FITNA: Sebuah Praktek Memakna


Film sebagai keluaran akhir dari praktek kebudayaan media dapat dipahami sebagai sebuah produksi makna. Film merepresentasikan gagasan dan realitas tertentu melalui jalinan visual, audio dan narasi yang dihadirkan ke hadapan penonton. Penting kiranya mempertanyakan penggunaan istilah representasi kaitannya dengan realitas (isi) media. Seringkali penggunaan kata representasi ini diperlawankan dengan kata refleksi, karena keduanya memang keduanya mengimplikasikan pandangan yang berbeda terhadap realitas yang ditampilkan media (realitas kedua) dengan realitas yang sebenarnya (realitas pertama). Sebagian orang mengatakan bahwa apa yang tampil di media merupakan ‘cermin’ realitas, dalam pengertian bahwa realitas yang tersaji di media dinilai sama dengan realitas empirik. Media berperan sebagai reflektor yang sekadar menghadirkan fakta atau peristiwa yang ada berlangsung dalam masyarakat, tidak kurang dan tidak lebih.

Di lain pihak, sebagian orang mengatakan bahwa apa yang tampak di media hanyalah representasi, yang sangat mungkin telah terdistorsi. Realitas media adalah hasil konstruksi yang boleh jadi telah mengalami penambahan maupun pengurangan karena turut campurnya faktor subyektivitas dari pelaku representasi alias orang-orang yang terlibat dalam media. Namun kini bukan saatnya lagi memperdebatkan seberapa akurat atau biasnya kenyataan ditampilkan di media. Karena dalam prakteknya, belum pernah ada kajian yang membuktikan bahwa media mampu menghadirkan realitas sebagaimana aslinya. Gagasan mengenai representasi adalah sebuah cara dimana suatu makna melekat atau dilekatkan pada benda yang digambarkan

Tulisan berikut mengambil kasus film dokumenter Fitna karya Geert Wilders yang belum lama ini dilarang beredar di banyak negara karena dianggap berisi propaganda kebencian. Dalam isi tulisan ini saya akan menghubungkan kasus film Fitna dengan tiga cara bagaimana representasi beroperasi dengan memberi porsi lebih pada pendekatan konstruksionis.

Dalam buku The Work of Representation Stuart Hall memperkenalkan tiga pendekatan utama untuk menjelaskan bagaimana representasi bekerja. Hall menganggap representasi sebagai proses pembuatan makna. Pertama, the reflective atau mimetic yaitu realitas media merupakan tiruan atau pantulan dari objek, orang atau peristiwa yang sudah ada di dunia. Isi media dipahami sebagai teks terbuka yang memiliki maknanya sendiri. Untuk melihat makna isi media tidak perlu menghubungkan isi media dengan pembuat, penonton atau masyarakat dimana isi media itu berada, tetapi cukup dengan membongkar isi media itu sendiri. Dalam konteks film yaitu melalui plot, gambar, audio, narasi dan unsur sinematografis lainnya.

Secara umum bisa dijelaskan bahwa Fitna merupakan kumpulan dari video dokumentasi yang tersusun menjadi 3 tema besar yaitu Qur’an dan terorisme, Qur’an sebagai dasar universalime Islam dan Islam di Belanda. Film menampilkan beberapa surat dari Qur’an yang diselingi dengan kliping berita koran dan TV dengan tarian gadis arab. Dalam narasinya, Wilders mengatakan selama 15 menit film akan menunjukkan bagaimana ayat-ayat Qur’an digunakan oleh muslim saat ini sebagai dasar pembenar perilaku kekerasan dan anti-demokrasi belakangan ini.

Sifat dokumentatif film Fitna bisa saja dianggap sebagai cerminan realitas ‘sebenarnya’. Wilders tidak membuat sendiri sejumlah klip video yang ada di filmnya. Video-video tersebut diambil dari kejadian yang benar-benar terjadi. Peristiwa penyerangan 11 September, pengeboman kereta di Madrid dan ceramah para imam bukanlah rekayasa video. Akan tetapi bukan berarti realitas dalam film dokumenter sesuai dengan realitas empiris. Dalam tataran tertentu, dokumenter bisa dianggap sebagai representasi objektif, tapi hanya sedikit saja pendapat yang mendukung gagasan ini. Bagaimanapun film dokumenter merupakan hasil subyektivitas pembuat (sutradara, penulis naskah, produser).

Kedua, the intentional, bahwa isi media mengekspresikan apa yang ingin sampaikan oleh pembuatnya. Bahasa adalah medium yang menjadi perantara kita dalam memaknai sesuatu, memproduksi dan mengubah makna. Bahasa mempu melakukan semua ini karena ia beroperasi sebagai sistem representasi. melalui bahasa (simbol-simbol dan tanda tertulis, lisan, atau gambar) kita mengungkapkan pikiran, konsep, dan ide-ide kita tentang sesuatu. Dengan mengamati kata-kata dan tanda-tanda yang digunakan dalam merepresentasikan sesuatu bisa terlihat jelas nilai-nilai yang diberikan pada sesuatu tersebut. Ferdinand de Saussure, menyatakan bahasa sebagai sistem tanda (kata, tulisan, gambar, suara dan lain lain) yang mengekspresikan gagasan-gagasan: Language is a system of signs that express ideas, and is therefore comparable to a system of writing, the alphabet of deaf – mutes, symbolic rites, polite formulas, military signals, etc. but is the most important of all these systems. (Berger, 1982:16)

Meskipun film dokumenter bertujuan awal menghadirkan realitas apa adanya, toh tetap saja ia merupakan hasil kreasi subyektivitas pembuatnya. Dokumenter pada dasarnya adalah potongan dari realitas yang diseleksi untuk disampaikan dengan sengaja. Pemilihan atas realitas mana yang ingin diberi tekanan, nilai apa yang terkandung dalam realitas yang ingin disampaikan.

Dua cara pertama tersebut adalah konsep lama tentang representasi bekerja. Konsep yang didasarkan premis bahwa ada sebuah gap representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan. Berlawanan dengan konsep lama, Hall menawarkan cara ketiga untuk menjelaskan representasi yaitu konstruksionis. Hall menunjukkan bahwa sebuah tanda akan mempunyai makna yang berbeda dan tidak ada garansi bahwa tanda akan berfungsi atau bekerja sebagaimana mereka dikreasi atau dicipta. Hall menyebutkan representasi sebagai konstitutif.

Konsep baru dalam memandang representasi ini membawa pada pemahaman :

1. Peristiwa di dunia tidak memiliki satu makna/kebenaran yang pasti (fixed) atau seberapa jauh distorsi dapat diukur.

2. Banyak peristiwa terjadi di dunia tetapi makna dari peristiwa-peristiwa tersebut tergantung pada bagaimana mereka direpresentasikan.

a) Kepada siapa makna atas representasi dikontrol, akan menentukan makna.

b) Representasi tidak hadir sampai setelah selesai direpresentasikan, representasi tidak terjadi setelah sebuah kejadian.

c) Representasi adalah bagian dari objek itu sendiri, ia adalah konstitutif darinya. Realitas tidak berada di luar proses representasi.

3. Budaya sebagai yang utama

a) Budaya adalah cara kita mengenali, merasakan dan memberi makna pada dunia.

b) Kesamaan budaya memungkinkan kita untuk berinteraksi.

Dalam teori produksi dan pertukaran makna, proses memaknai dibangun melalui praktek signifikansi. Hall beragumentasi bahwa representasi harus dipahami dari peran aktif dan kreatif orang memaknai dunia. so the representation is the way in which meaning is somehow given to the things which are depicted through the images or whatever it is, on screens or the words on a page which stand for what we’re talking about. Dalam penjelasan lain, yang dimaksud oleh Hall dengan praktek signifikansi (signifying process) adalah adanya suatu kerja simbolik, kegiatan, praktek yang mana mengharuskan seseorang memberi makna pada sesuatu dan mengkomunikasikan makna tersebut pada orang lain.

Bila konsep tersebut kita terapkan untuk memaknai proses representasi dari film Fitna dapat kita pahami sebagai satu dari sekian banyak cara dalam memaknai berbagai peristiwa perusakan. Wilders, dan banyak orang lagi orang Barat lainnya, memaknai peristiwa 11 September, pengeboman kereta bawah tanah sebagai bukti terorisme Islam. Dengan mengaitkan dengan beberapa ayat dari kitab suci umat muslim, Wilders ingin menawarkan satu makna bahwa aksi ektremis adalah sesuatu yang mendasar dalam Islam.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa makna tidak bersifat tunggal. Proses pemaknaan terjadi dalam arena budaya tertentu. Tiap kebudayaan memiliki peta konseptual yang menuntun anggotanya dalam proses memaknai. Faktanya, budaya sendiri adalah sebuah sistem representasi. Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut ‘pengalaman berbagi’. Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada disitu membagi pengalaman yang sama, membagi kode-kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam ‘bahasa’ yang sama, dan saling berbagi konsep-konsep yang sama. Kebudayaan yang berbeda menyebabkan perbedaan cara memaknai dan makna itu sendiri. Bagi masyarakat di negara-negara Eropa mungkin memaknai kemunculan Fitna sebagai bentuk kebebasan berekspresi. Sehingga tak perlu ada kekhawatiran mengenai isinya. Tetapi bagi masyarakat di negara-negara mayoritas Islam, terlebih lagi di negara yang tingkat konflik agamanya cukup tinggi, beredarnya berpotensi besar menyulut konflik antaragama. Fitna dimaknai sebagai bentuk propaganda penyebaran kebencian.

Dari pendekatan konstruksionis, ada dua metode yang bisa dikembangkan yaitu semiotik dan wacana (discursive). Pendekatan semiotik, diderivasi dari teori konstruksionis Saussure, mengatakan bahwa semua tanda (penanda dan petanda) bekerja seperti bahasa dalam mengkomunikasikan makna. Untuk memproduksi makna kita perlu menyadari perbedaan-perbedaan dan penanda (signifiers) harus disusun dalam oposisi biner.

Berbeda dengan semiotik yang fokus pada bahasa, pendekatan wacana (discursive) Foucalt memberikan perhatian pada wacana, pengetahuan/kekuasaan dan subjek. Bentuk wacana adalah kumpulan dari teks atau statemen yang memiliki rasa ketersambungan, apakah karena objek keduanya sama atau secara umum memiliki kesamaan. Oleh karena itu wacana melahirkan pengetahuan. Wacana memunculkan topik. Tidak ada sesuatu yang memiliki makna tanpa adanya wacana. Pendekatan wacana berhubungan erat dengan sejarah karena pengetahuan tentang suatu topik tergantung pada periode sejarah yang. Suatu topik tertentu berlangsung dalam konteks ruang dan waktu yang sangat spesifik.

Kemunculan Fitna juga tak lepas dari konteks sejarah panjang konflik antara agama barat dan timur. Lebih spesifik lagi berkaitan dengan propaganda yang dimotori Amerika untuk menguasai negara-negara Islam dengan dalih terorisme. Praktis sejak peristiwa 11 September ketegangan konflik Islam dan Barat semakin memuncak. Diawali dengan pengejaran terhadap kelompok Al-Qaeda dan Invasi ke Irak kemudian isu pelecehan Nabi Muhammad dalam bentuk karikatur oleh media di Denmark dan kini beredarnya film Fitna di internet. Pemunculan semua itu di media mengarah pada pembentukan makna bahwa Islam adalah agama teroris.

Perhatian yang lain dari wacana foucalt adalah tentang cara kekuasaan bekerja dalam institusi. Bagaimana membuat sebuah wacana terlihat sebagai kebenaran. Pertanyaan tersebut membawa kita pada pertanyaan yang melibatkan isu kekuasaan. Siapa yang mempunyai kekuasaan, di channel yang mana, untuk mensirkulasikan makna kepada siapa? Hall memahami bahwa komunikasi selalu berhubungan dengan kekuasaan. Kelompok yang memiliki dan menggunakan kekuasaan dalam masyarakat mempengaruhi apa yang direpresentasikan melalui media. Pesan-pesan tersebut bekerja secara kompleks. Pengetahuan dan kekuasaan saling bersilangan. Isu kekuasaan tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan representasi.

Meskipun Wilders adalah salah satu anggota parlemen Belanda, namun ia tidak cukup punya kekuasaan untuk menyiarkan filmnya di saluran yang tepat untuk membangun rezim kebenaran versinya. Untuk pertama kalinya Fitna disebutkan di media Belanda pada 27 November 2007. Pemerintah Belanda segera menunjukkan perhatian besar terhadap peredaran film. Bukan untuk menjamin peredaran tapi untuk membuat kemungkin rencana penyelamatan atas seluruh duta besarnya di seluruh dunia. Dalam kasus ini dengan memperketat standar keamanan militer (www.wikipedia.com).

Pada 27 Maret 2008, Fitna dirilis melalui internet dalam situs liveleak.com versi Belanda dan Inggris. Beberapa hari kemudian, liveleak menghilangkan Fitna dari situs mereka dengan alasan adanya ancaman serius terhadap stafnya.

Perdana Menteri Belanda, Jan Peter Balkenende sendiri mengakui bahwa isi film Fitna menyamakan Islam dengan kekerasan. Ia menolak penafsiran tersebut dengan alasan bahwa sebagian besar kaum muslim menolak sikap ekstremis dan kekerasan. Balkenende juga dengan mengatasnamakan rakyat Belanda menyatakan bahwa ia menyesalkan perbuatan Wilders yang telah merilis film. Rakyat belanda percaya bahwa tidak ada tujuan lain dari film tersebut kecuali untuk menyulut penyerangan.

Akhirnya, seperti kita ketahui, Fitna kini dilarang beredar di banyak negara. Belanda secara resmi menyurati beberapa organisasi Islam terkemuka untuk meminta maaf. Nilai-nilai permusuhan dan kebencian terhadap Islam yang dibawa serta film Fitna segera terbongkar. Sehingga ekses negatif yang mungkin ditimbulkan bisa segera dicegah. Karena tiap kali orang, berniat atau tidak, melihat isi film ia telah memiliki pengetahuan bahwa film tersebut hanyalah Fitnah belaka, bukan realitas senyatanya.

Bacaan Utama

Hall, Stuart. ed. 1997. Representation: Cultural Representations dan Signifying Practices. London: Sage Publications.

Croteau, David and William Hoynes. 1997. Media/Society: Industries, Images, and Audiences. California: Sage Publications.

Pendukung

Berger, Arthur Asa. 1982. Media Analysis Techniques. Beverly Hills, California: Sage Publications.

http://en.wikipedia.org/wiki/Fitna

TheWork of Representations. Tersimpan dalam : http://www.unet.univie.ac.at/%7Ea0400180/arbeitsmaterial/The%20Work%20of%20Representation-Dateien/filelist.xml

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

1 thought on “FITNA: Sebuah Praktek Memakna”

  1. waduh………ini pembahasan yang kooperatif sekali ini yang namanya sebuah pencerahan ilmu kritis yang sangat berarti bagi saya pribadi sebagai pemula dalam belajar sastra. thx……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s