Kearifan Lokal di Tengah Arus Globalisasi


Era globalisasi salah satunya ditandai dengan adanya kesalingterkaitan (interconnectedness) dan saling terhubung (interrelation) antarindividu di seluruh dunia. Pola hubungan yang mampu meretas batas wilayah, negara, jarak bahkan waktu. Jenis hubungan yang sangat mudah dan terasa sangat dekat menjadikan tatanan dunia seolah sebuah kampung global (global village).

Globalisasi tidak bisa lepas dari peranan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkat teknologi komunikasi dan informasi yang ada saat ini, tiap orang sangat mungkin untuk mengetahui peristwa, atau apa saja yang terjadi di negara-negara lain pada waktu yang hampir bersamaan.

Setelah kita saling mengetahui apa yang terjadi di ‘luar’ sana, terbelalaklah mata kita karena ternyata begitu banyak perbedaan yang lebih tepat disebut kesenjangan yang begitu lebar antara negara-negara Barat dengan negara-negara Timur. Kesenjangan tersebut terjadi tidak hanya di ranah ekonomi, teknologi tetapi juga budaya.

Namun kenyataan yang lebih menyakitkan lagi adalah sebagian besar bangsa kita masih bermental rendah, bangsa inlander. Di samping mungkin juga hal tersebut sengaja ditanamkan oleh bangsa-bangsa Barat yang pernah menjajah negara Indonesia. Mental inlander tersirat jelas dari sikap bangsa Indonesia yang menganggap segala sesuatu dari luar negeri selalu lebih baik dari pada milik bangsa sendiri atau yang juga disebut sebagai xenocentrisme.

Sikap xenosentris ini berdampak luas pada negara terkait dengan konsep pembangunan nasional, modernisasi dan ilmu pengetahuan serta budaya sebagai identitas bangsa. Sejarah mencatat bahwa pembangunan nasional selama orde baru, sangat terasa nuansa pembangunan ala Barat. Selama 30 tahun lebih pemerintah orde baru menerapkan kepemimpinan birokrat-teknokratis. Pembangunan sosial didasarkan atas pertimbangan dari para teknokrat dan cendekiawan bukan atas dasar aspirasi dan pertisipasi masyarakat langsung.

Sebagai bagian dari proses pembangunan adalah munculnya arus modernisasi dalam segala aspek kehidupan. Manusia Indonesia diarahkan agar bergaya hidup modern dan meninggalkan gaya hidup tradisional. Lagi-lagi gaya hidup modern yang dimaksud adalah gaya hidup layaknya masyarakat Barat tanpa kita tahu latar sejarahnya. Padahal modernitas yang dialami masyarakat Barat bukan datang secara tiba-tiba, tetapi melalui proses sejarah sosial yang panjang. Sehingga produk modernitas bangsa barat tersebut belum tentu sesuai dengan konteks sosial masyarakat Indonesia.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah tentang ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan terkait pula dengan budaya pikir, sistem pengetahuan atau dengan kata lain bagaimana suatu masyarakat memperoleh pengetahuan. Pengaruh kuat dari globalisasi berikut ideologi yang menyertainya seperti modernisme, positivisme, pragmatisme, rasionalisme membuat bangsa Indonesia tampak seperti bangsa yang benar-benar bodoh dan terbelakang. Paham positivisme, rasionalisme dan empirisme hanya mau menerima sesuatu sebagai ilmu pengetahuan apabila sesuatu tersebut nampak nyata, bisa dibuktikan dengan panca indra serta dapat dijelaskan dengan hubungan kausalitas, sebab-akibat. sedangkan dalam kenyataannya, begitu banyak budaya bangsa kita yang tidak memenuhi syarat tersebut.

Sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki sistem penegetahuan yang sangat kaya, mulai dari sistem astronomi, perhitungan tanggal, cara bercocok tanam dan pengetahuan yang lain. Apakah semua itu layak disebut sebagai ilmu pengetahuan? Jawabnya tentu iya. Inilah perbedaan antara ilmu pengetahuan Barat dengan Timur. Bila pengetahuan Barat mensyaratkan adanya bukti empiris, hubungan logis serta kemampuan generalisasi maka pengetahuan Timur bisa saja bersifat abstrak serta unik yang mencerminkan local genius masing-masing budaya. Kearifan lokal (local wisdom) yang banyak terdapat dalam budaya bangsa Indonesia inilah yang seharusnya kita lestarikan karena ia merupakan hasil interaksi yang selaras dan harmonis antara manusia dengan alam semesta. Tentu dengan tidak mengabaikan perubahan yang terjadi akibat globalisasi.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s