Si/Apa sih Shohibu Baiti ini?


T: assalam bang mu’alimin (salah baca nama, sudah biasa)
salam kenal y bang,..
pengen nanya kalo shohibu baiti sendiri maksudnya apaan ya????

J: alaikumsalam… salam kenal juga.
menurut saya, shohibu baiti itu artinya tuan rumah. saya pernah nulis catatan tentang shohibu baiti kalo berkenan baca.

T: ya tahu bang… tapi yang di maksud tuan rumah itu apakah Allah swt?
saya juga masih bingung apa yang terkandung dalam lyricnya itu,.
saya sudah baca tulisan bung mu’alimin mengenai shohibu baiti ini tapi tetap saja belum mengerti..
saya juga pernah mengikuti pengajian cak nun yang di jogjakarata..
tapi belum tahu apa sih shohibu baiti ini,..
mohon penjelasannya ya bung???

J: terima kasih atas pertanyaannya. ini menurut pendapat saya saja.
yang disebut tuan rumah adalah kesadaran diri kita, kesadaran yang lebih tinggi. kesadaran bahwa kita sadar. ada banyak istilah untuk menyebutnya. Dalam psikologi disebut sebagai the higher self atau super-ego menurut freudian.

Kesadaran yang lebih tinggi ini yang menuntun kita apa yang harus kita ucapkan dan lakukan demi kebaikan diri kita. ia mewujud dalam bentuk intuisi atau suara nurani. karena melalui nurani ini Allah (karena kita sama-sama sepakat bertuhan hanya Allah) membisikkan ilhamNya kepada kita.

Selain itu, tuan rumah atau pemilik dari tubuh kita yang hakiki hanyalah Allah. Sudah seharusnya lah kita menggunakan tiap anggota tubuh ini sesuai dengan kehendak pemilikNya.

Penjelasan yang lebih sekuler begini. tubuh kita ini ibarat rumah yang terdiri dari bagian-bagian seperti pondasi, pintu, jendela, dinding, ventilasi, dan atap. masing-masing bagian memiliki fungsinya sendiri dan masing-masing bagian harus bersatu untuk bisa disebut rumah. diri manusia pun begitu, terdiri dari berbagai bagian yang kompleks. ada sistem pernafasan, sistem pencernaan, sistem reproduksi, sistem syaraf dll. kita punya tangan, kaki, jari jemari, hidung, telinga, mata, hati, dan masih banyak lagi. belum lagi unsur diri yang non fisik. kita dilengkapi dengan hasrat seksual, nafsu makan, need of achievement (dorongan untuk pencapaian), kemauan yang keras, daya tahan atas penderitaan, hingga kemampuan untuk mencintai. semua perangkat itu bisa kita gunakan dan harus kita kendalikan (meminjam bahasanya Cak Nun, “kita khalifahi“).

Tapi yang harus diingat adalah semua itu perangkat, hanya alat, bukan diri kita yang sejati. kita bisa marah, tapi kita bukan kemarahan itu sendiri. kita bisa merasa takut, tapi kita bukan ketakutan itu. kita bisa bersikap kasar, keras, tapi ternyata kita bisa juga bersikap lembut dan sabar. kita bisa horny, tapi kita tak bisa selamanya ereksi. kita bisa menjadi apa saja karena semuanya ada dalam diri kita. kesadaran dalam meng-khalifahi tiap bagian itulah tuan dari rumah tubuh kita. yaitu Aku yang sadar. Aku yang diam, diam mengamati riak gejolak kemanusiaan dalam diri.

T: wah super sekali bung penjelasanya,.. insyaallah lumayan ada pemahaman sedikit,..
terimakasih.

J: sama-sama… saya hanya menyampaikan apa yang ada di kepala. Semoga berguna.

Djogjakarta, di antara garis mati-garis mati yg harus segera kulalui 26 Nov 2011

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s