita patut bertanya dan menggugat diri sendiri. Masihkah peran itu kita sandang, bagaimana kondisi mahasiswa seluruh Indonesia sekarang ini. Sudahkah kita menentukan posisi dan memulai langkah dalam perjuangan ini, atau jangan-jangan memimpikannya pun kita tidak pernah.

Yogyakarta, 12 Oktober 2006

Referensi

Gie, Soe Hok. 2005. Catatan Seorang Demonstran. Cetakan kedelapan. Jakarta. LP3ES.

http://mediacare.blogspot.com/2005/07/detikhot-resensi-film-Gie.html

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

1 thought on “‘Membaca’ Gie, Mengugat Diri”

  1. top bgt dech buat mahasiswa kayak GIE,,,,,,,,,

    tapi di dunia ini juga ada yg namanya keberagaman dan perubahan budaya,,,,,,,,,,ada positif n negatif,,,,jadi karakter sepertio udah jarang bahkan minim banget…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s