Agama dan Daun Pepaya


Kurang dari seminggu lalu, saya dapat kerjaan jadi tukang pijet plus-plus keyboard laptop untuk sebuah lokakarya tentang media. Lokakarya tersebut bertempat di Hotel Sahid Jogja selama 3 hari 2 malam. Saya dapat jatah 1 kamar dengan ranjang ganda. Seandainya saja… hahaha.

Pada malam kedua setelah sesi terakhir malam itu, beberapa peserta (yang juga panitia) masih bertahan di ruang Parang Klithik. Mungkin karena sudah jengah seharian membahas karut marut dunia media di Indonesia, kami mengobrol ringan seputar isu sosial yang sedang hangat di media. Duh, ujung-ujungnya ngomongin media juga! Mulai dari jalan yang ambles di Jln. RE. Martadinata. Mengapa berita yang diulas wartawan malah fenomena buaya yang katanya nongol di sungai di bawah jalan yang ambles atau berita bahwa tiap hari semakin banyak warga yang datang untuk menyaksikan jalan ambles dan buaya itu, kalau memang ada. Apakah informasi macam itu yang dibutuhkan oleh masyarakat?

Mengapa wartawan, misalnya, tidak memanfaatkan fenomena amblesnya jalan itu sebagai momentum keterbukaan informasi publik. Bukankah jalan adalah sarana/infrastruktur yang wajib dipenuhi dan dijamin keberadaan serta kemudahannya oleh negara untuk rakyat. Logikanya sebagian, untuk tidak mengatakan seluruh rakyat membayar pajak kepada negara. Pajak, sebagai pendapatan negara, digunakan untuk membiayai program pembangunan termasuk membangun jalan raya sebagai infrastruktur pembangunan. Jalan raya digunakan oleh rakyat (pembayar pajak) untuk memperlancar kegiatannya, apapun usahanya untuk kemudian dipajaki lagi oleh negara.

Dengan logika itu, rakyat berhak untuk memperoleh penjelasan (informasi) dari negara melalui badan publik yang dimilikinya. Informasi seperti apa yang perlu diketahui oleh rakyat? Mulai saja dari pertanyaan yang sederhana, apa penyebab amblesnya jalan, apa langkah penanggulangan sementara jalan tersebut belum diperbaiki. Lebih kritis lagi, pertanyaan yang bisa diajukan adalah siapa kontraktor yang mengerjakan, berapa dana yang dihabiskan, hingga sudah sesuaikah kualitas pengerjaan jalan dengan dana yang dihabiskan.

Namun sayangnya, media berita sebagai institusi bisnis tidak semuanya berpikir dengan logika public interest. Perusahaan berita cenderung melayani informasi yang populer, paling banyak dimaui pembaca dan pengiklan mau membayar. Akibatnya, perusahaan berita mengabaikan informasi yang dibutuhkan oleh warga. Informasi yang justru berguna sebagai modal bagi pembaca untuk berpartisipasi dalam kehidupan bernegara. Inilah tantangan jurnalisme di tengah arus kapitalisme media massa.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?

Memang tidak ada. kena deh! hahaha

Obrolan pun bergeser pada berita konflik agama antara HKBP dengan FPI wa ala alihi. Dari sinilah inti tulisan ini dimulai.

Adalah Pak Bayu, seorang paruh baya yang mengaku penganut Islam Abangan memulai komentarnya. “Bangsa Indonesia ini dari dulu memang tidak pernah belajar. Islam dan Kristen sama saja. Kaum agamawan mengambil ajaran yang berasal dari tanah nun jauh di sana. Sementara nilai yang sudah dari dulu dimiliki dan ada di bumi ini disingkiri. Kok mau-maunya orang Islam disuruh berhaji, pergi ke tanah yang katanya suci.” kira kira begitu komentarnya.

“Kalau saja, dulu sewaktu membangun Borobudur para biksu mewajibkan umat Budha di seluruh kekuasaan Mataram Lama untuk ‘berhaji’ ke Borobudur, mungkin sekarang Indonesia menikmati devisa.” Masih komentar dari lelaki yang sama.

“Agama itu ibarat daun pepaya” lanjutnya. “Dia bisa melunakkan daging yang semula keras. Tapi yang dilupakan oleh kaum agamawan adalah apa yang terkandung dalam daun pepaya yang melunakkan itu. Bukan daun pepaya yang melunakkan kerasnya daging. Bahwa sifat melunakkan tidak hanya dimiliki oleh daun pepaya. Bukan agama A atau B yang membuat seseorang bersikap lembut, ramah, teduh, dan damai. Tapi ada unsur dalam agama, dan saya kira itu bisa terdapat di agama mana saja, dalam budaya masyarakat mana saja, yang berfungsi melembutkan jiwa”

“Ribuan tahun jutaan orang memeluk agama. Ribuan tahun jutaan orang terbunuh dan tercerai berai atas nama agama. Ribuan tahun jutaan pemeluk agama tak mengerti kedamaian dan kebajikan yang selalu diajarkan banyak agama.” tulis Rika, teman diskusi, di status jejaring sosialnya .

Telah lama Indonesia disebut sebagai negara besar. Entah berkaca pada kejayaan kerajaan nusantara masa lalu atau sekedar pernyataan kelewat percaya diri dari para pendiri negara ini. Tapi jika melihat potensi yang dimiliki, saya yakin Indonesia akan segera menjadi bangsa besar yang disegani negara-negara di dunia. Pertandanya semakin terbaca dalam dekade terakhir ini. Mitos tentang surga dunia bernama Atlantis dikait-kaitkan dengan topografi dan kekayaan alam Indonesia. Kehidupan demokrasi Indonesia mulai diakui dan dijadikan referensi. Terakhir, revolusi kesadaran individu-individu terbaik bangsa ini yang menginspirasi generasi untuk bersama membangun negeri. Sungguh saya percaya kejayaan bangsa ini akan segera terjadi.

Tapi kejayaan itu akan sulit tercapai jika bangsa ini masih sibuk dengan nilai-nilai dari luar sana. Indonesia harus menemukan jati dirinya dengan melihat sejarah peradaban yang pernah ada dan berjaya di sini, bukan di Arab sana. Hubungan sejarah dengan kejayaan bangsa ibarat busur dengan anak panah. Semakin jauh kita mengenali sejarah diri, semakin besar daya dorong untuk melesat menuju kejayaan diri. Tengoklah sejarah kejayaan Mataram Lama, Kediri, Majapahit, Demak, Mataram Islam. Apa yang menjadikan mereka ada, apa pula yang menjadikan mereka tiada.

Kita harus mengakui bahwa Kediri didirikan oleh seorang perompak bernama Ken Arok di tengah pemerintahan yang kacau dan abai terhadap rakyat. Toh rakyat tidak protes. Siapa pun boleh memimpin negeri ini, selama ia membawa kebaikan, kesejahteraan bagi rakyatnya. Kita harus memutus karma suksesi raja demi raja yang selalu dilandasi iri, benci, dan dendam warisan.

Kita juga sepatutnya mengakui bahwa sejak dari mulanya bangsa ini bukanlah bangsa yang seragam. Tanah nusantara dihidupi dan menghidupi beragam ras manusia, etnis, aliran, dan agama. Sebagian besar pertikaian yang terjadi selalu disebabkan upaya memaksakan cita rasa yang sama untuk semua. Friksi kelompok agama puritan/skriptural/eksklusif/elitis versus kelompok plural/kontekstual/inklusif/egaliter sudah terjadi sejak jaman para wali. contohnya bisa kita baca pada cerita perseteruan para wali melawan syekh Siti Jenar (meskipun banyak fitnah di dalamnya), Perang Paderi, Wahabi vs Sunni, hingga kisah sok heroik preman-preman berjubah yang bernama FPI.

Hanya dengan mengakui perbedaan sebagai kodrat azali bangsa dan berkomitmen untuk menyumbangkan kontribusi untuk negeri, Kejayaan Indonesia akan tercapai. Semoga tak lama lagi.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

6 thoughts on “Agama dan Daun Pepaya”

  1. I wish everyone can read this Nick…

    Mungkin gak perlu semua orang menyetujui ini, tapi at least orang-orang yg suka membenturkan hal yang fundamental gitu bisa terbuka pikirannya…

    Share it on fb please?🙂

  2. menurutku…..?
    bingung mas….hehe😀

    tp sepertinya, mutlak hanya hak ALLAH utk memutuskan siapa yang akn masuk surga..
    kafir atau tidak,,itu jg perkara yg sama jauhnya.
    *setidaknya begitulah menurutku*

  3. mas niam,, aku pernah mendengar seorang kawan yg juga seorang islam abangan melontarkan sebuah pernyataan yg isinya kira2 begini…
    Yahudi dan Nashrani bukan orang kafir karena mereka termasuk Ahli Kitab dan pemeluk agama samawi yang semuanya berasal dari Allah.

    waktu itu aku cm bs ngangguk-ngangguk aja karena br kenal islam.
    kira-kira pendapatmu gimana mas?

    1. hmm… Allah berfirman di surat albaqoroh ayat 62 yg terjemahannya begini:

      Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

      menurutku salah dua ciri penghuni surga adalah mereka tidak memiliki kekhawatiran terhadap segala sesuatu dan tidak bersedih hati karena mereka yakin pada Allah. Bahwa segala sesuatu datang dan kembali pada Allah.

      nah kalau begitu, apakah pahala yg diberikan pada orang yahudi, nasrani dll sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut bukan surga? wallahu a’lam

      kira-kira menurut Rina gimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s