Soliloquist


Sudah lama saya tidak menulis bebas, menulis lepas. Sekian lama saya menulis dengan ekspektasi tulisan itu dibaca orang. Ekspektasi itu ternyata lama-lama membatasi. Akibatnya banyak ide tertimbun dalam memori, yang entah saya masih bisa menemukannya untuk dituliskan atau akan terkubur selamanya.

Menjadi soliloquist (orang yang bercakap-cakap dengan dirinya sendiri) sepertinya pilihan tepat. Untuk itulah saya menulis ini. Saya ingin bercakap-cakap dengan diri saya sendiri. Saya tahu apa yang selama ini saya cari ada dalam diri. Tetapi saya harus menyelaminya sendiri, membuka lapis demi lapis tirai emosi yang menyelubungi diri. Serupa lapis demi lapis bawang merah, yang menjadikan kosong sebagai isi. Terlalu lama saya disibukkan oleh hiruk pikuk dunia luar diri.

Bukan saya tak menyadari. Justru yang terjadi adalah saya semakin lari dari kenyataan diri, dengan melayani orang lain dan mengabaikan urusan sendiri. Baiklah malam ini saya ingin memulai lagi apa yang pernah saya mulai menulis skripsi dan berbicara untuk diri sendiri.

Jogjakarta setelah angin ribut, 25 September 2010

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s