Industri Media Penyiaran dan Semangat Kapitalisme di Indonesia: Perspektif Sosiologi Media


Industri media sangat erat kaitannya dengan tumbuhnya semangat kapitalisme. Munculnya konglomerasi media, satu perusahaan besar menaungi beberapa media sekaligus seperti misalnya MNC dan Trans Corp, dianggap sebagai aktivitas pemusatan modal dalam industri media. Pertanyaan yang seringkali diajukan adalah apakah industri media memberi andil besar menyebarkan virus kapitalisme dalam urat kehidupan masyarakat. Atau justru semangat kapitalisme yang mengawali tumbuh suburnya industri media raksasa, di samping faktor regulasi. Tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut, karena fenomena tersebut terjadi bukan di ruang hampa, bukan hanya permasalahan antara media dan kapitalisme saja. Tetapi juga melibatkan komponen lain dalam kehidupan sosial. Sehingga yang terjadi bukanlah sebuah proses linear melainkan kesalingterkaitan antarkomponen dalam sistem sosial yang jika divisualisasikan mungkin akan menjadi bentuk coretan semrawut.

Namun bukan berarti kesemrawutan itu tidak bisa diuraikan. Dengan perspektif sosiologi media, kompleksitas hubungan multidimensi tersebut menemukan penjelasan yang masuk akal. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan sosiologi makro dengan meminjam model hubungan media dengan dunia sosial yang ditawarkan oleh David Croteau dalam bukunya Media/Society (1997: 24-27).

Croteau menggambarkan peran media dalam kehidupan sosial dalam suatu model yang memiliki lima elemen pokok yaitu dunia sosial (social world), industri media, pesan dan atau produk media, pemirsa/audiens dan teknologi. Kelima elemen tersebut memiliki hubungan masing-masing dengan elemen lainnya baik langsung maupun tidak. Dunia sosial atau lingkungan terletak di tengah antara elemen lain yang menunjukkan posisinya sebagai pusat dari hubungan semua elemen. Untuk dapat memahami lebih jauh bagaimana model tersebut bekerja, terlebih dulu harus kita pahami peran media sebagai agen sosialisasi dan peran media dalam hubungan sosial. Ilustrasi berikut berupaya mengaplikasikan model Croteau.

Reformasi 1998 yang segera diikuti pesatnya arus globalisasi membawa implikasi perubahan di semua aspek kehidupan terlebih ekonomi dan politik di Indonesia. Dengan perhatian lebih pada pertumbuhan ekonomi dan demokratisasi. Demokratisasi bidang ekonomi yang ditandai dengan privatisasi BUMN merupakan ”dunia sosial” yang mendorong munculnya raksasa industri media. Masa depan industri tontonan hiburan yang menjanjikan keuntungan besar menarik minat para investor swasta. Diawali dengan masuknya perusahaan media penyiaran ke dalam bursa saham sebagaimana yang dilakukan oleh Indosiar, SCTV, AN Teve. Dilanjutkan dengan kepemilikan sebagian besar saham media oleh pemodal asing. Belum lagi fenomena munculnya konglomerasi industri media di bawah sebuah korporasi besar seperti TransTV dan Trans7 (Trans Corp), RCTI, TPI dan Global TV (MNC). Semua itu mengerucut pada kesimpulan bahwa sedang terjadi pemusatan modal alias kapitalisasi dalam industri media penyiaran kita.

Industri media yang dibangun dengan semangat kapitalisme tentu akan menghasilkan pesan atau produk media yang berorientasi pada bertambahnya modal. Bukti untuk produk media berorientasi modal adalah banyaknya iklan komersial dan besarnya pengaruh iklan dalam penentuan suatu program. Mungkin sebagian besar isi media tidak secara eksplisit menunjukkan keberpihakannya. Tetapi secara halus pesan-pesan kapitalisme yang menuntun pada perilaku konsumtif masyarakat disisipkan melalui tayangan sinetron, acara gosip, kuis berhadiah, polling sms dan lain sebagainya. Selain pesan/produk media yang pro-kapitalisme, sebaliknya ada juga pesan media anti-kapitalisme yang nantinya akan diresepsi oleh audiens. Pesan anti-kapitalisme bisa berbentuk kritik atas pesan/produk media kapitalisme atau praktek kapitalisme oleh media.

Dalam kaitannya dengan hubungan dalam institusi media, konglomerasi media sedikit banyak mempengaruhi kondisi, cara dan hasil kerja para pekerja media. Misalnya saja, satu pesan/produk media, yang seharusnya untuk ditayangkan oleh satu stasiun TV saja, bisa ditayangkan juga di stasiun TV lain yang masih dalam satu korporasi. Ibaratnya seorang pekerja bekerja untuk dua atau lebih perusahaan dengan standar gaji satu perusahaan. Kondisi ini jelas mempengaruhi cara kerja pekerja media yaitu keseragaman pesan, timbulnya persaingan tidak sehat antarpekerja bahkan berpotensi menjadi perbudakan pegawai media.

Pesan-pesan media tersebut, baik pro maupun anti-kapitalisme, pasti membawa dampak pada audiens meski dengan tingkatan yang berbeda-beda. Ada yang sebatas pada pengetahuan tentang pengertian dan praktek kapitalisme, ada yang sudah mengambil sikap terhadap kapitalisme dengan mendukung atau menolak, ada pula yang menjadi pelaku dalam bisnis kapitalisme, bahkan ada yang sudah terjerat masuk dalam lingkaran kapitalisme tapi tidak menyadarinya. Golongan yang terakhir adalah pihak yang sering kita sebut sebagai korban kapitalisme. Biasanya berasal dari golongan menengah ke bawah dengan ciri pola konsumsi tinggi. Perbedaan pengaruh tersebut wajar terjadi karena tiap individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam memahami dan mengkonstruksi pesan. Mungkin saja untuk audiens mendapatkan informasi yang berlainan dengan pesan kapitalisme misalnya norma agama, sosial, adat budaya yang mengajarkan tentang hidup sederhana, hemat, kesetiakawanan.

Elemen terakhir yaitu teknologi, penyampaian pesan/produk media penyiaran membutuhkan perangkat teknologi siaran yaitu televisi. Di awal tahun 2000 hingga sekarang, meskipun kemiskinan masih melekat erat di tubuh sebagian besar penduduk Indonesia, hampir tidak ada yang tidak pernah merasakan teknologi televisi. Teknologi bernama TV bukan lagi menjadi barang mewah, bisa dikatakan seluruh lapisan masyarakat mampu memiliki TV. Kalaupun ada yang tidak punya, mereka masih bisa mengakses informasi dari TV yang tersedia di tempat-tempat umum, ruang tunggu, terminal, warung makan, pos ronda dan lain-lain.

Seiring dengan makin berkembangnya teknologi makin tinggi pula tingkat konsumsi masyarakat, termasuk dalam hal cara menonton TV. Jika sebelumnya teknologi TV identik dengan sebuah kotak berukuran besar dengan layar cembung di depan yang memerlukan antena di atas genteng sebagai penangkap gelombang siaran dan masih butuh aliran listrik untuk menyalakannya. Konsekuensinya, acara menonton tv hanya bisa dinikmati di satu tempat, biasanya di rumah, tidak bisa sambil berpindah-pindah, itu pun dengan kualitas gambar dan suara seadanya. Perkembangan teknologi TV berikutnya semakin memanjakan pemirsa dalam menyajikan pengalaman menonton televisi. Kini audiens berkesempatan untuk menikmati pengalaman mengkonsumsi media penyiaran melalui beberapa teknologi penyiaran. Mulai dari TV layar datar yang memiliki kualitas audiovisual lebih baik dari sebelumnya, mobile TV (dari handphone dan mobil), TV kabel, internet dan TV digital sebagai tv masa depan.

Sekarang kita kembali pada pusat dari model Croteau yaitu dunia sosial (social world). Empat elemen dari model tersebut masing-masing memiliki hubungan saling mempengaruhi dengan dunia sosial sebagai faktor non-media. Setidaknya keberadaan dan perkembangan dari keempat elemen menuntut adanya suatu regulasi (aspek hukum) yang mengatur hubungan antarelemen. Yang berkaitan dengan industri media, diperlukan adanya regulasi tentang penanaman modal, perusahaan media, persaingan usaha, tenaga kerja dalam perusahaan korporasi. Selanjutnya berkaitan dengan pesan/produk media diperlukan regulasi tentang isi media, hak cipta, plagiarisme. Berkaitan dengan audiens dibutuhkan regulasi tentang perlindungan konsumen. Mungkin yang paling rumit adalah yang berkaitan dengan teknologi. Karena apa yang terjadi di Indonesia sungguh unik yaitu teknologi komunikasi informasi berkembang pesat jauh meninggalkan proses pembuatan regulasinya. Dengan kata lain hardware-nya sudah ada bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tetapi aturan (soft-ware) cara penggunaannya belum ada. maka yang terjadi adalah keresahan akibat penyalahgunaan teknologi. Selain aspek hukum tentu masih banyak lagi dampak yang ditimbulkan sebagai akibat interaksi antar-elemen.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

3 thoughts on “Industri Media Penyiaran dan Semangat Kapitalisme di Indonesia: Perspektif Sosiologi Media”

  1. Terima kasih informasinya bro!!!!
    Yang saya lihat sekarang ini, media menjadi sangat fenomenal dalam arti media tidak hanya digunakan untuk kepentingan orang banyak akan tetapi di gunakan hanya untuk popularitas saja. contoh iklan politik stiap jam terpampang wajah SBY dengan raut wajah yang hanya memperbaiki citra tetapi tidak memikirkan rakyatnya. Prabowo dengan burubg terbangnya yaitu Gerinda yang rela mengucurkan dana 10 M, Megawati yang hanya membawa nama Soekarno.Harusnya ada kontrol dan regulasi dari media sendiri. Seperti yang berlaku di AS di mana kampanye di batasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s