Akal vs Hati


Akal : Hai Hati, dua hari ini aku melihatmu murung. Apa yang membuatmu gelisah?

Hati : Aku gelisah karena melihat tuan kita gelisah.

Akal : Kenapa tuanmu gelisah ?

Hati : karena ia mengikuti saranku. ternyata tidak seperti harapan. karena itulah aku gelisah. aku takut tuanku tak lagi mempercayaiku.

Akal : memangnya apa yang kau katakan pada tuan kita?

Hati : aku memintanya untuk mengatakan perasaannya pada seorang Putri.

Akal : Lalu ?

Hati : sang Putri marah besar, mungkin Putri itu tidak pernah menyangka tuan kita, yang sudah dianggap teman sendiri ternyata menyimpan rasa pada sang Putri.

Akal : sudah kukira. tidakkah kau tahu tuan kita bukan orang yang pandai bicara di depan cewek ?!

Hati : iya, tapi itulah kenyataannya.

Akal : Apalagi Putri itu sudah lama jadi temannya. bukankah sudah berkali-kali kuingatkan bahwa ia pernah mengalami hal yang sama bertahun-tahun yang lalu !! dalam banyak kisah yang ku baca, rusaknya jalinan indah persahabatan seringkali disebabkan oleh ikut campurnya “rasa aneh” itu. harusnya tuan kita belajar dari pengalamannya sendiri.

Hati : kamu tidak bisa menyalahkan tuan kita! bukankah

Kita Tak Pernah Tahu KAPAN dan KEPADA SIAPA Kita Jatuh Cinta !

Akal : aahh… Sudah !! simpan saja kalimat sok puitismu itu! MEREKA TIDAK AKAN NGERTI BAHASA KAYAK GITU !

Hai Hati, Paling tidak dengar dulu saranku. Tidak semua keinginanmu harus dituruti. Dunia ini tidak berjalan atas kehendakmu saja. masih ada Hati-Hati lain yang juga punya keinginan.

Sudah kuperingatkan, perbuatan tuan kita kali ini taruhannya adalah ikatan persahabatan itu sendiri. seluruh jalinan indah persahabatan yang telah dirajut bertahun-tahun bisa tercabik-cabik hanya karena kalimat-kalimat sok sentimentil itu!

Hati : itu pun tuanku sudah tahu.

Hidup adalah pilihan. tiap detik kita dihadapkan pada pilihan2 yang harus kita ambil salah satunya. tiap pilihan memiliki resikonya sendiri. pilihan atas identitas, agama, cara hidup bahkan pilihan untuk tetap hidup. dan tuanku memutuskan untuk mengambil resiko itu.

Akal : Ya sudah ! sekarang biar dia nikmati resiko itu ! sudah kubilang berkali-kali, “perasaan aneh” itu hanya akan menodai hubungan persahabatan..!!

Hati : Apakah rasa cinta, rasa ingin berbagi, saling memahami merupakan sebuah NODA ?

Bukankah cinta, kasih dan sayang adalah anugrah dari Tuhan sang Pencipta?! Kembang-kembang bermekaran memberikan sarinya pada kumbang, matahari dengan setia menghangatkan bumi tiap hari, semua itu berjalan karena adanya Cinta. Tanpa cinta dan kasih, dunia ini hanya akan diisi oleh pembunuhan, kebrutalan, kerusakan dan dunia ini tinggal menunggu kehancurannya.

Akal : Ok….Ok….aku tahu apa yang kau maksud. tapi tuanmu kan bisa jatuh cinta pada perempuan lain. liat-liat dulu donk ! Apa itu teman, pacar orang, mantan pacar orang ato perempuan yang baru kenal !

Hati : kau tidak pernah jatuh cinta rupanya !

Akal : buat apa jatuh cinta. hanya membebaniku saja. membuatku terikat, memikirkan yang seharusnya tak perlu kupikirkan. membuang-buang tenaga, pikiran dan uang saja ! Menghambat cita-cita !

Hati : Justru ketika kita jatuh cinta, berkomitmen untuk saling menjaga, membuat kita belajar mengenali diri kita sebenarnya.

Seberapa cinta, seberapa besar pengorbanan, seberapa tanggung jawabkah kita atau justru seberapa busuk, brengsek, atau bejatkah kita.

Akal : Kalau saja tuanmu mau menyimpan rasa aneh itu tetap dalam dadanya tentu saat ini ia masih bisa bercanda tawa, main ke rumahnya sampai larut malam, melihat wajahnya dan sesekali pergi bersama. kalau sudah begini, ia tak bisa lagi berdekatan dengannya, melihat wajahnya, mendengar suara bahkan sekedar membaca sms darinya.

Hati : Dan selamanya menjadi lelaki angkuh, munafik, pengecut yang hanya bersembunyi di balik topeng persahabatan.

Hanya menjadi manusia pemimpi yang tak pernah berani menghadapi kenyataan. Bila keputusan itu yang diambil, aku bersumpah aku akan menghantui dengan perasaan bersalah selama hidupnya. dan aku akan terus membayanginya meski ia telah menemukan orang lain sebagai teman hidupnya !!!

Salik : DIIIIAAAAAAAMMMMMMM……!!!!! Tidakkah kalian dengar dia menyuruhku diam dan berhenti memikirkannya.

Kalau kalian terus saja menggangguku dengan ocehan-ocehan itu, akan kubunuh kalian berdua !

Akal : Kalau tuan membunuhku dan memutuskan untuk tidak menggunakan aku lagi, lalu apa yang bisa membedakan tuan dengan makhluk lain ?

Apa bedanya tuan dengan jangkrik, kerbau, anjing, babi, serigala dan binatang lainnya?

Bukankah aku diciptakan Tuhan sebagai satu keunggulan manusia dibanding makhluk lain bahkan malaikat sekalipun?

Hati : Ampun Tuanku, bila hamba tuan bunuh hamba. hamba khawatir tuanku tidak akan pernah beroleh kebahagiaan.

Dalam diri hambalah kebahagiaan bermula. dan melalui hamba pula lah manusia mengenal suara Tuhannya.

Salik : Kalau begitu teruslah kalian berbicara. sampaikan padaku apa yang kalian lihat, dengar dan rasakan. Biar aku yang menanggung segala resikonya meski itu sebuah derita.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

7 thoughts on “Akal vs Hati”

  1. membaca ini, mengingat lagi kejadian sama, yg kualami th lalu..
    mngkn bedanya.., persahabatan kami masih tetap utuh sampai hari ini
    *hanyatakberuntungmemenangkanhatinyadalamwujudlain*😀

  2. sebuah cerita yg ngebuat aq laper untuk ngebacanya……….tapi kena banget dech…..

    kapan nich nulis blog lagi…dah di tunggu lhow,,,,,,,,n pulang jepara bawa oleh2 darin amrik…..okey My brother…

  3. sayangnya manusia jarang untuk mendengar hati dan menggunakan akal dalam memutuskan sesuatu…
    biasanya, keputusan itu hanya bentuk kemunafikan dari hati dan peniruan pikiran…
    tapi….
    ya itu yang membuat manusia bisa lebih berkembang.
    ……..
    dan aku sangat jarang mendengar akal dan hatiku berdebat sekeras itu..

  4. hati tu lebi kayak mimpi,
    kejarlah selagi bisa….
    so selagi bisa dikejar segala daya akan hamba curahkan

    Ganbatte!

    kalo nda bisa dikejar biarkan dia memudar oleh waktu…

  5. wowwww….
    nice…
    tapi itu emang bener, am…
    hati nggak pernah sejalan dengan akal…memang selalu harus memilih dan memutuskan di antara keduanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s