Théthék Pengantar Sahur Sebuah Media Sosial Musiman


Abstrak

Setiap manusia senantiasa berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Media yang digunakan dalam komunikasi sosial kemudian disebut sebagai media sosial. Konsep media yang lebih mengacu pada fungsi sosial daripada bentuk fisik media itu sendiri. Kegiatan membangunkan warga untuk sahur di bulan puasa oleh warga (Thethek) merupakan bentuk media sosial. Thethek dipahami tidak hanya sebagai kesenian musik tradisional dan pranata sosial tetapi juga sebagai media yang memungkinkan anggota masyarakat saling berbagi informasi. Dan seiring waktu, thethek mengalami perubahan baik dari bentuk maupun fungsi utamanya sebagai pengingat waktu sahur.(kata kunci: media sosial, komunikasi sosial, kesenian rakyat)

Avant-propos

Bulan Ramadan atau yang akrab disebut bulan puasa merupakan bulan yang unik dan istimewa. Dikatakan istimewa karena bulan ini diyakini masyarakat, kaum muslim khususnya, sebagai bulan yang penuh anugrah dan kemuliaan. Karena status ‘istimewa’ ini kemudian masyarakat merasa perlu memperlakukan bulan puasa secara istimewa pula. Maka diadakanlah ritual-ritual atau aktivitas tertentu semisal sahur, buka puasa bersama, tarawih, tadarus Al quran, yang hanya terjadi di bulan ini sehingga bisa dikatakan unik. Tentunya tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan sisi religius bulan Ramadan akan tetapi akan fokus pada aktivitas dalam bulan puasa yang berkaitan dengan media sosial atau komunikasi sosial.

Salah satu aktivitas masyarakat yang khas di bulan puasa adalah théthék[1], yaitu memainkan salah satu musik rakyat dengan berkeliling kampung untuk membangunkan warga agar segera sahur. Seperti yang disampaikan sebelumnya, pembahasan ini berkaitan dengan media sosial. Sehingga pengertian théthék hendaknya dipahami bukan melulu pada aktivitas memukul alat musik saja tetapi lebih sebagai rangkaian dari aktivitas sebelum, saat dan sesudah théthék dilakukan yang mutlak terjadi proses sosial di dalamnya.

Selanjutnya tulisan ini akan mendeskripsikan tentang fenomena théthék sebagai media sosial.

Konsep Media Sosial

Sangat sedikit literatur yang secara spesifik menjelaskan konsep media sosial. Kebanyakan para sarjana hanya mengklasifikasikan media secara dikotomis, itu pun diukur dari teknologi, luas lingkup atau dari saluran komunikasinya. Sebelum media berkembang menjadi interaktif, Rogers membedakan komunikasi atas saluran komunikasi interpersonal dan komunikasi massa. Sedang pembedaan yang umum digunakan antara lain media tradisional – media modern, media mikro – media makro, media rakyat – media massa (Yuliarso, 1997: 55).

Dikotomi tradisional – modern dalam kacamata Oepen (1987) didasarkan pada saluran komunikasi yang digunakan. Media tradisional merujuk pada sarana komunikasi yang secara alami telah ada dan dimiliki masyarakat, Sedangkan konsep media modern merujuk pada mass ‘mediated’ communication system yang kita kenal dengan istilah media massa.

Markets, mosques, small prayer houses (langgar) or street restaurants (warung) are obvious places for communication and information exchange. Here, traditional media transport the binding cement of these village entities, a kind of non-formal education of religion, ethics, family welfare, home economics, social norms and cultural values. In that respect, the media are not only performances of a drama, song or dance but a social community event where entertainment, information, plans, and decisions are shared. (ibid.: 10)

Jika konsep media modern diasumsikan bahkan disamakan dengan media massa. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah pengertian media rakyat juga dapat dipersamakan dengan pengertian media tradisional. Wang dan Dissayanake seperti dikutip Melkote merumuskan media rakyat sebagai a communication system embedded in the culture which existed before the arrival of mass media, and still exist as a vital mode of communication in many parts of the world, presenting a certain degree of continuity, despite changes (Ambardi dan Yuliarso, 1997: 69)

Dari rujukan di atas, ada dua hal yang bisa kita pahami. Pertama bahwa pengertian baik media tradisional maupun media rakyat merupakan saluran komunikasi yang secara asli (indegenuous media) telah ada dan digunakan dalam kehidupan sosial masyarakat. Kedua, bahwa titik berat media komunikasi pada kemampuan dan fungsinya sebagai hiburan, informasi bukan pada bentuk fisik dari media tersebut.

Dengan kata lain, sebelum media massa hadir di tengah masyarakat sebagai pranata sosial yang berfungsi informatif, bukan berarti masyarakat tidak memiliki saluran komunikasi dalam kehidupan sosial. Pada masa itu fungsi-fungsi informatif masih numpang pada pranata-pranata sosial lain yang memungkinkan adanya interaksi satu sama lain semisal, pasar, tempat ritual bahkan komunitas.

Théthék Sebagai Media Sosial Musiman

Théthék (huruf e dieja seperti e dalam kata bebek) yaitu memainkan musik rakyat dengan berkeliling kampung untuk membangunkan warga agar segera sahur di bulan puasa. Penggunaan istilah thethek di sini berbeda dengan tethek di daerah Yogyakarta yang memiliki arti duduk-duduk santai sambil ngobrol. Permainan thethek memiliki akar tradisi di masyarakat Jawa, khususnya wilayah eks. Karesidenan Banyumas dan kota sepanjang Pantura yaitu tradisi Kotekan dan Gejogan. Keduanya merupakan permainan orang Jawa dengan menggunakan alat dari batang bambu dan stik sehingga menghasilkan suara “thek-thek-thek” (Kayam et.al., 1986).

Thethek biasanya dan memang hanya ada ketika bulan puasa. Diawali dengan salat Isya dan Tarawih berjamaah di musala atau masjid sekitar rumah. Setelah salat tarawih kira-kira pukul 08.15, sebagian warga ada yang pulang dan beberapa tinggal di musala untuk tadarus yaitu membaca Al quran bergantian, satu orang membaca yang lain menyimak dan membenarkan bila ada kesalahan.

Kegiatan tadarus baru berakhir kira-kira pukul 22.00 – 23.00. usia anak-anak yang ikut thethek berkisar antara 10 sampai 16 tahun, orang dewasa jarang ada yang ikut thethek karena alasan malu. Anak-anak atau orang yang mau ikut thethek memilih tidur di musala daripada di rumah masing-masing. Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka, untuk tidak benar-benar tidur. Mereka lebih suka menggunakan waktu menunggu saat thethek tiba dengan ngobrol, saling bercerita tentang pengalaman mereka-tentunya dengan banyak bumbu cerita khas anak-, perang-perangan, atau mereka habiskan waktu dengan bercanda, ngerjain teman mereka yang tertidur,

Baru pada pukul 01.30 mereka mulai bersiap, membangunkan teman-teman yang tidur dan mulai berkeliling kampung sambil memukul segala sesuatu yang menimbulkan suara gaduh. Sesekali mereka menyanyi bersama sambil diiringi irama thethek. Salah satu lirik yang pernah penulis dengar adalah “Saauur…sauur…rak saur rak melu poso. Rak poso rak melu bodo. Rak poso entuk doso. Nek doso mlebu neroko. Ning neroko disetriko” (Sahur,sahur! Tidak sahur tidak ikut puasa. Tidak puasa tidak ikut hari raya. Tidak puasa mendapat dosa. Kalau dosa dimasukkan ke neraka. Di neraka dihukum setrika). Seringkali mereka berhenti untuk mencuri mangga milik warga yang mereka lalui sepanjang jalan. Baru pada pukul 03.00 mereka pulang ke rumah masing-masing.

Dari batasan atau karakteristik media sosial, fenomena thethek merupakan sebuah media sosial bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Kegiatan thethek merupakan media tradisional di mana alat yang digunakan, irama yang dimainkan sudah dikenal dan sangat akrab bagi masyarakat. thethek juga merupakan media asli (indigenuous media) yang telah lama dimiliki dan tumbuh bersama berkembangnya masyarakat.

Secara fungsional, mungkin media thethek (fisik media) tidak lagi menjadi sarana vital komunikasi bagi masyarakat. akan tetapi fenomena thethek sebagai lingkup (circumstance) kelompok yang mana ada proses sebelum dan sesudah aktivitas thethek menjadi media bagi anak-anak untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara sosial dengan sesamanya. Dan hendaknya fenomena thethek ini dipahami bukan semata permainan tetapi sebagai termasuk pula kegiatan di dalamnya.

Sebagai media sosial, fenomena thethek memberikan kepuasan afektif bagi anggotanya, bagaimana setiap anak merasa menjadi bagian dari kelompok. Dalam kelompok itulah, melalui interaksi mereka selama di musala, di perjalanan hingga pergaulan sehari-hari, kemudian tiap individu belajar menemukan konsep diri dan mengembangkan mentalitas mereka. Sebagaimana yang diungkapkan Mead (Soekanto,1986:32)

Sebagai pranata sosial, fenomena thethek pun berfungsi memberikan informasi atau pengetahuan. Dengan mengikuti salat tarawih, tadarus dan ikut thethek, paling tidak si anak mendapatkan pengetahuan tentang tata cara ibadah, norma agama. Sehingga fungsi informatif dari media sosial terpenuhi di sini.

Simpulan

Perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi membuat orang atau masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi. Kehadiran media massa (surat kabar, televisi bahkan internet) dengan hebatnya telah mengubah jenis dan pola komunikasi masyarakat. Namun, perubahan-perubahan itu tidak serta-merta menghilangkan saluran komunikasi yang secara asli telah ada dalam masyarakat. kecenderungan penggunaan media asli (indigenuous media) oleh masyarakat tidak bisa diartikan sebagai bentuk kekolotan masyarakat tetapi lebih karena media asli berfungsi sebagai media sosial.

Dengan mengetahui bentuk-bentuk media sosial yang ada dalam masyarakat, diharapkan akan menambah

Daftar Pustaka

Ambardi, Kuskridho dan Kurniawan K.Y. 1997 Media Rakyat Dalam Masyarakat Transisional. Laporan Penelitian. Yogyakarta: UGM.

Kayam, Umar et.al. 1986. Using Folk Media in Environmental Communication. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Pusat Studi Budaya UGM.

Yuliarso, Kurniawan K. 1997. Komunikasi Sosial dan Integrasi Sosial. Laporan Penelitian. Yogyakarta: UGM.

Oepen, Manfred (ed.). 1988. Developmen Support Communication in Indonesia. Jakarta: Friedrich-Neumann Stiftung & Indonesian Society for Pesantren and Community Development (P3M).

Soekanto, Soerdjono. 1986. Pengantar Sosiologi Kelompok. Bandung: CV. Remadja Karya.


[1] Permainan musik rakyat dengan menggunakan alat musik utama dari bambu. Lain daerah lain pula istilah yang digunakan, Thungtek=Semarang, Thong-thong Klek=Rembang dan Blora, Koprekan= Pekalongan, Thek-thek=eks. Karesidenan Banyumas.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s