Munajat Dluha


 

Matahari baru saja naik satu dua galah dari peraduan.
Ku tengadahkan tangan dan doa mulai ku adukan.
Tak ingat lagi kapan terakhir kali aku serius mengajukan permintaan.

Aku malu, bertemu jika -dan hanya jika- ada perlu.
Sudah pasti ujung-ujungnya mintaaa melulu.

Perlahan tanganku terasa bengkak.
Telapak dan jariku serasa berat menahan beban.
Mungkin karena terlalu banyaknya permintaan,
sementara sedikit sekali yg ku persembahkan.
Tapi itulah kenyataan.

Tuhan, ijinkan aku bersimpuh di hadapan.
Sambil ku tata serpihan sisa harapan,
Engkau dan aku kembali bermesraan.

Kota sejuta romansa, 20 Ramadlan 1433 H

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s