Lalu Mengapa Kita Sholat


Seorang kawan kemarin mengajukan pertanyaan. Dia mengajukan pertanyaan yang intinya ada hubungannya nggak sih sholat dengan kelakuan seseorang? kenapa ada orang yg rajin sholat tapi tetep aja maksiat, tetep aja korupsi, tetep aja judes, tetep aja sering nyakiti orang. Sementara tidak sedikit orang yang jarang, bahkan tidak pernah, sholat (misal bunda Teresa, atau siapa aja deh) tetapi kelakuannya baik, suka membantu orang, tak membeda-bedakan dalam berteman, dan wajah mereka memancarkan keteduhan.

Marisa bertanya:
Ah Niam…yang menggelitik hatiku adalah kenapa ada sebagian dari kita ntu ada yang shalat dan tidak. Toh yang ndak shalat itu aja terkadang banyak yang baik. Kebaikan tak dilihat dari banyak dan tidaknya shalat. Terus kenapa kita shalat Am?

Saya pun menjawab:

hmm… begitu ya?!
padahal di al-qur’an disebutkan bhw sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. tapi kenyataannya masih bnyak orang yg sholat tapi tetep aja ngelakuin maksiat. Kalau begini apanya yang salah? apakah ayat al-qurannya salah? atau orangnya yang melakukan sholat dengan salah sehingga tidak meninggalkan bekas apapun?

well, sholat (dan ritual ibadah lainnya) itu terdiri dari syari’at dan hakikat. syari’at adl syarat, rukun, tata cara yang meliputi gerakan maupun bacaan yang harus dipenuhi. sementara hakikat adl kondisi batin, pikiran, atau makna yang tersirat dari tiap gerakan/bacaan.

syari’at dan hakikat kedua-duanya harus dipenuhi untuk bisa memberikan manfaat dan hasil nyata dalam tindakan keseharian orang yang melakukan ibadah. syariat dan hakikat ibarat kulit dan biji dari suatu benih, atau kulit dan isi telur. kulit tanpa isi tidak akan bisa tumbuh menjadi pohon yang berbuah.

Jika kita banyak melihat orang yg sholat tapi kelakuannya tidak baik, sangat mungkin dia sholatnya hanya ‘rubuh-rubuh gedang’ alias asal jungkir balik. Sholatnya hanya menggugurkan kewajiban, hanya karena kebiasaan, atau mungkin takut pada penilaian orang-orang sekitar.

Lalu kenapa ada orang yg tidak sholat tapi kelakuannya baik? mungkin saja dia sudah melakukan hakikat dari gerakan/bacaan sholat. meskipun mungkin dengan ritual yang lain (misal untuk orang non-muslim). orang-orang seperti ini senantiasa merendahkan hati, mengakui kelemahan diri, tulus dalam bergaul dengan sesama. mereka juga menghargai waktu, bersikap kompak dan serempak, bersungguh-sungguh jika dipercaya untuk memimpin dan rela untuk dipimpin.

Jadi, bolehkah kita sebagai muslim hanya mengamalkan hakikat sholat tanpa melakukan syari’at (mulai dari takbir hingga salam)? tentu saja tidak boleh. selain karena hakikat tidak bisa berkembang tanpa ada bentuk syariat, kita melakukan gerakan sholat di tiap-tiap waktu yang telah ditentukan itu sebagai bentuk kepatuhan hamba kepada penciptanya. Ingat, Iblis dikeluarkan dari surga karena dia menolak bersujud kepada Adam, yang notabene sama-sama makhluk. Iblis dilaknat bukan karena kesombongan Iblis atas Adam, tetapi karena penolakan Iblis (untuk sujud kepada Adam) adalah penolakan atas perintah Sang Penciptanya. Benar bahwa adam hanyalah makhluk, sama seperti Iblis. sujud kepada Adam bukanlah penyembahan/penghormatan kepada makhluk tetapi sebagai bentuk kepasrahan, kepatuhan melaksanakan perintah Tuhan tanpa syarat.

Jika kita masih mengaku sebagai muslim, maka tunaikan sholat, kapanpun, dalam kondisi apapun. Karena sholat adalah syarat bagi seseorang untuk tetap diakui sebagai orang Islam.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “Lalu Mengapa Kita Sholat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s