Lost in The Festival 1 #Laku-Mlaku


Februari nyata sudah di penghujung. Aku senang sekarang. Ini pertanda reriuhan cinta dalam kemasan akan segera berakhir pula. Sebenarnya aku tak terlalu tahu gempita iklan coklat berbalut pita dijajakan atas nama bulan cinta. Televisi aku tak punya, radio pun entah kemana. Lagipula sepertinya euforia valentine terkover oleh tahun baru penanggalan Cina. Tapi maaf sebelumnya, aku tak sedang bercerita tentang keduanya di paragraf-paragraf berikutnya.

Di akhir bulan kedua ini aku akhirnya pergi ke Sekaten di hari-hari terakhir pelaksanaannya. Hampir 5 tahun aku menjadi ‘orang jogja’, tapi nyaris tidak pernah aku menikmati keriuhannya. Sempat beberapa kali lewat kilometer nol, melihat gerbang bertuliskan aksara jawa yang terbaca “Kombul Nyata Luhuring Panembah”. Jangan kira aku bisa membaca derivat huruf pallawa, aku hanya tahu dari aksara latin dibawahnya. Aku memang lewat, tapi masuk ke arena aku tak sempat. Kemarin hari Jumat berencana datang, karena saat itulah puncak ritual Sekaten dihelat. tapi sayang hujan datang menghambat.

Malam ini aku sengaja berangkat, sekalian melihat karnaval budaya yang katanya mau lewat.Karena jalan Malioboro penuh sesak, aku putuskan lewat jalan memutari gedung Agung. Sampai di depan gedung BNI kusandarkan sepedaku di tembok pesing dekat pangkalan becak. Lalu aku berjalan masuk ke arena sekaten lewat pagar besi yang roboh sebagian.

Pergi ke pasar malam Sekaten sendirian membawaku pada ingatan belasan tahun silam. Ketika aku masih sekolah di Kudus. Di sana juga ada tradisi Bedug Dandangan atau disebut dandangan saja, yang diadakan sebulan sebelum bulan puasa. Di sekitar masjid Al-Aqsho alias masjid Menara Kudus ke arah barat sampai lewat perembatan Jember, lalu ke timur sampai jembatan Kali Gelis, jalanan dipenuhi pedagang dadakan, lengkap dengan aneka wahana khas pasar malam. Ada Bianglala (ada yg menyebut dermolen/dremolen), Ombak Banyu, Tong Setan, Rumah Hantu, dan komidi putar.

Biasanya aku, dan semua temanku kukira, akan meminta sedikit tambahan uang bulanan pada jumat sambangan di bulan sya’ban. Apalagi kalau bukan untuk sangu ke dandangan. Pengurus pondok biasanya akan menjadwalkan rombongan anak pergi ke dandangan sesuai kelompok ngaji. Tiga – empat kelompok tiap sore dalam seminggu. Jadi tiap tahun pasti ada jatah resmi untuk kami menikmati dandangan.

Pernah suatu waktu, tiba giliran kelompokku, ngaji sore itu diliburkan khusus untuk ke dandangan. Senanglah aku, apalagi aku sudah mengantongi uang 5000. Bekal yang cukup kala itu. 1000 untuk naik dermolen, 1000 nonton Tong Setan, sisanya buat beli martabak spesial. Apesnya saat mau berangkat, sandalku raib.
“Jiang…krikk !! sopo iki sing nggosob?” umpatku berkali-kali.

Rombongan sudah mulai berangkat dan aku masih saja mengumpat. mau nggosob juga, tapi nggak ada sandal yang bisa diembat. Kalau toh ada sandal nganggur, pasti kiri semua atau kanan semua, atau kanan warna apa, kiri warnanya beda.

Karena tak ingin kehilangan jatah dandangan, akhirnya aku nekat jalan sendirian tertinggal jauh dari rombongan. Mengenakan kaos lengan panjang bertuliskan Muktamar NU ke 29 Cipasung, sarung batik setengah melorot dan alas kaki asli kulit merek nyekermen. Mungkin seragam anak panti pasuhan lebih bagus dari penampilanku waktu itu. Tambah lagi jalanan becek gara-gara hujan sebelumnya. Saat itu aku tak peduli apa yang mungkin dipikirkan orang lain ketika melihatku. Aku benar-benar sendirian sampai lokasi wahana milik rombongan Kelana Karya. Bahkan aku naik dermolen juga sendirian dalam satu kurungan.

Baru setelah pulang dengan kaki penuh lumpur aku baru nyadar betapa ngisin-ngisininya diriku. Sampai sekarang aku juga bingung kok dulu bisa-bisanya ngelakuin itu.

Kota sejuta romansa, 27 Februari 2010 M
14 Rabiul Awal 1431 H

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s