The Vicarious Self : Media dan Pengalaman Individu dalam Konteks Penurunan Kompleksitas Sosial


Juan Miguel Aguado

Bila sebelumnya kajian sosiologi banyak dipengaruhi oleh pemikiran Frankfurt dan tradisi Eropa, di mana menempatkan individu sebagai aktor kunci dari proses budaya dan teknologi, kini tradisi itu mulai bergeser. Sejak beberapa tahun ini kajian sosiologi makro menunjukkan minat pada media massa sebagai kunci fenomena sosial yang menghubungkan beberapa isu utama dalam masyarakat post-modern, terutama yang mengenai perubahan yang radikal di kelangsungan hidup dari individu. Di awali oleh Giddens (1991) dan Thompson (1996) dari perspektif modern atau Luhmann (2000) mewakili pendekatan teori sistem.

Tulisan Aguado berusaha memberi konteks teoritis pada penelitian F. Geyer tentang keterasingan dalam lingkungan sosial yang sangat kompleks bagi kajian mengenai impak sosial budaya dari media massa dan industri budaya. Aguado pertama mengunakan pendekatan sosiologi makro sebagai landasan untuk memasukkan dua konsep Geyer yaitu keterasingan dan pengalaman yang seolah dialami sendiri ke dalam teori media massa Luhmann. Kedua, mengambil konsep informasi endogin dari tradisi cybernetic sebagai pandangan sistemik untuk melihat pengalaman (experience) dalam psikologi sosial dan studi yang budaya.

Perubahan ekonomi dan teknologi di masyarakat sekarang yang secara luas diperkenalkan dengan istilah” globalisasi” ( Giddens, 1991) atau “era informasi” ( Castells, 2003) dan secara umum yang ditandai dengan perubahan kondisi dalam berbagai level kompleksitas. Perubahan proses sosial dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lainnya secara subtansial telah mengubah kondisi keberadaan individu sebagai aktor sosial. Isu tentang diri, gambaran dari identitas dalam interaksi dengan lingkungan sosial, kemudian kembali sebagai pertanyaan utama bagi sosiologi.

Sentralitas individu sebagai masalah sosial di sini tampak barangkali sebagai kesinambungan dengan premis modernitas, ( Elias, 1991; Luhmann, 1998). Jejak tunggal dari evolusi itu dapat ditemukan dalam perdebatan gagasan tentang keterasingan ( Schacht, 1971; Geyer, 1980; Geyer dan Heinz, 1992), terlebih yang melibatkan ketidakmampuan individu berproses dalam sistem sosial.

Rekonseptualisasi gagasan tentang keterasingan sebagai proses sosial dan masalah pengambilan keputusan mengenalkan kita pada dua istilah artifisial yaitu input lingkungan dan pengalaman yang seolah dialami sendiri. Geyer (1991) mengaitkan pengalaman yang seolah dialami sendiri (vicarious experience) dan input lingkungan dengan media massa dan teknologi.

Dengan asumsi bahwa sistem mengorganisir diri sosial menjadi dasar interaksi antarindividu, dan individu (sistem pelaku) muncul dari tingkat interaksi dalam sistem sosial, pengalaman mendasari konteks operasional dari komunikasi antara individu dan masyarakat secara simultan sebagaimana kondisinya (tidak ada sistem sosial tanpa pengalaman individu) dan hasilnya (pengalaman apapun disajikan oleh dan dalam sistem sosial). Oleh karena itu pengalaman tidak hanya peristiwa psikologis yang melibatkan penggabungan indra dan emosi semata, tetapi juga sebuah peristiwa sosiobudaya yang menentukan identitas individu dalam term interaksi simbolik.

Dari perspektif sistem, masyarakat merupakan lingkungan individu untuk mendapatkan meta-experience. Lingkungan sosial mendasari sumber terorganisir dari pengalaman termediasi yang memungkinkan individu untuk membentuk identitas dan memaksimalkan kemampuan untuk mengurangi kompleksitas lingkungan.

Peran media massa dan teknologi komunikasi dalam proses interaksi sosial sangat relevan. Media massa dan industri budaya menjadi subsistem sosial dengan kondisi mereka yang memonopoli mediasi teknologis dari pengalaman. Narasi media memberi pengalaman yg seolah dialami sendiri tentang seksualitas, kekerasan, perselisihan dan kemenangan sebagaimana sistem kesehatan (termasuk olahraga, fashion dan obat-obatan komersil) memberi pengalaman tentang rasa sakit, penyakit dan tentang tubuh itu sendiri.

Perkembangan teknologi memainkan peran penting dalam proses menuju keterasingan. Orang tidak perlu lagi keluar rumah untuk belanja, bekerja atau mengunjungi tetangga untuk berinteraksi dengan orang lain karena bisa dilakukan dari dalam rumah melalui telpon, internet. Teknologi juga memberi bayangan tentang ”kebebasan yang terkontrol” dalam game simulasi misalnya, yang kemudian dibawa dalam interaksi di kehidupan nyata.

Dalam kesimpulannya, aguado menawarkan gagasan bahwa sistem media massa mungkin dapat diterima sebagai alat sosioteknis dalam mengurangi kompleksitas sosial melalui kodifikasi standar dari pengalaman individu. Sifat media yang endogen dan berulang-ulang serta hubungan permanen dengan identitas individu dan kelompok membentuk dorongan struktural sistem media dan individu yang tidak hanya cenderung meniru tetapi juga mengganti standar interaksi sosial.

Hasil kerja Aguado ini setidaknya berguna dalam memberi dasar teoritis bagi penggunaan pengalaman sebagai konsep yang dapat diamati dalam studi dampak sosial budaya dari dinamika media. Namun, sebagaimana diakui penulisnya, kerja teoritis tersebut perlu diaplikasikan di masa depan untuk menguji koherensi dan potensi hasil penelitian.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s