Pasangan (tidak) Waras


Kulitnya coklat tua, gosong tiap hari terpanggang matahari. Rambutnya panjang tapi tumbuh jarang-jarang. Hidungnya mbangir, tipikal paruh kakaktua. Dari wajahnya jelas tidak bisa dikatakan masih muda. Ia memakai setelan baju lengan panjang merah marun dan celana panjang warna gelap. Ia datang bersama 2 anak kecil dengan wajah sama dan seorang perempuan muda yang tampak selalu tertawa.

“Saya selalu trenyuh tiap kali mendengar orang ngaji” akunya mengawali obrolan kami. Rupanya suara cempreng dari pengeras suara mushola Ibnu Sina FKU UGM ini yang mengundangnya ke sini. Ada kerinduan pada suasana kampung halamannya, di Madura sana.

Muskhomis, begitu lelaki tua itu mengenalkan namanya. Kelahiran Madura tetapi sudah ‘lelana’ sejak usia muda. Muskhomis pernah nyantri di Krapyak barang 1-2 tahun hanya untuk belajar ngaji Al-Fatihah. “jaman dulu tiap kali salah pasti dapat (pukulan) rotan,” kenangnya. selanjutnya Muskhomis mengelana dari satu kota ke kota lain, dari pesantren ke pesantren di Jawa sampai akhirnya kembali ke Jogja lagi.

Bapak 8 delapan anak ini berpesan bahwa cara terbaik untuk menjalani hidup adalah dengan berbahagia. Tidak ada alasan untuk tidak merasa bahagia dalam hidup. Semua sudah disiapkan oleh Allah, manusia tinggal menjalani saja. Tiap anak (manusia) yang lahir membawa rejeki, termasuk penyakit, masing-masing. “Jadi tidak ada itu yang namanya penyakit turunan.” Semua sudah sesuai dengan skenario hidup masing-masing. Karena tidak ada yang namanya penyakit turunan maka, insyaallah semua penyakit bisa disembuhkan.

“Istri saya itu” katanya sambil menunjuk perempuan di bawah tiang mushola, “orang stres, nggak waras.”

Awalnya saya mengira ucapan bapak ini bercanda. Tapi setelah saya menoleh, melihat dan mengamati dengan seksama tingkah perempuan yang dimaksud, saya cenderung untuk mempercayainya.

“Bagaimana Bapak bisa ketemu dengan istri bapak itu?” tanyaku ingin tahu.

Muskhomis lalu menceritakan kisahnya. Waktu itu ia sedang nyantrik di salah satu pesantren di Magelang. Di sana ada perempuan stress yang mungkin sedang ‘diobatkan’ ke kyainya. Singkat cerita, Muskhomis meminta ijin kyainya untuk ngrumat perempuan itu. “saya rawat dia dan tentunya riyadloh pada Allah” terangnya tentang bagaimana dia mengusahakan kesembuhan pasangannya.

“Kenapa kok malah milih orang yang ‘tidak waras’?” saya masih penasaran alasan di balik keputusan nyleneh tersebut.

“Justru orang yg mencari pasangan yg waras di jaman sekarang adalah orang tidak waras” jawabnya spontan.

Orang (yang dianggap) tidak waras itu lebih penurut, mau diatur, lebih mudah digenahke. Sementara orang yang waras, karena sok bersikap serba rasional, suka sekali mendebat, membantah, mau menang sendiri, maunya dituruti, memoroti, bahkan tidak sedikit yang mengakali. Coba perhatikan siapa saja orang yang melakukan korupsi, selingkuh, merekam video mesum dengan selingkuhan, dan semua perbuatan gila? Bukankah para pelakunya adalah orang yang selama ini dianggap waras oleh lingkungannya?

Lalu siapakah yang lebih tidak waras, orang yang memilih orang tidak waras untuk diwaraskan atau orang yang memilih orang waras tapi tingkah lakunya membuat pemilihnya jadi tidak waras?!

“Alhamdulillah, saya pernah gegar otak karena jatuh,” Muskhomis menceritakan pengalamannya yang lain. saya kagum padanya yang selalu menganggap semua hal adalah anugrah, bahkan gegar otak saja dianggap hadiah yang patut disyukuri hingga ia menjadi seperti sekarang. Gara-gara gegar otak itu, ia merasa seperti berada di alam lain selama 3 tahun. Selama itu dia akan mudah marah, untuk tidak mengatakan mengamuk secara membabi buta, terhadap orang-orang yang sombong. sampai akhirnya dia dibawa oleh keluarganya ke salah satu kyai untuk ‘diobati’.

“Waktu itu hanya dengan melihat air putih yang dibawa Kyai saja, saya langsung takut bukan main. nggak tahu kenapa. tapi alhamdulillah setelah dirawat di sana saya bisa sembuh”

Sejak saat itu, Muskhomis memutuskan untuk pergi lelana keluar dari Madura. Meninggalkan ayahnya yang katanya pejabat bea cukai waktu itu. Kini Muskhomis sehari-hari mencari rejeki sebagai tukang parkir di sekitar RS. Sardjito. Ia tak pernah risau berapapun pendapatannya. Rejeki hari ini untuk hari ini, rejeki esok hari ya dicari esok lagi.

Sekarang hari masih siang, masih ada waktu hingga sore hari untuk mencari rejeki. Mungkin masih ada 5 atau 10 kendaraan akan parkir di lahannya, yang tentu hasilnya lumayan untuk beli lauk makan anak istri. Tapi Muskhomis memutuskan untuk tetap di sini, menemani kami mengaji.

Kota Sejuta Romansa, 27 Juni 2010

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s