Setan Kapitalisme Gentayangan di Bulan Ramadlan


Bulan Ramadhan memang telah berlalu. tak ada lagi tarawih. Tak pula hidangan sayur kluwih. Gempita bulan puasa usai sudah. Spanduk-spanduk ucapan selamat berpuasa pun sudah berganti. Begitu pula dunia televisi kini sudah kembali seperti sebelum ramadlan tiba. Tayangan acara yang penuh sesak oleh setan kepentingan, setan birahi, setan harta, yang kesemuanya menginduk pada setan kapitalisme.

Tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan penulis terhadap praktek penyelenggaraan media, terlebih televisi, yang telah sedemikian nyata menjadi bukti betapa kapitalisme menerobos batas-batas sosial, budaya bahkan agama.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Tak terkecuali bagi industri hiburan macam televisi. Tiap menjelang datangnya bulan suci bagi umat Islam ini, bisa dipastikan akan ada ‘perang’ program antarstasiun televisi. Mereka berlomba-lomba membuat program acara dengan menu khas Ramadhan, meski isinya jauh dari nilai-nilai Ramadhan, antara lain sinetron religi, talkshow, liputan tempat-tempat bersejarah hingga komedi lengkap dengan kuis berhadiah jutaan rupiah.

Tak heran bila stasiun TV tak ingin kehilangan momen sangat berharga ini. Pasalnya, bulan puasa layaknya lumbung emas bagi dunia hiburan dan industri. Pada bulan ini tingkat konsumsi masyarakat meningkat tajam terutama menjelang lebaran. Tak peduli betapapun sulitnya kondisi ekonomi saat ini, selalu saja pusat-pusat perbelanjaan penuh sesak mendekati hari raya Idul Fitri. Budaya konsumtif akut inilah yang sebenarnya ingin dimanfaatkan para produsen.

Ramadhan Bulan Penuh Humor dan Hadiah

Sebagai institusi bisnis, stasiun TV benar-benar jeli menangkap peluang pasar nan cerah ini. Yang terjadi selanjutnya adalah produser acara berusaha mengemas berbagai tayangan yang diharapkan diminati penonton agar ratingnya tinggi, dengan demikian pemasang iklan akan berlomba-lomba memasang iklan pada tayangan primadona itu. Aneka tayangan yang ada berlomba-lomba menjaring pemirsa sebanyak mungkin, termasuk memberikan hadiah kuis yang besar dengan pertanyaan dangkal.

Maka, acara-acara yang tampil pada jam tayang utama lebih banyak diisi kemasan hiburan. Kalaupun ada acara dakwah, tak lebih sekadar tempelan dengan durasi sekian menit yang jauh lebih singkat dibandingkan dengan durasi penggalan iklan di sela-sela acara.

Jam tayang utama (prime time) televisi pun berpindah ke waktu tersebut. Ketertarikan penonton yang besar terhadap tayangan hiburan pun dimanfaatkan dengan menghadirkan program lawak demi memperbesar jumlah penonton untuk mendapatkan rating tinggi, yang akhirnya memberi peluang besar mendapatkan banyak iklan. Logika bisnis media yang seringkali mengabaikan nilai-nilai moralitas.

Hampir seluruh stasiun TV memiliki program komedi dan kuis berhadiah yang disiarkan tiap hari. Tingginya intensitas program lawakan dan bagi-bagi rejeki dikhawatirkan akan mengubah makna dan persepsi masyarakat tentang Ramadhan. Ramadhan yang harusnya menjadi bulan penuh rahmah menjadi bulan penuh humor dan hadiah.

Trans TV misalnya, menyuguhkan  program unggulannya lewat variety show Saatnya Kita Sahur (SKS) yang disiarkan pukul 02.30 dini hari. Selama 2,5 jam pemirsa disuguhi komedi berbalut kuis jutaan rupiah. Saya pernah iseng menghitung kira-kira berapa biaya untuk hadiah di tiap episodenya. Tiap episode ada lima kali sesi kuis dan di tiap sesi minimal dua orang penelpon. Bila hadiah untuk masing-masing penelpon adalah sebesar dua juta maka program itu menghamburkan setidaknya 20 juta per episode dikali 30 hari. Selain program Saatnya Kita Sahur, Trans TV masih juga menyajikan komedi Ketupat Ramadhan (Ketemu Patrio di bulan Ramadhan) pada malam hari. Itu baru satu stasiun TV. Padahal ada selusin lebih media yang menayangkan acara serupa. Bisa dibayangkan berapa miliar modal yang mengalir.

Target Iklan Tercapai, Moralitas Tergadai

Sementara ada orang yang berpendapat bahwa sebaiknya kita tidak perlu bersikap apatis terhadap acara–acara khas ramadhan tersebut. Setiap orang berkewajiban untuk melakukan syiar agamanya masing-masing selama tidak ada unsur paksaan. Demikian juga dengan media TV. Walaupun kecenderungan isi yang ditampilkan terkesan hanya berbau bisnis belaka tetapi itu adalah suatu kewajaran bagi setiap perusahaan yang ingin meraih keuntungan dengan memanfaatkan momentum yang ada selama bisa dipertanggungjawabkan secara substansi.

Tapi benarkah substansi beragam acara humor dan kuis itu cukup berbobot? Jawabnya tidak. Bagaimana bisa dikatakan berbobot bila bahan lahan selalu dan selalu mengeksploitasi kekurangan lawan main, menertawakan ketidakberuntungan orang lain. Bagaimana bisa dikatakan bermutu jika pertanyaan-pertanyaan kuis tak lebih sekedar syarat saja. Pertanyaan seputar pengetahuan agama yang sepantasnya diberikan untuk anak kelas 1 SD. Itupun dengan panduan isyarat dari presenter mana jawaban yang benar. Lebih lucu lagi, bila penelpon menjawab salah, presenter masih akan tetap bertanya sampai penelpon menjawab dengan benar. Akal-akalan apalagi ini?

Pertanyaan yang pantas muncul kemudian adalah apakah dari sekian ratus juta pemirsa enjoy saja menikmati tayangan buatan kapitalis?

Harian Kedaulatan Rakyat (27/09) memuat berita bahwa pimpinan Majelis Ulama Indonesia menemukan 17 program siaran di berbagai stasiun TV nasional tidak layak tayang. Tayangan tersebut dinilai memuat unsur fitnah, judi, merendahkan harga diri seseorang, mengarah ke tindakan cabul bahkan pornografi. Sesuatu yang tidak pantas dikonsumsi masyarakat apalagi dalam nuansa Ramadhan.

Tak ketinggalan pula Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melayangkan surat teguran kepada stasiun TV untuk menghentikan atau memperbaiki tayangannya. tapi apa lacur, kontrak iklan terlanjur ditandatangani, modal sudah di depan mata sayang kalau disia-siakan.

Akhirnya, kita sebagai penontonlah yang harus mengambil sikap. Apalagi sebagai mahasiswa komunikasi yang mendalami seluk beluk media. Mahasiswa yang dibekali dengan tajamnya pisau analisis serta tameng ideologi seharusnya berada di garda terdepan melawan kekuatan setan-setan media. Atau mungkin sekarang kita sudah berada di pihak mereka ?

Yogyakarta, 30 Oktober 2007

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s