Terima kasih, Merapi!


Malam ini udara Jogja cukup ‘adem’. Jalanan becek sisa hujan sore tadi. Ku tengadahkan pandangan ke langit. Hanya ada 1 bintang tersenyum tepat di atas kepala. Langit selatan tampak abu-abu semu kemerahan karena awan. Sementara langit utara tampak lebih hitam, lebih bersih dari awan. Semoga ini pertanda baik. Jika langit utara mendung dan turun hujan, itu pertanda buruk. Curah hujan akan masuk mungkin merembes lewat lereng atau langsung melalui lubang mirip pipa kapiler di tengah Merapi menuju dapur magma. Air yang masuk ke dapur magma akan menguap dan menekan magma untuk segera keluar melalui lubang kapiler. Semakin banyak tekanan uap, semakin tinggi potensi erupsi eksplosif. Begitu teorinya, tapi semoga saja Merapi baik hati.

Saat ini adalah malam kesebelas sejak erupsi pertama Merapi yang menewaskan mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi. Selain mbah Maridjan, tercatat korban meninggal 80an orang, ratusan mengalami luka bakar akibat luncuran awan panas. Sementara sejak sabtu minggu lalu, kota Jogja diselimuti abu. Di susul hujan abu di Magelang, Klaten, Cilacap, hingga Bandung. Erupsi Merapi kali ini anomali.

Ku percepat langkahku menuju masjid Al-Ikhlas di dusun Sono, Sinduadi, Sleman. Dusun ini terletak kurang lebih 23 km dari puncak Merapi, ke atas sedikit sudah sampai batas aman tertinggi. Beberapa warga sekitar sudah ada yang mulai mengungsi ke tempat saudara mereka di kota yogya, Bantul, kulonprogo dan sekitarnya. Aku memutuskan bertahan di sini. Jujur, aku tidak takut pada Merapi, bukan karena tiru-tiru mbah Maridjan, atau sengaja cari mati. Aku tahu kapan harus ngungsi. Kalaupun sekarang pengen ngungsi, itu bukan karena Merapi. Tapi karena air PAM mati dan akibatnya berhari-hari tidak bisa mandi.

Selesai sholat berjamaah, seorang bapak mengingatkan warga melalui pengeras suara untuk selalu memakai masker malam ini. “Untuk mengantisipasi hujan abu Merapi malam ini” katanya. Gara-gara pengumuman itu, suasana musibah dan bencana jadi makin terasa.

Musibah dan bencana? Samakah?

Kata musibah berasal dari bahasa arab yg kurang lebih berarti kondisi terkena sesuatu. kira-kira sama lah makna kena dalam frasa “kena deh” dengan kata musibah. Ketika kita terkena suatu kondisi tertentu itu berarti kita sedang dalam musibah. Entah itu kondisi yang menyenangkan, menggembirakan, atau kondisi ketakutan, kehilangan, kedukaan. Kekayaan, kepandaian, ketampanan/kecantikan, kebebasan tidak selamanya adalah anugrah. Ingat bagaimana kecantikan Medusa justru menjadi kutukan baginya? Kehilangan orang tercinta, kesusahan dalam hidup, dan keserbakekurangan tidak selalu berarti bencana.

Oleh karena itu, musibah seringkali dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. Setidaknya ada 4 cara memaknai musibah. Pertama, musibah adalah ujian/cobaan dari Tuhan. Orang yang mendapat musibah adalah orang yang sedang diuji oleh Allah. Jika ia lulus, maka ia akan naik kelas. Ia bertambah tinggi kualitas kesabaran, keimanan, dan ketaqwaannya. Jangan pernah berpikir, “Sudah beriman, sudah pasrah, kok rasanya hidup gak makin mudah malah tambah susah?!” Apakah kau mengira Tuhan percaya ucapan iman kita tanpa mengujinya?

Kedua, musibah adalah peringatan. Dengan mengalami musibah kita diingatkan tentang nilai-nilai yang mungkin sudah kita lupakan. Kematian seseorang adalah peringatan bahwa mungkin saja kita giliran berikutnya. Kehilangan harta benda mengingatkan kita bahwa materi bukan segalanya. Ketiga, musibah adalah azab/hukuman. Sebagian orang menganggap datangnya bencana/kerusakan adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri. Akibat dosa-dosa yang makin merajalela. Korupsi makin menjadi-jadi, illegal logging tak terkendali, wakil rakyat tak lagi punya hati, orang kaya makin memperkaya diri, kyai-kyai rebutan jadi politisi, rakyatnya terpaksa jadi pencuri demi anak istri, rumah ibadah makin sepi. Pantas saja Tuhan murka dan menghukumnya. Terakhir, musibah adalah sesuatu yang alamiah. Erupsi gunung sama saja dengan mengalirnya air dari atas ke bawah. Semua yang terjadi adalah memang seharusnya terjadi. Alam memiliki hukum keseimbangannya sendiri. jadi tak perlu dikait-kaitkan dengan ibadah seseorang. Kelompok ini menganggap kalau memang sudah waktunya biarpun berjuta-juta orang duduk bersimpuh di kaki Merapi dan berdoa agar Merapi tak jadi erupsi, tetap saja erupsi.

Aku sendiri memilih menganggap apa yang sudah terjadi pada Merapi sebelas hari ini sebagai kondisi terbaik bagi semua. Tanpa menyalahkan pandangan manapun dari siapapun. Malah aku berterima kasih pada Merapi yang ikut membantu mengembalikan apa-apa pada tempat semestinya.

Membicarakan Merapi, tak lengkap tanpa membicarakan sang juru kunci. Dalam nalar pikir jawa, Merapi dijaga oleh juru kunci yang bertugas mengawasi, merawat, dan membuat keputusan apa yang terbaik bagi Merapi dan manusia yang hidup di sekitar Merapi. Juru kunci dianggap bisa berkomunikasi dengan roh Merapi dan akan memberitahu jika Merapi akan ‘ambegan’ atau ‘watuk’ sehingga masyarakat bisa bersiap diri. Menjadi juru kunci membutuhkan tingkat kewaskitaan yang tinggi. Untuk mencapainya tidak bisa dilakukan oleh orang yang masih berorientasi materi duniawi.

Saya cenderung melihat peristiwa Merapi kali ini dari sisi positifnya. Pertama adalah tentang kematian mbah Maridjan. IMHO, itu adalah yg terbaik bagi mbah maridjan dan nilai kemanusiaan itu sendiri. Selama ini manusia selalu berorientasi pada materi. Orang menjalani hidupnya dengan obsesi kepemilikan kebendaan yang bersifat duniawi. Sementara itu ada juga orang-orang yang percaya bahwa mbah Maridjan itu sakti. Merapi tak akan erupsi selama mbah maridjan masih di sana menjaga atau setidaknya merapi akan ngabari mbah maridjan sebelum erupsi. Tapi ternyata, itu tidak terjadi.

Orang-orang mulai berspekulasi, mulai dari obrolan warung kopi sampai liputan TV, bahwa mbah maridjan sudah tidak sakti lagi. Ketidaksaktian mbah maridjan disebabkan mbah maridjan sudah mikir duniawi dengan menjadi bintang iklan di TV. Meskipun semua uang yg didapat mbah maridjan dari iklan diperuntukkan warga Kinahrejo buat mbangun mesjid dll. Karena sebab itulah, mbah maridjan tidak sakti lagi, tidak dikabari merapi, dan akhirnya mati oleh merapi yg dijaganya sendiri

Lagi-lagi IMHO, justru matinya mbah maridjan beserta seluruh materi yang didapat dari kapitalis itu rusak, dimusnahkan oleh merapi. Simply to say, materialism is dead. Jika masjid yg dibangun dari hasil iklan dianggap sebagai penghalang antara mbah maridjan dan Merapi, sekarang semuanya dimusnahkan oleh merapi itu sendiri. Mbah Maridjan disucikan dari syak wasangka kepentingan materi oleh Merapi itu sendiri. Merapi tak rela juru kuncinya difitnah sebegitu murah.

Benarkah merapi tidak ngabari mbah maridjan? Jawabnya, salah!

Selasa sore itu mbah maridjan sudah ‘dikabari’ dan ngandani warga untuk ngungsi (informasi ini ku dapat dari temen yg bisa komunikasi secara spiritual.) Tapi ternyata ada orang-orang yg masih percaya dan fanatik sama saktinya mbah maridjan. Kalau dalam Islam, itu namanya syirik (menyekutukan Tuhan). Nah orang-orang yg percaya pada kekuatan selain kekuatan Tuhan ini ternyata mati juga. It means barang siapa menduakan Tuhan, menyamakan makhluk dengan Tuhan, niscaya dia tidak selamat.

Lalu apa mbah Maridjan bisa disalahkan?

Tentu saja tidak bisa. Orang tidak bisa disalahkan hanya karena dia menjalani apa yang ia yakini. Bahwa ia sudah menyatakan sanggup. “Yen wes saguh yo ora mingkuh” Jika sudah menyatakan sanggup ya tidak akan beranjak meninggalkan tugas. Mbah Maridjan tidak akan lari dari tanggung jawab. Selain itu, cinta mbah maridjan kepada merapi adalah cinta yg murni. Ia mencintai Merapi seutuhnya. Ia membersamai sesuatu yang dicintainya dalam kondisi menyenangkan maupun tidak mengenakkan.

Sisi positif lain dari musibah ini adalah Merapi menumbuhkan kembali nilai-nilai asli bangsa kita yg lama tertutupi orientasi materi duniawi. Sudah lama masyarakat kita berubah jadi individualis dan apatis. Tapi musibah ini lagi-lagi mengajarkan kita pada arti kemanusiaan. Bagaimana seharusnya menjadi manusia. Bagaimana kelompok-kelompok manusia membantu sesamanya dengan cara yang berbeda-beda. Tak apa apa, semua orang memiliki perannya. Ada yang ikut mengevakuasi korban. Bermalam di bawah tenda bersama pengungsi. Tak pernah jenak istirahat karena gemuruh Merapi selalu membuat mereka tangi jenggirat. Ada yang bisanya menghibur pengungsi melalui cerita dan permainan anak-anak untuk mengurangi trauma. Ada yang memilih bagi-bagi masker di perempatan jalan. Mereka mempertaruhkan kemungkinan paru-paru mereka terkena abu Merapi yang ternyata bagai pecahan kaca. atau cukup dengan ngungsi dari Jogja karena tahu diri jika memaksakan diri membantu justru malah ngrepoti. Silakan pilih sendiri peranmu.

Terakhir, semoga lirik lagu katon bagaskara tentang Merapi ini cukup mewakili kekaguman dan terima kasih saya pada Merapi yang sedang menjalankan tugasnya. Saya berharap, Merapi segera menyelesaikan tugasnya tanpa harus jatuh korban lagi.


Merapi

Memandang lereng merahmu
Menyala membelah gelap malam
Bagai permadani terang
Duduk diam terkesima
Dibelai angin jiwa lirih tergetar

Masih trus membayang
Gemuruh bersautan
Lembah hijau terusik
Ribu doa terpanjat
Makna menghambur tinggi

Ku terbawa dalam alun legenda
Betapa kau dipuja insan sebagai pertanda
Saksi dunia kita makin menua
Dalam harap hidup damai ‘kan tetap terjaga
Oh engkau Merapi

Hadirmu memberi kesuburan sekitar
Dari masa ke masa tetap tegar berdiri
Dingin penuh wibawa

#Dua-tiga kilometer dari batas aman Merapi, 6 Nov 2010

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s