Tuhan Baik, Tuhan Jahat


Sekitar 4 tahun yang lalu saya juga pernah dimintai penjelasan oleh seorang kawan yang physically tidak saya kenal. Saya hanya tahu bahwa dia satu almamater dengan saya di SMA 1 Jepara. Melalui pesan Friendster dia bertanya sebenarnya untuk apa sih kita hidup. Untuk apa kita sholat jika tidak paham artinya, jika masih saja sering menyakiti orang lain, memusuhi orang, dan perbuatan lain yang merugikan.

Sungguh pertanyaan yang berat bagi saya. Berat karena pertanyaan tersebut berkaitan dengan alasan mendasar dari eksistensi (raison d’etre) kita di dunia. Untuk apa kita hidup, adakah tujuan tertentu dari kelahiran kita, lalu dengan cara bagaimana kita menjalani kehidupan ini. tetapi karena pertanyaan sudah terlanjur diajukan, saya hanya percaya bahwa mungkin saja Tuhan menitipkan jawabannya pada saya.

Untuk apa kita hidup?

Saya yakin sebagai muslim, kita pernah mendengar ceramah bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah bisa diartikan sebagai pemimpin, atau makhluk yang mengatur segala urusan di bumi. Kata khalifah, secara harfiah justru berarti pengganti atau wakil. Jadi keberadaan manusia di dunia adalah untuk menjalankan fungsi dari sifat-sifat Tuhan, baik sebagai Tuhan yang baik maupun sebagai Tuhan yang jahat (meskipun konsep baik dan jahat sendiri pada akhirnya hanya tinggal konsep pembeda).

Tuhan kok jahat?!

Pertanyaan seperti ini sering dihindari oleh kebanyakan dari kita. Selama ini, sedari kecil hingga dewasa sekarang ini, kita diajari, ditunjukkan, didoktrin bahwa sifat Tuhan itu Pengasih lagi Penyayang, Pemurah, Pengampun, Pemberi rejeki, Pemberi petunjuk dan sifat baik yang lainnya. Segala bentuk kebaikan yang ada di dunia adalah dari Tuhan, lain tidak. Memang benar bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat baik, tetapi yang seringkali diabaikan (atau mungkin sengaja tidak diajarkan) adalah kenyataan bahwa Tuhan juga memiliki sejumlah sifat jahat. Bahwa Tuhan juga bersifat Pemaksa (Al-qohhar), Pembuat bahaya (Adh-Dharru), Menyempitkan/membuat kesusahan (Al-qobiidlu), Penyiksa (Al-muntaqimu) dan lain sebagainya. Lazimnya, manusia menyematkan sifat-sifat jahat pada makhluk yang disebut setan. Lebih parah lagi, jelas-jelas manusia yang berbuat salah, bukannya insaf malah menyalahkan setan. “ini pasti gara-gara godaan setan,” kilah manusia.

Inilah yang disebut sebagai dualitas Tuhan, Dzat yang baik sekaligus jahat. Begitu juga dengan kehidupan di bumi, ada yang baik ada pula yang jahat. Baik dan buruk adalah dua hal yang tidak akan pernah hilang dari muka bumi. Bukankah sesuatu dianggap baik jika ada, sesuatu yang lain, yang dianggap jahat/buruk? Baik dan buruk adalah keniscayaan dalam kehidupan dunia. Keduanya harus ada karena hanya di alam dunia, manusia mempelajari nilai-nilai yang berguna untuk kehidupan akhiratnya. (siapa tahu kelak di akhirat sudah tidak ada lagi istilah baik dan buruk, karena hakikat keduanya adalah satu. Ingat lagi dualitas sifat Tuhan tadi.)

Satu hal lagi yang perlu diingat dalam memahami kebaikan dan keburukan di dunia, bahwa alam semesta bekerja berdasar pada hukum keseimbangan. Alam semesta memiliki mekanisme tersendiri (boleh juga disebut sunnatullah) untuk menjaga keseimbangan. Contoh sederhananya keseimbangan rantai makanan. Perubahan jumlah populasi pada jenis makhluk tertentu akan mempengaruhi populasi populasi makhluk yang lain pula. Meminjam teori kelasnya Karl Marx, kehidupan adalah perjuangan/pertentangan atau tarik menarik kepentingan satu kelompok atas kelompok yang lain demi memperoleh titik keseimbangan, bukan untuk saling meniadakan.

Kembali ke pertanyaan untuk apa kita hidup. Bahwa manusia diciptakan sebagai perwujudan tangan-tangan Tuhan yang bekerja di dunia. Manusia tercipta lengkap dengan potensi Ilahi (ruh Ilahi) sekaligus nafsu hewani di dalam dirinya. Tiap manusia mengemban misi masing-masing entah sebagai ‘tangan baik’ atau ‘tangan buruk’ demi keseimbangan kehidupan di bumi. Bisa jadi seseorang memang perlu mendapat perlakuan buruk agar dia belajar sesuatu. Perempuan (mungkin) perlu merasakan diputus dan dikhianati agar ia belajar bahwa ia harus hati-hati menghadapi bualan laki-laki. Sebaliknya, lelaki (boleh jadi) harus menghadapi kenyataan bahwa pasangannya ‘main hati’ dengan Pria Idaman Lain alias PIL agar ia paham betapa sakitnya perasaan perempuan yang dipoligami.

Saya kok berkeyakinan bahwa tidak ada manusia yang melulu baik atau melulu jahat dalam hidupnya. even, mereka yang memang terlahir sebagai penjahat. ibarat sebuah garis, baik dan buruk adalah dua ujungnya, kehidupan manusia adalah perjalanan dari satu ujung ke ujung yang lain. Makhluk hidup memiliki kodrat untuk selalu berkembang ke arah yang lebih rumit, kompleks, dan sempurna.

Lalu apakah kita bisa sesuka kita berbuat buruk dengan alasan sedang berperan menjadi ‘tangan jahat’ Tuhan? sengaja menyakiti orang lain seolah mereka pantas mendapatkannya? sengaja merusak tempat orang lain karena dianggap tempat maksiat?

Well, meskipun saya tidak menganjurkan tapi silakan saja. Asal tahu saja bahwa ada hukum keseimbangan yang bekerja. Siapa memberi dia menerima. Siapa menabur angin, dia menuai badai. Asal siap dengan konsekuensinya dan tidak menyesal jika konsekuensi itu datang. It’s your life, your choice. Be aware! whatever your choice, it’s always wrong!

Yogyakarta, 14 Juni 2010

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s