Bertemu Syaikh Pandrik


Dalam perjalanan pulang dari Jogja ke Jepara seminggu yang lalu, aku, Mas Lutfi dan Mas Fikri berkunjung ke kabupaten Sukoharjo. Sembari menyetir Mas Lutfi bilang,  “Kita akan silaturrahim ke rumah Toto, penulis buku Berjumpa 26 Nabi.”

Mas Lutfi juga menambahkan bahwa penulis tersebut masih berusia belia, bahkan baru saja lulus dari bangku SMP.
mendengar sedikit gambaran tentang penulis, aku hanya bisa diam. selama perjalanan pikiranku tak henti-hentinya membayang, anak dengan perawakan kecil, kurus dan bertingkah aneh macam Ponari yang kulihat di TV.
“Pasti orangnya unik!” pikirku tertarik.

Karena kami bertiga tak paham jalanan Sukoharjo, jadilah kami muter-muter kesasar. tak kurang dari 5 kali kami balik arah karena kesasar. sebenarnya rumah yang kami tuju tidak terlalu sulit dicari. Dari arah Solo Baru kita lurus saja menuju kabupaten Sukoharjo, melewati gerbang Selamat Datang sampai ketemu bunderan tugu Adipura. Dari bunderan itu kita belok kiri. nanti akan terlihat dua jalan, ambil jalan yang di sebelah Bank Pasar. kemudian lurus saja kira-kira 1.5 km, ada perempatan bertraffic light masih lurus sampai ketemu masjid di kanan jalan. tepat depan masjid ada jalan ke kiri, belok. masuk jalan kampung, di gang yang kedua belok kanan. rumahnya mentok di ujung jalan sebelah kiri.

Kami disambut pertama kali oleh seorang Bapak yang sudah berdiri di tengah jalan. kupikir dialah orang unik bin nyentrik itu, tapi kan kata Mas Lutfi penulisnya masih kecil, berarti bukan dia. Benar, sejurus kemudian ada anak remaja keluar dari dalam rumah. Badannya kurus jangkung, berkacamata dan berpenampilan santai dengan mengenakan celana yang terbuat dari kain sarung. setelah kami dipersilakan masuk dan duduk, keluarlah cemilan krupuk intip nan kriuk lengkap dengan 5 gelas panas kopi tubruk.

Aku masih mengira-ira, percakapan macam apa yang akan terjadi nanti.

Mas Fikri, direktur penerbit buku LKiS, yang akhirnya membuka obrolan serta memancing pada maqsud al-a’dhom dari kedatangan kami, konsultasi kesehatan. Mas Lutfi ingin menanyakan apakah kecelakaan, hingga tulang belakangnya retak, yang dia alami 3 tahun yang lalu mempengaruhi kemampuan reproduksinya. pasalnya, setelah menikah 6 tahun lamanya dia blum juga dikaruniai momongan.

“Coba To, diperiksa” begitu kata Ayah Toto.
Toto segera tanggap. dia mengangkat kacamatanya sehingga terlihat nangkring di dahi. sambil memejamkan mata, Toto maneges marang gusti. begitu dia menyebut caranya berkomunikasi dengan sang Mahasumber pengetahuan dengan cara konsentrasi.

“Tidak,,tidak pengaruh. reproduksinya bagus” ujar Toto tiba-tiba sambil tetap terpejam. lalu lanjutnya, “Memang ada beberapa titik yang peredaran darahnya tidak lancar, makanya sering pusing dan sakit”
“Bagaimana kondisi nyonya-nya, To” Mas Fikri menukas.

Setelah diberitahu nama istri Mas Lutfi, yang juga kakak kandungku, Toto kembali maneges.
“Bagus juga. dua-duanya bagus. belum waktunya aja.” jawab Toto akhirnya.

Kakakku lega. ia percaya karena jawaban Toto persis seperti diagnosa dokter sebelumnya.
kemudian obrolan kami kembali pada topik seputar pengalaman Toto setelah buku pertamanya terbit. pernah suatu ketika ada pembaca yang menelpon ke rumahnya. penelpon itu mengatakan bahwa dia sangat kagum pada Toto dan bersedia menjadi muridnya. tapi ujung-ujungnya dia minta untuk diramalkan sesuatu. Toto tidak mengabulkan permintaan penelpon tersebut dengan alasan apa untungnya bagi dia dan masyarakat. Karena kecewa, penelpon tersebut berbalik menuduh Toto tak ada bedanya dengan dukun-dukun yang ada sekarang.

“Zaman sekarang, memang sudah saatnya muncul para spiritualist muda” ujar Toto ketika disindir bahwa bahasa Toto terdengar terlalu tinggi untuk anak seusia SLTP.

Selama ini wacana spiritualitas memang didominasi oleh orang tua, terutama oleh orang yang dianggap pemuka agama seperti kyai, pastor, biksu, pedande or whatsoever. in fact, spritualitas adalah sesuatu yang bersifat spirit, batin atau ruh. Di alam spirit tak berlaku hukum ruang dan waktu, yang ada hanyalah Saat ini (Now) dan Di sini (Here) yang juga berarti tidak dimana-mana (NOWHERE). As the energy, spirit juga bersifat kekal.  semua orang tak peduli bayi atau orang tua, laki perempuan, semuanya memiliki ruh. bahkan semua makhlukpun memiliki spirit, memiliki jiwa. so, semua orang sejatinya adalah spiritualist karena semua orang memiliki ruh. Yang membedakan antara satu dan yang lainnya adalah tingkatan spiritualitas which means pada lapisan mana Kesadaran seseorang berada. Ya, Kesadaran (awareness) kita sebagai makhluk spiritual. kesadaran bahwa kita adalah jiwa-jiwa yang berasal dari jiwa yang Satu. antara jiwaku dan jiwamu terhubung malalui yang Satu. Sehingga Aku adalah Kamu dan kamu adalah Aku.

Ibarat teknologi, alam semesta adalah suatu sistem jaringan yang saling terhubung pada Sang Mahaserver, sumber dari segala sumber pengetahuan. Tiap manusia atau makhluk adalah client yang bisa mendownload informasi dari Mahaserver dengan syarat memiliki kapasitas (hardware dan software yang memadai) dan kode akses yang tepat. sebenarnya tiap manusia secara built-in sudah memiliki perangkat tersebut. Hanya saja sistem operasi yang dimiliki sebagian besar orang terganggu kinerjanya oleh virus-virus ganas seperti ego, nafsu, tamak dan bangga diri.

Dalam kasus ini, Toto, yang bernama asli Argawi Kandito, adalah bukti dari teori Mahasistem Jaringan dari alam spirit tersebut. Buku Berjumpa 26 Nabi miliknya adalah hasil dari perbincangannya dengan 26 nabi. sekali lagi jangan dibayangkan dialog tersebut terjadi secara fisik. Dialog tersebut terjadi di alam Spirit. sebagaimana yang dijelaskan Mas Fikri, proses kreatif dari penulisan buku tersebut dilakukan dengan cara Ayah Toto membuat list pertanyaan dan menanyakan kepada Toto. Selanjutnya Toto akan maneges, mengakses dari MahaServer, dari Mahaserver kemudian menghubungkan Spirit Toto dengan Spirit nabi yang dituju. setelah mendapat informasi yang diinginkan Toto menjawab pertanyaan ayahnya.

Terdengar mustahil?! tapi itulah yang terjadi. Bukankah sebagai mu’min kita disyaratkan untuk mempercayai adanya hal ghaib, non-materi atau sesuatu yang tak kasat mata?!

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

3 thoughts on “Bertemu Syaikh Pandrik”

  1. salam mualaikum saya agak terlambat tau buku dik toto walaupun selintas aku baca dan belum selesai aku acungkan jempol cerdas tenan adik pingin kapan-kapan sowan ke sukaharjo

  2. sami-sami bapak,, meskipun ketemu baru sekali dan sebentar, ada banyak yang ingin diceritakan. tapi ruang dan waktu membatasi segitu saja yang diceritakan.
    amiiin,, insyaalloh saya sampaikan. saya juga tertarik untuk sowan lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s