Lost in The Festival 2 #Laku Mlaku


Di Sekaten kali ini, serupa tapi tak sama dengan dandanganku belasan tahun yang lalu. Sama-sama pergi sendiri tapi dengan penampilan yang nggak ngisin-ngisini lagi. Minimal sekarang bawa kamera meskipun seadanya. Aku hanya jalan-jalan berkeliling saja di arena Sekaten. melihat sebentar dari satu wahana ke wahana lain. Adakah yang berubah? Wahana baru apa yang bertambah?

Pertama aku mengunjungi wahana Ombak Banyu. Alat permainan ini adalah sebuah bangku gantung melingkar yang bisa berputar naik turun seperti ombak. Wahana ini tidak menggunakan mesin untuk menggerakkan, melainkan tangan manusia yang mengayun dan bergelantungan di sekelilingnya. Selain sensasi gerakan naik turun sambil berputar, daya tarik wahana ini justru manusia penggeraknya itu sendiri. Mereka akan mendorong, mengangkat, melompat, nggandul dan salto layaknya penari. Dari pinggir arena aku melihat atraksi mereka. Aku tertarik sebenarnya. Mau beli tiketnya. Tapi bukan sebagai orang yang duduk di bangku goyang melainkan orang yang menggoyang ombak.
dug jedug… dug jedug… dug jedug…
Irama house music membuat mereka bergoyang makin gila.

Beranjak dari Ombak Banyu aku berjalan ke arah bangsal keraton. Ternyata sudah gelap. Aku belok ke kanan menuju masjid Kauman. Dari pinggir jalan kulihat gerbangnya tutupan, lampu-lampunya juga padam. Ya sudah aku kembali ke pasar malam lagi.

Di antara pedagang bakso dan penjual arum manis, ku lihat anak kecil perempuan, Usianya mungkin baru setahun atau lebih berapa bulan. Anak itu duduk dengan lucunya di atas kursi plastik yang tentu saja kecil sambil melihat ikan-ikan plastik di kolam kecil. Tangannya memegang setangkai kail dengan magnet di ujung benangnya. Rupanya dia berusaha memancing ikan-ikan plastik yang ada di dalam kolam. Beberapa kali tangkapannya berhasil dan dengan tanpa ekspresi ia serahkan pada lelaki yang setengah jongkok di dekatnya. Lelaki yang sangat mungkin adalah ayahnya itu menerima ikan plastik itu dengan wajah sumringah, seolah ingin mengatakan, “Kamu hebat, sayang !” Padahal gadis kecil itu tak menggubrisnya dan kembali melemparkan pancingnya.

Aku jadi teringat juga tadi dalam perjalanan di tengah macetnya kendaraaan di Malioboro. Aku melihat anak kecil, perempuan juga, berdiri di atas jok motor. Ayahnya di depan, ibunya di belakang. Gadis itu melompat-lompat senang melihat barongsai meliuk-liuk di tengah jalan. Ia tak menghiraukan asap kendaraan dan aroma teletong jaran.

Sungguh momen yang indah. Kenangan masa kecil yang mungkin akan selalu diingat oleh gadis kecil itu hingga ia menjadi remaja kelak. Tak ada yang lebih diinginkan perempuan dari masa kecil untuk tetap dimilikinya ketika ia dewasa melebihi kenangan indah bersama ayah. Aku jadi membayangkan jika kelak aku tak jadi mati muda dan punya keluarga, aku ingin mengajak anakku ke pasar malam, menggendongnya di pundak, menemaninya bermain dan pulang dengan arum manis di tangan. Karena aku yakin bahwa bukan pada seberapa lama waktu yang kita punya untuk mereka, tapi seberapa bermakna kebersamaan itu dalam ingatannya.

Terakhir aku melihat wahana baru, setidaknya bagiku, yaitu flying fox. Jenis tantangan itu belum ada di dandangan kala itu. Dari tempatku berdiri aku melihat di atas sana ada 1 cowok dan 2 cewek yang bersiap ‘terbang’. Tiap kali ada yang meluncur pasti mereka mengeluarkan bunyi yang sama,
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa……….” Begitu sampai di ujung seberang sana.

Gaya mereka pun biasa-biasa saja. Kaki terjuntai, tangan juga lunglai ke bawah.

“Ah kenapa cuma begitu?” pikirku. Kenapa tidak mencoba gaya lain. Misalnya gaya superman terbang, atau gaya jambu monyet dengan kepala di bawah kaki di atas. Tapi kemudian pikirku mungkin mereka sedang belajar untuk lebih percaya diri dan berani menghadapi tantangan dengan mencoba ‘terbang’. Padahal menurutku salah satu resep untuk berani menerima segala tantangan baik tantangan dalam permainan maupun kehidupan, adalah dengan tidak takut mati. Dalam artian, kita meyakini bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, mau menghindar dengan cara bagaimanapun juga nanti tetap akan bertemu. Jadi daripada takut mending bersikap selalu siap. Sudahlah, cukup di sini aja penjelasan tentang berani matinya.

Oh iya, ada juga temenku yang komentar begini, “mesakke men to” (kasihan sekali sih). Mungkin maksudnya kasihan karena aku ke Sekaten sendirian tanpa teman. Eiiit… Tunggu dulu. Tak semudah itu aku perlu dikasihani. Beberapa jawaban yang bisa kutawarkan adalah pertama, biar tidak ngrepoti dan direpoti siapa-siapa. Kedua, habis mau sama siapa lagi? Pacar, aku juga tak punya, ahahaha.

Ketiga, and I prefer to this, ini yang ku sebut dengan laku mlaku atau ritual jalan. Bagiku, kemanapun aku pergi sebisa mungkin itu bukan sekedar jalan-jalan, tapi dalam rangka belajar langsung dari kehidupan. Selama laku-mlaku aku mengamati perilaku, berhenti dimanapun aku mau, selama apapun waktu yang kubutuhkan, untuk mengalami keadaan tertentu.

Secara teknis memang harus berjalan dengan kaki (mlaku) agar kita bisa merasakan gesekan tubuh fisik dan spirit kita dengan orang lain. Lagipula dengan berjalan kita lebih punya waktu untuk mencerna tanda-tanda. Coba bandingkan dengan naik motor atau kendaraan yang lebih cepat lagi, berapa banyak tanda yang bisa kita tangkap?

Dengan menjalani laku-mlaku kita bisa belajar mengekstraksi kearifan dari buah tindakan yang jatuh dari pohon kehidupan, Semoga.

kota sejuta romansa, 28 Februari 2010 M

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s