Social Marketing untuk Penderita Trauma


Bidang komunikasi kesehatan telah mengalami banyak perubahan selama dua decade terakhir ini. Mulai dari bentuk yang sederhana berupa penyampaian informasi layanan publik yang bersifat satu arah menuju penggunaan teknik yang sukses dipakai dalam pemasaran komersil. Oleh karenanya sering disebut sebagai social marketing. Yang membedakan pemasaran social dengan yang komersil adalah terletak pada tujuannya. Bila pemasaran komersil semata mencari keuntungan bagi pemilik perusahaan sendiri sedang tujuan dari pemasaran sosial lebih ditekankan pada keuntungan yang diperoleh masyarakat. (www.socialmarketing.com)

Dalam sebuah pemasaran social, salah satu aspek yang tidak boleh dilupakan oleh perencana komunikasi adalah bauran promosi (promotion mix) yang akan digunakan. Penggunaan elemen promosi yang tidak tepat hanya akan menyebabkan kegagalan program komunikasi. Nah bagaimana bila harus menghadapi atau merancang komunikasi untuk orang-orang yang secara kejiwaan mengalami gangguan,tidak stabil, terguncang (schock) atau trauma seperti yang terjadi pada korban gempa yang tearjadi delapan bulan yang lalu.

Untuk menentukan elemen promosi yang baik, sebelumnya harus diketahui dulu mengenai karakteristik audiens. Anne Marie Albano, Ph.D dalam bukunya yang berjudul Mendampingi Anak Pasca Trauma menyebutkan gejala-gejala Post Trauma Stress Dissorder pada anak yaitu :

1. Mengalami Kembali (re-experiencing)

Saat-saat seorang anak memainkan kembali peristiwa itu dibenaknya. Gangguan memori-memori berulang atas peristiwa atau permainan berulang mengenai peristiwa itu

2. Mimpi Buruk

3. Pembangkitan (hyperarousal)

Perilaku tak terarah dan tak tenang
Marah dan berang
Nervous terhadap siapapun dan apapun yang berada disekitarnya (misalnya, ketika orang-orang terlalu dekat dengannya)
Kaget ketika mendengar suara keras

4. Penghindaran (avoidance)

Penghindaran pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan atau tempat-tempat yang mengingatkan anak atas apa yang terjadi.
Kaku atau kekurangan emosi-emosi

5. Perilaku-perilaku lain :

Kemunduran ke perilaku terdahulu, seperti tak mau berpisah, ngompol, mengisap jempol/jari
Sulit tidur atau kosentrasi
Menjauh dari orang lain, penarikan sosial
Penggunaan secara berlebihan alkohol atau zat-zat lain untuk mengobati diri

Dengan melihat gejala-gejala kejiwaan aiudien tersebut, maka promosi social yang pertama dan utama adalah dengan pendekatan personal (personal selling). Karena disbanding jenis promosi lainnya, personal selling bersikap lebih intim. Dengan kehadiran fisik orang-orang disekitarnya, diharapkan audien yang mengalami trauma bisa sedikit demi sedikit mengatasi ingataan buruknya tentang trauma yang dialaminya.

Dengan pendekatan yang telah dijelaskan di atas, bukan berarti mengabaikan elemen pemasaran lainnya. Masih banyak pendekatan yang bisa dilakukan untuk membantu korban traumatic dalam membantu memulihkan kondisi mental mereka. Seperti misalnya, pembagian mainan bagi anak-anak, lomba-lomba dan juga melalui media massa.

Referensi

http://www.socialmarketing.com/socialmarketing.htm

http://blog.kenz.or.id/2006/06/01/mendampingi-anak-pasca-trauma-gempa-bumi-jogja.html

http://cc.psikologi.ugm.ac.id/utama/artikel.php?p=10

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s