Les Cinemas du Scott: Studi Auteur terhadap film-film karya sutradara Ridley Scott


Kata(kanlah semacam) Pengantar

Segera setelah kehadiran film di tengah masyarakat, para pengamat menghasilkan tulisan tentang film dan perannya dalam kehidupan masyarakat. Pada tahun 1960an kajian tentang film mulai marak dilakukan bersamaan dengan kajian tentyang media televisi yang hadir belakangan. Para peneliti mengkaji film melalui berbagai pendekatan displin keilmuan dan teori yang digunakan antara lain analisis isi (tekstual), naratif, analisis wacana genre, auteur dan masih banyak lagi yang lain. Bagi sebagian kalangan, studi genre digunakan untuk memgklasifikasikan, lebih jelasnya membedakan antara karya yang bermutu tinggi dengan yang rendah. Namun bagi sebagian yang lain menganggap studi genre dilakukan untuk memudahkan para penikmat seni (film) menyesuaikan dengan selera mereka akan film.

Berangkat dari pemahaman bahwa ada film yang berkualitas dan tidak berkualitas, muncul gagasan bahwa kualitas sebuah film ditentukan oleh author, pembuatnya. Sesuai dengan argument yang dikemukakan oleh Thompson dan Bordwell bahwa salah satu gagasaan yang paling berpengaruh dalam sejarah sinema adalah keyakinan bahwa sutradara adalah orang yang paling bertanggung jawab atas bentuk, gaya dan makna sebuah film (Stokes, 2006:98). Meskipun kesuksesan sebuah film masih juga ditentukan oleh banyak pihak lain (penulis naskah, produser, penata musik, kostum dan lain lain).

Namun kajian film dengan menggunakan pendekatan auteur ini belum banyak dilakukan oleh pengkaji film di Indonesia. Sebagian besar bahkan hampir seluruh hasil kajian film, biasanya sebagai tugas akhir studi, mahasiswa menggunakan pendekatan analisis isi dan semiotic dan beberapa menggunakan pendekatan institusi media, industri budaya dan analisis khalayak. Kenyataan tersebut merupakan titik tolak dari rangkaian proses penulisan karya tulis yang sedang anda baca ini.

Tinjauan Pustaka

Dari literatur yang tersedia baik dari dalam maupun luar negeri, hanya sedikit yang secara khusus dan rinci menjelaskan tentang studi auteur. Penggunaan istilah auteur sendiri terkait dengan Negara dimana studi ini berawal. Adalah Francois Truffout, ilmuwan prancis yang mempopulerkan pendekatan auteur melalui tulisan-tulisannya yang dimuat di majalah terbitan Prancis Cahiers du Cinema. Para penulis dalam juranal tahun 1950 an dan 1960 ini mengeksplorasi kekuatan film-film Hollywood. Merekalah orang yang pertama menggolongkan film berdasarkan sutradaranya. Mengkaji berbagai film dengan genrte yang beragam dengan menganggapnya dibuat oleh sutradara yang sama. Misalnya mereka mengkaji film karya-karya John Ford dan membuat kesimpulan bahwa tampak ada “kecerdasan tunggal yang terorganisir” dalam karya-karya Ford (Branston and Stafford, 1996). Buku The Cinema of Martin Scorsese adalah hasil kajian terbaru tentang studi auteur ditulis oleh Lawrence S. Friedman (1999) yang membahas karya Martin Scorsese (sutradara Taxi Driver, God Fellas, The Age of Innocent). Dalam bukunya, friedman menyimpulkan bahwa pandangan Scorsese benar-benar religius. Bagaimana menciptakan suatu kehidupan kristiani dalam dunia yang berantakan adalah tema utama dalam karya-karya besar Scorsese. Friedman beranggapan bahwa pandangan Scorsese tersebut dilatarbelakangi oleh pengalaman sang sutradara yang diasuh dalam ajaran katolik yang ketat. (Stokes,2006: 99-100).

Rumusan Masalah

Penyusunan karya tulis ini memiliki tujuan untuk menjawab apakah beberapa karya atau bahkan keseluruhan film yang disutradarai Scott merupakan hasil dari “kecerdasan tunggal” dari sutradara. Dalam redaksi lain yang lebih sederhana untuk mengetahui bagaimana ciri atau karakteristik yang khas dalam film karya Scott.

Metode yang digunakan

Kajian auteur adalah sebuah proses penelitian karya seni (film) yang menitikberatkan pada aspek pembuatnya. Sehingga objek kajiannya adalah berupa data tentang pribadi sutradara dan karya-karya yang telah dibuatnya. Untuk keprluan data tersebut penulis menggunakan buku dan internet untuk. Penelusuran data dilakukan untuk mencari kaitan antara faktor kepribadian (latar pendidikan, keluarga dan lain-lain) dengan tema-tema maupun karakteristik film yang pernah dihasilkan oleh Ridley Scott.

Sekilas Biografi Ridley Scott

Ridley Scott dilahirkan di Shields selatan, sebuah daerah di Inggris pada tanggal 30 November 1937. Scott tumbuh dalam lingkungan keluarga tentara, sejak kecil Scott sering ditinggal ayahnya yang bekerja di bisnis perkapalan angkatan laut. Frank, kakaknya bergabung dengan angkatan laut Merchant ketika Scott masih kecil. Sebagai keluarga tentara, selama masa perang mereka tinggal dengan berpindah-pindah dari Cumbria, Wales dan Jerman. Setelah perang dunia II berakhir, keluarga Scott kembali ke kampung halamannya di daerah Teesside, bagian barat laut Inggris. Dari tahun 1954 hingga 1958 Scott menghabiskan waktunya untuk belajar di sekolah seni West Hartlepool dalam usia 20 tahun Scott berhasil menyelesaikan program diploma di bidang desain dengan hasil yang memuaskan sehiongga ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di London’s Royal College of Art. Setelah 3 tahun akhirnya Scott berhasil meraih gelar M.A di bidang desain grafis pada tahun 1963. setelah itu mengambil kuliah untuk postgraduate selama 2 tahun di unversitas yang sama.

Pengalaman pertama Scott dalam pembuatan film terjadi pada tahun 1961 dengan kamera Bolex 16mm yang dipinjamnya dari Teater Royal College of Art. Film pendek yang menghabiskan uang 65 poundsterling dari uang pribadi diberi judul Boy and Byicycle. Untuk tokoh dalam film tersebut Scott meminta bantuan ayahnya dan adiknya sendiri, Tony Scott. Film itu akhirnya berhasil diselesaikan dan dipatenkan pada tahun 1965. atas karyanya itu Scott meraih penghargaan dan hadiah senilai 250 poundsterling dari British Film Institute.

Dengan beasiswa yang didapat, Scott untuk beberapa waktu tinggal di New York untuk magang di perusahaan Leacock/Pennebaker sebagai editor. Setahun kemudian ia kembali ke inggris dan bekerja sebagai art director untuk kantor berita BBC.

Scott memulai karirnya sebagai pembuat iklan televise. Setelah beberapa waktu bekerja di BBC, ia merasa televise bukanlah dunianya an ia mulai focus pada jasa periklanan. Di tahun 1965 ia membuka perusahaan produk komersial yang diberi nama Ridley Scott Associates (RSA)

Meskipun RSA sukses menghasilkan uang, Scott tidak melupakan kecintaannya pada film. Melalui perjuangan yang keras di tahun 1977 Scott berhasil menyelesaikan film Feature pertamanya, The Duellist, adaptasi dari erita pendek Joseph Conrad. The Duellist tidak berhasil di pasaran meskipun ia banyak mendapat sorotan atau kritik. Namun kasus itu tidak terjadi pada film keduanya yang berjudul Alien (1979).

Sampai tahun 2006 kemarin, Scott telah menghasilkan banyak karya dengan beragam genre. Sebuah situs database perfilman www.imdb.com menyebutkan jumlah dan genre film yang telah dihasilkan Scott antara lain 49 dokumenter, 37 drama, 19 film pendek, 14 action, 13 crime, 13 thriller, 12 petualangan, 11 komedi, 6 sejarah, 6 sci-fi, 5 horor, 5 roman, 5 perang, 2 western, 1 musikal, 1 misteri. Meskipun tidak seluruhnya berupa film yang diputar di bioskop.

Banyak penghargaan yang telah diraih Scott selama karirnya di dunia perfilman dunia. Selain pernah meraih 2 piala Oscar, Scoot meraih George Pal Memorial Award di tahun 2004 dari Akademi Film Sains Fiksi, Fantasi dan Film Horor Amerika bahkan ia disebut sebagai :

One of our generation’s finest filmmakers, Ridley began his career as a set designer for the BBC in the 60’s. He soon became a television director working on such Brit shows as “Z Cars” (1962). He soon began his own company and showed his talent in directing innovative commercials in the 70’s. He directed his first film, The Duellists (1977), in 1977. He would follow this up with Alien (1979) and Blade Runner (1982) which are both considered groundbreaking works of the genre. Other classic films directed by Ridley include: Legend (1985), Black Rain (1989/I), Gladiator (2000), Hannibal (2001) and Black Hawk Down (2001). He is considered a legend in the genres we honor. (www.imdb.com)

Setahun sebelumnya, ia dianugerahi gelar bangsawan (sir) oleh Ratu Elizabet II atas kontribusinya dalam industri film Inggris.

Beberapa karya Ridley Scott

Dari sekian banyak film karya Scott, penelitian ini hanya akan mengambil beberapa film yang menurut penulis merupakan karya-karya terbaik dari Scott. Pemilihan film yang penulis anggap baik tentunya dengan pertimbangan antara lain mewakili genre film yang berbeda, nominasi dan penghargaan yang diraih dan film yang mendapat banyak sorotan di kalangan kritikus film.

1. Blade Runner

Blade Runner merupakan film sains fiksi yang berpengaruh pada tahun 1982. merupakan film adaptasi dari novel Philip K. Dick Do Androids Dream of Electric Sheep?. Naskah ditulis oleh Hampton Fancher dan David Peoples. Film ini dibintangi oleh Harrison Ford, Rutger Hauer, Sean Young, Edward James Olmos and Daryl Hannah.

Blade Runner menggambarkan seorang Dystopian di los Angeles pada tahun 2019 yang merupakan hasil rekayasa genetika sehingga disebut replicant. Replicant memiliki fisik sebagaimana manusia dewasa, ditugaskan untuk membuat kerusakan di dunia demi membentuk sebuah koloni di dunia bawah tanah. Setelah para replicant secara ilegal merajalela di dunia maka sebuah unit polisi khusus, Blade Runners, yang telah terlatih untuk memburu dan membunuh replicant yang kabur ke dunia manusia. Jalan cerita dari film ini berfokus pada tindakan brutal dari replicant yang bersembunyi di Los Angeles dan salah satu Blade Runner bernama Rick Deckard akhirnya bersedia membuat membuat perjanjian dengan mereka.

Film ini banyak mendapat kritik, sebagian kalangan menilai film ini terlalu sadis dan sebagian lain menikmati tema fil yang komplek. Film tersebut menunjukkan perhatian terhadap isu penting di abad 21 seperti globalisasi, perubahan iklim, dan rekayasa genetika. Blade Runner menjadi contoh penting dari lahirnya genre cyberpunk dan neo-noir.

Film Blade Runner telah dibuat sebanyak tujuh versi untuk berbagai pangsa pasar dan akibat perubahan yang kontroversial dari pembuat film. Pada builan januari 2006 Warner bross mengumumkan akan mengeluarkan versi DVD pada tahun 2007 sebagai ulang tahun ke 25 sejak kemunculannya di bioskop. (www:en.wikipedia.org)

2. Gladiator

Gladiator merupakan perpaduan antara film drama, sejarah dan film aksi. Dirilis pada tahun 2000 dengan aktor Russel Crowe dan Joaquin Phoenix. Gladiator berhasil memenangkan lima academy Award. Meskipun gladiator banyak dikritik oleh pakar sejarah terkait dengan akurasinya, tetapi scene perang besar memperoleh banyak pujian. Kesuksesan film ini mungkin membantu menghdupkan kembali genre epik sejarah seperti film Troy, Alexander dan Kingdom of Heaven yang juga disutradarai oleh Scott.

3. Black Hawk Down

Black Hawk Down diproduksi pada tahun 2001 berdasarkan buku Black Hawk Down: A Story of modern War yang ditulis Mark Bowden. Film ini menggambarkan Perang Mogadishu yang merupakan bagian dari kampanye militer Amerika untuk menangkap Mohamed Farrah Aidid, penjahat perang Somali. Film yang dibintangi oleh Josh Hartnett, Ewan McGregor, Eric Bana dan Tom Sizemore ini berhasil menyabet penghargaan sebagai The best Film Editing and Sound pada tahun 2002.

4. Kingdom of Heaven

Kingdom of Heaven dirilis pada bulan Mei 2005, ditulis oleh William Monahan. Aktor dan aktris yang bermain di film ini antara lain Orlando Bloom, Eva Green, Jeremy Irons, Ghassan Massoud, Alexander Siddig, dan lain lain. Cerita film ini berlatar pada masa Perang Salib di abad 12 dengan tokoh utama Balian (yang diperankan oleh Bloom) dari bangsa Ibelin.

Kingdom of Heaven menggambarkan konflik antara orang Islam dan Kristen dalam perebutan kota suci Yerusalem. Pemilihan waktu (tiing) peluncuran film ini terasa sangat relevan dengan konteks social dan politik saat itu. di mana konflik antara Israel dan Palestina masih dan mungkin akan terus berlangsung.

Pengambilan gambar dilakukan di Spanyol dan Maroko. Ketika proses pengambilan gambar di Maroko, Scott dan kru-nya mendapat perlindungan dari pemerintah maroko disebabkan adanya ancaman serangan dari kelompok islam garis keras.

Analisis Auteur atas karya-karya Ridley Scott

Dari hasil pengamatan oleh kritikus-kritikus film atas sejumlah karya Scott, terdapat beberapa aspek yang hampir selalu ada dalam setiap karya Scott sehingga bisa dianggap ciri khas dari Scott antara lain

1. gaya (style)

· Scott meniliki style visual yang mengesankan. Penggambaran yang cukup detil mengenai desain atau latar yang artistic. hal tersebut bisa dipahami mengingat ia adalah lulusan pasca sajrjana di bidang seni. Scott seringkali menggunakan gerakan yang lamban seperyti nampak pada Alien dan Blade Runner. Kritikus Sheila Benson memplesetkan judul Blade Runner menjadi Blade Crawler sebagaimana ditulis LA Times. Sedangkan Jeremy Kipp mengatakan ciri khas dari Scott adalah gambar yang indah dengan narasi yang kosong. Secara teknis, Scott lebih suka menggunakan dua kamera dengan set ‘V’ sehingga memudahkan acktor berakting dengan mengalir tanpa dikejutkan dengan kata ‘Cut!”

· Ciri lain yang menjkdi trademark Scott adalah penggunaan suara atau musik untuk membangun tegangan dalam film seperti pada Alien yang menggunakan suara bip layaknya computer dan suara mendesis untuk menggambarkan suara pesawat luar angkasa. Contoh lainnya pengginaan musik klasik dalam Someone to Watch OverMe dan Tristan and Isolde.

· Penggunaan asap untuk demi keindahan visual (Alien, Blade Runner dan Black Rain)

2. Karakter dan Tema

· Ayah dan kakaknya yang merupakan prajurit militer cukup menjadi alasan kenapa Scott begitu cermat dalam mengemas film-film bersetting militer atau peperangan (G.I Jane, Black Hawk Down, Gladiator dan Kingdom of Heaven).

· Dalam beberapa filmnya, menggabarkan konflik antara ayah dan anak yang biasanya berakhir dengan kematian (Blade Runner, Gladiator, black hawkdown dan Kingdom of Heaven)

· Tokoh wanita dalam film-film Scott hampir sebagian besar menampilkan karakter wanita yang kuat. Pengalaman waktu kecil yang harus berpindah-pindah tempat tinggal dan harus pergi berperang membuat Scott kecil lebih dekat dengan sosok ibu. Bisa dikatakan Scott mencoba memasukkan karakter wanita seperti ibunya ke dalam tokoh-tokoh dalam film.

3. Pihak yang Terlibat

· Dilihat dari individu-individu yang diajak terlibat dalam pembuatan film, sutradara asal Inggris ini tipe orang yang enggan bergonta-ganti partner. Ketika ia merasa cocok dengan seorang artis dalam bekerja, ia tak segan mengajak mereka bermain dalm filmnya yang lain. Sebagai contoh sebut saja Russel Crowe (Good Year, 2006; Gladiator, 2000; American Gangster, 2007), Zeljko Ivanek (Black Hawk Down,2001; Hannibal, 2001; white Squall, 1996).

· Biasanya ia lebih suka menggunakan aktor yang memiliki latar belakang teater yang kuat bahkan lebih dari lima puluh persen aktor yang yang digunakan adalah lulusan dari sekolah drama.

Kesimpulan

Sebagai produk dari sebuah industri budaya, kesuksesan film harus ditunjang banyak faktor. banyak pihak yang harus dilibatkan dalam proses menyuguhklan sebuah tontonan bermutu mulai dari produser, sutradara, dan jaringan distribusi. Dalam proses produksi, film merupakan sebuah karya bersama para pekerja seni mulai dari sutradara, penulis cerita, artis, illustrator musik dan lain sebagainya.

Dari sekian pihak yang terlibat, sutradara adalah orang yang dianggap paling bertanggungjawab atas kualitas dari film. Layaknya dirigen sebuah orkestrasi musik, sutradara memegang kendali atas aspek-aspek seni yang ada dalam film. Kemana arah cerita, pesan apa yang ingin disampaikan kepada khalayak. Kapan musik harus muncul mengiringi adegan. Sehingga bisa dikatakan bahwa film merupakan hasil orkestrasi yang digerakkan oleh “kecerdasan tunggal” yang bisa membedakan film karya seorang sutradara dengan sutradara lainnya.

Ridley Scott merupakan sosok sutradara yang telah diakui kepiawaiannya dalam mengolah sumber daya – sumber daya dalam industri film. Dalam setiap karya yang dihasilkan seolah tertera serangkaian tanda yang mengindikasikan adanya sentuhan sebuah “kecerdasan tunggal” seorang Scott.

Sebuah tulisan yang akan segera berakhir ini setidaknya telah mencoba membuktikan hal tersebut. paling tidak penelitian ini telah menjawab pertanyaan yang telah dikemukakan di awal. Penulis mengakui bahwa penulisan ini memiliki banyak kekurangan baik dari metode maupun argumen yang disusun. Idealnya sebuah pendekatan auteur haruslah didasarkan pada pengamatan (menonton) film karya-karya sang sutradara. namun karena adanya kesulitan dalam memperoleh keseluruhan CD, DVD atau file yang menjadi artefak budaya tersebut, hal yang bisa dilakukan adalah dengan mencari data-data sekunder melalui penelusuran internet. Setidaknya ini merupakan langkah awal untuk memulai pendekatan auteur di kalangan pemerhati media khususnya mahasiswa ilmu komunikasi di Indonesia. Semoga ke depan semakina banyak pendekatan ini digunakan terutama untuk mengkaji karya-karya sutradara Indonesia yang mulai bersemi layaknya rumput di musim penghujan.

Referensi

Stokes, John. 2006. How To Do Media and Cultural Studies. Terjemah oleh Santi Indra Astuti. Yogyakarta: Bentang.

http:www.imdb.com

http:en.wikipedia.org

http://filmcritic.com/misc/emporium.nsf/95a45e26914c25ff862562bb006a85f2/4d2f9fb723b90cac882569fa00748574?OpenDocument

http://www.ambidextrouspics.com/html/ridley_Scott.html

http://www.toxicuniverse.com/review.php?rid=10002087

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s