Pendekatan Appreciative Inquiry dalam program KKN di Pemali, Bangka


Pertengahan tahun 2008 giliran saya sebagai mahasiswa UGM untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata. Saya sengaja memilih daerah di luar Jawa. Waktu itu saya KKN di kampung Air Simpur, desa Pemali, kec. Pemali, kab Bangka. Air Simpur adalah kampung kecil dengan penduduk tak lebih dari 40 KK. Letaknya agak terisolasi dengan kampung lainnya karena dikelilingi Kolong (danau bekas tambang timah). Minim fasilitas, listrik mengandalkan genset yang hanya bertahan hingga pukul 10 malam. Nyaris tidak ada transportasi umum yang melintasi kampung tersebut.

Tapi keindahan alamnya tak perlu diragukan lagi. Kebun sahang yang membentang, sisa-sisa bangunan pabrik Timah, serta suguhan sunset tepat di depan pondokan. Bila malam mulai pekat, langit dipenuhi bintang yang sinarnya berkilat-kilat. “Langitnya indah, dik!” lamunku mendadak romantis sambil mengandaikan seorang gadis yang bisa kukirimi pesan singkat untuk berbagi keindahan malam itu. lhah kok malah jadi bahasa cerpen?! Kembali ke tengtop laptop!

Tema KKN kami adalah identifikasi potensi dan pengembangan sumberdaya manusia sebagai persiapan menjadi Desa Wisata. Karena keterbatasan dana di awal program, saya tidak bisa melakukan pembangunan fisik. Apalagi saya mahasiswa SOSPOL yang memang tidak diajari caranya buat gapura atau bikin WC umum. Karena itu saya memilih mengembangkan pembangunan non-fisik. Biar kelihatan keren saya beri nama program pribadi saya yaitu mengidentifikasi inti positif sebagai modal sosial pembangunan desa.

Sebenarnya ide program ini berawal dari keinginan saya untuk mempraktekkan konsep psikologi yang disebut Appreciative Inquiry (AI). Saya banyak belajar dari postingan AI-nya Mas Bukik, dosen psikologi UNAIR. Secara singkat AI adalah Sebuah pendekatan dalam pengembangan dan perubahan organisasi yang berbasis pada kekuatan dan value suatu organisasi atau komunitas. Ciri pendekatan AI antara lain menelisik emosi pada saat mengalami pengalaman puncak (peak experience) yang positif. Bentuk pertanyaan yang diajukan adalah APA yang anda rasakan bukan MENGAPA anda merasakan (bahagia/sedih). AI adalah seni bertanya. Karena ‘dunia’ kita dibentuk oleh pertanyaan-pertanyaan tentang diri kita atau pertanyaan kita tentang dunia.

Ada 5 langkah yang perlu dilakukan dalam AI yang yaitu, definition, discovery, dream, design, dan destiny. Pertama, mendefinisikan topik dalam hidup yang ingin ditelusuri lebih lanjut melalui AI. Kedua, menemukan pengalaman, perasaan positif, atau konsep yang dianggap bernilai dalam kehidupan. Ketiga, mengimajinasikan kondisi-kondisi ideal yang ingin dialami di masa depan. Keempat, merancang dengan cara bagaimana, strategi sosial yang tepat untuk mengoptimalkan inti positif dalam mewujudkan kondisi ideal tersebut. Terakhir, tentu saja menikmati, merayakan keberhasilan yang telah diperoleh. Tak peduli seberapapun hasilnya karena yang terpenting adalah perasaan positif yang dialami. Dengan menikmati kemenangan-kemenangan kecil dalam menjalani proses, perasaan positif kita akan senantiasa terjaga hingga akhirnya kita meraih kemenangan besar, yang seringkali kita justru tidak menyadarinya.

Setelah melalui pengamatan dan wawancara saya menemukan modal sosial berupa pengajian rutin dan kegiatan kesenian rebana ibu-ibu. Inti positif yang dimiliki adalah kekerabatan yang hangat dan dekat antarwarga. Hampir semua warga di kampung Air Simpur masih memiliki hubungan keluarga. Jadi lebih mudah untuk menjalin kebersamaan dan kesamaan visi membangun kampung.

Awalnya beberapa warga, terutama pemuda, sungkan untuk terlibat dalam kegiatan. Mungkin karena tingkat pendidikan yang rendah sehingga membuat mereka rendah diri/minder bertemu dengan kami, mahasiswa dari Jawa. Saya kemudian membuat undangan tertulis seukuran ¼ HVS. Lalu saya minta tolong teman se unit untuk mengantarkan undangan tersebut langsung ke rumah warga, sambil berpesan agar sebisa mungkin bertemu dengan orangnya.

Cara tersebut lumayan berhasil. Lebih dari separuh yang diundang hadir. Acara tersebut dikemas sebagai pembacaan surat Yasin berjamaah dilanjutkan dengan penyampaian materi. Di sesi materi inilah saya manfaatkan untuk mempersuasi mereka nilai-nilai yang harus dimiliki tiap warga jika ingin membangun desa mereka lebih makmur misalnya, kebersihan, kebersamaan, tolong-menolong, kreativitas, dan semangat wirausaha.

Pada pertemuan pertama, saya ngalahi untuk memborong tugas memimpin yasinan sekaligus kultumnya. Tapi pada pertemuan berikutnya saya bagi tugas dengan warga lokal. Pak Syuhud yang memimpin Yasinan, saya yang memandu diskusi. Begitulah saya coba membangun kepercayaan diri warga untuk berkumpul dan aktif berekspresi.

Di akhir program, saya berkali-kali meminta maaf karena saya tidak bisa memberikan bantuan fisik. Jawaban mereka sungguh mengharukan. Bahwa mereka justru lebih membutuhkan dukungan semangat dan ilmu yang terlanjur tidak mereka peroleh selama ini. Saya benar-benar merasakan kebermaknaan diri di antara mereka. Ketika mereka mendatangi saya di pondokan karena tidak juga datang di mushola untuk latihan rebana bersama ibu-ibu. Ketika saya dipanggil oleh tokoh masyarakat, saya dipinjami kitab beraksara Arab Melayu, untuk saya sampaikan pada masyarakat ketika peringatan Isra’ Mi’raj. Untung sewaktu SMA saya ambil program Bahasa. Thanks to Pak Junaidi a.k.a Pak Lasudin yang sudah mengajari kami ragam tulis ‘mirip’ pegon. Secara khusus, saya juga pernah diminta untuk mendo’akan pasangan yang kebetulan menikah hari itu. *pak modin mode is ON

Jujur, sebenarnya saya tidak melakukan banyak hal untuk mereka. Saya hanya meminta mereka berkumpul dan memberi mereka semangat. Menceritakan kehidupan kami sebagai mahasiswa. Berbincang ringan dengan para ibu, membicarakan tentang pendidikan anak-anak mereka. Tapi saya melihat mata mereka berbinar, merasa bersyukur bisa bertemu dengan mahasiswa UGM. Sungguh melihat senyum mereka di tiap akhir pertemuan adalah kebahagiaan yang tak terlupakan.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

3 thoughts on “Pendekatan Appreciative Inquiry dalam program KKN di Pemali, Bangka”

  1. yang di ciater cuma dapet cipratannya. itu pun ga optimal karena pesertanya ga mendukung. yo wes bejone wong dewe2.

    “toh orang juga bisa ngoceh surga dan neraka meski belum pernah kesana” –> trus hubungane karo dijaluki donga opo? wong aku yo ora ngoceh2 bab nikah.

  2. Saia jadi berpikir, apakah ciater ntu juga mw dijadiin samplenya??😆

    “saya juga pernah diminta untuk mendo’akan pasangan yang kebetulan menikah hari itu”…
    yah, ndak papa lah, pak, toh orang juga bisa ngoceh surga dan neraka meski belum pernah kesana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s