Kisah Petualangan di Papua (10 hari pertama)


Ini adalah catatan perjalananku dari Jogja ke pulau paling timur dari Indonesia, Papua. Perjalanan ke pulau cendrawasih ini merupakan kali pertamanya bagiku, juga bagi teman satu tim kecilku. Mereka adalah Agus “Si Bos Kecil” Rachmanto, Ade “Si tukang makan” Candra, Mister Sirot “cah Lamongan”, dan Denny “Denias” Prasetyo. Sirot dan Denias baru bergabung belakangan menggantikan Ikhwan Arif yang kumat gangguan biologisnya dan Fajar “Simbah” Sakti yang tepar akibat ciuman maut nyamuk papua.

Selama 34 hari perjalanan ini kami lalui mulai tanggal 31 Juli hingga 2 September 2009. Misi kami adalah melakukan pendataan sosial dan ekonomi masyarakat kabupaten Teluk Bintuni. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antara Badan Perencanaan Daerah Teluk Bintuni dengan Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan UGM selain kegiatan pendampingan perangkat distrik. Aku sebenarnya apply untuk posisi pendamping perangkat alias fasilitator, tetapi karena ketidakpastian jadwal pendampingan akhirnya aku diberangkatkan sebagai surveyor. no big deal, though.

Catatan ini masih berupa salinan apa adanya dari versi coretan tangan di buku saku. Meskipun aku masih ingat beberapa detil kejadian yang bisa menambah unsur dramatis dari perjalanan “into the wild” ini, tapi aku belum berniat menuliskannya di sini. Mungkin lain kali akan kutuliskan beberapa pengalaman secara lebih utuh. Catatan ini kubuat versi digital agar bisa kuunggah, dengan begitu bisa tersimpan selamanya dan tentu saja bisa dibaca siapa saja. Selamat berpetualang!

Jumat 31/07/09: jam 6 pagi berangkat dari bandara Adisucipto Yogyakarta menuju Sorong, transit di Makassar. Jumat pertama tidak ikut jumatan. Transit di Hotel Mariat Sorong.

Sabtu 1/08/09: Dari Sorong menuju Babo naik kapal Fajar Mulia II. Pukul 09.00 malam ada ombak besar. Tinggi ombak kurang lebih 6 meter. Kapten kapal memutuskan tidak berani lanjut. Merapat di balik pulau terdekat untuk mencari selamat.

Minggu 2/08/09: akhirnya merapat di pelabuhan Babo pukul 10.00 malam. Transit di Losmen Risaturi di samping kantor PSKK UGM UPT Babo.

Selasa 4/08/09: pukul 08.30 pagi berangkat ke Distrik Wamesa bersama tim Kaitaro dan tim Fafurwar naik ketinting. Pukul 10.00 pagi transit di pulau Amutu tempat di mana PT. Bintuni Utama Manunggal Wood Industries (BUMWI) berada. Di sini kami bertemu dengan Wahyu, lulusan D3 Kehutanan UGM angkatan 2005.

Ada sebuah gubuk di lingkungan perusahaan berada di pinggir laut yang disebut “Pondok Komunikasi”. Disebut begitu karena disitulah spot paling hot untuk mendapatkan sinyal provider. Hanya Telkomsel dan Indosat yang berlaku di sini. Tadi sempat nongkrong di pondok komunikasi mengamati perilaku komunikasi orang-orang di sini. ada bapak-bapak usia sekitar 38. kulihat dari tadi hanya mengamati layar. tak ada tanda-tanda sedang menghubungi seseorang. karena penasaran, ku lirik layar HPnya sambil pura-pura melihat pemandangan sekitar. Ahahahahaiii !!! sedang nonton bokep rupanya.

kemudian ada bapak separuh baya datang, duduk, lalu mengeluarkan Nokia 73 yang dibungkus sarung hape kulit imitasi. ternyata ada alasan khusus membungkus HP di sini. karena sinyal tidak bisa serta merta didapat, mereka harus meletakkan HPnya di suatu tempat dan menunggu ada sinyal lewat. nah, bungkus HP tadi berfungsi untuk menggantung HP dengan cara menyelipkan tutup sarung HP di sela sandaran bambu. baru setelah terlihat ada sinyal tertangkap mereka menekan nomor yang ingin mereka hubungi tanpa mengubah posisi hape. jadi seringnya mereka menelpon dengan mengaktifkan loudspeaker.

usai menuntaskan hajat ingin berkomunikasi dengan sanak saudara, bapak itu bertukar sapa dengan bapak sebelumnya. di akhir percakapan, bapak yang barusan telpon berpamitan, “Saya balik dulu, pak pendeta.”
rocker saja juga manusia, apalagi pendeta?!

Pukul 04.00 sore tim berangkat ke Pulau Saka yang katanya ada 17 KK. Tapi ternyata hanya ada bakal dan bekas rumah yang telah lama ditinggalkan pemiliknya. Yang semula rencananya menginap semalam, akhirnya kembali ke Amutu Besar. Pengalaman pertama naik long boat, perahu dengan lebar tak lebih dari 50 cm, panjangnya berkisar antara 4-5 meter. Ade dan Sirot tampak sekali tegang, mungkin teringat kalau mereka belum sempet tobat.

Aku sendiri memikirkan Mentariku di Jogja. Membayangkan seandainya cerita hidupku benar-benar berakhir di antara rawa-rawa mangrove ini, menjadi santapan buaya. Bukan kematian itu yang aku takuti. Tapi hilangnya kesempatanku untuk menyatakan bahwa aku memikirkannya dalam near death experience- ku. Akhirnya aku sadar mengapa alam bawah sadarku selalu mengajakku pergi ke tempat yang jauh, sangat jauh darinya, mengambil resiko bahwa aku bisa saja tak kembali ke kotanya selamanya. Ternyata jawabannya adalah agar aku punya alasan untuk mengatakan bahwa aku merindukannya, bahwa aku menyayanginya, bahwa aku ingin tahu kalau dia tahu, aku mencintainya.

Malamnya, aku duduk di atas tiang kayu di dermaga. Bersama para pekerja yang baru datang dari pedalaman rawa selama berhari-hari sebelumnya, aku rebutan sinyal untuk mengirim satu pesan saja padanya. Pesan tentang perasaan.

Rabu 5/08/09: jam 08.30 pagi dijemput long boat kembali ke Babo. Rencana berubah. Kakiku mulai melepuh oleh sepatu Banser yang kupakai.
Ada pesan balasan dari Jogja. Terasa menyesak di dada. Tapi tak apa. Itu hak dia.

Kamis 6/08/09: Tidak jadi berangkat ke Wamesa. Tim diperbantukan di Kampung Irarutu, Babo. Denias bergabung tim Wamesa.

Jumat 7/08/09: Hari ini ke wamesa, tapi telat berangkat. Akibatnya di tengah jalan (sungai) macet, air surut. Tiga kali hujan tiga kali reda tambah perut lapar, makan mie goreng mentah-mentah. Hmm.. Selalu ada kesenangan dalam setiap kesusahan. Kami jadi bisa melihat rombongan ikan gabus menyeberang sungai layaknya bisa berjalan, burung elang liar.

Mesin mati. Lengkap sudah penderitaan. We are in the middle of nowhere. Di tengah sungai yang sedang surut, mana mungkin ada warga yang berangkat ke laut?

Untung akhirnya ada perahu beranggotakan aparat kampung yang mau ‘dinas’ ke kota, terlihat ada polisi tak berbaju menenteng senjata berpeluru di anjungan perahu. Perahu kami dapat bantuan busi, mereka dapat beberapa liter bensin kami. Tak ada yang gratis di dunia ini, Kawan!

Tadi pagi berangkat jam 08.30 sampai kampung Idoor ini jam 5 sore. Ah baik sekali warga kampung yang bantu angkut barang dari Jetty sampai ke rumah pak Yan Torembi, perangkat kampung Idoor, yang rumahnya akan kami tinggali.
Malam malam kami mandi di tikungan sungai yang jernih. Tak ada listrik, senter pun jadi. Ah serasa di kolam pribadi, sayang semuanya lelaki.

Dalam bayanganku kampung ini mirip setting dalam novel Devil and Miss Prym-nya Coelho. Sebuah kampung yang tenang, jarang ada pendatang.

Sabtu 8/08/09: hujan deras semalam. Kelima anggota tim tidur dalam kantong masing-masing. Bangun aku langsung ke sungai, lihat orang berangkat berburu dengan 4 anjingnya. Beberapa perempuan yang mungkin saja istri mereka mengiring sambil memanggul setandan pisang sebagai bekal berburu suaminya.

Tidak ada wawancara hari ini karena sebagian besar penduduk pergi berburu atau ke ‘dara’ (dara berarti ke atas atau ke arah hutan. mungkin saja dara berasal dari kata darat. karena untuk menyebut daerah bawah mereka menyebut ‘lau’, aku mengira yang dimaksud adalah laut- sok jadi ahli bahasa). Kegiatan kami hanya membungkus sirih pinang untuk diberikan sehabis pengambilan data.

Malam harinya, rumah di ujung jalan nyetel lagu rohani kenceng-kenceng. Bayangkan seperti mendengarkan lagu anak TPA yang diputar dengan pengeras suara mushola di Jogja.
“Bapa… sentuh hatiku… ubah hidupku menjadi yang baru.
Bagai emas yang murni, Kau membentuk bejana hatiku.
Bapa.. ajari ku mengerti, sebuah kasih yang selalu memberi
bagai air mengalir yang tiada pernah berhenti” anggap saja begitu bunyi liriknya.

Semoga tidur kami malam ini diliputi Kasih Tuhan hingga esok pagi.

Minggu 9/08/09: mulai turun wawancara jam 10 pagi selesai jam 3.30 sore. Aku dan Agus berencana ke air terjun yang katanya pernah atau akan digunakan sebagai pembangkit listrik. Kami nyaris sampai, sudah terdengar grojokan suara airnya. Tapi kami urungkan karena harus menyebrang sungai. Sebenarnya lebih karena sudah kehilangan mood gara-gara jauhnya perjalanan berlumpur. Penduduk bilang jaraknya sekitar 500 meter saja dari kampung. Ternyata kami salah kira. Kami harus mengalikan jarak 2 kali lipat dari apa yang mereka katakan. Kaki papua beda dengan kaki jawa.

Horeee…. Ada listrik malam ini. Waktunya recharge batere kamera.

Senin 10/08/09: bangun lebih pagi, sholat, tidur lagi! Hahahaha
Jam 8 turun lapangan setelah putus asa menunggu sarapan dihidangkan. Kami tidak menyangka kalau pisang rebus setengah matang dan the panas tadi itulah sarapan kami. Tidak banyak data karena orang-orang pergi ke dara. Sore harinya cover data. Malamnya kami harus siap-siap packing, besok pagi harus berangkat jam 7 mumpung air sungai sedang pasang.

Makan malam terakhir begitu memuaskan. Sebenarnya lauknya sama dengan kemarin, nasi yang kami bawa dengan sekaleng sarden. Pak Yan sekeluarga makan pisang setengah matang direbus. Lauknya sayur bambu tanpa bumbu.

Subhanallah! Begitu sederhana kehidupan desa ini. memakan apa yang alam sekitar mereka berikan. Sagu, pisang, pucuk ubi (daun singkong), ikan, terkadang rusa atau babi yang mereka ambil seperlunya. Aku merasakan kehidupan di mana uang kehilangan nilainya. Mereka merasa cukup dengan apa yang sudah mereka punya, rumah, pakaian dan makanan. Kalaupun punya banyak uang, toh tak ada barang yang bisa dibeli. Hampir semua rumah memiliki barang yang sama. Tak perlu iri dengan sesama, karena rumput tetangga sama hijaunya.

Keluarga ini memberi kami apa yang mereka makan, kami pun berlaku sama. Tapi tiba-tiba Ance, putri bungsu Pak Yan menangis ketika Matius, kakaknya, membawa sepiring kuah sarden. Lagi-lagi aku merasa bersalah karena hanya bisa berbagi sedikit saja ‘makanan kota’.
Mereka makan pisang kapok rebus setengah matang dicocol ke kuah sarden.

Wahai…! Nikmat mana lagi yang engkau ingkari?!

(misi di kampong Idoor selesai. Perjalanan selanjutnya akan dimulai di Yensei. Ada cerita tentang sepakbola orang papua, kondisi sekolah di sana atau ketegangan kami dengan perangkat desa. Tunggu saja.)

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s