Mau Berubah, Susahnya kok Naudzubillah


Di awali dengan notes yang ditulis Mas Leo di “buku muka” yang berjudul Transformasi Diri yang kemudian saya komentari dan berlanjut. Berikut saya kutipkan beberapa paragraf terakhir dari note tersebut beserta comment saya.

You are not lacking anything, tidak kekurangan apapun. Barangkali saya cuma perlu mengatakan bahwa anda bisa sedikit relax. Kadang-kadang perlu ngeyel juga, it won’t hurt you. Manusia itu perlu seimbang, balanced. Kalau terlalu banyak ngeyel maka perlu sedikit serius. Kalau terlalu serius maka perlu sedikit ngeyel.

Kita perlu menambahkan sifat yg berlawanan dari diri kita sekarang ini agar kita akhirnya menjadi lebih seimbang. Cara transformasi diri seperti itu, dan bukan bertahan di satu sifat yg ditanamkan dari kecil oleh orang tua kita. Ada kalanya kita harus membuang segala yg diajarkan oleh orang tua kita ketika kita masih kecil. Istilahnya kita memberontak. Tetapi, dari cara memberontak itu akhirnya kita belajar sendiri bahwa manusia dewasa itu berubah terus, belajar terus. Yg tetap adalah perubahan itu.

Kita akan bisa menerima bahwa adalah wajar kalau kita berubah. Kita juga akhirnya akan bisa menerima bahwa adalah wajar juga kalau orang lain berubah. Semuanya berubah: cara berpikir, cara berperilaku, cara berbicara, cara menulis.

Yg tetap itu cuma satu sebenarnya, yaitu kesadaran kita. Spiritually speaking, yg tetap itu cuma kesadaran atau consciousness di diri kita. Di luar itu: tubuh fisik, pemikiran, cara berperilaku, sikap, semuanya bisa berubah. Kalau kita tidak mau berubah kita akan mandeg secara kejiwaan. Kalau kita tidak mau berubah, maka kita akan dipaksa oleh lingkungan yg juga terpaksa berubah.

Kalau kita mau berubah dengan sadar, maka segalanya akan lebih mudah.

Berikut komentar saya di note tersebut yang akhirnya jadi tanya jawab

+ tapi mas, saya pernah tuh, sering malah. sadar bahwa ada yg harus berubah, juga sangat ingin berubah, tapi buat  melangkah, susahnya naudzubillah.

– Saya juga begitu Niam.

Akhirnya saya belajar untuk pasrah saja. Kalau untuk berubah rasanya susah akhirnya saya jalanin saja yg ada sampai tekanan untuk berubah itu mencapai titik optimumnya. Kalau tekanan sudah optimum, maka mao gak mao ya memang udah berobah. Tanpa harus memaksakan diri lagi kita sudah berubah sendiri.

I thought of you yesterday, I wonder in what part of the US you are now in. Saya kalau di US tidak merasa seperti di negeri asing, rasanya kayak di kampung sendiri.
We are citizens of the world, yeahhh !!!

+ saya sudah di Indo lagi Mas, 3 hari yg lalu. saya di Ohio university, kampus ndeso kayak UGM. tapi perpusnya keren banget.
oiya, pas hari2 terakhir memang saya sempat mimpi dan berniat menanyakannya ke Mas. Di mimpi itu, saya melihat tubuh saya jadi 2, tapi kemudian tubuh yg satunya mati. ada semacam perasaan sedih melihatnya.
Saya sih mengartikannya sbg hilang/tdk aktifnya satu dari sekian kepribadian saya. nah pertanyaan saya adl,
bisakah saya menghidupkan ato me-switch on kan lagi diri saya tersebut? makasih Mas.

Niam, we die constantly.

Sel-sel tubuh kita selalu mati dan berganti dengan yg baru. Menurut penelitian, proses ini tuntas setiap 7 tahun sekali. Jadi, tubuh kita yg sekarang merupakan tubuh baru dibandingkan dengan tubuh kita 7 tahun yg lalu. Tapi kita tidak merasa.

Jiwa kita juga begitu,

Kesadaran baru sedikit demi sedikit masuk, dan kesadaran lama mati. Ketika tumpukan kesadaran baru mencapai momentum tertentu, maka kita bisa melihat di dalam mimpi seperti kita mati.

Ternyata kita tetap hidup saja. Yg mati itu adalah kesadaran kita di masa lalu yg tidak bisa lagi dibawa ke masa kini.

You are now a different person physically AND psychically compared to you were 7 years ago.

Saya juga mati di AS. Tapi hidup lagi dan pulang ke Indonesia.

Di Indonesia saya sudah mati berkali-kali, tetapi ternyata masih bisa main facebook, masih bisa OOBE, masih bisa hidup di dalam pikiran banyak manusia lain.

We are eternal, yg mati itu jiwa-jiwa kita yg cuma beperan dalam satu phase saja.

+ jika saya sadar bhw kematian adalah niscaya
kenapa pula masih ada perasaan sedih atau kecewa ketika menghadapinya?
mungkinkah jiwa baru ini lebih rendah dari jiwa yang lama?

– Niam,

Kita sedih juga ketika meninggalkan masa kanak-kanak ketika kita masih innocent. At least saya termasuk orang yg sedih meninggalkan masa kanak-kanak.

Sampai sekarang saya masih mau balik kembali ke masa kanak-kanak ketika saya bisa kencing berdiri di depan orang lain tanpa perlu malu-malu. Kalau sekarang kan harus kencing ditutup-tutupin karena the burung udah ada sayapnya sehingga bisa terbang kalo diliat orang

Tetapi mau tidak mau kita harus berjalan melewati dimensi waktu. Time is eternal memang. Masa lalu tetap ada, still happening. Tetapi kesadaran kita cuma ada di T = 1. Dan sebagai manusia fisik, T = 1 di kita ternyata berjalan terus. Selama jantung masih berdenyut, kita masih travelling di dimensi waktu while resting in eternity at once.

Mungkin kita merasa bahwa kita yg sekarang lebih “rendah” karena udah gak perjaka lagi, pedahal Allah maonya kita tetap perjaka. Tetapi harusnya yg direformasi adalah konsep Allah dan bukan keperjakaan kita.

Virginity is nothing.

Dua hari kemudian saya mulai berpikir dan membanding-bandingkan saya yang sekarang dengan saya di masa lalu. ada perasaan takut kalau-kalau pengalaman 2 bulan saya di Amerika menjadikan jiwa ini lebih jauh dari-Nya, lebih buruk di mata-Nya. saya ingin mengembalikan Ni’am 7-10 tahun yang lalu, dimana ia tidak pernah tidak membaca Al-Qur’an sekurangnya 5 juz sehari. Ni’am, yang meski dgn grusa grusu, sholat di akhir waktu karena tidak ingin melakukan sholat selain pada waktunya. hmm…

masih dalam minggu yang sama, saya berniat membersihkan kamar yg berpenampilan tak ubahnya kapal pecah. alangkah kagetnya saya ketika mendapati setumpuk berkas dalam kardus penuh dengan tanah dan rama-rama (rayap kalo ga tau). lebih schock lagi ketika tahu bahwa kertas-kertas di dalamnya adalah segala materi di awal kuliah. ada fotokopian, catatan dari binder yang kujilid sendiri pake tali rafiah, ada makalah bahkan draft makalah yang kini print-outnya pun aku tak punya. aku punya alasan sendiri kenapa menyimpan semua naskah.

Dari situ  aku beroleh satu pelajaran baru. sekuat apapun kau coba menggenggam masa lalu, jika memang saatnya ia berlalu, kau takkan bisa menahannya tetap bersamamu.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

6 thoughts on “Mau Berubah, Susahnya kok Naudzubillah”

  1. mas’niam,,,aku copas quote terakhirmu yaaa🙂

    *sbnarnya aku ingin sekali mengkopi keselurahannya, tapi….
    ahh….tak usahlah….

    thanks….
    selalu ada sesuatu yg membuatku tersadar setelah “duduk-duduk” dirumahmu.

  2. Yup, kita memang harus berubah.. Terkadang ketika dalam kesenangan kita lupa..

    Saya suka quote ini : “Ingatlah Allah di kala kamu senang, niscaya Allah kan mengingatmu di kala kamu sedih.”

    So, ketika futur, males, coba inget quote ini.. Insya allah ntar semangat lagi..

    Saya suka quote mu yang akhir ‘am.. Copy paste ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s