Khusyu’ yang Setengah Mati Kucari

Mereka, yang senantiasa bekerja untuk keluarga, yang menjaga semesta tetap ada. Sejarah kemanusiaan terus berlangsung.


Pagi menjelang siang tadi Tuhan menyapaku, mesraaaa sekali.

Sejak baca Surat Wasiat pak #InoYuwono, dan tulisan orang-orang tentangnya, aku seperti diingatkan tentang misi hidupku. Aku tak kenal secara personal dengan Pak #InoYuwono, tapi dr surat wasiatnya jiwaku merasa dekat sekali dengannya. Caranya memandang hidup, kesetiaannya pada jalan hidup, ketegarannya menikmati pahit getir konsekuensi dari tiap pilihan hidup. Itu semua menampar-namparku.Kecintaannya pada pendidikan, mendidik manusia, sama persis dengan misi yang bertahun-tahun kuyakinkan pada diriku sebagai misi hidupku juga. berapapun harga yang harus kubayar, termasuk menolak panggilan Jakarta sebagai simbol kapitalis.

Salah satu misi itu adalah membantu orang-orang di sekitarku mengenal dirinya, menjadi diri sendiri seutuhnya. Menjadi anugrah keagungan hidup bagi semua makhluk. Aku ingin mengajak sebanyak mungkin orang untuk tersenyum. terlebih, aku ingin membuat ibuk tersenyum bangga padaku. satu-satunya cara adalah dengan khataman gelondongan bil-ghoib.

Selama berhari-hari aku terus merenungkan hidupku. Sudahkah aku berbuat sesuatu? Masihkah aku berada di jalan yang benar menuju Cita dan Cintaku? Jika aku harus mati dalam waktu dekat (aku pernah meminta usia hanya sampai 27 saja dengan syarat tertentu), cerita apa yg bisa kubanggakan pada Tuhan Sang Pemberi Titah Kehidupan?

Pagi ini ketika sedang bersepeda menuju kampus, di kepalaku terus bertanya

“Apa itu hidup?

Buat apa hidup?

Bekerja siang dan malam itu ngejar apa sebenarnya?

Apa itu bahagia?

Bagaimana cara  menemukannya?”

Dalam perjalanan itu aku melihat seorang kakek yang nglesot di atas trotoar membetulkan lubang pembuangan. Sementara hari mulai terik. Aku tak tahu siapa yg menyuruh kakek itu membetulkan trotoar, dibayar berapa ia sampai melakukan itu. Tapi dia nampak serius mengerjakan.

Lanjut ke arah selatan, masih di jalan Gejayan, ku lihat seorang ibu pengemis berdiri di bibir gang bersama anak lelakinya. mungkin ia sedang berteduh sebentar. Terlihat ia mengelap keringat anaknya. Puncaknya ketika sampai di belokan Jembatan Merah, di samping kiri kulihat seorang kakek, mgkn pengemis jg, dgn wajah mantap mengayuh kursi rodanya. sendiri.

DYAARR!!

Seketika dadaku rasanya penuh. Mataku mbrebes meski ga sampai mili. Tuhan menyapaku dengan paradoks keagungan.

“while I’m asking what my life’s worth is, doubting what my future hold, how happiness can be achieved, they just keep doing thing”

Mereka mungkin tak tahu arti hidup itu apa, masa depan entah seperti apa, tapi mereka tiada berhenti BERBUAT. They keep doing something good for their lives. 

Aku merasa pengemis, kakek tukang batu itu jauh lebih mulia, lebih tinggi derajat ilmu hidupnya dariku.

Mereka, yang senantiasa bekerja untuk keluarga, yang menjaga semesta tetap ada. Sejarah kemanusiaan terus berlangsung.

Sementara aku sibuk mikirke urip, mereka wes tandang gawe. gawe URUP-e URIP *jleb! Mungkin kalo tidak ingat sedang di jalan raya, aku sudah nangis dgn khusyuk tadi. Khusyuk yang setengah mati kucari dalam sembahyang ternyata kudapatkan di tengah jalan.

Kota Sejuta Romansa, 12-12-12

Penulis: maulinniam

Burung kecil terbang dalam kawanan, burung besar terbang sendirian. Aku hanya burung kecil yang belajar terbang sendirian.

1 thought on “Khusyu’ yang Setengah Mati Kucari”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s