Filsafat itu Nikmat



Judul : Filsafat yang Menghibur, Penjelajahan memasuki ide-ide besar

Penulis : Hector Hawton

Judul Asli : Philosophy for Pleasure, An Adventure in Ideas

Penerjemah : Supriyanto Abdullah

Penerbit : Ikon Teralitera

Tebal : ix + 267 halaman

Pertama kali membaca judulnya, mungkin kita akan mengernyitkan dahi sambil berkata dalam hati, ”Emang ada?”. Filsafat seringkali identik dengan kegiatan berpikir. memikirkan segalanya, tentang diri, manusia, alam semesta dan apa saja yang ada, bahkan kata ada itu sendiri. Filsafat bagi sebagian orang, yang disebabkan ketidakmampuannya, dianggap sebagai sesuatu yang membingungkan. Celakanya, karena sedemikian bingungnya, muncul anggapan bahwa semakin membingungkan kalimat seseorang semakin filosofislah orang itu.

Persepsi yang salah arah itu terjadi karena kita, baik mahasiswa filsafat atau bukan, menempatkan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang dipelajari semata. Mahasiswa sibuk menghafal nama para filsuf dan pemikirannya lengkap dengan tahun kelahirannya, tetapi lupa memahami alasan mengapa mereka berfilsafat. kita tidak tahu apakah Phytagoras sempat memikirkan manfaat dari rumus-rumus matematika bagi generasi sesudahnya, tetapi yang jelas ia menikmati proses dan menemukan hiburan dalam operasi angka-angka. Pencarian kenikmatan dalam filsafat itulah yang mungkin mendasari Hawton menulis buku ini. Yaitu dengan mendudukkan filsafat bukan hanya sebagai bidang ilmu untuk dikaji tetapi lebih sebagai cara untuk mengkaji semua bidang ilmu.

Gagasan dalam buku ini terbagi dalam 13 bab yang disusun berdasarkan tema untuk memudahkan pembaca memahami perkembangan dan pergulatan pemikiran dalam filsafat. Diawali dengan pertanyaan tentang apa sebenarnya filsafat. Bermula dari usaha manusia memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang sesuatu di luar dirinya (alam semesta). Dalam proses pencarian jawaban itu muncul apa yang masalah-masalah filsafat. Tema menarik lainnya yaitu penggunaan akal budi dan posisinya dalam ilmupengetahuan, hubungan erat filsafat dan metafisika (yang pernah dijauhi dan kini mulai diperhitungkan lagi), tentang perubahan logika dalam memahami bagaimana alam semesta bekerja serta perdebatan pemikiran yang mengiringinya. Secara sekilas, kemajuan filsafat modern terlihat sangat destruktif terhadap karya filsuf terdahulu. Perbincangan para filsuf modern kini cenderung selalu mengarah pada linguistik untuk alasan tertentu. Sehingga kita seringkali bertanya dalam hati tentang benar atau salahnya suatu pernyataan dalam proposisi tertentu (Hawton, 2203:vi).

Dalam bab terakhir penulis hendak menegaskan kembali bahwa filsafat bukanlah sesuatu yang final, bukan pula sebagai ilmu pengetahuan yang menyediakan jawaban atas semua persoalan mendasar tentang realitas. Didalamnya terjadi perdebatan panjang dan akan terus berlangsung. Filsafat adalah sebuah proses pemikiran tak berkesudahan tentang ke’ada’an karena sejatinya ke’ada’an yang dihadapi juga terus berubah.

Tak seperti buku filsafat lainnya,yang identik dengan istilah rumit, njelimet, membuat dahi semakin berkerut, buku ini justru sengaja disusun untuk pembaca yang memiliki pemahaman terbatas atau tidak sama sekali dalam dunia filsafat. Penjelasan di dalamnya menggunakan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dipahami, jauh dari kesan penuh teori tingkat tinggi. Lagi pula setelah bab terakhir, penulis melengkapi buku ini dengan glosarium istilah yang memudahkan pembaca memahami istilah-istilah khas filsafat. Selain itu penggunaan kutipan berupa kalimat langsung dari filsuf-filsuf besar di antara paragraf argumentatif menjadikan tulisan ini terasa semakin hidup. Pembaca seolah-olah mendengar langsung para filsuf mempertahankan pemikirannya dan menyangkal pemikiran filsuf lain.

Tujuan akhir dari sebuah hiburan adalah senyuman kepuasan. Bila mengingat judul buku ini, maka ketika pembaca menyelesaikan bab terakhir saya yakin akan terbit senyum, minimal dalam hati. Tersenyum atas pencerahan yang diberikan Budha ketika menjawab keluhan sejumlah mahasiswa yang kebingungan di tengah kepungan beragam doktrin filsafat. Tetapi bukan berarti lantas membuat kita, mahasiswa, beroleh ketenangan. Filsafat bukanlah obat penenang, ia justru pengganggu kedamaian intelektual. Sekarang tinggal bagaimana sikap kita. Merasa cukup terhibur dan puas atau merasakan adanya gejolak intelektualitas ?

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s