Antara MUI, KPI dan PT. Bakrie


Adalah seorang kawan diskusi yang menceritakan pengalamannya memperoleh pesan pendek dari provider Esia. Inti pesan tersebut adalah himbauan untuk melaporkan tayangan televisi yang dianggap memuat unsur kekerasan, perjudian atau tidak sesuai dengan norma yang berlaku kepada MUI. Diketahui kemudian bahwa pesan moral dari MUI tersebut hanya bagi pengguna Esia saja, provider lain tidak.

Dari sini muncul pertanyaan-pertanyaan kritis alias curiga seperti mengapa khusus bagi pengguna Esia. Adakah hubungannya dengan rekomendasi MUI tentang hadirnya ‘handphone islami’ keluaran Bakrie. Mengapa MUI, yang notabene lembaga agama penghasil fatwa, repot-repot mengurusi tayangan televisi. Bukankah sudah ada lembaga KPI yang secara legal formal menangani. Apakah KPI dianggap ‘mandul’ dalam mengawasi. Ada hubungan apa gerangan antara ketiga lembaga antardimensi tersebut.

Tulisan berikut mencoba menelisik jalinan yang berkelindan antara ketiga institusi sosial tersebut. Fokus pembahasan ini dilakukan untuk melihat realitas di ruang publik dalam konteks etika komunikasi dengan bertolak dari paradigma struktural.

Ada tiga dimensi yang mendasari seluruh interaksi sosial dalam sebuah arena yang disebut ruang publik (public sphere). Pertama dimensi politik yang berkaitan dengan kekuasaan dengan negara (state) sebagai aktor utama. Kedua dimensi ekonomi, yang jelas erat kaitannya dengan modal (capital) dan keuntungan (profit). Ketiga dimensi sosial atau kultural, yang terakhir ini berhubungan dengan nilai-nilai tertentu yang menjadi acuan bagi individu interaksi sosial.

Kasus SMS himbauan dari MUI melalui provider Esia ini sangat menarik untuk dijadikan contoh bagaimana hubungan antarlembaga berlangsung di ruang publik. Menarik karena ketiganya merupakan perwujudan dari ketiga dimensi, yang tentu memiliki perbedaan kepentingan, berlangsung di ruang publik.

Majlis Ulama Indonesia – PT. Bakrie

Entah mengapa masyarakat, mungkin juga termasuk diri kita, memiliki stereotip yang kurang baik terhadap lembaga bisnis. Seolah menancap di memori otak manusia bahwa segala aktivitas lembaga ekonomi pastilah berorientasi profit semata, bukankah memang itu alasan utama perusahaan berdiri. Begitu pula kesan pertama yang muncul ketika membaca hubungan antara Majlis Ulama Indonesia dengan PT. Bakrie Telecom (www.depkominfo.go.id).

Kesediaan Esia menyediakan layanan SMS MUI bukan tanpa imbalan. Sebagai gantinya MUI menabalkan status ‘handphone muslim’ pada produk Esia Hidayah dan merekomendasikan penggunaannya kepada umat muslim (www.okezone.com). Kesan negatif lainnya adalah berapa banyak keuntungan yang diperoleh MUI dari hasil penjualan Esia Hidayah.

Jika memang itu yang terjadi berarti masih ada kemungkinan kerjasama antara lembaga sosial, keagamaan pula, dengan lembaga bisnis lainnya. Bukan tidak mungkin di masa mendatang gantian masyarakat yang akan menabalkan pada MUI predikat sebagai lembaga penjual fatwa. Naudzu billah min dzalik. Niat MUI untuk melayani pengaduan masyarakat tentang tayangan televisi menjadi bias. Lebih parah lagi jika masyarakat tak lagi menaruh kepercayaan pada ulama, sebagai individu maupun lembaga, sebagai penjaga moralitas masyarakat yang dulu dikenal sebagai sosok yang tulus ikhlas melayani masyarakat.

Majlis Ulama Indonesia – Komisi Penyiaran Indonesia

Kerjasama dua lembaga ini secara formal tersurat dalam nota kesepahaman tentang literasi dan pemantauan siaran. Kerjasama tersebut secara resmi dimulai sejak 27 Nopember 2007 hingga sekarang dengan didasarkan atas prinsip saling membantu dalam usaha untuk melindungi kepentingan masyarakat dari dampak negatif isi siaran.

Melihat tujuan dari kerjasama tersebut, jelas terkandung maksud bahwa baik MUI maupun KPI sepakat tentang ketakberdayaan masyarakat sebagai audiens media massa. Masyarakat dianggap tak ubahnya seperti gembala yang tak tahu arah, anak kecil yang tak tahu mana yang baik dan mana yang benar. Oleh karena itu perlu dilindungi dengan sejumlah fatwa agama.

Dari sisi efektivitas kedua lembaga tersebut juga masih perlu dipertanyakan. Komisi Penyiaran Indonesia, setelah putusan mahkamah konstitusi atas uji materiil yang diajukan oleh kalangan industri media, tak lagi memiliki wewenang sanksional melainkan sebatas peringatan dan rekomendasi. Sementara lembaga MUI pun tak jauh beda yaitu sebatas mengeluarkan fatwa tanpa ada keharusan untuk menjalani. Apalagi beberapa fatwa terakhir MUI seperti misalnya tentang kebebasan beragama, rekomendasi Esia Hidayah, sarat dengan kepentingan tertentu sehingga menurunkan kredibilitas produk MUI.

Memang pernah beberapa waktu lalu tekanan dari kalangan agamawan, selaku pemegang otoritas moral, berhasil memaksa film Buruan Cium Gue untuk tidak beredar karena dianggap melanggar kaidah moral. Namun ketika kekuasaan moral berubah menjadi kekuasaan politik di ruang publik justru gagal mengajak masyarakat masuk ke dalam wacana moral itu sendiri (Siregar, 2006: 212)

Begitulah rumit dan peliknya interaksi yang terjadi di ruang publik. Begitu banyak intrik dan konflik kepentingan. Akhirnya keputusan ada di tangan diri kita sebagai individu yang merdeka atas pikiran yang kita pilih. Saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat bijak berikut, life is matter of choice, whatever our choice, is always wrong.

Referensi

Buku

Siregar, Ashadi. 2006. Etika Komunikasi. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Internet

MUI Buka Layanan Pengaduan Masyarakat Via SMS. Tersimpan dalam http://www.depkominfo.go.id/portal/?act=detail&mod=berita&view=1&id=BRT070926133101

Ponsel Hidayah Esia Siap Sambut Ramadhan. Kamis 21 Agustus 2008. tersimpan dalam http://techno.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/08/21/54/138885/ponsel-hidayah-esia-siap-sambut-ramadhan

Nota Kesepahaman KPI dan MUI No: 03/NK/KPI/11/2007. No: U-513/MUI/XI/2007 Tentang Literasi dan Pemantauan Media.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s