A Truly Friend of Human


Loneliness is a truly friend of human. Faithfully, it keeps away waiting while you’re with another. But, it will come to you right after the other human leave you behind. (Young Falcon: 2010)

-:(in the middle of thousands trees of tea):-

“Yahh, kumat lagi deh!” gerutu Ical ketika menyadari ada seorang yang mendadak hilang dari ruangan.

Mudah saja bagi Ical mengendus ketidakhadiran satu orang dari 17 teman lamanya semasa SMA. Lagipula seorang itu adalah orang yang ia pasrahi mengurus acara. Acara reuni setelah 5 tahun lulus bersama dari SMA Negeri kebanggaan di kotanya. Tiga bulan sebelumnya, Ical pernah kesal, juga oleh orang dan tingkah yang sama. Di tengah suasana kumpul bareng orang yang itu-itu juga, tertawa lepas, tapi dia memilih diam seketika. Ibarat ada pengemis dalam ruangan pesta orang-orang kaya, merusak suasana.

“Siapa yang melihatnya keluar?” Ical bertanya sambil menyapu pandang wajah kawan-kawan.
Tak ada jawaban.

Vian menarik selimut merah ke atas kaki. Rupanya dingin mulai merayapi kaki hingga ke hati. Acuh.

“Ada yang ingat kejadian terakhir sebelum ia keluar?” Kini Ical memandang Inu seolah pertanyaan itu ditujukan khusus untuknya.

“Seingetku waktu itu Iyus bilang pengen nyetel tivi” jawab Inu.

“Trus?”

“Trus ya dia keluar.”

“Ah, ya sudah lah!” Ical keluar dari villa. Entah mau mencari tahu atau jengah tak mau tahu.

Sementara itu, Eka, lelaki yang dicari, berjalan sendirian di kegelapan. Agar tidak tersandung batu, ia membesar-besarkan pupilnya sehingga sisa cahaya langit malam itu lebih banyak masuk ke kornea. Dengan tangan mendekap erat, Eka menyusuri jalanan berbatu menuju ke lapangan kecil di bibir perkebunan teh.

Indah nian langit malam itu. Gemintang berkerlipan seperti mata gadis sunda nan menggoda. Angin dingin menembus-nembus jaket, semakin membangkitkan hasrat ingin mendekap gadis sunda. Di depan mata terhampar permadani teh hijau yang sesekali daunnya berkilat-kilat. Di bawah sana liukan jalan yang temaram terlihat seperti badan ular melilit perbukitan. Kabut mula-mula malu merangkul gunungan di dada bumi. Cacing-cacing memilih berkemul tanah daripada menyembul di permukaan yang basah. Eka berdiri mematung menyaksikan semua. Sampai akhirnya,

“Ayolaaah… apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku hanya ingin menyendiri”

“Kamu kesini untuk reuni. Kenapa malah menyendiri?”

“Mereka tetap bisa reuni meski aku di sini sendiri.”

“Tapi kamu yang dipercaya merancang acara”

“Omong kosong! Mereka tak butuh acara yang kubuat.”

“Siapa bilang?”

“Tak ada yang bilang. Mata mereka yang bicara, tangan dan kaki mereka yang bercerita”

“Jangan ngawur!”

“Mereka sudah punya acara sendiri yang mereka ingini”

“Ah masa?”

“Mereka pengen nonton tivi. Ada yang menunggu pacarnya datang. Ada juga yang kebelet bercinta dengan hape semalaman”

“Kalo cuma pengen itu semua, ngapain kita tempuh ratusan kilometer ke sini. Di rumah juga bisa.”

“Itulah!”

“Makanya, ayo balik ke villa. Kita jalankan rencana acaramu.”

“Wegah!”

“Kan tidak semuanya begitu. Masih banyak yang nunggu kelanjutan acaramu.”

“Kamu saja ke sana. Aku pengen sendiri saja di sini.”

Masih tak ada siapa-siapa di lapangan. Hanya ada Eka dan bayangannya. Sejenak pertengkaran itu mereda. Eka berjalan lebih jauh lagi hingga atap kedua villa hilang dari pandangan. Semakin ke atas semakin ke tengah perkebunan. Tak ada bangunan meski sebuah gubug sekalipun. Eka berharap semakin ke tengah, ia bisa merasakan kesendirian. Ia butuh menyendiri tiap kali merasa tidak enak hati. Ia tak mau tetap berada di antara orang-orang ketika sedang emosi. Ia tak ingin teman-temannya jadi sakit hati gara-gara ia bereaksi ketika sedang emosi.

Kesendirian adalah teman, begitu pikirnya. Mula-mula kesendirian muncul layaknya musuh yang menakutkan baginya, dan sepertinya bagi kebanyakan manusia lainnya. Kesendirian selalu membawa serta kesedihan. Cahaya hidup menjadi redup. Itulah sebabnya tak sedikit orang berlomba, bertaruh, berkorban, bahkan berperang demi mendapatkan orang lain yang bisa ia sebut sebagai pasangan. Bagi yang sudah mendapatkan pasangan, terasa lengkaplah, terasa bahagialah hidupnya. Sedang yang tak jua dapat pasangan, hanya neraka yang bisa mengalahkan derita hidupnya di dunia.

Kesendirian tak melulu soal pasangan. Kesendirian juga muncul karena ketiadaan pengakuan atas kehadiran (existence). Manusia tercipta sebagai makhluk yang tak betah kesepian. Rupanya sifat ini turunan dari Penciptanya. Tersebutlah bahwa Tuhan yang Mahanarsis hidup dalam sendiri sejak zaman azali hingga kapanpun nanti. Ia ciptakan alam semesta, yang kata para Nabi dalam kitab suci, selama enam masa. Lalu Ia ciptakan juga manusia yang kemudian diajari-Nya tentang nama-nama benda. Untuk apa Pencipta menciptakan Ciptaan yang bisa berkata-kata? Aku curiga salah satunya adalah sebagai objek yang bisa diajak bercengkerama, bercerita, dan bercanda. Bukankah Milan Kundera berkata “manusia berpikir, Tuhan pun tertawa”? Selain mahanarsis, Tuhan juga mahabercanda rupanya.

Tidaklah disebut kebahagiaan, sampai ia dibagi-ceritakan. Dus, manusia membutuhkan kehadiran orang lain untuk membuktikan kehadiran/eksistensi-nya. Tak usah heran jika kemudian dunia dipenuhi orang-orang bangga diri, angkuh, licik, dan muna demi meraih popularitas. Orang jenis ini memiliki beribu topeng yang ia tunjukkan demi memuasi egonya, ego atas sebuah nama.

Kesendirian adalah teman, begitu keyakinan Eka. Memang, mulanya menyakitkan. Sekali-dua kali ia berusaha sekuat mungkin menjauhi kesendirian. Satu persatu ia dekati perempuan yang ia kenal baik. Satu persatu pula mereka –dengan baik atau tidak baik- meninggalkan. Lelah menggunakan perasaan dalam hubungan, Eka kemudian memukul rata semua partner dalam kehidupan. Ia berbuat baik kepada semua, tak peduli apapun motifnya. Kadang ia sengaja memanfaatkan, tapi lebih sering ia dimanfaatkan teman. Ia belajar untuk tidak pernah berharap dari tiap hubungan. Apa yang datang, itulah yang dikerjakan.

Lama-lama ia terbiasa dengan kesendirian. Dalam kesendirian ia merasa nyaman. Sepanjang jalan kesendirian ia jumput sejumlah pelajaran. Dari kesendirian ia belajar kebijaksanaan. Kepada kesendirian ia mengaji kitab kesejatian. Baginya, kesendirian adalah teman manusia paling setia. Ia selalu sabar menanti di kejauhan ketika manusia –dengan segala topengnya- berkumpul dengan manusia lainnya. Begitu manusia lain (liyan) terakhir berjalan 2 langkah meninggalkan, saat itulah kesendirian tersenyum dari kejauhan dan mendekatinya perlahan.

Terasa mendingan, terasa lebih ringan sekarang. Masih tetap sendiri.

Tapi satu hal yang belum Eka pahami, yang sebentar lagi ia sadari, bahwa ia tak pernah benar-benar sendiri di dunia ini. Eka merasa ada yang sedang mengawasinya, entah dari arah mana.

Srek… srek… srek…

Terdengar seperti langkah kaki orang. Tapi begitu Eka menoleh ke belakang, suara itu hilang seketika.

Srek… srek… srek…

Terdengar lagi suara sangat mirip langkah kaki mengikuti, tapi sekali lagi tanpa kaki. Rambut halus di tengkuknya bergoyang, lalu menegang. Eka tak sempat berpikir apakah itu karena dingin yang menggigil atau ulah setan usil. Yang pasti keputusan harus segera dia ambil.

Eka bergegas melangkah kaki meninggalkan kesendiriannya dan berkumpul kembali bersama Ical dan Inu yang telah lama menunggunya.

Lembang punya cerita, 10Juli 2010

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

5 thoughts on “A Truly Friend of Human”

  1. Kadang yang jadi masalah (bagi saia) adalah kesendirian “meng-awe-awe” untuk selalu bersama…

    Saia digondeli… piye jal??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s