Aku Anak Abahku II


Baru saja ku baca tulisan seseorang tentang kerinduan anak lelaki kepada ayahnya. Sebuah upaya melawan lupa, menuliskan keping kenangan yang sebenarnya hidup dalam memori. Aku tahu ada jutaan bit memori di kepala tiap anak lelaki tentang ayah. footage kehidupan tentang kekaguman, kepatuhan, ketakutan, persaingan, pemberontakan. Kemudian perasaan kehilangan, penerimaan, pemakluman atas segala tindakan, penghormatan dan akhirnya kerinduan. Ya, kerinduan.

Awalnya kita coba mengabaikan kerinduan itu. Belajar melepaskan, begitu apologi yang mungkin ditawarkan otak maskulin kita. tapi kerinduan itu tetap saja tinggal di sudut hati kita. selalu bertambah tiap kali kita coba alihkan. hingga tak ada lagi sudut yang tersisa di hati kita untuk menyembunyikan kerinduan. kini perasaan itu sudah memenuhi ruang hati kita. kerinduan ini mendesak laksana air dalam ketel mendidih James Watt, mencari celah untuk keluar. itulah mungkin sebabnya terasa ada yang ‘sakit dalam dada’ secara fisik. Soul determines the body.

Lalu kita mencari cara untuk menuntaskan kerinduan. Kita mendatangi tempat-tempat di mana sang waktu pernah mencatat kebersamaan kita, melakukan apa yang biasa mereka lakukan, atau menghidupkan kembali mereka dalam cerita kita sehari-hari.

Begitu pun aku yang sudah 5 tahun berpisah dengan abah. Dalam cerpen Aku Anak Abahku aku mengabadikan perpisahan itu. Cerita tentang ‘rivalitas anak-ayah’ yang kemudian menjadi titik awal perjalanan mencari tahu Jiwa macam apa yang bersemayam dalam diri. Berkali-kali aku mencoba ‘menghubungi’ abah. Sungguh susah. Baru 3 kali abah membalas, tapi syukurlah.

Sebagai keluarga, aku bersama 8 saudara laki-laki dan perempuan, kadang mencuri kesempatan untuk pulang di waktu yang sama. Lalu melakukan tradisi keluarga khataman Qur’an, yang dulu abah selalu menjadi inisiatornya. Mbak Yock biasanya yang dapat porsi paling banyak karena dia anak yang pertama hafal Qur’an setelah abah dan ibuku. Aku dan 3 adikku yang jadi ‘cah pondok’ dapat jatah hanya juz-juz tertentu yang kami merasa pede untuk disemak. sementara anggota keluarga yang lain cukup jadi penyemak sambil sesekali membetulkan bacaan kami yang salah.

Setelah semua juz terbaca, biasanya selesai selepas ashar, kami bersama-sama ke makam abah. Tak lupa ibu memetik mawar merah yang sedang merekah di halaman rumah. “Salam buat bapak” katanya sambil menitipkan bunga pada Barik, putri bungsunya. hal terakhir yang kami lakukan adalah curhat, menceritakan apa saja yang kami, anak-anak abah, sudah peroleh dalam hidup, seolah nisan itu punya cuping telinga yang bisa mendengarkan.

Di penghujung Maret ini aku baru teringat bahwa inilah bulan perpisahan itu. Tanggal 22 Maret 2005 silam.

Berikut adalah perasaan kerinduanku pada abah yang sempat mewujud dalam tulisan

Sekali Lagi Rindu
oleh: Maulin Ni’am (2007)

Ahh..
Tiba-tiba saja malam ini aku ingin pulang
aku rindu melakukan hal-hal yang sudah lama tak kulakukan

Ibu…
aku ingin bertemu
meminta restumu sekali lagi, dan lagi
sebelum kutempuh ujian akhir, dan lagi
aku ingin kembali belajar sabar darimu
ketika mengajariku mengeja alif ba ta kehidupan

Abah…
ingin sekali rasanya
duduk di samping pusaramu
membacakan untukmu doa yang dulu kau ajarkan padaku
ingin rasanya meminta maaf langsung padamu
karena telah membuatmu menunggu kiriman doa dariku
ingin rasanya kubisikkan di telinga nisanmu
untuk sekali lagi meyakinkanmu,
“Meski mbeling, anakmu ini masih seorang santri”

ahh..
ingin sekali rasanya
merasakan kembali hangatnya keluarga
menjadi bagian dari keluarga
bertengkar, berebut dan bercanda bersama

Ahh..
hampir lupa
ingin sekali rasanya
kembali menemui Kekasih
dalam remang suasana senja
di tepi dermaga kota
Laut, aku rindu padamu

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s