Aku Bermimpi, Aku Meyakini, Aku Mengalami


Semua berawal dari mimpi. Dari mimpi kemudian muncul dorongan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Siapa yang mengira manusia bisa pergi ke bulan, sesuatu yang dulu hanya bisa terjadi di dunia fiksi. Sejak kecil manusia sudah bisa bermimpi. Masa kanak-kanak merupakan masa yang penuh daya imajinasi. Sayangnya, hanya sedikit orang yang mau memperjuangkan mimpinya hingga menjadi kenyataan. Orang akan begitu saja mengabaikan mimpi-mimpi masa kecilnya begitu dia beranjak dewasa. Orang dewasa mulai takut bahwa mimpinya tak akan menjadi nyata setelah melihat kenyataan di sekitarnya. Padahal justru itulah ujian bagi terwujudnya impian. Apakah kita berani memimpikan sesuatu yang kelihatannya mustahil terjadi? Maukah kita meyakini bahwa mimpi kita akan terwujud suatu saat nanti? Lewat tulisan ini saya ingin berbagi cerita agar kita lebih berani bermimpi.

Saya masih ingat betul kejadian saat saya masih tercatat sebagai siswa SMA kelas I. Pagi itu pengurus OSIS membagikan majalah sekolah Graffiti. Sambil duduk saya membuka halaman demi halaman yang tersaji. Saat itu saya tertarik membaca rubrik profil yang memuat kisah alumni yang berhasil kuliah di UGM dan saat itu mendapat beasiswa S3 di Swedia. Kisah itu dilengkapi dengan foto beliau dengan istrinya di depan taman yg penuh bunga. Sungguh cerita yang membuat saya iri. Dalam hati saya bertekad bahwa suatu hari nanti saya akan pergi ke luar negeri di manapun itu tapi dengan syarat tanpa keluar biaya sendiri alias gratis.

Enam tahun berikutnya tepatnya tahun 2009 ini saya berhasil mewujudkan impian itu. mimpi yang hampir saja terkubur oleh padatnya kuliah dan persiapan tugas akhir sebagai mahasiswa. Bersama 19 mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia lainnya, Saya mendapat beasiswa Indonesian English Language Study Program (IELSP) yang didanai oleh Department Dalam Negeri Amerika Serikat. Selama 8 minggu terhitung sejak 4 April hingga 30 Mei 2009 saya mengikuti kursus English for Academic Purpose secara intensif di Ohio University.

Saya mendapatkan informasi beasiswa tersebut melalui milis mahasiswa SP2MP UGM. Seorang teman yang juga alumni program ini memberitahukan adanya seleksi program tersebut. Secara umum ada dua tahap seleksi untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut yaitu seleksi berkas dan wawancara. Mulai dari batas akhir penerimaan berkas sampai pengumuman final penerima beasiswa kira-kira memakan waktu 3 bulan.

Beasiswa ini terbuka untuk mereka yang berumur 19 – 24 tahun dan masih aktif sebagai mahasiswa S1 minimal tahun ketiga (semester 5 keatas) di perguruan tinggi mana pun di Indonesia dari berbagai jurusan. Pendaftar harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik dengan skor TOEFL minimal 470 baik International TOEFL® atau TOEFL® ITP (bukan Prediction Test),  memiliki prestasi akademik yang baik, aktif dalam berbagai kegiatan atau organisasi, memiliki komitmen penuh untuk segera kembali ke tanah air, tidak memiliki pengalaman belajar di Amerika Serikat atau Negara lain selain Indonesia (banyak pendaftar yang tidak lolos karena alasan ini), memiliki sifat aktif, mandiri, bertanggung jawab, percaya diri dan berpikiran luas. Selain itu peserta terpilih juga harus bersedia untuk meninggalkan kuliah di tanah air selama 8 minggu karena akan mengikuti kursus intensif di Amerika Serikat selama waktu tersebut.

Sebelum keberangkatan saya dan rombongan mendapatkan penjelasan lebih rinci mengenai beasiswa ini serta materi komunikasi antarbudaya supaya tidak terjadi shock culture. IELSP sendiri merupakan beasiswa penuh meliputi biaya kuliah, asrama, makan, buku yang dibutuhkan serta uang saku per bulan. Praktis, kami hanya membawa pakaian secukupnya, peralatan pribadi dan tak lupa cindera mata untuk calon teman-teman kami di sana.

Kegiatan sehari-hari saya di sana adalah kuliah seperti biasa. Dari jam 8 pagi hingga jam 2 siang kuliah di kelas. Saya memiliki 3 kelas dalam sehari, Advanced Reading Class, Listening and Note Taking dan kelas Combine Skill 2b sebagai core class. Combine Skill Class merupakan kelas dengan level advance yang menggabungkan kemampuan reading dan academic writing. Materi yang diajarkan di kelas CS antara lain composition, speed reading, dan note taking. Selain itu juga diajari bagaimana menggunakan fasilitas perpustakaan, mengakses buku maupun jurnal elektronik, melakukan pengutipan yang semua itu bermuara pada tugas final menyusun dan mempresentasikan sebuah makalah ilmiah (research paper). Masing-masing kelas hanya terdiri dari 10-15 mahasiswa, jadi interaksi dengan dosen lebih intensif.

Selepas kuliah di kelas, saya sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Bukan karena pura-pura rajin, tapi karena memang tiap hari selalu ada tugas kuliah yang harus dikirim via email pada hari itu juga. Di samping karena fasilitas internet sebagian besar tersedia di Alden library.

Sekedar informasi saja, Alden adalah perpustakaan yang memiliki 7 lantai dengan ribuan koleksi referensi mulai dari buku, jurnal ilmiah, majalah, microfilm, musik bahkan ribuan film dari berbagai Negara, termasuk Indonesia. selain itu, mahasiswa juga bisa mengerjakan tugas dengan meminjam laptop sambil makan di café yang juga ada di dalam perpustakaan. Poin paling penting yang membuat saya betah berlama-lama di perpustakaan adalah ratusan komputer terkoneksi internet yang siap dipakai selama 24 jam. Dengan begitu saya dapat mengakses referensi dengan mudah.

Selain belajar bahasa secara klasikal, saya juga belajar tentang kebudayaan Amerika secara langsung melalui interaksi sehari-hari. Saya tinggal di asrama Treudley bersama dengan mahasiswa Ohio University. Gedung ini terdiri dari 4 lantai yang dihuni mahasiswa S1 baik laki maupun perempuan. Tiap kamar dihuni oleh maksimal 2 orang. Saya sekamar dengan mahasiswa jurusan penerbangan, Zach Hulsmeyer namanya.

Tentu kita sudah pernah dengar tentang pergaulan bebas antarremaja di Amerika. Ya memang begitulah kenyataannya. Bukan hal yang aneh lagi jika ada teman perempuan menginap di kamar laki-laki, begitu pula sebaliknya. Pernah satu hari pacar Zach datang dan menginap di kamar. Mereka tidur seranjang, meskipun aku tahu mereka hanya berbincang-bincang saja. Tapi karena saya tidak biasa dan risih, saya lalu keluar kamar dengan alasan hendak belajar di ruang bawah.  Akhirnya malam itu saya tidur di ruang belajar sendirian.

Di hari yang lain Dustin dan Nick, dua teman Amerika, pernah mengajak saya bermain “Beer Pong”, permainan lempar bola ping pong ke dalam gelas berisi bir. Saya katakan bahwa sebagai muslim saya dilarang minum bir. Mereka pun menghargai sikap saya, bahkan Dustin bersedia meminum beberapa gelas bir yang seharusnya  menjadi hukuman saya. It was really nice cultural understanding.

Berhubung lembaga Ohio Program of Intensive English memiliki banyak mahasiswa international dari berbagai Negara, saya juga belajar tentang bahasa dan budaya mereka. Berteman dengan mahasiswa dari Amerika, Cina, Turki dan Jepang telah memperluas wawasan saya tentang pluralisme, bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Sesuatu yang pasti ada di mana-mana dan tak terelakkan. Saya jadi sedih jika mengingat pertikaian antara saudara sebangsa kita hanya gara-gara berbeda keyakinan.

Sebagai duta bangsa Indonesia, kami juga mengenalkan kebudayaan Indonesia baik kepada civitas akademika maupun komunitas Athens di lingkungan kampus. Bersama keluarga Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (PERMIAS) kami berpartisipasi dalam kegiatan seni dan budaya seperti misalnya fashion show baju adat, pentas Angklung dan menari Saman di acara International Street fair.

Melalui program ini, saya mengalami banyak perubahan. Tidak saja dalam hal perilaku, tapi juga persepsi saya tentang belajar di luar negeri.  Sebelum saya berangkat, saya termasuk orang yang ngebet ingin melanjutkan S2 di luar negeri, di manapun itu. Tapi sekarang, saya sadar bahwa kuliah di luar negeri tidak seindah dan semudah yang saya bayangkan. Saya harus benar-benar siap lahir batin, fisik maupun mental apalagi dana. Contoh kecil saja tentang cuaca. Kebetulan saya kemarin beruntung mengalami hujan salju di musim semi, satu-dua hari saya masih euphoria berfoto ria di bawah salju. Tapi setelah itu, tubuh jadi gatal-gatal karena kedinginan. Kalau sudah begitu, perasaan rindu pada hangatnya mentari Indonesia semakin menggebu.

Sebenarnya banyak sekali pengalaman menarik selama di sana. Mungkin saya sebutkan beberapa saja. Misalnya tentang kebiasaan mahasiswa Amerika. Boleh dikata mereka selalu total dalam tiap aktivitas mereka. Selama 5 hari kuliah, mereka begitu rajin. Jalanan ramai oleh mahasiswa yang lalu lalang menuju kelas sambil menenteng buku dan gelas minuman. Perpustakaan juga selalu penuh. Tapi begitu tiba jumat malam, kampus mendadak sepi. Mereka biasanya berbondong-bondong ke pesta. Simply to say, study hard, party hard.

Pengalaman menarik lainnya adalah menjelajahi dan mencoba tiap fasilitas yang disediakan kampus secara gratis. Misalnya kolam renang, fitnes, yoga, basket, billiard dan tak ketinggalan pula nonton bioskop tiap akhir pekan. Semua fasilitas itu bisa dinikmati hanya dengan menggesek kartu mahasiswa kita. Kartu Mahasiswa adalah nyawa kita di sana.

Boleh dikata, program tersebut sangat sempurna, setidaknya bagi saya. Mungkin ini penilaian subyektif karena faktor lokasi dan waktu. Saya mendapatkan pengalaman yang menjadi impian bagi siapapun yang ingin belajar di luar negeri. Mulai dari hujan salju, warna warni bunga yang bermekaran di musim semi, terutama bunga sakura, hingga merasakan hangatnya berjemur di bawah matahari.

Akhir kata, banyak manfaat yang bisa diambil dari beasiswa ini. Selain membantu mahasiswa Indonesia yang memiliki kendala biaya untuk bisa belajar di luar negeri, program pertukaran mahasiswa juga melatih generasi muda untuk terbuka dan berpikir secara global. Jika Walt Disney berujar,”If you can dream, you can do it”, maka saya pun berkata, “Aku bermimpi, aku meyakini, aku mengalami.”

Yogyakarta, 26 Oktober 2009

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

8 thoughts on “Aku Bermimpi, Aku Meyakini, Aku Mengalami”

  1. Jadi tambah semangat mengejar mimpiku dapet beasiswa study ke luar negeri kaya mas..:D
    VERY INSPIRATIVE STORY !!

  2. ya, meskipun aku tidak ingat siapa namanya dan bagaimana kisah detilnya.
    tapi yang pasti, gara2 dia sama-sama alumni smansara dan lulusan gadjah mada, aku jadi merasa kalo aku bisa seperti dia. (sekarang sih belum hehehe)

  3. orang yg dapet beasiswa S3 yg km bicarakn itu my second parent buatku. seorang yg sll menginspirasiku. orang paling lembut hatinya yg pernah ak kenal slama hidup. om iinku. ternyata dia juga bs mnginspirasi org sptmu ya?🙂

  4. jadi pingin dech punya mimpi yang bisa diwujudin kayak kamu mas,,,,,Q berharap suatu saat bisa dpt scolarship di luar negeri….Q harus belajar byk dari kamu,,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s