Community Access Point : Sebuah Solusikah?


Sekarang ini kita sudah memasuki era globalisasi yang ditandai dengan meningkat pesatnya teknologi komunikasi dan informasi. Di banyak negara sedang berkembang termasuk Indonesia, tradisi melek media tampaknya masih menjadi permasalahan serius. Terjadi kesenjangan terhadap akses media (digital divide) yang cukup lebar sehingga menghambat kemajuan dan peningkatan kualitas masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah melaui Departemen Komunikasi dan Informatika (DEPKOMINFO) mengeluarkan program yang disebut Community Access Point (CAP) yaitu dengan mendirikan pusat informasi masyarakat untuk berkomunikasi secara global yang berbasis internet. Hingga akhir tahun 2006 ditargetkan di 13 kota tersebar dari Medan hingga Jayapura sudah berdiri Warung Masyarakat Informasi yang diharapkan bisa mengatasi masalah kemiskinan.

Namun, berdasarkan pada bahan semiloka yang disampaikan DEPKOMINFO di depan para sarjana komunikasi Indonesia, ada beberapa catatan yang harus benar-benar dicermati sebelum megaproyek tersebut dilaksanakan, antara lain, pertama kondisi pemerintah apalagi rakyat kelas bawah belum siap (baik secara sosial maupun sarana prasarana) dengan teknologi mutakhir ini, terlihat dari peringkat Teknologi Informasi Komunikasi kita yang rendah. Meskipun bagi penganut paham neo-futuris justru karena kondisi itulah proyek diseminasi informasi ini harus segera dilakukan minimal di kabupaten di seluruh wilayah Indonesia, tetapi berapa banyak kerugian negara akibat rusaknya sarana (baik komputer maupun moral generasi muda) karena penyalahgunaan.

Kedua, kesadaran masyarakat terhadap penggunaan teknologi komunikasi dan informasi yang ada belumlah optimal. Kita tidak bisa memakai begitu saja teori-teori pembangunan dari Barat yang memang bersumber pada evolusi masyarakat mereka. di sini sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa pertumbuhan masyarakat kita tidak berjalan sesuai fase-fase yang pernah dirumuskan para ilmuwan Barat. Sebagai contoh, sementara ada segelintir masyarakat kita yang sudah bisa menikmati teknologi mutakhir 3G, ada begitu banyak masyarakat di pedalaman yang koranpun belum tentu mereka baca sebulan sekali. Kalau toh penggunaan telepon seluler oleh masyarakat meningkat sangat pesat, hal itu tidak dibarengi dengan pemanfaatan fasilitasnya secara optimal. Berapa banyak masyarakat yang tahu dan mau memanfaatkan fasilitas phone-banking, browsing atau fitur lainnya.

Ketiga, penempatan lokasi CAP (Warung MASIF ataupun telecenter) harus dipilih yang strategis. Pemilihan Kantor Pos (berdasarkan MoU antara Ditjen Aplikasi Telematika dengan PT Pos Indonesia) patut dikritisi. Pasalnya, dalam kenyataan sekarang kantor pos telah banyak kehilangan fungsi komunikasi bagi masyarakat tergantikan mesin fax, handphone bahkan internet. Kecuali jika pemilihan kantor pos sebagai Warung MASIF atau telecenter ini sebagai strategi revitalisasi peran, untuk tidak mengatakan memberi pekerjaan yang jelas pada, kantor pos itu lain soal.

Sebagai penutup tulisan singkat ini, apa yang telah dikemukakan di atas bukanlah bentuk pesimis apalagi skeptisitas dari anak bangsa, apalagi sekedar menunjukkan posisi sebagai dystopian, neo-futuris atau teknorealis sekalipun yang diambil. Tulisan ini hanyalah upaya yang bisa dilakukan untuk mengingatkan para policy maker agar lebih bijak dalam menentukan kebijakan, khususnya yang berkaitan langsung dengan masyarakat bawah. Kemiskinan merupakan masalah komplek yang membutuhkan banyak sudut pandang untuk mengatasinya. Ilmu komunikasi dan teknologi betapapun canggihnya bukanlah panasea yang mampu mengatasi segala masalah. Ia tetap membutuhkan dukungan dari banyak disiplin ilmu yang lain agar mampu memberikan nilai guna (value) sebagai konsekuensi dari eksistensi ilmu itu sendiri. Penulis menyadari banyak kelemahan dalam tulisan singkat ini baik tata bahasa maupun analisa yang kurang tajam. Oleh karenanya, kritik, saran, hujatan sekalipun selalu penulis rindukan sebagai lecutan untuk berbuat yang lebih baik di masa mendatang. (The Young Falcon, tries to fly alone)

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s