Why We Communicate


Judul di atas mungkin terasa akrab di telinga kita sebagai mahasiswa komunikasi. Karena judul tersebut sengaja meniru judul film propaganda Amerika Why We Fight yang menjadi bagian dari sejarah lahirnya ilmu komunikasi. Pertanyaan tentang mengapa kita berkomunikasi selintas nampak mudah dijawab. Bisa saja kita menjawab, ”karena punya mulut”, atau ”karena kita bisa bicara”. Tetapi bagaimana jika pertanyaan diubah menjadi, ”Apa yang mendorong kita untuk berkomunikasi?”, ”Manfaat apa yang bisa kita peroleh?” lebih ekstrim lagi, ”Apa yang terjadi jika kita tidak berkomunikasi?” tentu bukan perkara mudah menjawabnya.

Meskipun tidak sepenuhnya tepat, secara garis besar motivasi sesorang untuk berkomunikasi terbagi menjadi dua. Pertama, motif pragmatis yaitu komunikasi yang dilakukan untuk tujuan praktis, untuk menyelesaikan tugas-tugas penting berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan yang bersifat fisik. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, orang kemudian bekerja yang tentunya berkomunikasi dengan orang lain. Kedua, motivasi sosial yaitu kebutuhan manusia yang bersifat psikologis. Thomas M Scheidel seperti dikutip Mulyana (2002:4) mengatakan bahwa manusia berkomunikasi untuk mengungkapkan dan mendukung identitas diri, membangun kontak sosial dan mempengaruhi orang di sekitar kita.

Dalam konteks sosial, komunikasi mutlak dibutuhkan tiap orang. Bukan hanya untuk menjalin hubungan, bekerja sama dan memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. tetapi lebih mendasar lagi komunikasi membantu kita mengenali dunia dan dirinya. Sejak proses sosialisasi, pembentukan konsep diri serta aktualisasi tak pernah lepas dari interaksi antarpribadi. Manusia saling berkomunikasi untuk menghadapi tantangan hidup di lingkungan tertentu hingga terbentuklah norma, status, peran dan struktur dalam sebuah sistem sosial.

Ibarat sebuah tubuh, komunikasi bagaikan darah yang mengalir dan meliputi seluruh kehidupan manusia. Lalu apa yang terjadi seandainya kita tidak berkomunikasi dengan orang lain? Pelajaran menarik saya dapatkan dari percobaan iseng yang pernah saya lakukan. Didorong keinginan mengukur seberapa kuat diri saya untuk hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain dan untuk meyakinkan diri bahwa hakikat hidup adalah kesendirian. Maka suatu hari saya memutuskan untuk tetap tinggal di kamar seharian, sendiri tentunya. Sejak pagi masak, sarapan, main komputer sendiri. Handphone sengaja saya matikan hingga malam hari. Sebelum tidur saya menyempatkan diri untuk mengingat apa yang saya rasakan sepanjang hari. Ternyata kosong, hampa, meaningless. Hidup tanpa kehadiran Liyan (the others) tak ubahnya hewan atau tumbuhan yang seolah hanya menghabiskan jatah hidup di dunia saja. Lebih baik hidup dengan setumpuk masalah tapi bisa berinteraksi dengan orang lain. Dengan begitu orang lain merasakan kehadiran kita, baik atau buruk.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s