Jadi, begini tho rasanya terbang !


Saya ingin terbang. Terbang dalam arti sebenarnya. Saya ingin melayang di udara. Pergi kemana saya suka. Bebas bergerak dari ujung satu ke ujung yang lain, kanan-kiri, atas-bawah, timur-barat, selatan-utara. saya ingin terbang ke puncak tebing tertinggi lalu terjun bebas, menukik ke dasar jurang, menari lincah menghindari bebatuan, menyelisip di antara pepohonan. Lalu melesat lagi ke angkasa, menyusul burung-burung baik yang dalam kawanan atau yang terbang sendirian.

Akibat keinginan terbang saya yang tak terhadang, sering saya berimajinasi sedang terbang. Semasa SMA dulu, sore-sore saya sering datang ke bangunan paling belakang di SMA 1 Jepara. Di samping aula ada papan untuk latihan panjat dinding anak-anak SASPALSARA. Saya panjat dari samping, bukan dari tiruan batuan tebing yang terpasang. Tujuan saya tentu saja puncak dari tiang beton ini. Di ketinggian 4-5 meter ini, saya berdiri di atas titian beton selebar 20-25 senti dan panjang 150 senti. Masih dengan posisi berdiri, perlahan saya rentangkan kedua tangan berusaha menyeimbangkan badan. Dari sini hembusan angin sudah terasa lebih kencang menerpa wajah. I pretend to fly, now!

Dua atau tiga tahun yang lalu, saya sudah kuliah di Jogja. Pernah suatu waktu saya pergi ke pantai terdekat, sederetan Parangtritis-Parangkusumo. Saya berangkat berdua dengan sepeda onta. Sampai di sana saya bermain bersama, lagi-lagi dengan sepeda onta. Saya belajar mengayuh sepeda di dataran pasir. Sungguh tidak mudah. Akan lebih mudah jika di atas pasir yang masih basah. Setelah terbiasa, saya mencoba lepas tangan di atas sepeda, lalu sesekali menutup mata. Still, I pretend to fly, now!

Sejak saat itu, saya suka bersepeda keliling Jogja dengan lepas tangan. Seolah sepeda silver, pemberian mas Rizal, kini menjadi satu dengan tubuhku. Dua rodanya adalah perpanjangan kakiku. Silva, begitu aku memberinya nama, seperti punya jiwa yang terhubung dengan pikiranku, dengan mana aku bebas menyuruhnya belok kanan atau kiri, sedikit melompat jika ada ‘jendhilan’ di depan. Manunggaling sepeda lan sing numpaki, meminjam istilah syekh Siti Jenar. Inilah bentuk kesatuan dan penyatuan antara kendaraan dan pengendara, antara yang digerakkan dan yang menggerakkan, antara hidup dan pelaku kehidupan. Yeah, I learn to fly among lifes.

Setahun yang lalu, saya mendapat kesempatan mampir di wahana bermain Kings Island, semacam Dufannya Amerika. saya tertantang untuk menjajal permainan yang berhubungan dengan ketinggian dan kecepatan, Son of Beast dan Diamondback adalah 2 rollercoaster diantaranya. ini kali pertama dalam hidup saya naik rollercoaster. FYI, Son of Beast adalah rollercoaster dengan penyangga kayu, puncak tertinggi 66 meter dengan kecepatan maksimal 126 km/jam. Sementara Diamondback, rollercoaster tanpa sabuk pengaman, hanya semacam tongkat besi di antara kedua kaki yang mengunci pinggang. Mulai perut ke atas bebas bergerak. Ular besi ini bergerak dengan kecepatan maks. 130 km/jam sepanjang 1,610 meter dengan sudut kemiringan paling ekstrem 74 derajat. Here, I felt fly sensation, physically.

Sejujurnya, saya bukan manusia pertama, apalagi satu-satunya, yang terobsesi untuk bisa terbang. Adalah Yves Rossi, mantan pilot tempur berkebangsaan Swiss yang menciptakan mesin terbang yang ia beri nama Jet-man. Dengan Jet-man buatannya, ia berhasil terbang solo di atas pegunungan Alpen dengan kecepatan 70 km/jam. Lalu ada Gennai Yanagisawa, penduduk Jepang berusia 75 tahun yang berhasil membuat mesin terbang bertenaga 125 CC. Helikopter mini ini mampu menerbangkan manusia hingga ketinggian 1000 meter dengan kecepatan 90 km/jam. Yanagisawa terinspirasi oleh, rancangan sayap yang bisa dipasang di punggung manusia, karya Leonardo da Vinci yang ternyata memiliki obsesi menerbangkan manusia (www.gbihfc.org). Ada juga kisah Wright bersaudara yang akhirnya dinobatkan sebagai penemu pesawat terbang.

Dalam karya fiksilah, sepertinya, obsesi manusia terbang bermula. Seperti misalnya novel From The Earth to The Moon karangan Jules Verne. Novel yang diterbitkan tahun 1865 itu mendongengkan kisah manusia yang bisa pergi ke bulan. Jauh lebih tua lagi ada mitologi milik bangsa Yunani tentang Daedalus dan Icarus, anaknya. Konon, Daedalus adalah seorang insinyur yang hebat di kerajaan/negara Kreta. Singkat cerita, karena suatu hal Daedalus beserta Icarus dikurung dalam penjara labirin buatannya sendiri. Berhubung labirin tersebut Daedalus sendiri yang merancang, mudahlah baginya menemukan jalan keluar. Masalahnya adalah jalan darat dan laut di luar labirin sudah dikepung rapat oleh tentara kerajaan. Satu-satunya jalan keluar yaitu lewat jalan udara. Kemudian Daedalus menciptakan suatu alat yang bisa menerbangkan dirinya dan Icarus (winwannur.blog.com).

Kembali pada obsesi personal saya tentang terbang, kira-kira seminggu yang lalu saya terbang. Tanpa sayap. Tanpa alat. Hanya tubuh saya (lebih tepatnya tubuh dalam mimpi saya). Yah, saya bermimpi sedang terbang. Rasanya seperti sedang menyelam tapi bukan di dalam air. Tubuh saya bebas meluncur dari atas permukaan menuju dasar yang paling dalam. Saat itu yang saya rasakan adalah ringan tanpa beban. Bebas tanpa batas. Tak ada perasaan takut pada apapun, pada siapapun. Tak takut menabrak, tak khawatir dilabrak. Tak takut ditinggalkan, tak ragu meninggalkan. Mungkin itu yang dirasakan jiwa ketika terbebas dari wadagnya, keluar dari belenggu ragawi, lepas dari nilai-nilai buatan yang disematkan. Tak ada lagi yang harus dirisaukan karena semua, selalu dan, akan baik-baik saja. Jadi, begini tho rasanya terbang?!

Kota sejuta romansa, 9 juni 2010

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

4 thoughts on “Jadi, begini tho rasanya terbang !”

  1. Eh, Am.. sama..
    bukan soal pengen terbangnya..tapi pengalaman “mirip” terbang yang kamu alami.

    Aku pernah ngalami juga, beberapa kali malah. Tapi terakhir kalinya sudah lama, mgkn sepuluh tahun yang lalu.

    Biasanya tuh kejadian kalo aku tidur hangat-hangat suam-suam kuku hehe.. Tiba-tiba aku merasa tubuhku terangkat, sekitar 2 meter di atas permukaan tanah, dan aku bisa melayang. Walau kecepatannya tidak tinggi, tapi rasanya asyik juga tuh.. Asyiknya karena aku beneran merasakan serunya berusaha mengendalikan tubuhku: antara agar tetap seimbang dan dan tetap melayang DENGAN agar tidak benar2 bangun ataupun benar2 tidur.

    Sayang sekali..sudah lama aku tidak mengalaminya.. Mungkin hati dan pikiranku sudah tergelendoti terlalu banyak hal, sehingga aku tak bisa mudah meringankan tubuhku (walau hanya di alam separuh mimpi).

    1. hohoho… it’s not easy to be superman ternyata.
      emang asyik kok. kalo yg mimpi terbang sebelumnya, malah rasanya kayak liat google earth.

      ceritanya aku sadar kalo lagi mimpi, jadi kugunain buat nyari rumah seseorang. aku terbang ke atas jalan solo buat liat dimana genteng rumahnya. aku inget banget keliatan atapnya AMPLAZ, trus aku langsung meluncur ke bawah. tapi sampe bawah malah bingung lagi. belum sampe ketemu udah bangun duluan.
      hehehe.

  2. Ndak lengkap rasanya ndak sekalian komen di-blog :D…

    Situh bilang son of Beast and diamondback.,, saia jadi pengen ke Dupan-yang beneran :))… Nyoba wahana baru Hysteria..

    Glad to life in Jakrata😀

    1. itu juga ada di sono, hysteria di dupan cuma ampe 60 meter. kurang nendang ah.
      tapi aku belum pernah ke dupan sih. anterin dong oom..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s