Jujur dalam Kebohongan


Berawal dari mencuri baca catatan-catatan mas Sulhan, muncul ide yang semalaman menari-nari di kepala. Ide tentang bohong. Apa itu bohong? mengapa kita bohong? kapan dan kepada siapa kita bohong? Mempertanyakan kebohongan sama pentingnya dengan menuntut kejujuran, lebih jauh lagi mempertanyakan kebenaran. Seperti ditulisnya dalam catatan “Kapan ke Jogja Lagi”, ada 3 alasan kenapa perilaku bohong makin marak dilakukan orang. Pertama, nilai kejujuran dalam masyarakat semakin turun, merendah, dan mungkin saja musnah. Penyebabnya adalah banyak orang mulai berpikiran, kalau mereka tidak berbohong maka mereka yang akan dibohongi. Dalam dunia yang semakin kejam saja, curiga menjadi panglima. Tak ada informasi yang benar-benar bisa dipercaya, terutama dari media, pejabat negara, dan oknum alim ulama.

Kedua, ketidakmampuan bahasa dalam mewakili makna dari apa yang kita pikirkan. Sebut saja, kata ‘makan’ bisa merujuk pada aktivitas memasukkan sesuatu ke dalam mulut atau menghabisi/mengganyang lawan. Makan yang bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut pun masih bisa dibedakan lagi sesuai jenis makanan dan cara memasukkan. Ada makan berat ada makan ringan. Dari cara memasukkan ada yang disebut menelan,mencaplok, mengunyah, mengemil. Itu baru satu kata ‘makan’, belum lagi kata cinta/bercinta. Alamak!

Kata selalu mereduksi makna. Artinya bahwa ketika kita sudah meng-enkode pikiran ke dalamkata, ada sebagian makna yang tak terwakili. Sehingga kata/kalimat yangkita sampaikan tidak sepenuhnya jujur sesuai apa yang ada di pikiran kita. Selalu ada potensi kebohongan dalam perkataan yang jujur, seberapapun porsinya. Begitu pula sebaliknya. Selalu ada dualitas paradoksal dalam realitas yang esa.

Parahnya, ini alasan yang ketiga, kebohongan sangat mudah menular semudah orang menguap (bahasa Jawanya angop). Bohong adalah wabah yang sangat mudah menjangkiti peradaban manusia. Bohong juga mudah meningkat dalam hal kuantitas maupun kualitas. Ketika satu kebohongan terjadi, ia akan diikuti oleh kebohongan-kebohongan berikutnya. Jika sudah begitu akut, kita tak kuasa lagi menghentikan bola salju kebohongan yang semakin menjadi-menjadi. Saking pintar(bohong)nya, dosen yang selalu terlihat muda ini (tentunya ini patut dicurigai sebagai kebohongan juga haha) bahkan menitahkan sabda, “Aku jujur dengan berbohong.”

Kok bisa? di sinilah menariknya !

Tulisan ini sebenarnya adalah hasil pemaknaan ulang dari catatan mas Sulhan. Selanjutnya saya akan lebih mengulas dualitas bohong-jujur ini dalam konteks komunikasi antarmanusia. Saya tidak tahu bagaimana menyebutnya, apakah teori, bentuk, atau konteks ‘bohong sebagai kejujuran’ ini. Pertama, bohong sebagai strategi. Dalam berkomunikasi, individu cenderung menggunakan strategi tertentu untuk memenangkan transaksi makna. Kemenangan atas tafsir kata bisa berarti munculnya trust (kepercayaan), kredibilitas sebagai sumber informasi dari lawan bicara. Trust dan kredibiltas ini menjadi modal utama untuk membuat satu pihak (komunikan) untuk berpikiran, bersikap dan bertindak sesuai kehendak pihak lain (komunikator).

Contoh konkret, dalam masa pendekatan kepada perempuan yang dicintainya, lelaki biasanya mendadak jadi pujangga. Dengan rajinnya cowok itu mengirimi pesan mesra pada pujaannya, entah memang berbakat atau sekedar mencomot lirik lagu, puisi, buku kumpulan SMS Cinta. “Udah maem belum?”; “Kamu seharian kemana aja sih? aku kangen beud”; atau yang lebih dahsyat lagi “kamu pasti atlit? karena aku melihatmu berlari-lari terus di pikiranku” adalah contoh pesan penuh kebohongan, yaa setidaknya lebai lah. sudah tahu jam 9 waktunya orang siap-siap tidur masih maksa nanya sudah makan apa belum. Mungkin si cowok memang kangen, tapi kan nggak segitunya juga. wong ngirim SMSnya juga sambil pokeran. Bohong juga kan?! Tapi kebohongan yang secara konsisten dilakukan tiap malam ini menyimpan potensi kejujurannya. Bahwa si cowok menunjukkan kejujuran perasaan sayangnya kepada si cewek. Kebohongan tentang suatu hal yang diucapkan secara terus menerus suatu saat akan diterima menjadi kebenaran.

Contoh lain adalah ketika orang berada dalam posisi mempertahankan diri, atau menghindari untuk mengakui satu kebenaran tertentu. ada 2 cara untuk melakukan ini, menjawab dengan jawaban yang benar-benar bohong dan menjawab dengan kebenaran yang lain. Langsung contoh, tersebutlah mahasiswa bernama dwi, anggap nama sebenarnya, yang jatuh hati pada mahasiswi bernama susi. sayangnya, susi tidak mau didekati dwi dengan alasan yang Paul Gurita aja nggak ngerti. Suatu sore selepas kuliah terakhir Dwi melihat Susi sedang duduk sendiri, lalu dia hampiri,

“Mau kemana Sus?” tanya Dwi sepenuh hati

“Ya pulang lah!” ketus jawab Susi

“Pulang bareng yuk!”

“duluan aja deh. Aku masih nunggu”

“oh ya sudah”

Sesaat setelah Dwi hilang dari pandangan, Susi pun bergegas pulang sendirian.

Apakah Susi berbohong pada Dwi? Tidak. Susi jujur ketika dia menolak ajakan pulang dengan alasan masih nunggu, menunggu Dwi pulang maksudnya. #ini juga kisah bohongan. Kalau mau contoh yang nyata, perhatikan saja polah tingkah pejabat negara kita, mulai dari politisi biasa sampai presiden kita. Pertanyaan atas satu kasus dijawab dengan kasus lainnya. Jawaban dari misteri Bailout Century dijawab dengan keprihatinan presiden atas kasus video Ariel dan Cut Tari.

Kedua, bohong sebagai budaya. Adakah suatu budaya di dunia yang melestarikan kebohongan sebagai praktek nilai? Jawabnya ada, ya Indonesia khususnya negara bagian Jawa. Orang Jawa terkenal dengan sikap ‘nggih-nggih ora kepanggih‘. Jawaban iya belum tentu berarti iya. Jika ada 2 orang baru kenal maka pertanyaan standarnya adalah ‘Apa kabar’ yang akan dijawab dengan kalimat ‘Baik-baik saja.’ Apakah yang bertanya benar-benar ingin tahu kabar dari orang yang ditanya? Jawabnya tidak. Apakah kabar orang yang ditanya benar-benar sedang baik? Belum tentu. Tanya jawab ini hanya sekedar pembuka pembicaraan tanpa ada atensi lebih jauh. Pertanyaan pura-pura ini biasa disebut komunikasi phatic atau jenis komunikasi ‘Sok Kenal Sok Dekat’. Kedua pihak yang berkomunikasi sama sama tahu bahwa pertanyaan itu pura-pura, jadi jawabannya juga pura-pura. Bohong nggak tuh?!

Ada cerita menarik tentang budaya ‘basa-basi’ yang umumnya dimiliki negara-negara di Asia. Adalah pak Cuk (ini nama sebenarnya), dosen UGM yang sedang tugas belajar di Amerika. Suatu hari dia beserta 2 teman asingnya, satu dari Amerika (sebut saja Obama) satunya lagi orang asia (yang ini vijay aja deh), pergi bemain tenis. Mungkin karena terlalu bersemangat, bola smash dari Vijay itu mengenai dada Obama. Obama pun meringis kesakitan. Melihat hal itu Vijay buru-buru mengatupkan dua tangan ke depan dada dan sambil meringis berseru, “I’m sorry…I’m sorry…” “No problem,” jawab Obama. Permainan tenis pun berlanjut. Obama kena smash bola lagi. Vijay minta maaf lagi dengan posisi tangan dan senyum meringis yang sama. Sampai akhirnya terjadi 3 kali. Kali ini Obama langsung membanting raketnya. Vijay dan pak Cuk kaget tapi Obama terlihat serius dengan kemarahannya. Setelah suasana agak reda ditanyalah Obama apa sebabnya dia begitu marah hanya karena terkena bola smash. Bukankah terkena smash bola tenis adalah wajar dalam permainan tenis, kecuali main catur kena bola tenis itu baru tidak wajar. Usut punya usut Obama marah karena vijay tidak serius meminta maaf dan menurutnya malah sengaja men-smashnya. Vijay balik berkata,

“I really really sorry”

“No, You don’t even mean to say sorry”

“How can?”

“You say it with laugh in your face!”

Ketiga, bohong sebagai peran. Hidup adalah panggung sandiwara, pekik Ahmad Albar dalam lagunya, dan manusia sebagai aktornya. Dalam hidup kita memainkan berbagai peran sekaligus. Di rumah kita memainkan peran sebagai anak, sebagai kakak atau adik. Di sekolah kita berperan sebagai siswa/mahasiswa. Allah, tuhannya orang Islam, malah lebih jelas menyebut kehidupan di dunia sebagai laa’ibun (permainan), laghwun (senda gurau), mataa’un (bersifat sementara), dan ghuruur (tipuan/bohongan) . Maka tak heran jika manusia disebut sebagai homo ludens (makhluk yang suka bermain).

Mengutip dari mas Sulhan dan mas Sulhan juga mengutip dari Johan Huizinga, tapi saya tidak tahu Huizinga mengutip siapa, ada 4 ciri permainan. Pertama, permainan adalah voluntary activity kegiatan suka-suka, para aktor harus suka sama suka sehingga keduanya bermain secara bebas tanpa tekanan. Kedua, play is not “ordinary” or “real” life, namanya permainan itu bukan realitas yang sesungguhnya alias pura-pura saja layaknya main sinetron; Ketiga, permainan itu memiliki dan dimainkan dalam batasan tertentu, limitedness. Tidak semua permainan bisa dimainkan di semua waktu dan tempat. Keempat, setiap permainan ada aturannya dan semua pihak yang bermain wajib mematuhi peraturan itu. Satu saja pihak tidak mau menjalankan peraturan bisa membuat permainan tersebut tidak bisa dimainkan.

Kombinasi pengertian hidup sebagai permainan dan hidup sebagai sandiwara menegaskan bahwa kita selalu berbohong. Setiap saat kita bertemu dengan orang yang berbeda. Dalam hitungan detik kita bisa berubah-ubah peran dalam sandiwara kehidupan. Dalam detik tertentu kita memasang topeng sebagai murid/mahasiswa, detik berikutnya kita harus mengganti wajah kita dengan topeng seorang anak. (ini ceritanya jadi murid bapaknya sendiri-pengalaman pribadi). Lebih rumit lagi misalnya kita menyukai perempuan, anak dari paman, paman itu adalah bos kita di tempat kerja, sementara perempuan itu masih berstatus pacar dari sahabat dekat kita. masih kurang rumit ya?! kalo mau lebih rumit nonton Cinta Fitri saja. Semoga kalian cukup bijak dan cerdas memahami contoh ini. Paling tidak berbohonglah bahwa kalian paham biar aku senang.😀

Karena hidup hanya permainan dan permainan selalu bukan kehidupan yang sebenarnya (bohong-bohongan), bisakah kita menyimpulkan bahwa kita hidup selamanya dalam kepura-puraan, kebohongan? Tetapi bukankah kita dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan? Ah apa sih maunya Tuhan?!

Terakhir aku ingin menyatakan persetujuanku pada sabda dosenku tadi bahwa, dengan menuliskan ini ‘aku jujur dalam kebohonganku’.

Kota sejuta romansa, 24 Agustus 2010

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “Jujur dalam Kebohongan”

  1. eaa, kesimpulanya euy. mantap pisan atuh kang.😀. Kota sejuta romansa? hohoho

    jadi bayangin knp hakim tipikor ga bertanya gini ke enji: “Saudari saksi, apa selama persidangan yang membutuhkan waktu berjam jam ini dengan pertanyaan bertele tele dari saudara tersangka, anda pernah berbohong?”

    enji: “er.. belum pernah yang mulia, saya belum pernah berbohong sebelumnya di sidang tipikor.”
    😀

    Jadi, kapan anda jadi dosen etika dan filsafat komunikasi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s