Sindrom Takut Sendiri dan Nurani yg Tersakiti.


Sari: Met malem mas.

Ni’am: met malem

Sari: Aku mau cerita dengan tokoh bernama nilam

Ni’am: silakan. si nilam lagi ngapain?

Sari: si nilam sakit, mas.. tapi bukan sakit fisik. dia gemar menarasikan dirinya. mengasumsikan segala yang ada di sekitarnya secara liar.

Ni’am: Oh ya?! seberapa liar?

Sari: kakakakkk,,, saking liarnya, dia kerap melibatkan orang lain dalam asumsi dan narasi dirinya. si nilam butuh treatment tuh, mas… beberapa temannya sering menyebutnya sakit.

Ni’am : baru dalam asumsi, sangat kecil berpotensi menyakiti… haha….

Sari: enggak, mas. jadi ini ceritaku sih. aku punya kebiasaan ngubungin orang malam-malam atau ketika benar-benar sepi. dulu ada temenku yang pernah benar-benar negur karena kebiasaan anehku itu. kalau kata temenku yang lain, aku itu sakit, perlu ke psikiater. mas niam ga jadi takut kan sama aku?

Ni’am: selama nggak nggigit aja…😀

aku hanya takut pada Allah dan ibuku  *sok alim gitu deeh

Sari: kakakakk,, g pake sok juga gpp, mas. *narsis sitik.

 tapi aneh ga sih, mas? ngubungin orang tengah malam. kalau g sms, miskol ya telfon. dan begitu itu kan sebenarnya g boleh. orang punya kehidupannya sendiri. tapi aku seirng gangguin tiap malam. itu penyakit bukan sih, mas? itu sudah sejak smp akhir-akhir hingga kini. tapi ada siklusnya dimana begitu gila sampai sepuluhan orang yang kuhubungi, dan kadang hanya beberapa yang kurasa perlu dan bersangkutan. bahkan pernah tengah malam sms teman tanpa sadar. paginya baru sadar aku sms dia.

Ni’am: mungkin km butuh teman cerita ?

Sari: maksudku bukan jadi takut sendiko dawuh, tapi takut njuk mengurangi kadar berhubungan. tapi selalu tidak ada yang benar-benar penting untuk diceritakan, mas.

Yang begitu kadangkala mengganggu yang bersangkutan juga kan yah, mas? aku pengennya g ngrugiin orang lain dah, treatment nya apa yah, yang tepat? mosok ndrememing dewe neng ngarep cermin… (bicara sendiri di depan cermin)

Ni’am: yg penting bukan apa yg diceritakan tapi aktivitas cerita itu sendiri. mgkn saja karena pernah ada pengalaman traumatis?!

Semacam ada kecemasan thd kesendirian atau kesepian. Simpelnya, kamu takut sendirian/kesepian?!

Sari:iya barangkali begitu, mas. treatmentnya adalah?

Ni’am: ada beberapa pilihan.

1. Cari pacar yg dg sukarela dan senang hati telpon2an sampe dini hari.

2. Menulis, bisa di blog, notes, atau diari pribadi saja. Pilihan ini bisa kamu ambil kalo km sedang tidak ingin pacaran

3. laku spiritual dg mengamalkan spiritnya surat Al-Ikhlas

Sari: spiritnya surat al Ikhlas itu adalah?

Ni’am: dengan puasa sunah dan sering-sering baca surat al ikhlas. Inti dari surat Al-Ikhlas adalah tauhid. Dalam tauhid ini tersirat semangat kemandirian dan ketidaktergantungan dengan sesuatu selain yang Mahatunggal (al-ahad).

Sari: dekat marang Gusti bisa dilakukan dengan apa saja g, sih, mas? aku merasa dekat ketika aku benar-benar bisa cerita apapun yang mengganjal dalam diriku. aku sangat menikmati saat saat seperti itu. bahkan itu adalah saat dimana nangis terasa nikmat. tapi, aku pernah mencoba untuk dekat dengan dzikir. tapi sejauh ini belum berhasil. apa memang tiap2 orang memiliki caranya masing2 untuk menjadi dekat atau sebenarnya telah ada tuntunan dll untuk dekat yg sebenarnya?

Ni’am: dzikire kurang ikhlas ya’e?? Ada banyak cara untuk mendekati Gusti Allah. toh semua jalan, baik atau buruk, lurus atau berbelok-belok, adalah milik-Nya jua. tetapi cara yang paling mudah ya dengan mendekati diri sendiri. Siapa yg mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhannya. Perjalanan mengenal Allah, sejatinya adalah perjalanan mengenal diri sendiri. Caranya dengan melepas satu persatu lapisan identitas yg membungkus diri.

Sari: lapisan identtitas diri itu yang seperti apa, mas?

Ni’am: apa saja yang kamu/orang lain anggap sbg identitasmu.

Sari: melepasnya gmna?

Ni’am: melepas ya dicopot, ga dipake lagi. kayak melepas baju/celana. lapisan identitas itu bermacam-macam. mulai status sosial, ego, ras, dll. Manusia cenderung berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan persepsi atas identitas yg ia yakini.

Sari: singkatnya sejenis kembali ke fitrah, begitu, mas? aku adalah manusia. membebaskan diri dari faktor ekternal diri? karena internal diri itu sebenarnya hubungan manusia dengan Tuhannya?

Ni’am: kembali pada ‘kondisi bayi’ kita. jika segala atribut psikososial/eksternal dll itu dilepaskan, yang tertinggal itulah dirimu. kira2 begitu.

Sari: o,, gitu ya, mas?,,,

Ni’am: jadilah dirimu sendiri. the truly you. don’t pay too much attention on what people said about you. This is your life, your choice. Decide it then enjoy it!

Sari: hehe,, be your self selalu jadi favorit quotation yah…

kenali dirimu. lalu jadilah dirimu sesuai dengan yang telah kamu kenali.. 

Ni’am: quote itu dalem sebenarnya. mungkin karena tll sering dikutip, jadi terasa biasa saja. Tiap makhluk diciptakan untuk misi tertentu. nyamuk aja punya misi, apalagi manusia. manusia itu diciptakan sbg khalifah (pengganti alias perpanjangan tangan-tangan) Allah di bumi. Masing-masing dari kita mengkhalifahi (memimpin dan diberi wewenang mengatur) sesuatu di bumi sesuai kadar kemampuan jiwa dan raga. Jika manusia sudah menemukan misi hidupnya, niscaya tak ada lagi ruang untuk tidak bahagia menjalani hidup di dunia

Sari: Jadi sebagai manusia yang harus dilakukan?

Ni’am: berinisiatif lah!

karena itu yg membedakan manusia dan selainnya. gunakan cahaya yg ada di dalam dirimu. cahaya itu mewujud dalam neuron-neuron yg berpijar di otakmu. jangan selalu membebek dan berharap dituntun oleh orang lain. Allah adalah sejatinya penuntun. mintalah sama Allah, untuk dituntun langsung olehNya.

Sari: pertama, kenali Tuhan dengan mengenali diri. dengan mengenal diri niscaya menjadi berhasrat untuk dekat. kedua, menjadi diri sendiri. ketiga, mengenali misi dan menyusun visi. keempat, menjalankan visi sesuai dengan ‘karakter diri’ karena menjadi diri sendiri tadi.  Manusia, ketika mampu mengenali diri, mengenali misi/tujuan hidup dan menjadi diri sendiri, maka akan mampu menikmati hidup dan isinya.

Ni’am: kalau mau diurutkan ya Ikhlas, Pasrah, Percaya, Sabar. Pertama ikhlas menerima segala apa yang sudah terjadi di masa lalu hingga saat ini. kedua pasrah terhadap apa yang belum terjadi dan akan terjadi di masa depan. Pasrah bukan berarti tak melakukan apa-apa. Kita harus tetap memperjuangkan apa yang ingin kita raih di masa depan. Oleh karena itu kita perlu menjadi yang ketiga yaitu percaya. Kita percaya bahwa tak ada yang sia-sia dari apa yang kita perjuangkan. Kita percaya bahwa Gusti Mboten Sare. Kita percaya bahwa ada cahaya di ujung lorong nasib yang gelap ini. terakhir, kita harus sabar dalam menanti impian kita menjadi nyata. Kalau kata Letto, Cinta bersabarlah!

Sari: mas, merasakan dan meyakini ‘ya, bahwa inilah yang dituntunkan Alloh untukku’ itu gimana?

Ni’am: caranya dengan dirasakan, dirasakan mana yang paling terasa nyaman di hati. mana yg paling tidak menyakiti nurani.

Sari: nurasi bisa sakit yah, mas?

Ni’am: nurani atau yg biasa kita sebut sebagai suara hati, bisa juga tersakiti jika ia sering dikhianati dan tak dipercayai

Sari: bagaimana diri bisa menyakiti nurani sendiri, mas? apa karena belum menyadari keberadaan nurani makanya barangkali tanpa sengaja tersakiti. lalu, indikasi nurani yang tersakiti itu seperti apa donk?

Ni’am: karena pesan-pesan dari nurani, selalu dikebiri. Ia dianggap “hanya perasaan” saja. misalnya, dalam bahasa anak muda yg galau karena cinta. seringkali mereka mengabaikan pesan-pesan dari hatinya. menekan sedemikian rupa hingga apa yg sebenarnya ingin dilakukan/dikatakan tidak dilakukan, atau sebaliknya.

Sari: mungkin ‘yang menekan’ itu mempertimbangkan berbagai hal (faktor) di luar dirinya. tapi apa kata hati itu selalu yang lebih tepat?

Ni’am: kamu tidak akan tahu jika kamu tidak pernah memberinya kesempatan untuk dipercaya. Jika terlalu sering tidak percaya, bisa-bisa hatimu akan menelikungmu dgn memberikan sinyal-sinyal palsu. Urusan hati itu soal rasa. Untuk tetap bugar, tubuh saja butuh olah raga. jadi olah rasa itu juga perlu untuk kesehatan jiwa.

Sari: makasih mas. 🙂

Ni’am: Kembali kasih.

Yogyakarta, 10022012

 

 

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

3 thoughts on “Sindrom Takut Sendiri dan Nurani yg Tersakiti.”

  1. atas nama iseng, jalan-jalan ke blog orang, dan akhirnya terdampar di sini. Nice post mas. Sepertinya apa yang dirasakan, apa yang didapat, apa yang dipikir, selalu dituangkan di blog ini ya mas. smoga bisa bermanfaat buat semua ya! amin.🙂

  2. mas noe, nuwun sewu, wejangan ini mirip seperti yang terkandung dibeberapa buku lama, dan saya sendiri juga sering mendengarkan dari para tetua.cuman sekedar kroscek ngangsu kauruh ten pundi mas? karena hingga sekarang implementasi saya belum maksimal.
    Suwun..

    1. salam aninditya,
      ngangsu kawruh bisa dari mana saja. kalau soal materi di atas, itu adalah percakapan saya dengan teman lewat dunia maya. jadi itu riil. saya belajar dari percakapan dan kehidupan sehari-hari. jika ingin memaksimalkan ilmu ya harus dengan mempraktekkan sendiri. percuma saja tahu banyak tapi hanya di kepala dan mulut saja.

      Kalo kata jagoan silat bruce lee, knowing is not enough, you must learn. learning is not enough, you must DO.

      semoga membantu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s