Cerita Papua #2


Selasa, 11/08 ‘09
Perjalanan menuju kampung Yensei. Longboat kandas. Jadilah kami mati gaya menunggu air pasang. Tengah hari longboat merapat di jetty (dermaga kecil) dengan air berwarna bening kebiruan. Rombongan kami diserahterimakan pada tetua kampung. Warga, yang semula bekerja menokok sagu di kebun, berdatangan membantu angkut barang. Lumayan berat karena dari jetty langsung disambut puluhan anak tangga naik menuju kampung. Kami tinggal di rumah panggung milik Artaban Kinderway, mantan Sek-Kam (sekretaris kampung) yang pernah merantau ke Jawa.

Selanjutnya, acara ramah tamah. Di teras rumah beralas pelepah pinang milik pak Artaban, warga yang tadi membantu ‘angkat-junjung’ berkumpul. Kami menyampaikan maksud kedatangan, sikap mereka datar. Kami keluarkan sirih pinang, baru mereka tertawa senang. Sambil bertelanjang dada mereka mengunyah irisan pinang sampai ludah mereka berubah merah. Ternyata ini alasan warga menggunakan lantai dari pelepah, agar bisa meludah di sela-selanya.

Sore harinya kami berlima mandi di bendungan calon PLTA. Yulianus, anak pak Artaban, mengantar kami ke sana. Belum juga PLTA itu berfungsi, tapi talud kecil di sekitar bendungan sudah ada yang ambrol. Sigh!

Rabu, 12/08 ‘09
Bangun tidur, tidur lagi. Bangun lagi, ganti pokeran pagi-pagi.
Jam 8 mandi di air terjun kecil nan deras, lagi biru airnya. Saat yang tepat untuk mencuci kaos, sarung, dan CD yang sudah bolak-balik dibalik. 60 menit kemudian kembali ke rumah, gerimis mengiringi. Di rumah, sarapan kuah udang asli dari kali siap menanti.

Ternyata sandal Eiger jelek!! Hampir saja aku terpeleset, padahal hanya meniti batang kelapa.

Seharian turun lapangan. Sirih pinang siap!

Sore hari main sepakbola dengan anak-anak SD Yensei di lapangan depan SD YPK Bintuni. Lapangan sepakbola yang aneh, antargawang tidak berhadap-hadapan. Itupun lapangan kami dibatasi lapangan voli yang juga sedang dipakai para pemuda kampong. Tragis, selain rebutan bola sepak juga rebutan lapangan.

Anehnya lagi, semua kawan dan lawanku tampak seperti Boaz Salosa. Bertubuh kecil, gesit, hitam, ingusan, hidup lagi. Hahaha. Aku setim dengan Ade melawan Agus dan pasukan Boas-nya. Ade lebih dulu menyerah dan akhirnya timku juga kalah.

Aktivitas malam hari dibuka dengan mbah Sirot yang membacakan ramalan jodoh dengan kartu remi. Satu persatu kami mencoba peruntungan perempuan-perempuan untuk kami jadikan pasangan. Sesi ramal melamar eh meramal selesai, jam’iyah pokeran segera dimulai.

Kamis, 13/08 ‘09
Pagi hari menuntaskan sisa kuesioner. Aku menemui kepala SD Yensei, Pak Yacob. Selain data yang dibutuhkan, dari beliau aku jadi sedikit tahu kondisi pendidikan di pedalaman Papua, setidaknya di Yensei ini.

SD Yensei hanya memiliki 3 lokal ruang kelas, otomatis 1 ruang untuk 2 kelas. Dalam 1 ruang terdapat 4 deret bangku ke belakang. Dua bangku untuk kelas I, III atau V. Sedang sisa 2 bangku untuk kelas II, IV, atau kelas VI.

Sekarang hari Kamis, tapi tidak sedikit kulihat murid berseragam PRAMUKA. Rupanya warna seragam tak jadi soal dalam aturan sekolah. Begitu pula alas kaki, mau pakai sepatu dari kulit buaya, kulit rusa atau kulit manusia terserah. Yang penting masuk!

Di teras kelas duduk dengan tenang 3 ekor anjing milik Pak Yacob. “Awas anjing galak! Jangan coba-coba bolos!” mungkin begitu maksudnya.

SD ini memiliki 3 orang tenaga pengajar, termasuk kepala sekolah. Namun sudah 2 bulan terakhir, dua guru yang lain tidak mengajar. Dengan alasan pergi ke Bintuni (pusat kota) untuk urusan dinas yang tidak jelas TUPOKSI-nya. Pak Yacob terpaksa meng-handle seluruh kelas. Bayangpun!! Satu orang mengajar 6 kelas.

Jam 10 aku pamit dari rumah pak Yacob. Pulang, edit data, lapor ke bos kecil dan segera berkemas untuk moving ke kampung berikutnya, Yakati.

Beberapa warga Yensei mengantar kami sampai di jetty. Kami sempat foto bersama. Dengan lambaian tangan yang mengharukan, para Ibu melepas pandangan ke longboat yang kami tumpangi.
Di ujung muara, lagi-lagi kandas. kali ini lebih parah. Kami harus menunggu dari semula daratan hingga air menutupi dan bisa dilewati longboat. Tengah hari longboat merapat ke jetty kampung Yakati.

Hari sudah petang, tapi bapak-bapak ini masih saja duduk di bangku kayu milik pak Sek-Kam. Menanti kami melahap nasi dengan lauk dendeng rusa dan kuah ikan. Si bos kecil tiba-tiba kehilangan mood makan, “Ini bukan soal halal haram. Lagi ga pengen makan rusa aja,” kilahnya.

Kami dan para warga hanya duduk diam dalam kegelapan petang. I hate this silence! Apa memang seperti ini cara mereka menyambut tamu? Atau ini hanya cara mereka menanti another free tobaccos?!

Dalam hati aku mengumpat, “Sial, apa mereka gak mikir kalo aku terlalu capek dalam perjalanan. Kepanasan di sungai lumpur. Atau setidaknya biarlah kami istirahat barang sejenak.”

Jumat, 14/08 ‘09
Pagi ini terjawab sudah kenapa semalam sikap mereka tidak bersahabat. Rupanya kampung ini sudah beberapa didatangi orang. Entah atas nama pemberdayaan atau LSM pusat untuk pendataan, tapi tidak pernah ada kelanjutannya. Akhirnya permasalahan prosedural birokrasi ini terselesaikan setelah Bapak BAPERKAM (Badan Perwakilan Kampung) melihat surat tugas kami. Dari cerita Ade, Bapak Baperkam ini cukup royal, suka minum-minuman, bahkan dengan bangganya menunjukkan 1 krat persediaan bir miliknya. Denger-denger punya dua maitua (istri). Ahahaha.

Ini adalah jumat ketiga aku tidak jumatan secara berturut-turut. Murtad gak ya? Abis mau gimana? mushola saja tidak ada.

Sabtu, 15/08 ‘09
Langit pagi ini sangat mendukung untuk tetap mendekam dalam kantong tidur. Di luar mendung, udara dingin menerobos celah dinding kayu. Aku tak tahu pasti, tapi kira-kira sekarang baru jam 8 pagi. Tiba-tiba terdengar suara jendela kamar yang juga dari kayu diketuk orang. Terdengar suara cukup lantang,

“Bangun! Bangun! Aduh, anak mahasiswa kok masih tidur.”

Kami bangun dengan penuh rasa malu campur jengkel. Sejak kapan orang kampong ngurusi kapan kami, ‘para peneliti’ bangun pagi. Mereka tidak tahu saja kebiasaan kami ketika sedang berstatus ‘mahasiswa’.

Kami bergegas ke tempat mandi milik bersama. Sengaja tidak pakai kata kamar mandi karena memang tidak ada kamar, bilik, atau sejenisnya. Terletak di ujung kampung depan lapangan SD dekat hutan, tempat mandi ini berbentuk sendang (kolam). Sebenarnya ini adalah aliran sungai kecil yang airnya dibendung dalam kolam berukuran 2×3 meter. Jika air dalam kolam penuh, tumpahannya ya jadi sungai lagi. Air dari sini digunakan untuk mandi dan cuci. Tapi tiap pagi sekali sebelum airnya tercemari, warga antri mengambil air dengan jerigen untuk dimasak.

Jam 10 lebih, kami diantar pak Sek-Kam menuju kampung Mamuranu. Lewat sungai rawa lagi, naik longboat lagi.

Sampai di kampung tujuan, kami disambut warga di rumah Bapak Kampung. Ada firasat buruk di awal pertemuan. Tapi untunglah ada pak guru Etty, alumni Universitas Atma Jaya Jogja, yang membantu menjelaskan posisi kami. Satu catatan lagi, ternyata posisi guru di kampung sangat dihormati warga.

Kami diberi rumah tinggal di kantor koperasi buatan Dinas Kelautan yang sudah lama berubah fungsi jadi gudang. Posisi bangungan ini tepat di samping jetty. Jika malam tiba, di mana air sungai berubah pasang, praktis kami tidur di atas air sungai. Jadi kalau tiba-tiba tengah malam terbangun ingin buang air, tinggal buka pintu dan resleting.

Tapi sejak di sini, invasi Agas semakin mengganas. Binatang yang tak lebih besar dari nyamuk ini gigitannya dahsyat. Awalnya hanya terasa gatal. Lalu keluar bentol merah yang sangat menggoda untuk digaruk. Makin digaruk makin gatal. Jika sudah lecet, itulah tandanya sebentar lagi borok menempel di kulitmu.

Jika sudah begitu, bolehlah kamu pamer satu tanda mata bahwa kamu pernah di Papua.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

3 thoughts on “Cerita Papua #2”

  1. ditunggu saja sodara sodara

    saya masih tepar baru datang dari madura. juga dengan cerita2 tentunya.😛

  2. Ndak da cerita di gagahi (dilompati) kanguru ni wkikikikik…

    *jadi penasaran tanda matamu neng Papua sebelah ndi am???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s