Kapan Matimu Ini Kau Akhiri?*


 

Apakah engkau adalah engkau

Apakah engkau masih engkau

Apakah engkau tetap engkau

sebab ketika ku sapa engkau

yang menjawab bukanlah engkau

 

Aku yakinkan diriku apakah itu adalah dirimu

apakah kamu tetap dirimu?

Aku tahu itu masih tampak wajahmu, tapi yang memancar itu bukan dirimu

Yang melangkah itu kakimu, tapi bukan pikiran dan niatmu

Yang omong itu mulutmu, tapi bukan hatimu

Yang berpidato itu bibirmu, tapi kata-kata itu bukan milikmu

Yang ambil keputusan itu tanda tanganmu, tapi kau tak berkuasa atas jari jemarimu

 

Allaaahu akbar… Allahu akbar…

La ilaha illallahu allahu akbar

Allahu akbar wa lillahil-hamd

 

Huruf-huruf kehidupanmu, tidak berasal usul dari sejarahmu

Yang engkau pamerkan kepadaku hanyalah cipratan tinja majikanmu

 

Tanahmu bukan lagi tanahmu

Rumahmu tidak mencerminkan semestamu

Negaramu sama sekali bukan milikmu

Dan sembahyangmu,

tidak lagi kepada Tuhanmu

 

La ilaha illallahu allahu akbar

Allahu akbar walillahil hamd

Ya mufattihal abwab

Ya musabbibal asbab

Ya muqollibal qulub wal abshor

Ya mudabbirol laili wan nahar

Ya muhawwil ahwal,

hawwil haalana, jam’iyyatul maiyyah

Ila ahsanil ahwal

 

Engkau budak di laut, budak di darat

Betapa menjijikkan otak kerdil,  mental sekarat

Kau hidup dijauhi hampir semua malaikat

Dan tinggal selangkah pendek lagi Tuhan segera melaknat

 

Wahai engkau yang bukan engkau

Wahai diri yang bukan diri

Wahai makhluk hidup yang mati

Wahai bumi yang tak bermatahari

Wahai kegelapan yang tak terperi

 

Aku bersabar menanti sampai hari ini

Kapan…

Kapan…

Kapan matimu ini engkau akhiri?

Kemudian engkau lahir kembali menjadi bayi

Ku kawal kalian semua berkelana mencari jati diri

Sebagaimana kepada Tuhan engkau berjanji

 

Aku bersabar menanti sampai hari ini

Aku bersabar entah sampai kapan lagi

Aku bersabar entah sampai berapa kali putaran matahari membungkus bumi

Kapan matimu ini kalian akhiri

Kapan kematianmu ini engkau pungkasi

 

Engkau tidak sedang berjalan di altar kehidupan menuju mati

Tetapi engkau berjalan membebaskan dirimu

dari mati, mati, matimu di negeri ini

Menuju hidup, lahir kembali

 

Huwallah-ulladzi la ilaha illa Hu,

Alim’ul-ghaybi wasy-syahada,

Huw’arrahmanur-rahim,

Huw’Allah-ulladzi la ilaha illa Hu,

Al-Malikul quddusus salamul Mu’minul Muhayminul Azizul Jabbarul Mutakabbir,

Subhanallahi ammaa yusyrikun,

Huwallahul Khaliqul Bari’ul Mushawwiru lahul asma’ul husna,

Yusabbihu labu maa fi-samawati wal ardh,

Wa Huwal azizul hakim.

 

Aku bersabar menanti sampai hari ini

Kapan matimu ini engkau akhiri

Kemudian engkau lahir, engkau menjadi bayi matahari

Ku kawal engkau berkelana mencari jati dirimu

Sebagaimana kepada Tuhanmu, kalian semua dulu berjanji

 

La ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzdzolimiin

La ilaha illallah.. La ilaha illah.. La ilaha illah

Hu.. Yaa Huu… Yaa Hu… Yaa Huu..

Huu.. Huu.. Huu…

 

 

*Bukan judul yang sebenarnya. Puisi ini (mungkin) adalah puisi terbaru dari Cak Nun yang ku dengar. saya pertama kali mendengar musikalitas puisi ini pada Mocopat Syafaat edisi 17 Sept 2012.

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

4 thoughts on “Kapan Matimu Ini Kau Akhiri?*”

  1. tiap bca puisi ni pzti mataq brkaca kaca, kpan2 matiku q akhiri, kmudian aq lahir kmbali, menemukn jati diri yg sejati, subhanaalah cak nun memang tiada duanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s