Mas Aceng: Blessing in Disguise


Mas Aceng, begitu ia kerap disapa, pria Wonosobo ini dianugrahi terlahir ke dunia tanpa 2 tangan. Ia menggunakan kedua kaki sebagai pengganti fungsi tangan. Ia merokok, main drum, main gitar, bahkan ia mampu menyetir mobil standar (bukan yang dimodifikasi untuk orang difabel) dari Solo ke Wonosobo. Ia juga hidup normal seperti layaknya pria, memiliki anak istri maksud saya. Malam itu pria bernama lengkap Aceng Dani Setyawan menjadi tamu dalam acara rutin Mocopat Syafaat di kediaman Cak Nun. Mocopat Syafaat sendiri adalah kumpulan rutin yang diadakan oleh Jamaah Maiyah wilayah DIY pada tanggal 17 tiap bulan. Di forum ‘paseduluran tanpa tepi’ ini Aceng berbagi cerita, menyanyi bersama dan mempromosikan bukunya yang berjudul Aku Pasti Bisa.

Pernah suatu masa ia diremehkan teman sebayanya karena ingin bisa bermain gitar. “Main gitar itu hanya untuk orang yg punya tangan” begitu kalimat yang ia terima waktu ketika ia mengutarakan niatnya. Namun justru ejekan itu yang melecut semangatnya untuk belajar gitar. Fisiknya memang beda, tapi ia tak mau diperlakukan secara berbeda, termasuk dikatakan cacat. Justru pelecehan pertama dan paling menyakitkan adalah sebutan penyandang cacat. Oleh karena itu fokus perjuangan aktivis di bidang kesetaraan bagi orang Aceng dan kawan-kawan adalah perubahan sebutan bagi mereka, dari disabel menjadi difabel.

Istilah disabel berasal dari kata disability (ketidakmampuan). Artinya orang ini, karena kelainan bentuk fisiknya, dihakimi sebagai orang yang tidak mampu melakukan suatu pekerjaan. Contoh yang paling mudah ya Mas Aceng ini, karena tidak punya 2 tangan dianggap tidak bisa melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan orang ‘normal’ dengan tangannya. Sedangkan istilah difabel berakar pada frasa different ability (kemampuan yang berbeda). Sebutan ini terdengar lebih ramah karena mengasumsikan bahwa orang dengan kondisi fisik yang terbatas dan berbeda masih bisa melakukan pekerjaan yang dilakukan kebanyakan orang, meskipun dengan cara yang tidak biasa. Dus, terasa pas dengan sebutan orang yang memiliki kemampuan berbeda (dari kebanyakan orang). Jadi berhentilah menyebut orang dengan sebutan ‘penderita cacat’, ‘penyandang cacat’, dan segala sebutan cacat.

“Jangan menghina seseorang berdasarkan apa yang menurutmu itu sebagai kekurangan, karena di balik kekurangan itu, bisa jadi Allah sedang merahasiakan kelebihannya” Cak Nun menyitir entah maqolah entah hadist Rasulullah.

Bagi orang bijak, yang mampu melihat apa yang tak terlihat, tak ada beda antara kelebihan dengan kekurangan, antara rahmat dengan musibah. Dua hal itu bisa menyatu dalam satu kondisi ruang dan waktu. Mungkin kebanyakan orang melihat bahwa tidak memiliki 2 tangan adalah kekurangan. Tapi bisa jadi justru Allah sedang memuliakan orang tanpa tangan itu. Dengan tidak punya tangan, Allah menghindarkan orang tersebut dari melakukan perbuatan tercela yang bisa dan biasa dilakukan dengan tangan.

Mungkin karena sudah terlalu seringnya, Mas Aceng tak canggung lagi berada di antara orang ‘normal’. Dia sudah kenyang dengan tatapan aneh, kalimat-kalimat ejekan, atau tindakan meremehkan dari orang-orang yang ditemuinya. Namun ada satu kejadian yang membuat dia benar-benar sakit hati dan protes kepada Allah atas kondisi tubuhnya. Suatu ketika dia sedang berada di sebuah masjid hendak melaksanakan sholat. Dengan susah payah dia berwudlu. Tentu bisa kita bayangkan bagaimana susahnya berwudlu dengan sempurna tanpa kedua tangan. Selentur apapun kakinya, bagaimana mungkin ia bisa mengusap sempurna wajah dan telinganya. Kebetulan di situ ada orang lain yang melihat Mas Aceng dan berkomentar begini kira-kira, “Mana mungkin sholatmu diterima, kalau wudlumu saja tidak sempurna.”

Demi mendengar itu, runtuhlah semangat Mas Aceng. Sudah susah payah ia membangun keyakinan diri untuk bisa melaksanakan perintah agama. Bisa saja dia meninggalkan sholat dengan dalih ketidakmampuan fisiknya. Baru saja ia berniat untuk mencicipi nikmatnya ibadah, malah mendapatkan vonis negatif. Mas Aceng tidak pernah meminta untuk tidak memiliki tangan. Tapi kenapa hanya gara-gara tidak memiliki tangan ia divonis tidak bisa mendekat pada Tuhan. Ia terhalang mendekati Tuhan oleh keadaan yang dibuat oleh Tuhan sendiri. Tuhan macam apakah ini? Mas Aceng wadul, meneteskan airmata. Ia kecewa. Untuk beberapa lama ia tak mau lagi sholat.

Orang lain boleh menghina dia buntung, cacat, menyusahkan orang lain, atau apa lah. Tapi jangan sekali-kali memvonis soal hubungan dia dengan Tuhannya. Tak seorang pun, baik sebagai pribadi atau wakil institusi agama, berhak menilai keberagamaan seseorang. NU tak punya hak, Muhammadiyah tak punya kuasa, apalagi FPI dan MUI. Manusia adalah entitas spirit yg sedang menjalani kehidupan fisik. Kualitas hubungan spirit dengan Sumber Spirit tidak ditentukan oleh kondisi fisik dengan segala atributnya yang semu.

Singkat cerita, setelah 4 tahun lamanya dan setelah mematahkan gitar sahabatnya, Mas Aceng berhasil menguasai seluruh grip gitar untuk memainkan nada lagu dengan sempurna. Sekarang Mas Aceng tercatat sebagai manusia Indonesia pertama, dan masih satu-satunya, yang sanggup memainkan gitar dengan kaki. Meski kondisi fisiknya tak seperti kita pada umumnya, Mas Aceng ini masih saja menebar senyum pada siapa saja. Bagaimana dengan kita?

Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau ingkari?!

Kota Sejuta Romansa, 19 Agustus 2010

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

4 thoughts on “Mas Aceng: Blessing in Disguise”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s