Merindukan dan atau Dirindukan Al-qur’an


Sore ini aku berniat mengantar tas titipan mas Icong untuk istrinya yang akan menyusul ke Amerika. Rumahnya terletak di daerah Krapyak, Bantul. Lumayan jauh dari kantor PKMBP yang ada di kaki monumen Monjali. Tapi niatku sudah bulat, tak ingin lama-lama menanggung beban amanat. Berangkat dari kantor jam 16.30an dan sampai disana kira-kira jam 17.15 WIB (waktu indonesia bagian mBantul). Lama memang, karena aku hanya ditemani Silva, sepeda dengan karat dimana-mana.

Setelah sempat salah masuk gang, akhirnya aku sampai juga di depan pintu rumah mungil warna oranye. Ku ketuk pintu dan tak lupa ucap salam, biar keliatan kalo Islam,,😀 . sudah berkali-kali ku ketuk, tak ada suara apapun dari dalam. Bosan lama-lama menunggu, ku putuskan untuk pergi ke kafe 3 Ceret sekedar membasahi kerongkongan yang mulai kering. Ku pesan segelas es jeruk manis sembari menyambar sego kucing plus bakwan jagung. Nikmat sekali rasanya, makanan yang tak kan ku temui di Amerika. Biar lebih afdhol ku angkat satu kaki ke atas kursi dan mulai menyantap suapan pertama.

Tak lama kemudian, saat (temennya said) adzan maghrib berkumandang🙂 . segera ku bayar 2 ribu 5 ratus perak ke bapaknya lalu ku tuntun silva menuju pelataran masjid Krapyak yang ada di lingkungan pesantren Al- Munawwir. Just for information, pondok Krapyak adalah tempat dimana ustadznya ustadznya ustadzku dulu nyantri dan belajar ngaji. in other word, aku adalah cicit murid dari pendiri pondok dan merasa masih punya hubungan batin dengan alias sok kenal dan sok akrab dengan lingkungan pondok ini.

Meskipun bangunan pesantren ini telah banyak dipugar, tapi nuansa khas pesantren tetap kental terasa. Hal ini terlihat dari tempat wudlu yang masih berupa kolam besar, entah berapa banyak tangan yang sudah masuk ke sana, berapa galon air bekas basuh muka orang (beberapa bahkan kumur) yang masuk lagi ke kolam. Bagi yang tidak biasa pasti jijik, tapi kami biasanya berdalih semakin banyak orang semakin barokah. Lagian katanya kan air bekas wudlu itu jadi malaikat yang doain kita. Jadi, semakin banyak orang wudlu, semakin banyak malaikat yang berenang di kolam itu.😀

Selanjutnya, sholat berjamaah didirikan dengan imam seorang bapak yang sudah tua, sepertinya pengasuh pondok, biasanya sih gitu. Sesudah sholat dan wiridan secukupnya, aku duduk di teras masjid sambil menikmati suasana pesantren. Hmm.. sungguh terasa tak asing. Melihat banyak orang bersarung, dengan peci di pake agak miring seolah nemplok dan tak bisa lepas dari kepala pemiliknya. Ada juga orang yang kepalanya manthuk-manthuk teratur dengan jari tangan sibuk mijitin biji tasbih. Dia terlihat asyik dan mesra menyebut sebuah Nama, seolah olah pacarnya. Di sudut masjid yang lain, ada juga seorang bapak berusia paruh baya, sedang wiridan juga, yang hampir tiap 2-3 menit selalu didatangi orang. Sementara orang yang mendatangi selalu berlutut terlebih dahulu sebelum sampai di hadapannya, kemudian mencium tangan orang tadi. Tabarukan, begitu dulu kami menyebutnya.

Dari gedung sebelah terdengar suara orang, dengan pengeras suara, melantunkan bait/syair berbahasa Arab.

kalamun qodimun la yumallu sama’uhu
tanazzaha ‘an qaulin wa fi’lin wa niyyati 2x

bihi asytafi min kulli dain wa nuruhu
dalilul li qolbi ‘inda jahlin wa hairoti

faya robbi matti’ni bi sirri hurufihi
wa nawwir bihi qolbi wa sam’i wa muqlati

wa sahhil alaiya hifdzohu tsumma darsahu
bi jaahi nabi wal aali tsumma shohabati

Mendengar lagu itu, aku tak tahu tiba-tiba hatiku trenyuh. Mataku hampir saja meneteskan airnya. Sudah begitu lama aku tidak melafadkan doa itu. Doa yang selalu kubaca tiap kali mengawali ngaji, bersama-sama 7 hingga 12 orang dalam 1 kelompok dengan 1 ustadz. Doa yang selalu kami baca meskipun tak tahu artinya. Tapi kini, setelah aku sedikit tahu artinya, sungguh, hati ini terharu. Ada perasaan rindu. Rindu pada semaan, mudarosah, muqoddaman, ngeloh (menambah hafalan), setoran deresan. Juga pada tiap harokat, waqof, mad, saktah atau mbrengengeng di tiap tasydid. Berharap Al-qur’an berkenan membuka sendiri tabir rahasia di balik tiap hurufnya.

Aku rindu Al-qur’anku, adakah Al-Qur’an merindukanku?!

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

11 thoughts on “Merindukan dan atau Dirindukan Al-qur’an”

  1. yang adek mu cowok aja deh.. ‘am kasih tipsnya dong.. Cita-cita ayah saya ada anaknya yang hapal qur’an..
    Cita-cita saya sama kayak cita-cita ayah saya..🙂 Kali aja sama saya kesampean cita-cita beliau..🙂

  2. klo yg kaka’ku perempuan
    tapi kalo yg adekku. cewek cowok ada yg apal kok
    akunya aja yg belom.. hehehe dasarnya emg bandel

  3. wah.. kakak mu hapal qur’an ‘am.. ikhwan ato akhwat ? klo ikhwan.. saya pengen ngobrol dong… kali aja ada yang bisa di share..🙂

  4. tidak hafal qur’an bukan berarti tidak beriman A’
    the most important point for orang beriman is berusaha terus menerus tanpa putus untuk mengamalkan Al-qur’an.
    bukan berapa juz yg kita hafal, tapi berapa banyak ajaran qur’an yg kita amalkan.
    kalo becandaanya kakak saya, yg juga hafal qur’an gini,
    “tenang aja am, kan udah banyak orang hafal qur’an. udah banyak yg jaga. kamu ga ikut jaga juga ga pengaruh”

    iya sih, tapi aku kan juga pengen. abis apal trus mati juga ga papa deh.

  5. Jadi inget kata-kata mentor saya ‘am :
    Sesungguhnya Al-Qur’an itu dijaga di dalam hati-hati orang beriman.
    Maka saat kita lupa al-qur’an, sesungguhnya bukan kita lah melupakan al-qur’an. Tapi al-qur’an lah yang telah melupakan kita.. (aduh jadi sedih).

    Dari 4 juz yang sudah saya hapal susah banget mempertahankannya.. apa karena saya bukan orang beriman.. (Na’udzubillahi min dzlik).. Semoga kita tidak pernah dilupakan oleh al-qur’an.. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s