Mulai dari Budiono Sampai Upil Anak Kecil


Pagi ini aku berangkat ke Medan. seperti kebiasaanku tiap kali ke luar kota, packing dan berangkat mepet. pesawat dijadwalkan terbang pukul 07.30 tapi aku baru berangkat pukul 7 kurang 10 menit. sesampainya di bandara, aku buru-buru masuk. lhadalah ternyata di dalam antrian sudah mengular. jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih 12 menit. aku panik antara ingin potong antrian dengan pasang muka melas atau tertib nunggu antrian.

“Masnya tanpa bagasi? bisa langsung di konter ujung” ujar seorang perempuan petugas bandara.
“iya mbak” jawabku lega.

segera setelah ku bayar pajak bandara aku berlari menuju gate 1 dan bergegas naik pesawat Lion Air dengan nomer penerbangan JT 565. Pramugari mulai memeragakan alat keselamatan penumpang yang menjadi prosedur wajib tiap penerbangan. tapi kemudian kapten pesawat mengeluarkan pengumuman bahwa pesawat delay karena harus menunggu pesawat kepresidenan mendarat. Oh gara-gara Ono Budi semua pesawat ditunda berangkat.

Tigapuluh menit kemudian pesawat baru diperbolehkan lepas landas. Pesawat mendarat dengan selamat di bandara Sukarno Hatta pukul 09.05. sembari menunggu jadwal penerbangan berikutnya aku keluar cari sarapan.

Pukul 10.20 seperti yang tercantum di tiket, aku kembali naik pesawat. kali ini dengan nomor penerbangan JT 204 jurusan Polonia Medan. begitu naik pesawat sudah berasa tidak lagi di tanah Jawa. sebagian penumpang berbicara dalam bahasa mandarin atau setidaknya bahasa indonesia dengan dialek melayu.

Di samping kiriku duduk seorang gadis kecil berusia 5 tahun. memakai kaos pink dipadu celana jeans.
“Bunda bi aiped” ujarnya tak jelas sambil merengek ke ibunya yang duduk di sebelahnya.
“Bunda naik yang biyu (biru:red) aja” rengeknya lagi.
rupanya dia rewel karena tidak naik pesawat yang biru saja alias garuda. pasalnya di pesawat Garuda tersedia layar touch screen di depan kursi penumpang dan dia suka memainkan itu. sementara di Lion Air fasilitasnya yang ala kadarnya saja.
“Fira jangan rewel. lain kali aja ya kita naik yang biru.” ibunya berusaha meredakan gadisnya yang ternyata bernama Fira.

Aku ingin memulai interaksi, tapi ku tahan. ku keluarkan hape yang bisa motret lalu mulai ku ambil gambar pesawat di luar. tiba-tiba Fira merebut hapeku yang masih dalam mode kamera. ia menyorotkan kamera ke berbagai objek tanpa memencet tombol shutternya.

setelah itu baru akhirnya kami bertatap muka. ia melihatku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. tapi tunggu,
matanya tidak mengarah pada mataku. agak kebawah berwarna ‘merah’. ya, ternyata dia mengamati jenggotku yang berwarna jingga. tanpa rasa takut ia ulurkan tangan kecilnya menyentuh jenggotku. malah justru ibunya yang malu.

Tiba saat lepas landas. Fira merubuhkan tubuhnya ke arah ibunya dan mengangkat kaki ke atas kursi. lalu tanpa malu-malu ia tumpangkan kedua kakinya di atas pahaku.
“Fira suka takut kalau mau terbang,” terang ibunya seolah memohon pemakluman.
“Oh nggak apa apa bu,” jawabku sembari memijit-mijit kaki Fira.

Dari semua hal yang dilakukan Fira, aku bisa memakluminya sebagai kepolosan anak-anak. KECUALI SATU.
ku lihat Fira asik ngupil, mencari harta karun di lubang hidungnya. setelah dapat, jarinya tadi dipandanginya. lalu dimasukkan mulut. #LangsungIllfeel

Antara bandara Jakarta dan Polonia, 04 Sept 2012

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

2 thoughts on “Mulai dari Budiono Sampai Upil Anak Kecil”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s