Village Phone


Telepon Desa (Village Phone) dan Komunikasi Pembangunan : Sebuah Pelajaran dari Bangladesh

 

“The cell phone is the single most transformative technology for development.” (Jeffrey Sachs, economist and emerging market expert of Columbia University)

 

Komunikasi adalah kunci bagi keberhasilan pembangunan masyarakat. Kualitas komunikasi pembangunan ikut menentukan tercapainya tujuan pembangunan. Dengan komunikasi pembangunan yang tepat, niscaya terjalin hubungan sinergis antar elemen. Apalagi jika ditunjang dengan teknologi komunikasi dan informasi yang sudah berkembang sedemikian pesatnya. Dalam sejarah pembangunan Negara-negara di dunia, teknologi penyebaran informasi telah memberikan kontribusi dalam mempercepat proses difusi inovasi. Tidak hanya itu, teknologi informasi sebagai strategi pembangunan juga menjanjikan keuntungan dalam bentuk peningkatan produktivitas, kesejahteraan sosial dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat pedesaan<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>.

Tulisan ini bermaksud mengeksplor lebih jauh mengenai penggunaan teknologi baru, khususnya telepon dalam konteks komunikasi pembangunan. Dengan mengangkat program Grameen Village Phone (VP) yang terjadi di Bangladesh<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>. Program VP merupakan kasus unik dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi pedesaan. Keberhasilan program VP menarik perhatian praktisi pembangunan untuk mereplikasi program tersebut di negara-negara berkembang Afrika.

Program VP sukses dalam menyediakan akses telekomunikasi kepada lebih dari 45 persen dari seluruh desa di Bangladesh. Program VP tersebut dilakukan dengan cara menyediakan pembiayaan mikro (microfinance) kepada penduduk untuk memiliki perangkat mobile phone dan jaringan GrameenPhone, yang kemudian dioperasikan sebagai telepon berbayar atau wartel bagi warga lainnya.

Problematika Akses Telekomunikasi di Pedesaan

John et.al (2005) sepakat bahwa terdapat kesalahan persepsi tentang pelayanan akses telekomunikasi di Negara berkembang bahwa negara/daerah dengan kerapatan penduduk yang longgar, kepadatan penduduk yang rendah juga memiliki pasar potensial yang rendah pula. Kesalahan persepsi itu pula yang selama ini dianggap sebagai problem utama pembangunan dalam hal akses teknologi.

Lebih lanjut John menyebutkan problem utama tersebut adalah biaya infrastruktur yang sangat tinggi. Dari sudut pandang bisnis, investasi di bidang teknologi komunikasi membutuhkan dana besar dan waktu yang lama dalam pengembalian modal (return of investment). Terlebih lagi di negara yang tingkat kepadatan penduduknya rendah seperti di Bangladesh, hal yang tidak mungkin dilakukan secara logika ekonomi. Bagi operator pada umumnya, biaya untuk menyediakan akses telekomunikasi kepada pelanggan marjinal yang biasanya bertempat di pedesaan, jauh lebih tinggi dibandingkan yang ada di perkotaan.

Problem kedua adalah permintaan terhadap jasa layanan telekomunikasi di kalangan pelanggan marjinal selama ini dianggap terlalu rendah. Sehingga operator merasa kesulitan untuk menyediakan jasa tersebut sebagai operasi bisnis komersial.

Sementara riset mutakhir sebagaimana dirujuk John menunjukkan bahwa berinvestasi dalam pasar marjinal memiliki prospek bagus bagi bisnis pada umumnya. Survey LIRNEasia terhadap penggunaan jasa telekomunikasi oleh komunitas di India dan Srilangka, menunjukkan bahwa 64 persen responden menghabiskan lebih dari 4 dollar Amerika per bulan untuk telekomunikasi. sementara penghasilan rata-rata mereka tak lebih dari 100 dolar per bulan. Bisa dikatakan mereka menghabiskan 4 persen dari pendapatan tiap bulan untuk kebutuhan telekomunikasi (ibid: 11).

Model bisnis yang dijalankan Grameen Telecom di Bangladesh terbukti berhasil dengan tingginya pemasukan yang diperoleh. Melalui wirausahawan lokal GT menyediakan satu telepon di tiap desa, sementara pelanggannya adalah seluruh anggota komunitas. Penghasilan yang didapat rata-rata $90 per bulan tiap desa di Bangladesh, salah satu Negara termiskin di dunia. Keberadaan akses telepon juga terbukti memberikan keuntungan yang tinggi bagi wirausahawan dan desa dalam bidang sosial dan ekonomi (Cohen, 2001).

Secara ekonomi, program VP memberi peluang kerja kepada masyarakat dengan menjadi wirausahawan yang melayani jasa telekomunikasi bagi individu dalam komunitas. Meskipun terkadang orang harus berjalan sejauh 1 hingga 2 kilometer untuk menggunakan jasa tersebut, tapi setidaknya itu bisa mengurangi pengeluaran bulanan mereka. Sebagai buruh pabrik yang jauh dari rumah, mereka bisa menghubungi keluarga di desa kapanpun mereka mau dan lembur di akhir minggu daripada harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam perjalanan hanya untuk bertemu dan berbincang bersama keluarga selama beberapa jam saja. Keesokan paginya, mereka harus kembali ke kota untuk bekerja kembali.

Dari aspek sosial, program VP dianggap telah berhasil meningkatkan posisi perempuan dalam komunitas mereka. VP menggunakan perempuan sebagai operator layanan telekomunikasi. Semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya bidang telekomunikasi dalam kehidupan mereka, secara tidak langsung meningkatkan status operator yang notabene adalah perempuan. Faktor operator yang dilakukan oleh perempuan ini juga menciptakan rasa nyaman bagi penduduk perempuan lainnya untuk menggunakan jasa telekomunikasi.

Sinergi Organisasi Triple Grameen

Belajar dari kesuksesan program VP harus pula memahami model program yang melibatkan tiga lembaga Grameen yaitu Grameen Bank (GB) yang mendirikan Grameen Telecom (GT) dan Grameen Phone (GP).

Grameen Telecom adalah organisasi non-profit yang bertujuan untuk menyediakan jasa telepon di pedesaan sebagai kegiatan ekonomi bagi nasabah Grameen Bank. Grameen Phone ltd. adalah organisasi profit hasil kerjasama dengan perusahaan Norwegia, Amerika dan Jepang yang menyediakan perangkat teknologi yang dibutuhkan nasabah seperti pesawat dan jaringan telekomunikasi. Sementara Grameen Bank adalah lembaga keuangan yang memberikan pinjaman lunak bagi nasabah untuk memulai usaha jasa telekomunikasi.

Grameen Telecom bertugas memandu secara teknis tentang bagaimana bisnis VP ini dilakukan. Setelah pihak bank memilih operator dan menyetujui pembiayaannya, GT bersama GB cabang untuk meningkatkan kapasitas anggota dengan memberikan pengetahuan di bidang literasi teknologi, perkreditan dan ketrampilan teknis bagaimana mengoperasikan bisnis VP tersebut. Setelah itu GT akan membelikan perangkat (simcard, battery, recharger, handset) dan lisensi jaringan yang disediakan oleh GP dengan pinjaman pembiayaan dari GB.

Selain memberikan pelatihan teknis, GT juga melakukan pendampingan kepada nasabah yang belum cukup pengalaman dalam berwirausaha. Misalnya dengan menyediakan informasi tentang tren penggunaan telepon dan kiat-kiat pemasaran yang dibutuhkan.

Sebagai program pembangunan, GrameenPhone diharapkan dapat meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin desa di Bangladesh. Program serupa dijalankan di Negara lain seperti Rwanda dan Uganda oleh MTN Afrika Selatan, dan di Filipina oleh Globe Telecom sebagai bentuk replikasi dari Bangladesh. Secara regular proyek tersebut selalu meminta masukan dari pioneer program, Grameen Foundation di Amerika Serikat (www.columbia.edu). Di samping berperan sebagai konsultan, Grameen Foundation juga telah menerbitkan panduan (Village Phone Direct Kit) yang dijual kepada lembaga microfinance di seluruh dunia.

Kesimpulan

Dari sekian banyak Negara berkembang, Bangladesh adalah salah satu yang termiskin. Contoh yang sempurna bentuk perekonomian Negara miskin dengan permasalahan struktural yang kompleks. Mulai dari rendahnya tingkat keuangan, produktivitas yang sangat rendah hingga korupsi. Kemiskinan struktural dan ancaman bencana alam menyebabkan semakin parahnya kondisi ekonomi dan lingkungan.

Program sambungan telepon masuk desa atau Village Phone memiliki dua tujuan utama yaitu mendorong kemajuan ekonomi dengan membantu individu dan efisiensi pendapatan bisnis melalui komunikasi, dan memberikan keuntungan bagi individu yang memiliki memiliki dan menjalankan wirausaha Village Phone baik secara ekonomi maupun sosial.

Keberhasilan program VP di Bangladesh yang diinisiasi oleh Grameen Bank diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan masyarakat desa. Program Village Phone selayaknya bisa dijadikan contoh bagi Negara lain baik sebagai model pembiayaan ekonomi rakyat, sebagai model bisnis maupun strategi pembangunan berbasis teknologi informasi. Dengan harapan tidak saja program village phone-nya saja yang direplikasi tetapi juga keberhasilan pembangunan dalam meningkatkan kualitas hidup.

Referensi

 

Cohen, Nevin. 2001. What works: Grameen Telecom’s Village Phones, A Digital Dividend Study. The World Resources Institute. Tersimpan di : http://www.digitaldividend.org/pdf/grameen.pdf

 

John, Malathy K. et.al. An Investigation of the Replicability of a Microfinance Approach to Extending Telecommunications Access to MarginalCustomers. Version 3.1, December 2005. Research Report by LIRNEasia. Tersimpan di : http://www.lirneasia.net/2005/12/ resarch-report-available-replicability-ofmicrofinance-approach-to-extending-telecommunications-access-to-marginalcustomers-the-grameen-approach/

 

World Resources Institute Digital Dividend on Rural Connectivity. Tersimpan di : http://www.digitaldividend.org/pdf/grameen.pdf

 

http://www.columbia.edu/itc/sipa/nelson/newmediadev/Business%20and%20economics.html

 

 

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> World Resources Institute Digital Dividend – What Works: Grameen Telecom’s Village Phones.

Tersimpan di : http://www.digitaldividend.org/pdf/grameen.pdf

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> Salah satu daerah termiskin di dunia. Sebagian besar penduduknya menjadi pekerja imigran.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s