Rebo Wekasan: Dongeng Masa kecil


Sore tadi aku dapat pesan pendek dari Lilik, adik perempuanku yang sedang belajar mencintai rok dan rasa pedas. Cukup singkat, hanya mengabariku bahwa besok adalah Rebo Wekasan serta berdoa untuk keselamatan. Ku alihkan pandanganku dari layar monitor ke layar hape. Mengetik ulang pesan tersebut dengan bahasaku sendiri lalu ku tekan send to many. Tapi sayang, beberapa gagal kirim karena pulsa tidak mencukupi. Padahal belum akhir bulan Februari (emang apa hubungannya juga?).

Beberapa membalas. Aku tak butuh balasan mereka sebenarnya, sudah lama membiasakan diri berbuat tanpa berharap. Tapi ada dari mereka yang bertanya arti dari isi sms ku. Jika ada pertanyaan ditujukan padaku, itu berarti Allah mungkin menitipkan jawabannya padaku. Jadi ku tulis saja note ini.

Belasan tahun yang lalu. Ketika hari baru saja merangkak menuju gelap. Ini cerita dimana aku bersama ratusan manusia sebaya berada di penjara anak-anak, sebuah kompleks yang dikelilingi pagar tinggi dililit kawat berduri. seperti biasa kami dibariskan untuk sholat isya’ berjamaah. Pak Arifin, kepala sipir penjara yang bertugas memimpin sholat waktu itu. Ini pasti hari istimewa, pikirku. akan ada sesuatu yang berbeda, karena biasanya cukup dipimpin sipir lainnya.

Cukup kerepotan juga dia menyuruh kami diam. Kami berlarian kesana-kemari. Sabetan sajadah oleh para sipir di belakang hanya membuat kami terdiam sejenak, lalu kejar-kejaran lagi. Biasanya keributan ini baru akan berakhir ketika pak Aziz, sipir bertubuh gempal itu, membanting dampar ke lantai. Suaranya keras, cukup untuk membuat nyali kami, para cecunguk kecil mengkeret lalu segera merapatkan barisan. Sipir gempal itu kemudian berkeliling dari depan sampai belakang, memastikan tumit-tumit mungil kami lurus secara horizontal. Sambil menghunus gagang sapu, ia berlagak seperti Umar bin Khatthab sedang meluruskan shaf muslimin dengan pedang. Setidaknya itulah yang ia ceritakan untuk menakuti kami. Akhirnya sholat jamaah bisa dimulai.

Sesudah sholat, Pak Arifin mengajak kami wiridan dengan bacaan yang tidak seperti malam-malam sebelumnya. Mulanya dia mengajari kami dulu untuk kemudian dibaca bersama-sama. Kalimat tersebut adalah Hasbunallah wa ni’malwakil, ni’malmaula wa ni’mannashiir. kalimat itu kami ulang hingga 77 kali. Waktu itu kami hanya membeo saja. Bosan juga karena tidak tahu artinya. Tapi kami biasa mengakalinya dengan melagukannya, jadi kami anggap layaknya latihan paduan suara saja. Sesudah bacaan yang ketujuhpuluhtujuh selesai, ditutup dengan surat pembuka alias surat fatihah lalu koor paduan suara pun melagukan lirik amin amin ya robbal alamin.

Baru setelah itu ada ceramah dari sesepuh kota, kami memanggilnya Mbah Sya’roni. Mbah yang satu ini benar-benar tokoh panutan di kota kretek ini. Kami para tahanan kecil selalu suka ketika dia berbicara, seperti kakek yang sedang mendongeng untuk cucunya. Ya, kami menikmati cerita-cerita yang katanya dia baca di komik favoritnya, qomi’ut tughyan judulnya.

Malam itu Mbah Sya’roni bercerita tentang Rebo Wekasan, ada juga yang mengatakan Rebo Ungkasan. Ya malam ini. Rebo Wekasan, saya lebih suka versi Ungkasan karena lebih sesuai dengan penjelasannya. Ungkasan berasal dari kata Pungkasan; pamungkas yang berarti terakhir; penutup. jadi itu adalah hari Rabu yang terakhir di Shafar, bulan kedua dalam penanggalan Islam. Masih kata kakek berwajah teduh itu, syahdan malam rabu terakhir dari bulan shafar adalah malam bebendu, memiliki potensi untuk menyebarkan aura negatif, macam-macam tenung, teluh atau lainnya akan sangat mudah menyerang orang dengan kesadaran yang lengah apalagi lemah.

Itulah sebabnya kami tadi diajak komat-kamit sampai lidah kami kejetit. Berdoa memohon perlindungan dari Allah agar selamat dari dari segala bahaya, menjaga pikiran dan hati kami agar selalu dalam kondisi positif.

Mungkin orang dewasa sekarang, apalagi yang baru belajar Islam, akan menganggap perbuatan kami bid’ah. Terserahlah. Saat itu hati kami sedang bungah. Meskipun belum hafal isi seluruh Qur’an dan Assunnah, kami selalu percaya pada cerita kakek tua berwajah sumringah.

Sebenarnya penggalan dari doa yang kami baca ada dalam buku yang tiap hari kami daras. Tersurat dalam chapter 3 dengan nama surah Ali Imran ayat 173, di penggalan akhir ayatnya berbunyi Hasbunallah wani’mal wakil yang terjemahan versi digitalnya adalah:

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Sementara kalimat ni’mal maula wa ni’mannashiir, sangat mungkin itu anjuran untuk ditambahkan dalam berdoa. Maula yang memiliki akar kata yang sama dengan nama saya, Maulin, berarti Tuan, Raja atau Pemilik, sementara Annashir berarti penolong. jadi secara utuh doa tadi bisa diartikan:

“Cukuplah Allah Taala untuk (menolong) kami dan Dia sebaik-baik pengurus (yang terserah kepadaNya segala urusan kami). Dialah sebaik-baik tuan/raja dan sebaik-baik penolong.”

Doa itu bagus juga dibaca ketika hati kita gundah, resah, bingung ke mana harus melangkah atau ketika sedang menghadapi cobaan, seleksi pekerjaan, lagi banyak urusan atau sekedar ujian semesteran.

Malam itu, kami tertawa, terharu, terkagum-kagum, lalu tertawa lagi mendengar dongeng tentang kisah para sahabat nabi, para wali dan orang-orang sholeh. Kagum oleh keteladanan para wali dan tertawa oleh cara kakek itu bercerita. Kisah nyata yang jika diceritakan pada saat ini akan terdengar seperti dongeng rekaan orang dewasa. Tapi aku sadar bahwa seberapapun konyolnya dongeng itu, justru itu yang selalu terpatri dalam memori. aku ingin selalu mengingatnya hingga aku punya anak cucu nanti. Akan ku ceritakan kembali dongeng-dongeng yang ikut membentuk mimpi-mimpiku kini lalu kubiarkan mereka berimajinasi.

Setelah dongeng selesai. biasanya kami membentuk formasi meliuk-liuk bakulo-ulonan. Dua ratus lima puluhan anak saling memegang pundak teman di depan dan berjalan perlahan. Satu persatu dimulai dari sang kepala ular menciumi punggung tangan Mbah Sya’roni, berharap ilmu dongengnya tertular pada kami. Kemudian kepala ular mencari pintu keluar untuk menerima jadah singkong rebus hangat nan gurih. Biasanya aku dan para ‘korea precil’ lainnya, korea adalah sebutan preman di antara kami, nekat menerobos masuk lewat jendela dan antri lagi demi singkong yang ke sekian kali.

Itulah sedikit dongeng dari masa kecil. Terimakasih pada adikku yang telah mengingatkanku. Aku sudah membacanya malam ini. Dongeng ini sudah pula ku dongengkan pada kalian yang sudi membaca. Semoga saja aku diberi kesempatan untuk mendongengkannya untuk anak cucuku sendiri kelak. Kini saatnya kembali pada obrolan Sammaria, Sally dan Mbak Novi. Semoga besok aku bisa mulai mengerjakan skripsi.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s