Baiat Li Tabarruk Thoriqoh Syadziliah


Di penghujung masa SMA dulu aku pernah galau. Kegalauan itu bersumber dari perkenalanku dengan dunia sufi dan tarekat. Bermula dari ketertarikanku pada buku-buku filsafat milik kakakku, aku mulai sadar bahwa hidup adalah permainan yang serius. Tak ada waktu untuk hidup dalam kepura-puraan. Kutipan yang paling kuingat adalah

“Kita tak pernah terlalu muda untuk memulai berpikir mendalam dan tidak pernah terlalu tua untuk mengakhirinya sebab tak pernah bisa dikatakan seseorang itu terlalu muda atau terlalu tua untuk menjalani kesejatian hidup.” (Tapak Sabda)

Kala itu tiap kali galau aku bercerita pada Pak Udik, guru bahasa Indonesia sekaligus pelatih teater SMA. Aku meminta pertimbangannya apakah aku sebaiknya mengikuti salah satu aliran tarekat tertentu (untuk mengalami langsung kehidupan spiritual) atau cukup sekedar tahu ajaran-ajaran tarekat atau kehidupan ala sufi. Hal ini cukup membuatku resah karena aku sadar bahwa mengetahui dengan menjalani ilmu itu berbeda. Kata pepatah Jawa, “ngelmu iku kelakone kanti laku“, yang namanya ilmu adalah pengetahuan yang dipraktikkan dalam tingkah laku. Sementara pengetahuanku tentang kesejatian, tentang kebenaran, tentang jalan menuju Tuhan baru sebatas pengetahuan dari buku-buku yang kubaca. Dalam hati ada dorongan untuk terjun dan masuk ke dalam ikatan baiat tarekat tertentu . Tapi aku bingung harus masuk tarekat yang mana. Apakah aku siap dengan konsekuensi ritual tarekat yang tidak mudah bagi orang awam. Apalagi gejolak kawula mudaku saat itu saat ini juga sih sedang tinggi-tingginya.

Waktu itu Pak Udik tidak memberi saran yang tegas. Beliau hanya menjawab bahwa tanpa masuk ke dalam salah satu tarekat, bukan berarti kita tidak bisa menjalani kehidupan ala sufi. Aku sedikit lega dan agak berkurang keinginanku untuk berbaiat tarekat di usia muda. Namun minatku pada filsafat dan ilmu kesejatian tak sedikitpun surut.

Lalu aku berkenalan dengan pemikiran-pemikiran tasawuf ala Syech Siti Jenar yang lebih inklusif, yaitu gagasan tentang ketuhanan yang lebih kreatif dan luwes. Misalnya bahwa setiap orang berhak untuk berguru langsung kepada Allah. Setiap hamba, tanpa membedakan status dan tingkat pendidikan, berhak atas ilmu sejati. Keberadaan mursyid atau guru spiritual adalah bersifat perantara dan bukan hal yang mutlak sehingga silsilah ilmu tidak seketat tarekat pada umumnya. Karena sejatinya Allah lebih dekat dari urat leher kita. Di samping itu aku mulai tertarik dengan pemikiran-pemikiran keagamaan yang ‘nyleneh’, berani, dan jujur ala Cak Nun, sang Kyai Mbeling.

Namun begitu, aku masih bisa menikmati dan tersentuh oleh pemahaman tasawuf ala KH Asrori Al-Ishaqi, yang notabene memakai tradisi baiat sebagaimana umumnya tarekat. Dari rekaman ceramah beliau, aku menjadi paham bahwa tarekat adalah soal Cinta. Daya tarik Cinta dari Sang Mahacinta lah yang menyebabkan seseorang memiliki krentek (dorongan dalam hati) untuk masuk dan menempuh Jalan Cinta. Allah lah yang menyisipkan rasa keindahan dalam hati orang-orang yang Ia kehendaki. Hingga dalam hati orang tersebut tumbuh kerinduan yang mendalam pada Allah. Aku juga baru tahu bahwa etika itu memiliki posisi penting dalam Cinta. Etika atau adab adalah manifestasi cinta yang luhur. Seseorang yang memiliki cinta ia akan memiliki sense of art atau rasa indah dalam hatinya. Seorang yang mencinta seyogyanya dia menjadi manusia yang beretika. Sah-sah saja kita sholat mengenakan kaos seadanya, tetapi itu namanya kita tidak beretika di hadapan pencipta.

Dari penjelasan-penjelasan Mbah Asrori, sempat muncul keinginan untuk masuk tarekat lagi. Tapi berhubung Mbah Asrori sudah wafat, meredup lagi keinginan itu. Pernah suatu waktu aku membayangkan akan pergi ke Pekalongan untuk memohon baiat tarekat kepada habib Luthfi Ali bin Yahya. Tapi tentu saja baru sebatas keinginan saja dan kemudian lupa.

Sampai tadi malam, aku teringat kembali keinginan lamaku untuk berbaiat kepada habib Luthfi. Setelah acara sholawat nabi dan pengajian selesai, ternyata Habib Luthfi akan melakukan baiat tarekat Syadziliah kepada jamaah yang berkenan. Teringat pada keinginan yang lama sudah terlupakan, juga didorong rasa penasaran aku seperti tertahan untuk pulang. Aku semakin yakin pada kekuatan pikiran. Sebelum habib Luthfi membaiat, salah seorang jamaah tarekat yang sudah senior memberikan pengantar tentang tarekat secara umum dan secara khusus tentang tarekat Syadziliah, syarat bagi yang ingin ikut, dan ritual wirid yang harus dibaca tiap harinya.

Selanjutnya habib Luthfi menjelaskan bahwa inti dari semua tarekat adalah La-ilaha illallah, atau tauhid. Tarekat adalah jalan batin untuk mengenal dan mendekat kepada Allah, di samping syariat sebagai jalan lahir. Habib Luthfi kemudian menerangkan etika dalam bertarekat, antara lain orang yang sudah berbaiat dengan salah satu mursyid (guru spiritual) atau tarekat tidak boleh pindah seenaknya kepada mursyid atau tarekat lain. kalau pun tetap ingin pindah, harus mendapatkan ridho dari masing-masing mursyid. Alasan kepindahannya juga tidak boleh karena persepsi bahwa mursyid yang satu lebih hebat atau lebih tinggi ilmunya dari mursyid sebelumnya. Orang yang sudah berbaiat kepada mursyid, harus percaya dan mau mempercayakan permasalahan-permasalahannya kepada mursyid untuk dicarikan jalan keluar. Atas perintah dan saran yang diberikan mursyid, murid harus patuh menjalaninya dengan keyakinan penuh pada Allah, termasuk menjalankan ritual wirid harian yang sudah ditentukan. Habib Luthfi juga mengatakan bahwa jika ada orang yang sudah berbaiat dengan mursyid lain atau masih bimbang, maka diperbolehkan untuk tetap berbaiat tetapi li tabarruk, ngalap barokah dari mursyid tersebut.

Selanjutnya jamaah yang hadir semua duduk merapat dan mendekat ke habib Luthfi. Jamaah yang paling depan bersalaman dengan habib. Jamaah lain yang di samping dan belakang memegang pundak teman yang ada di depannya. Sedangkan jamaah putri, salah seorang cukup memegang ujung sorban habib luthfi diikuti jamaah di belakangnya. Begitu seterusnya hingga semua jamaah terhubung ke habib Luthfi. Kemudian prosesi baiat dilakukan. dalam proses baiat ada 2 pernyataan/pertanyaan utama dari mursyid kepada orang yang dibaiat. Pertama adalah pernyataan bahwa mursyid mengijazahkan ajaran tarekat kepada murid, yang harus disahut dengan jawaban dari murid seketika itu juga. Kedua, mursyid menanyakan keridhoan murid untuk menjadikan mursyid sebagai guru spiritual. Ini pun harus segera dijawab oleh murid.

Selesai membaiat, habib Luthfi menjelaskan bahwa setelah baiat ini jamaah tidak perlu bersalaman lagi kepada mursyid. Karena dalam gandeng renteng yang dilakukan ketika baiat tadi memiliki asror (rahasia-rahasia) tersendiri.

Kota Sejuta Romansa, 1 April 2012

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

9 thoughts on “Baiat Li Tabarruk Thoriqoh Syadziliah”

    1. Ada baiknya mencari informasi ttg jam’iyyah thoriqoh NU di lingkungan Anda dulu. Tapi kalau menghendaki langsung ke habib luthfi, silakan ke kediaman beliau di pekalongan

  1. ditinjau dari pemilihan kalifah saja kekalifahan sareat bisa di perebukan dan kekalifahan pernah putus berati kalo kosong kalifah berati pengikutnya bisa mati kafir dong dan dilih sesudah kalifah yg 4 tdk secara islam tapi kekalifahan torekot berdasarkan ketakwaan dan islam terbagi menjadi 72 golongan yg benar satu yaitu orang torekot dong di tinjau dari sistim kalifah saja dan kelanjutan sistim kekalifahan dan baiat lihat blok kekalifahan torekot sadzaliyah qodiriyah yogyakarta

    1. terima kasih sudah merespon. tetapi maaf saya kesulitan menangkap maksud dari pernyataan Anda. satu hal yang bisa saya respon adalah Anda mencampurkan pengertian khalifah sebagai jabatan politik/kekuasaan dengan khalifah secara tasawuf atau tarekat. itu dua hal yang berbeda jadinya ga nyambung.

  2. kekalifahan yg tdk pernah putus hingga hari ini adalah kekalifahan orang orang sufi dan torekot dan tetap ada baiat sampai hari ini dan kalifahnya adalah seorang sulton auliya ghoust hadzazaman yg perkara baiat diwakilkan untuk masing masing mursit torekot dan wali kutub pertama adalah sayidina hasan cucu baginda rosulluloh saw

  3. ngajine ngaji alam’pd kduglem nglakoni”praktek. Kitabe kandele spendelengane mata,usah pd ngakoni sadiliahe,pd umpetan bae sing pinter.gaweane bae dirameni, usah pd ngalap pamrih”kyakue p lur?

  4. assalamu’alaikum..^_^..
    sodaraku..

    Pengertian bai’at menurut istilah syar’i (menurut istilah. Bukan menurut bahasa), yaitu :
    ”Bai’at ialah janji untuk taat. Seakan-akan orang yang berbai’at itu berjanji kepada pemimpinnya untuk menyerahkan kepadanya segala kebijaksanaan tentang urusan dirinya dan urusan kaum muslimin; sedikitpun tanpa menentangnya; serta taat kepada perintah pimpinan yang dibebankan kepadanya, baik dalam keadaan suka atau terpaksa.”
    “Siapa berjanji setia kepada seorang imam dan menyerahkan tangan dan yang disukai hatinya, maka hendaknya dia menaati imam tersebut menurut kemampuannya. Maka jika datang orang lain untuk menentangnya, maka putuslah ikatan yang lain tersebut” [Dikeluarkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Abdillah bin Amr bin Ash]
    Salah seorang imam yang agung, yg bernama Ahmad bin Hanbal, ditanya tentang riwayat dari hadits tersebut di atas. Di dalamnya terdapat kata imam. Beliau menjawab :”Tahukah kamu, apakah imam itu ? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semuanya mengatakan : “Inilah imam”, maka inilah makna imam.”
    Imam Al-Qurthubi berkata: “Adapun menegakkan dua atau tiga imam dalam satu masa dan dalam satu negeri, maka tidak diperbolehkan menurut ijma.”
    Kemudian setelah hilangnya kekhalifahan, terjadilah perbedaan yang sangat tajam tentang ayat-ayat dan hadits-hadits yg membahas seputar masalah bai’at. Doktor Abdul Muta’al Muhammad Abdul Wahid mengatakan :
    Ketiadaannya imam adalah menjadi sebab munculnya kelompok-kelompok yang mengklaim bahwa dirinyalah yang berhak dibaiat dan menjadi imam. Kelompok-kelompok ini bisa diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yang mendasar, yaitu :
    [1]. Kelompok Pertama
    Mengatakan : “Sesungguhnya orang yang meninggalkan baiat adalah kafir”. Lalu mereka menetapkan kepemimpinan bagi dirinya. Sedang orang yang tidak membaiatnya adalah kafir menurut pandangan mereka. Ucapan ini tidak benar, sebab Ali bin Abi Thalib -salah seorang yang diberi kabar akan masuk surga- beliau tiadak membaiat Abu Bakar selama kurang lebih setengah tahun, dan tidak seorang sahabatpun yang mengatakan tentang kekafirannya selama beliau meninggalkan baiat.
    [2]. Kelompok Kedua
    Mengatakan :”Sesunguhnya baiat adalah wajib, siapa yang meniggalkannya berarti dosa”. Dari sinilah mereka menetapkan seorang amir bagi diri-diri mereka, sehingga gugurlah dosa-dosa tadi dari mereka ketika membaiatnya. Padahal yang benar adalah bahwa dosa meninggalkan baiat tidak menjadi gugur dengan cara membaiat amir tersebut. Karena baiat yang wajib dan berdosa orang yang meninggalkannya ialah baiat terhadap imam (pemimpin) muslim yang menetap di bumi dan menegakkan khhilafah Islamiyyah dengan syarat-syarat yang benar.
    [3]. Kelompok Ketiga
    Adalah mereka (kaum muslimin) yang tidak membaiat seorangpun.
    Mereka mengatakan : “Sesungguhnya meninggalkan baiat adalah berdosa, tetapi baiat adalah hak seorang pemimpin muslim yang tinggal di bumi (walau) kenyataannya tidak ada di masa sekarang”. Menurut keyakinan nano, kelompok ketiga inilah yang berada di atas kebenaran.
    Kesimpulan ::
    Jadi yang dimaksud dengan baiat ialah, pemberian janji dari pihak pembaiat untuk mendengar dan taat kepada amir, baik di kala senang atau terpaksa di masa mudah atau sulit, tidak menentang perintahnya dan menyerahkan segala urusan kepadanya.
    baiat tidak diberikan kecuali kepada pemimpin muslim yang tinggal di bumi dan menegakkan khilafah (pemerintah) Islam sesuai dengan manhaj kenabian yang penuh dengan berkah. Dan Ba’iat Secara Syar’i Dan Kebiasaan Tidaklah Diberikan Kecuali Kepada Amirul Mukminin Dan Khalifah. Dan Ketahuilah, bahwa sekarang ini, kaum Muslimin atau dunia Islam tidak mempunyai Khalifah yang memimpimnya.

    mohon maaf bila ada perkataan yang tidak berkenan.. yang benar datang dari Allah dan Rasulnya.. dan yang salah, mutlak datang dari diri saya sendiri..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s